The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab 98.PENGGADUAN.



Di dalam kamar istana kepribadian Raja Awang Awang Vampire duduk termenung di tepi ranjang hatinya begitu gelisah dan resah kecemasan nya semakin dalam.


Jurang tempat yang di gunakan untuk membuang Ratu Shima sudah pernah di selidiki sampai ke dasar nya tapi tak sekalipun menujukan tanda tanda adanya Ratu Shima, itu artinya Ratu Shima sudah ada yang menolong, satu hal aneh ketika Raja Sangkala berkunjung dia bertamu dengan baik baik akan tetapi setelah itu kenapa Raja Sangkala tidak ijin jika dia sudah pulang, itu artinya Raja Sangkala telah menggetahui di mana Ratu Shima atau Raja Sangkala yang telah menyelamatkan Ratu Shima, jika semua itu benar maka pupus sudah harapan nya agar Ratu Shima bisa kembali lagi ke kerajaan Awang Awang Vampire, sudah bisa di pastikan Raja Sangkala tidak akan mengijinkan itu dan pasti lah Ratu Shima akan menuruti perintah dari Ayahnya


"Araaaaaagggghhhh...!" praaang....!" sebuah benda jatuh akibat amukan Raja Awang Awang Vampire yang sangat emosi dan marah sehingga semua perabotan yang ada di dalam kamar itupun jatuh berserakan, semua pelayan dan pengawal istana yang melihat itu hanya diam mematung tidak ada satupun yang berani bicara maupun menegur Raja.


"Kau...sini!"


"Baik, Raja!"


"Bersihkan semua nya dan jangan ada satupun yang masih tersisa di lantai."


"Baik, Raja.


"Dan kau siapkan beberapa pasukan berkuda hari ini kita akan berburu."


"Baik, Raja!"


Pengawal istana segera mempersiapkan beberapa pasukan berkuda untuk menemani Raja berburu di hutan.


Raja Awang Awang Vampire memilih kuda putih sebagai tunggangannya di sepanjang perjalanan Raja Awang Awang Vampire membidikkan anak panahnya pada setiap hewan yang melintas di depannya. Raja Awang Awang Vampire seorang pemburu yang hebat di mana setiap Bidikannya tidak pernah meleset selalu tepat sasaran. Hampir dua karung goni besar hewan buruan di dapat dengan cepat dan mudah.


"Raja kita sudah mendapatkan banyak hewan buruan apakah ini masih kurang."


"Berapa banyak hewan buruan yang kita dapatkan."


"Dua karung goni besar Raja.'


"Apakah di dalam nya sudah ada rusa?"


"Belum ada Raja, ini hanya kelinci kecil dan beberapa binatang kelelawar lainnya."


"Kalau begitu ayo, kita cari rusa aku mengginginkan nya."


"Baik Raja!"


Setelah beberapa kali mengitari dan menggelilingi hutan akhirnya Raja bertemu dengan seekor rusa betina yang sedang berlari dengan sigap Raja mengarahkan anak panahnya ke arah rusa betina tapi sayang nya kali ini bidikan Raja Awang Awang Vampire melenceng tidak tepat sasaran hingga membuat sang Raja emosi.


"Mau lari kemana kau...?"


Kembali Raja Awang Awang Vampire membidikkan anak panahnya dan kali ini berhasil, anak panah Sang Raja tepat mengenai sasaran rusa betina itu terluka dengan darah menetes di tanah, sang Raja yang girang karena telah berhasil membidikkan anak panahnya berniat mengambil Rusa yang terluka tapi alangkah terkejutnya Raja ketiika Rusa yang akan di ambilnya sudah tidak ada di tempat.


"Rusa nya kemana? pengawal...!" cepat cari pasti rusa itu tidak akan bisa berlari jauh dari tempat ini."


"Baik, Raja!"


Bergegas para pengawal berpencar mencari rusa yang terkena bidikan panah sang Raja tapi sudah berputar dan berkeliling tak juga rusa betina itu di temukan sementara hari mulai gelap dengan perasaan kesal dan kecewa akhirnya Raja memerintahkan semua pengawal nya untuk pulang.


Sampai di istana Raja Awang Awang Vampire langsung memerintahkan anak buahnya untuk memanggang binatang buruan mereka dan di bagikan kepada seluruh pengawal yang ada. Ketika semua pengawal dalam pesta dan bersenang senang Ratu Derbah sedang merintih kesakitan di dalam kamarnya.


"Pelan pelan...!"kau pikir ini tidak sakit hah!"


"Ampun, Ratu! ini seperti nya saya sudah sangat pelan." Jawab dayang yang mengobati luka Ratu Derbah.


"Bedebah...!" Berani sekali kau membantah perintah ku,"seru Ratu Derbah yang kemudian bangkit dan melempar luluran obat yang ada di tangan sang Dayang yang di gunakan untuk mengobati luka Ratu Derbah.


"Praaaang...!"bunyi tumpahan wadah yang berisi luluran obat obatan anti nyeri.


"Ambil dan bersihkan setelah itu gunakan obat yang baru yang tidak meninggalkan rasa sakit, apa kau mengerti?"


"Iya, Ratu saya mengerti."


Cepat cepat Dayang istana pergi dia sangat hafal dengan sikap Ratu Derbah yang sangat galak dan tak berperasaan jika sudah memberi hukuman.


Tak berselang lama kembali seorang Dayang istana masuk dengan membawa obat yang baru untuk Luka Ratu Derbah. Dayang yang baru dan juga obat yang baru.


"Maaf, Ratu, Tolong angkat sedikit bajunya ke atas biar saya mudah mengobati nya."


Tanpa bicara Ratu Derbah segera mengaggkat bajunya ke atas dan dengan perlahan-lahan Sang Dayang pun mengoleskan obat pada punggung Ratu Derbah.


"Aaaaaaah..! kurang ajar, sakit tauk apa kau ingin membunuhku hah...?"dasar pelayan tidak becus mulai hari ini kamu aku pecat."


"Ampun..!" Ratu jangan pecat saya jika saya di pecat saya dapat makan dari mana ?"


"Itu urusan mu!"pergi kau."


"Jangan Ratu, Tolong ampuni saya dan tolong beri kesempatan saya."


"Tidak bisa, pergi kau dari sini dan bawa ini obat obatan mu yang tidak berguna."


"Praaaaang...!"Sang Ratu kembali melempar wadah beserta isi dari ramuan obat ke lantai."


Dengan berderai air mata Dayang istana segera memunguti kotoran obat yang jatuh berserakan di lantai, ketiika dayang itu hendak pergi tiba-tiba Ratu Derbah memberikan tendangan ke punggung sang dayang hingga membuat sang Dayang berteriak karena kaget dan hampir jatuh tersungkur ke lantai seandainya tidak ada orang di depan pintu yang menahan limbung dan jatuh nya sang Dayang.


"Ahh..!" Rintih sang Dayang ketiika tubuh nya ambruk menabrak sosok kekar yang ada di depannya.


"Pa-pangeran Yervan..!"ucap sang Dayang gugup.


"Pergilah..!"


"Baik, Pangeran!"


"Ada apa ini, kenapa ibu Ratu marah pada dayang itu."


"Pangeran Yervan putraku kau sudah pulang pangeran, lihat...ini!" Ratu Derbah membuka baju dan menaikkan keatas terlihat lah bekas cambukan yang masih terlihat baru dan mengores kulit halus Ratu Derbah.


Pangeran Yervan terngaga tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"Ibu Ratu !"Siapa yang berani melukai ibu Ratu katakan padaku akan aku beri pelajaran orang itu."


"Hizk....hizk....hizk Pangeran, ibu Ratu tidak bersalah tapi Raja menuduh ibu Ratu bersalah makanya Ibu Di cambuk, bukan itu saja pangeran ibu Ratu juga di jambak diseret di pukul dan di siram air hizk...hizk...Raja sangat kejam pada Ibu Ratu padahal ibu Ratu tidak bersalah hizk...hizk..!"ucap Ratu Derbah sambil menangis dalam pelukan putranya.


Mendengar perkataan ibu nya Wajah pangeran Yervan berubah merah padam dengan tangan mengepal.


"Kurang ajar, kau Raja, meskipun kau adalah Ayahku aku tidak trima perlakuan mu pada ibu Ratu kau harus di beri pelajaran."Gumam pangeran Yervan dalam hati.


"Ibu, Ratu tunggu di sini aku akan menemui Raja?"


"Pangeran kau mau apa?"


"Aku akan minta pertanggungjawaban Raja."


"Jangan pangeran."ucap Ratu Derbah melarang tapi di bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman.


"Ibu Ratu, Tidak usah khawatir,aku pergi dulu."


Pangeran Yervan segera melangkah keluar dan Ratu Derbah berteriak.


"Jangan pangeran? jangan..!"Teriakan nya pun terhenti ketika pangeran Yervan sudah menghilang dari balik pintu cepat cepat Ratu Derbah menghapus air matanya dan tersenyum penuh kepuasan.


"Sekarang rasain oleh mu Raja, berani beraninya menghukum ku, sekarang putraku sudah datang dan dia yang akan membalas perbuatan mu kepada ku ha.....ha...ha....dasar Raja sialan punggung ku jadi jelek begini.