
Cahaya matahari yang hampir tenggelam dari arah barat, udara sore hari yang dingin berhembus menusuk tulang sumsum, terlihat sosok laki-laki muda dan Tampan bertelanjang dada dengan satu kain putih memanjang di lehernya berkelebat sangat cepat dari satu dahan ke dahan pohon lainnya hingga sampai pada satu bukit yang biasa di sebut dengan bukit gunung Tengger.
Dari atas terlihat hijau dan jernihnya Air yang ada di sekitar gunung itu, di situlah Pangeran Yasza melakukan pertapaan nya.
"Hoooop...Byuuuur...!"
Pangeran Yasza melompat turun ke air yang sangat jernih dan terlihat begitu segar. Untuk beberapa saat Pangeran Yasza menoleh ke kanan dan kiri rupanya beliau sedang mencari tempat yang nyaman untuk di jadikan tempat bertapanya.
Setelah beberapa menit mencari akhirnya Pangeran Yasza menemukan satu tempat yang di rasa sangat cocok dan nyaman, di mana ada sebuah batu hitam besar diatas air di situlah Pangeran Yasza duduk bersila dan melakukan petapaan nya.
****
Di sisi lain di waktu yang sama di mana cahaya matahari juga sebentar lagi terbenam dari ufuk barat tepatnya di sebuah gunung Merbabu di mana para prajurit kerajaan Awang Awang Vampire sedang berlatih, di bawah pimpinan panglima pembesar kerajaan dan langsung dalam pengawasan Pangeran Tatius sedang bercengkrama dan bersenda gurau setelah seharian melakukan latihan, mereka di ijinkan untuk bersantai dan beristirahat sesuka hati.
Ada yang mempergunakan waktu senggang dan istirahat mereka untuk sekedar ngobrol dengan beberapa makanan yang terhidang dan ada yang melakukan permainan permainan yang lucu untuk mengusir kebosanan ada juga yang mempergunakan waktu untuk tiduran.
Sementara Pangeran Tatius sendiri memilih untuk undur diri dan berniat kembali ke krajaan Awang Awang Vampire dimana dirinya telah meninggal kan. kekasih nya sendirian.
"Apa Pangeran yakin akan kembali ke istana krajaan hari ini?"
"Iya, paman! aku akan kembali sore ini juga sebelum malam tiba."
"Bagaimana bisa Pangeran sampai di kerajaan sebelum malam, pasti semua membutuhkan waktu yang cukup lama dalam perjalanan, setidaknya Pangeran akan membutuhkan waktu Empat jam perjalanan."
"Paman panglima ke satu benar Pangeran, tidak mungkin jarak tempuh yang cukup jauh ini kita tempuh hanya sedikit waktu saja sedikit nya empat jam itupun untuk kita yang memiliki kecepatan terbang sangat tinggi bagi yang lain pasti lah bisa dua hari dua malam menggingat betapa jauhnya kerajaan Istana Awang Awang Vampire dan gunung Merbabu ini."
"Aku, tau Paman..!" aku pernah mendengar Raja pernah bilang ada jalan pintas menuju istana kerajaan Awang Awang Vampire jadi aku berniat akan mencari dan menemukan jalan pintas itu."
"Benar, Pangeran! saya juga pernah mendengar ada jalan pintas tapi berita yang kudengar itu sangat rawan dan berbahaya jika kita tidak mampu kita bisa tersesat atau di sesatkan mahkluk jahil yang ada di sekitar tempat itu."
Mendengar perkataan dan penuturan dari panglima ke dua pangeran Tatius Tertawa lebar.
"Hahaha...Paman ada ada saja kita ini juga sudah termasuk mahkluk jahil yang juga menakutkan masak kita akan takut dengan mahkluk lain, paling yang ada cuma ular, harimau atau iblis gentayangan, jadi hal itu tidak perlu kita risau kan lagi paman."
"Aku percaya pada kemampuan Pangeran dan aku yakin semua akan aman karena kemampuan Pangeran Tatius bukanlah kemampuan yang cuma kaleng kaleng jadi aku mendukungmu pangeran." seru panglima ke ke dua bersemangat.
Pangeran Tatius tersenyum seraya mengagguk kan kepala dia sangat mengerti dengan ke khawatiran paman panglima nya, bahkan jika bisa jujur sebenarnya rasa berdebar debar itu pangeran Tatius juga ikut merasakan nya cuma entah mengapa kali ini Pangeran Tatius tidak mau menggikuti kata hatinya, dia sangat penasaran dan ingin mengetahui mengapa jalan pintas di gunung Merbabu dan pasti akan melewati gunung tengger itu di anggap sangat berbahaya.
"Sudahlah Panglima ke satu kamu jangan terlalu lebay, Pangeran Tatius orang nya sangat hebat ilmunya cukup tinggi dan tidak perlu kau meragukan nya lagi."
"Kau benar panglima ke dua, aku yang bodoh kenapa berfikir begitu penakut," ucapnya kemudian yang langsung membuat kedua nya terkekeh sedangkan Pangeran Tatius cuma mengulas senyum sedikit, sesungguhnya hatinya juga sedikit menciut karena Pangeran Tatius sendiri pernah mendengar kisah mengerikan dari seorang laki-laki tua yang memiliki kemampuan ilmu yang sangat tinggi tapi dia harus mati di tangan kerisnya sendiri.
Ada sedikit rasa ragu akankah dirinya jadi melewati jalan pintas atau kah tidak, tapi jika dirinya mundur maka tidak akan pernah tau Rahasia apa yang ada di jalan pintas itu sehingga semua akan cuma membuat nya penasaran.
"Paman Panglima ke satu dan Paman panglima ke dua aku minta doa dan restu dari kalian, aku putuskan untuk melewati jalan pintas itu, Jujur aku juga sedikit was was akan tetapi sungguh aku sangat penasaran dan rasa penasaran ini sudah sejak lama ku pendam, Paman aku pergi dulu."
"Berhati-hati lah Pangeran?'seru panglima ke dua."
"Pangeran jangan lengah selalu lah bersikap waspada."teriak panglima ke satu.
Mendengar kekhawatiran dari kedua panglima itu pangeran Tatius menyungingkan sebuah senyuman sambil mengagguk, tak lama kemudian Pangeran Tatius terbang melesat meninggalkan bukit gunung Merbabu dengan menggunakan jalan pintas.
Pada awal terbang Pangeran Tatius tidak merasakan apapun baik dalam kecepatan rendah maupun kecepatan tinggi, semua berjalan seperti biasa saja tidak ada hal yang aneh dan mencurigakan.
Tapi pada saat melintasi sebuah jembatan dengan tiga pohon tinggi yang sama bahkan lebat dan bentuk dari ranting ranting nya pun seolah olah bagaikan pinang di belah dua tidak ada perbedaan sedikit menimbulkan satu pertanyaan.
"Kenapa pohon, daun dan ranting bisa sama persis, aku belum pernah menemukan ada pohon yang benar benar sama persis seperti ini coba aku hitung ranting nya siapa tau mataku yang konslet sehingga tidak bisa melihat dengan jelas."desis Pangeran Tatius dalam hati.
"Hooop....hiyaaaaa...!' tubuh Pangeran Tatius bertengger di atas ranting pohon dan dengan cermat Pangeran Tatius mulai menghitung jumlah nya, semua dilakukan karena rasa penasaran yang tinggi.
"Busyet... sungguh luar biasa tidak ada satupun yang kurang semua sama dengan bentuk yang sama pula." Pangeran Tatius berdecak kagum, ketika pangeran Tatius asik menggagum, tiba-tiba teringat pesan dari panglima ke satu, tidak boleh lengah dan harus selalu waspada.
"Aku harus segera meninggalkan tempat ini aku khawatir ini semua termasuk awal tanda akan adanya bahaya."
Dengan cepat Pangeran Tatius terbang melesat menjauhi tempat itu, akan tetapi benarlah apa yang di pikirkan Pangeran Tatius jika semua ini awal dari bahaya. Entah mengapa tiba-tiba merasakan hawa kantuk yang amat sangat kemudian pandangan mulai terlihat ganda dan tubuhnya seolah olah terbang dan berputar di tempat yang sama.
"Hooooaaaaaam....! lagi-lagi Pangeran Tatius menguap membuat kedua matanya begitu berat untuk di buka hingga konsentrasi terbangnya tidak lagi bisa fokus dan pada detik berikutnya.
"Bruuugh.....!"