
Pangeran Yasza yang melihat tawanannya justru Tersenyum miring menatap kesal dan geram.
"Apa kau pikir ada yang lucu sehingga kau harus tersenyum begitu, sudah mau mampus masih saja belagu."
"Apa kau pikir aku takut dengan ancaman seorang laki-laki pengecut seperti mu, kamu hanya berani bermain dengan kecurangan apanya yang bisa di banggakan."
"Kau...!
Pangeran Yasza yang menatap geram pada Pangeran Tatius segera mengambil sebuah cambuk yang tersimpan dalam kotak panjang yang ada di sudut ruangan.
"Cetaaaaaaarrr.....!
Pangeran Yasza melayangkan cambuknya ke lantai hingga menimbulkan suara bunyi yang memekakkan telinga.
"Kau lihat apa yang ku bawa ini, aku mau tau sampai di mana nyali sombongmu, masihkah kau bersikap sombong di hadapan ku,"
Pangeran Tatius menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.
"Permainan kita baru di mulai, jadi jangan senang dulu,"
"Hahaha.... betul permainan kita baru dimulai dan kurasa situasinya akan tetap sama bahkan mungkin lebih parah daripada ini kau akan melihat betapa indahnya malam pertamaku dengan kasihmu Hahaha...."
Pangeran Tatius tersenyum miring menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar, sengaja Pangeran Tatius menghembuskan nya dengan cara meniup kedepan tepat ke wajah Pangeran Yasza yang berdiri di depan nya, membuat Pangeran Yasza semakin geram.
"Kau....berani sekali berbuat kurang ajar padaku,"
Dengan kesal pangeran Yasza mengambil cambuknya.
"Trima ini .... Cetaaaaaaarrr....!
Pangeran Yasza menghujamkan cambuknya pada tubuh pangeran tatius dengan sangat keras, akan tetapi Pangeran Yasza terkesiap melihat pangeran Tatius yang tidak bergeming bahkan tidak terdengar sedikitpun rintihan kesakitan dari bibirnya, Pangeran Yasza berpikir mungkin dia kurang keras dalam menghujamkan cambuknya untuk itu, pangeran Yasza kembali menghujamkan cambuknya ke tubuh pangeran tatius dengan diiringi suara tawa yang menggelegar dan yang pastinya lebih keras dari yang sebelumnya.
"Kali ini kau akan minta ampun padaku untuk menghentikan cambuk ini."
"Cetaaaaaaarrr.....!"
Tapi lagi-lagi Pangeran Yasza kecewa karena pangeran Tatius tidak sedikitpun merintih dan memperlihatkan kesakitan yang diterimanya Pangeran Tatius hanya memejamkan mata setiap kali cambuk itu menghujam ke tubuhnya dan hal itu benar-benar membuat Pangeran Yasza semakin murka dan marah, karena dia berharap bisa melihat pangeran Tatius mengemis minta ampun padanya tapi yg di inginkan tidak terjadi yang mana Pangeran Tatius hanya diam dan sesekali memberikan senyum mengejeknya, karena sikap itulah pangeran Yasza semakin geram dan dengan sangat membabi buta Pangeran Yasza menghujamkan cambuknya berkali kali pada tubuh Pangeran Tatius hingga pangeran Yasza sendiri yang merasakan betapa kesal dan capeknya menghujam kan cambuk pada pangeran Tatius karena Pangeran Tatius tidak merintih kesakitan.
"Kau Benar-benar keterlaluan lihat saja jika dengan cambuk ini aku tidak bisa membuat kau menangis, maka aku akan buat kau menangis melihat apa yang akan ku lakukan pada gadis mu itu."geram pangeran Yasza berapi-api.
Membuat Pangeran Tatius menatap nya dengan sorot mata yang sangat tajam seperti hendak membunuh.
Tubuh pangeran Tatius memang banyak terluka akibat cambuk yang di hujamkan pangeran Yasza tapi dirinnya masih bisa tersenyum bahkan tidak menampakkan Kalau sedang sakit seolah olah luka cambuk itu tiada artinya dan hal itu juga lah yang membuat Pangeran Yasza semakin geram.
Dengan cepat pangeran Yasza pergi meninggalkan tempat di mana pangeran Tatius di tawan.
Di luar istana kerajaan Ambarwata Pangeran Yasza melepaskan kemarahan nya dengan menghancurkan semua perabotan dan benda-benda antik yang terpajang di sepanjang jalan istana yang mana perabotan antik itu sengaja di pajang sebagai hiasan untuk memperindah. jalan menuju ruang utama kerajaan.
Hancurnya benda benda itu dengan menimbulkan suara yang sangat keras dan membuat beberapa prajurit kerajaan Ambarwata yang bertugas menjaga merinding ketakutan.
"Hei, kau..sini cepat!"
Pangeran Yasza berteriak memanggil salah satu prajurit nya, dengan tergesa-gesa dan sedikit rasa ketakutan salah satu prajurit kerajaan Ambarwata itu pun datang mendekat.
"Siap, Pangeran, apa pangeran memanggilku."
Pangeran Yasza mengagguk dengan Tatapan mata yang sangat menakutkan bagi siapa saja yang menatapnya.
"Berdiri yang benar."
Duh pangeran Yasza mau apa ya, kenapa perasaan ku menjadi tidak enak ada apa ini," gumam sang prajurit dalam hati, terlebih kedua bola matanya melihat pangeran Yasza membawa cambuk di tangan kanannya,serasa jantung prajurit kerajaan Ambarwata itu mau lepas dari tempat nya akan tetapi dia tetap berusaha tenang.
"Tenang, tidak mungkin apa yang kau pikirkan itu benar,' lirih Prajurit kerajaan Ambarwata dalam hati.
"Bersiaplah aku akan mencoba tes kekuatan Cambuk ku ini."ucap Pangeran Yasza dengan tenang.
Mendengar perkataan Pangeran Yasza Prajurit kerajaan Ambarwata langsung melotot tak percaya, wajahnya yang tinggi tegap gagah berani bak panglima perang yang sangat handal tiba-tiba berubah menjadi pucat pasi bagaikan kapas yang siap berterbangan.
"Pangeran Yasza kau sedang bercanda kan."
Pangeran Yasza mengeryitkan dahinya tidak mengerti apa maksud dari salah satu prajurit nya yang kini entah apa sebabnya tubuhnya terlihat pucat badannya gemetaran, sungguh pangeran Yasza Bingung melihat perubahan yang dirasa mencapai seratus delapan puluh derajat dari kedudukan awal mula.
"Kau kenapa? sakit...! kenapa tubuhmu bergetar dan pucat begitu atau jangan jangan kamu belum makan dan ini kamu mau pingsan begitukah."
"Ampun, pangeran! saya sangat takut."jawab salah satu prajurit dengan bibir bergetar.
"Takut, kenapa?"
"Itu, Cambuk..!
Pangeran Yasza mengeryitkan dahinya kemudian mengangkat tinggi-tinggi cambuk yang ada di genggaman tangan nya.
"Ini....!
"Ampun, pangeran..! Ampun tolong jangan cambuk saya."
"Oh, jadi kamu takut karena ku cambuk."
"Iya, Pangeran."
"Tenanglah aku tidak akan mencambuk mu."
"Jadi aku salah sangka trimakasih pangeran."
Prajurit itupun segera membungkuk kan badannya sebagai ungkapan rasa senang nya.
"Aku memang tidak akan mencambuk mu, aku cuma mau tes kekuatan Cambuk ini saja itupun cuma beberapa kali saja di tubuh mu."
Bagaikan petir yang menyambar, tenggorokan seperti tercekat dengan sudah payah prajurit itupun menelan ludahnya dengan kasar.
"Pangeran, itu namanya sama saja, pangeran berniat mencambuk ku, tolong saya tidak mau pangeran, tolong jangan. cambuk saya."lirih Prajurit kerajaan Ambarwata yang langsung duduk bersimpuh di depan Pangeran Yasza.
"Ciiih....! cengeng amat jadi prajurit lihat tuh tawananku pangeran kerajaan Awang Awang Vampire dia sudah ku cambuk berkali-kali tidak merasa sakit, jadi aku penasaran mau coba tiga kali saja jadi diamlah dan katakan pada ku bagaimana rasanya."
Tubuh prajurit kerajaan Ambarwata tiba-tiba lemas tak bertenaga.
"Kenapa aku harus mau menjadi bahan percobaan dari pangeran Yasza yang sadis ini, tidak aku harus memakai cara licik untuk mengelabuinya, Bukankah Pangeran Yasza suka bermain curang jadi apa salahnya jika sekarang prajurit nya yang mencurangi nya dan biarlah Pangeran Yasza mencari prajurit yang lain."Desis salah satu prajurit dalam hati yang mana tiba-tiba tubuhnya seperti hilang keseimbangan dan pada detik berikutnya.
"Bruuuugh....! tubuh tinggi tegap itupun jatuh tengkurap di lantai, pangeran Yasza terkesiap melihat prajurit nya tiba-tiba jatuh pingsan dia tidak mengerti mengapa tiba-tiba prajurit nya jatuh pingsan padahal tadi terlihat baik-baik saja.
"Mengapa Prajurit ini pingsan, sial aku harus mencari prajurit lain sebagai gantinya, aku ingin tau dan aku benar-benar penasaran apa benar cambuk ini tidak sakit jika di hujamkan, gara-gara prajurit ini pingsan tidak jadi dah tes cambuk ini segera sekarang aku harus mencari prajurit lain dan prajurit ini Biarkan saja dia pingsan disini pasti Nanti juga akan siuman sendiri."Grutu pangeran Yasza sambil berlalu pergi.
Sementara prajurit yang sudah di tinggal pangeran Yasza pergi cepat-cepat bangun dari pura-pura pingsannya.
"Beruntung otakku cerdas aku bisa berfikir untuk mengelabui pangeran Yasza jika tidak pasti remuk lah tubuhku jadi bahan percobaan pemukulan cambuk nya dasar pangeran Yasza sudah gila, masa mau tes cambuk ada-ada saja, beruntung otakku cerdas sehingga aman sentosa." lirih prajurit kerajaan Ambarwata sambil terkekeh geli.