The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab.265.MEMINTA RESTU



Prajurit muda junxiang dibawa oleh laki-laki tua masuk ke dalam Rumah nya, sebelum prajurit muda dibawa ke dalam istana kerajaan untuk di berikan pekerjaan.


"Anak muda inilah rumahku untuk beberapa hari boleh tinggal di tempat ini sebelum kamu mendapatkan pekerjaan aku akan mencarikan informasi bagaimana agar kamu bisa masuk ke dalam istana dan mendapatkan pekerjaan dengan segera."


"Trimakasih, Tuan! kau sungguh baik dan berhati mulia."


"Jangan terlalu memujiku anak muda, karena aku bisa besar kepala Nanti." jawab laki-laki tua itu sambil terkekeh.


Junxian tak henti hentinya memandangi seluruh keindahan kota Awang-awang Vampire yang mana dia harus selalu memberikan informasi pada Pangeran Yasza tentang keadaan yang ada di seluruh kerajaan istana ini bahkan Junxian hanya di berikan waktu tiga Minggu untuk bisa menggetahui kelemahan dari kerajaan Istana Awang Awang Vampire.


Pangeran Yasza yang sangat menaruh dendam tak henti-hentinya bertanya dan menghubungi Prajurit muda Junxian, srolah olah memperlihatkan ketidak sabaran nya dalam mendapatkan informasi.


"Tuan, apakah di sini ada air?'


"Oh, ada di sana lurus tepat di belakang kerajaan istana Awang Awang Vampire ada sungai yang sangat jernih, mengapa kau ingin ke sana,"


"Tuan tau, saya terpaksa meninggalkan semua keluarga jika saya rindu saya hanya membutuhkan tempat yang tenang untuk melepaskan segala pemikiran sesakku."


"Baiklah dan berhati hati lah jangan sampai kau di anggap orang yang mencurigakan karena kalau mereka berfikir begitu kau tidak akan bisa tinggal di daerah ini.'


"Baik, Tuan!"


Bergegas Junxian pergi ke belakang di mama di jalan itu menuju sungai. sampai di sana Junxian segera mengeluarkan sebuah kertas kosong yang kemudian dia menulis kan beberapa kata sebelum akhirnya melipat rapi dalam bentuk gulungan, kemudian bibir Prajurit Junxian terbuka dan memasukkan dua jari kedalam mulutnya hingga menimbulkan sebuah suara bunyi suit yang sangat keras.


"Suiiit....!"


tak lama kemudian datanglah seekor burung besar menghampiri prajurit Junxian.


"kwak....kwak.....kwak suara burung gagak yang perlahan lahan turun dan menghampiri prajurit Junxian.


Dengan cepat prajurit Junxian memberikan kertas yang sudah tergulung dengan rapi pada mulut seekor gagak yang tak lama kemudian gagak pun menggigit gulungan kertas dan membawanya terbang tinggi.


Prajurit Junxian merasa lega karena pesannya akan segera tersampaikan.


Di sisi lain Di dalam kerajaan Ambarwata Pangeran Yasza yang berkunjung ke lereng bukit di mana Ayah nya melakukan semedi dan menghabiskan sisa sisa waktunya di sana sudah sampai.


Pangeran Yasza tidak membutuhkan prajurit ataupun pengawal istana untuk mengawal dan menemani kepergian nya. Melihat sang Ayah masih duduk bersila dengan sangat sabar Pangeran Yasza menunggu sampai sang Ayah selesai dan merasakan kehadiran nya.


Apa yang di pikirkan Pangeran Yasza ternyata tidak meleset, sang Ayah segera mengakhiri semedi nya ketiika dia merasakan kehadiran putranya.


"Pangeran Yasza, mengapa kau ke sini adakah hal penting yang Ingin kau sampai kan. padaku."


"Raja..! aku datang ke sini mau meminta restu dari Raja."


"Restu...!"


Wajah laki-laki tua itu pun segera tersenyum kemudian turun dan membelai wajah Tampan Pangeran Yasza.


"Wah, putraku sudah dewasa apakah kau akan segera menikah Nak, gadis dari kerajaan mana yang sudah bisa merebut hatimu yang beku, Ayah sangat senang dan bahagia sekali akhirnya kau akan mengakhiri masa lajangnu, Ayah pikir, kau sudah menutup diri untuk selamanya akhirnya doa Ayah terkabul kan juga, ayo katakan putri dari kerajaan mana yang sudah mencuri hatimu."


"Raja..! bukan itu maksud ku."


"Sudahlah putraku kau tidak perlu takut dan khawatir aku akan selalu mendukung mu, aku tidak akan mengekang mu dan mencari kan jodho sesuai keinginan ku, kau boleh memilih siapapun yang kamu sukai, jangan ragu lagi, ayo katakan dari putri kerajaan mana gadis yang sudah beruntung itu."


"Baiklah.. baiklah, kau ragu dan takut mengatakan nya padaku itu artinya gadis itu bukan dari kalangan Kerajaan, tidak masalah putraku, Ayahmu ini akan tetap merestui asalkan putra Ayah ini bahagia, sekarang katakan hadiah apa yang ingin Pangeran mau dari Ayah pasti Ayah akan menggabulkan."


Perlahan-lahan Pangeran yasza melepaskan belaian lembut tangan sang Ayah, Kemudian duduk dipinggir batu yang ada di dalam goa di mana Raja Ambarwata sedang melakukan semedi.


"Raja, saya meminta restu bukan ingin menikah tapi ingin melakukan penyerangan pada kerajaan Awang Awang Vampire."


"Apa...?"


Raja Ambarwata terlihat sangat terkejut dengan apa yang di ucapkan Pangeran yasza, sehingga dia langsung berdiri dan menghampiri putranya yang sedang duduk di bebatuan dengan tenang.


Raja Ambarwata mengeryitkan dahinya dan menatap tajam putranya.


"Apa kau sedang bercanda putraku Pangeran Yasza?"


Pangeran yasza menelan ludahnya dengan kasar pertanyaan sang Raja yang juga Ayahnya terlihat sangat aneh seolah olah sedang menyangsikan apa yang di ucapkan nya.


"Benar, Raja! saya akan melakukan penyerangan pada kerajaan Awang Awang Vampire."


"Putraku, Pangeran Yasza, apakah kau tau kerajaan Awang Awang Vampire bukanlah kerajaan biasa, kau bisa kalah dalam hitungan jam, kerajaan Awang Awang Vampire itu memiliki kekuatan yang sangat besar dan para prajurit nya terkenal sangat hebat terlebih Raja pimpinan nya kau jangan main main, urungkan niatmu kau bisa dengan mudah di hancur lebur kan."


"Raja..!Aku tau kerajaan Awang Awang Vampire sangat kuat, untuk itu aku tidak akan gegabah dalam melakukan penyerangan, aku sudah mengutus salah satu mata-mata untuk menyelidiki situasi kerajaan dan juga mencari sisi lemah dari kelemahannya."


"Pangeran ada masalah apa sehingga kau ingin menyerang kerajaan Awang Awang Vampire,"


"Dia telah membunuh Paman Hamdan dengan sangat sadis Raja dan aku tidak akan menerima itu Paman Hamdan sudah ku anggap sebagai keluarga kerajaan sendiri dan aku akan membalas dendam pada kerajaan Awang Awang Vampire, akan aku hancurkan mereka semua dan akan ku buat kerajaan itu bertekuk lutut di bawa kakiku."


"Pangeran, apa kau tau siapa Raja Awang Awang Vampire dan benarkah yang telah membunuh Paman Hamdan adalah Raja Awang-awang Vampire."


"Raja, aku tau kerajaan Awang Awang Vampire di pimpin oleh Raja Prayudha Anatius Praja Pramusti dan aku yakin dia yang telah membunuh Paman Hamdan sebagai bukti nya adalah pisau kecil yang tertancap pada Tubuh Paman Hamdan ini bukankah ini senjata dari Kerajaan Awang Awang Vampire?"


Raja Ambarwata meraih pisau kecil yang di tunjukkan Pangeran yasza kepada nya, untuk beberapa saat Raja terdiam kemudian dia menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.


"Benar...!" ini adalah senjata dari kerajaan Awang Awang Vampire, Pangeran..! jika kau benar-benar ingin melakukan penyerangan kepada kerajaan Awang Awang Vampire kau harus benar benar bisa mempersiapkan dirimu matang, melawan kerajaan Awang Awang Vampire jika tanpa pemikiran dan rencana yang matang itu sama halnya kau hanya akan menghantarkan nyawa."


"Aku, mengerti Raja untuk itu aku meminta Restu darimu."


"Baiklah, aku akan merestui mu."tapi berhati hatilah jangan gegabah, Pangeran."


"Trimakasih, Raja! aku akan berhati-hati, kalau begitu saya permisi dulu."


Pangeran Yasza bangkit dari duduknya dan hendak melangkah pergi akan tetapi Raja menghentikan nya.


"Tunggu, Pangeran,..!"


"Iya, Raja! ada apa?"


"Besok datanglah ke tempat ini aku akan memberikan satu ilmu yang bisa kau gunakan untuk melawan kerajaan Awang Awang Vampire, agar kau bisa mengimbangi kekuatan mereka."


"Siap, Raja! trimakasih telah mendukung ku dan mau menjadikan aku murid yang berkesempatan untuk bisa menyerap ilmu yang Raja miliki."


Pangeran yasza langsung menjatuhkan dirinya dan bersujud bagaikan seorang murid kepada sang guru.