
Suasana suram dan mendung masih menyelimuti kabut kerajaan Awang-awang vampir di mana sang perengaran masih terlihat sangat sedih dan murung, hari-hari nya dia habiskan di dalam kamar tanpa perduli keadaan istana.
Paman Patih lembu ireng yang melihat pangeran Tatius selalu murung nampak ikut prihatin, tapi apalah daya tidak ada yang bisa di lakukan nya untuk menghibur hati sang Pangeran agar bisa tetap ceria.
"Paman..! kau boleh kembali ke krajaan Sangkala aku di sini tidak apa-apa, paman tidak perlu khawatir kan aku,"
"Tidak pangeran, aku akan menemani pangeran sampai aku yakin pangeran sudah tidak lagi berduka."
Pangeran Tatius Tersenyum simpul
"Apa paman yakin aku bisa kembali seperti awal mula, kurasa hidupku sudah tidak memiliki arti apa-apa paman, jadi akan butuh waktu entah berapa lama apakah paman tidak akan lelah karena nya,"
"Tidak, pangeran aku tidak akan lelah menemani pangeran."
"Paman, hari ini aku ingin pergi ke dunia manusia, aku akan tinggal beberapa hari di Rumah Ayah Tania."
"Untuk apa pangeran ke sana, apalah pangeran masih tidak yakin jika Nona Tania sudah Tiada."
"Tidak paman, aku hanya rindu padanya mungkin dengan tidur dan beristirahat di Rumah nya hatiku akan lebih baik Paman, entah mengapa rasanya hatiku ini sangat sesak paman aku benar-benar tidak percaya jika Tania tega meninggalkan aku, ini sangat sakit aku tidak bisa lagi melihat tawa candanya apalagi kemanjaan nya, paman tunggu di sini saja aku akan pergi, jika ada yang bertanya katakan saja aku lagi mencari angin segar."
"Aku ikut, pangeran."
"Paman serius,"
Patih lembu ireng mengagguk kan kepala nya.
"Saya ingin merasakan bagaimana tinggal di Dunia manusia."
"Baiklah, ayo kita pergi sekarang juga."
Dengan kecepatan terbang yang tinggi pangeran Tatius dan Patih lembu ireng tidak membutuhkan waktu lama sudah berada di dalam kamar yang tidak begitu luas dan juga tidak begitu sempit Milik Tania.
"Paman boleh duduk di kursi itu tapi jangan duduk di ranjang ini, Kalau paman lelah dan ingin beristirahat paman bisa menggelar tikar tidur di lantai bawah."
"Lho, kok gitu pangeran, ini kamar kan luas mengapa aku tidak boleh tidur di sana ini Ranjang tidak sempit ini cukup untuk tiga orang dan kita cuma berdua jadi untuk apa aku harus tidur di bawah dengan menggelar tikar."
"Paman...! kamu hanya abdi kerajaan jadi pahami derajat mu."
"Deg ...!
Patih Lembu Ireng menelan ludahnya dengan kasar seolah olah tenggorokan nya kering.
"Sejak kapan pangeran membeda-bedakan kasta antara abdi dan bukan, bukankah di kamar Puri Istana kepribadian Pangeran yang lebih luas dan indah aku justru di ijinkan tidur di atas Ranjang pangeran bahkan sesuka hatiku dan pangeran tidak mengungkit kasta."
"Paman...! Ranjang ini milik Kekasih ku jadi hanya aku yang boleh di sini jika paman keberatan dan takut akan dingin paman boleh pergi, kembali ke istana kerajaan di sana paman akan tidur dengan nyaman."
Patih lembu ireng menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.
"Astaga....! Pangeran Tatius masih posesif juga padahal Nona Tania sudah tiada tapi segela miliknya masih tidak boleh di sentuh orang, hmmm, cinta itu memang benar-benar bisa membuat orang gila."gumam patih lembu ireng bermonolog sendiri.
"Kenapa diam paman..!"
"Baiklah, pangeran! aku tidak masalah tidur di lantai, huuuff demi menemanimu pangeran."desis Patih lembu ireng dalam hati.
"Ya sudah aku mandi dulu paman ingat jangan duduk di sini "
"Iya, pangeran, siap!
Ketika pangeran Tatius masuk ke dalam kamar mandi, tiba-tiba pintu kamar di buka dari luar Mendengar ada yang membuka pintu dengan cepat Patih lembu ireng terbang melesat bertengger di atap kamar.
"Huuff, capek aku mau berbaring dulu," ucap seorang pemuda berkacamata yang tiba-tiba langsung membaringkan tubuhnya di atas Ranjang Tania.
"Wah, gawat kalau pangeran Tatius keluar dari dalam kamar mandi bisa marah dia, tapi mungkin tidak, anak manusia itu mungkin saudara nya Tania, Kalau begitu biarkan saja."
Duapuluh menit lamanya Pangeran Tatius menyelesaikan ritual mandi dan keluar dalam keadaan Rambut basah dan segar.
Paman Patih Lembu Ireng Tersenyum bahagia melihat pangeran yang beberapa Minggu belakangan terlihat kusut kini sudah segar dan Tampan kembali.
Keluar dari dalam kamar mandi pangeran Tatius mengeryitkan dahinya Melihat sosok laki-laki yang tidur di atas Ranjang kekasih nya.
Dengan langkah cepat Pangeran Tatius menarik kaki laki-laki berkacamata untuk turun dari Ranjang Kekasih nya.
"Turun, kau...!" berani sekali kau tidur di sini hah...!
Sosok pemuda itupun sedikit terkejut manakala kakinya di seret turun dengan paksa.
"Hei, apa yang kau lakukan, lepaskan kakiku." teriak pemuda berkacamata yang tubunya di tarik dalam keadaan dia tengkurap.
"Turun....! Brugh."
Pangeran Tatius melepaskan tarikan tangannya ketika tubuh Pemuda berkacamata itu sudah jatuh ke lantai.
Dengan cepat pemuda berkacamata pun bangkit dan menoleh ke arah orang yang telah menarik kakinya, betapa terkejutnya dia ketika mengetahui siapa yang telah menarik tubuhnya, begitu juga dengan Pangeran Tatius dia pun tak kalah terkejutnya ketika mengetahui siapa pemuda yang berani tidur di Ranjang Kekasih nya, hingga kedua nya mengucapkan kalimat yang sama.
"Kau....!
Pangeran Tatius dan pemuda itu sama sama melotot dan sama-sama marah.
"Dasar kau Vampire jelek, kenapa kau tarik kakiku, sakit tau."
"Hei, kau Dodi idiot ngapain lo tidur di kamar kekasih ku, bikin rusuh saja, jika kau berani kurang ajar lagi aku cekik kau..!" geram Pangeran Tatius pada pemuda yang ada di depannya.
"Pamannnn.... tolong akuuu....!"
Mendengar suara keras minta tolong dari dalam kamar putrinya dengan cepat sosok laki-laki paruh baya berlari masuk ke dalam kamar.
"Ada, apa Dodi...!
"Tuh, Vampire jelek itu mau mencekikku."
"Tatius....! sejak kapan kau di sini dan mengapa kau buat Dodi ketakutan begitu."
"Ayah...dia sudah lancang tidur di sini."
"Apa salahnya, Dodi kan capek aku yang suruh beristirahat di kamar Tania."
"Tidak boleh Ayah, Ranjang ini milik ku dan semua yang di sini milikku tidak boleh bocah idiot itu di sini, gara-gara kebodohan nya Tania menjadi kehilangan nyawa, dasar pemuda pembawa sial." geram Pangeran Tatius yang mana ucapannya langsung membuat Dodi menanggis histeris.
"Paman...! Dodi ngak bermaksud membunuh Tania, paman, Dodi juga tidak mau Tania tiada, Paman, Dodi menyesal hizk....hizk.....hizk...!
"Sudah....sudah semua sudah suratan Takdir, ayo keluar semua dan kau Tatius kau tidak boleh menyalahkan Dodi terus kita harus bisa ihklas ..Tania begitu menyayangi Dodi jadi jangan buat Dodi bersedih,"
"Tapi, Ayah...!
"Stop, bersikap baiklah padanya."
"Ayah, kenapa Ayah membela nya jelas-jelas gara-gara dia Tania tiada."
"Cukup, jangan di bahas lagi, kita kita bisa melawan takdir, kau harus belajar mengikhlaskan juga, ayo kita makan."
Ayah Tania, Dodi dan pangeran Tatius duduk dalam satu meja, tak lama kemudian bel rumah berbunyi.
"Ting .tong...Ting tong...!
"Dodi.... Tolong kamu bukakan pintu,"
"Baik, Paman!
"Tidak perlu, biar aku saja yang buka jalan mu kayak siput gitu,"Sungut Pangeran Tatius yang langsung terbang melesat ke arah pintu.
"Tentu saja jalanku seperti siput dan kamu seperti kelelawar."ucap Dodi kesal yang mana membuat Ayah Tania menggelengkan kepalanya.
Ketika pintu terbuka.
"Kau...! mau apa kau ke sini?" tanya pangeran Tatius sinis.
"Ayah Tania, menggajakku makan malam bersama dan kau kenapa pula berada di sini."
"Ini Rumah kekasih ku jadi suka-suka aku."
"Kalau begitu kau juga harus ingat aku ini gurunya jadi sudah sewajarnya selalu ada di sini."
Dengan saling membuang muka pangeran Tatius dan pak guru Wili berjalan masuk ke dalam ruang makan.
"Ayo, kita makan, Tatius makanlah."seru Ayah Tania pada kedua pemuda itu.
"Tidak selera Ayah, lebih baik aku balik ke kamar saja."
"Sudah, balik sana..! ke alam asalmu jangan ada di sini bikin pusing orang saja."seru pak guru Wili yang masih sangat kesal karena Tania sangat mencintai pemuda Vampire di depan nya ini.
"Wili, kau...!'
"Sudah kenapa harus bertengkar, duduklah Tatius kamu harus makan."
"Ayah..!"
" Hmmm, Ada apa?"
"Kita bongkar saja kuburan nya Tania, siapa tau Ayah salah mengguburkan jasad orang."
"Huust...! mana bisa pihak rumah sakit berbohong, sudahlah aku tau kamu sedih dan kehilangan tapi kita harus belajar ihklas."tukas Ayah Tania menasehati.
Acara makan malam bersama berlangsung hikmat dan hening setelah perdebatan itu, tidak ada lagi percakapan di ruang makan di antara mereka, semua sibuk dalam lamunan nya sendiri sendiri.
Setelah Acara makan malam semua berkumpul duduk di ruang tamu begitu juga dengan pangeran Tatius, mereka semua merasa sangat kehilangan sosok gadis cantik yang ceria.
Di tengah tengah keheningan dalam diam tiba-tiba Dodi buka suara.
"Paman, apakah Devan pernah ke sini..!"
pertanyaan Dodi membuat Pangeran Tatius menatapnya dengan penuh selidik.
"Tidak, seingat ku, Devan tidak ada dalam acara pemakaman."jawab Ayah Tania dengan tegas.
"Kok, aneh, biasanya Devan pasti datang dan tidak akan pernah jauh-jauh dari Tania."ucap pak guru Wili yang tiba-tiba ikut bicara.
Pangeran Tatius yang penasaran pun akhirnya tak kuasa menahan pertanyaan nya.
"Ketika Tania tertembak apakah Devan tau."
"Tau lah, Devan yang angkat tubuh Tania yang penuh dengan darah, Devan juga ada di rumah sakit kala itu, tapi ketika dokter itu menggatakan Tania sudah tiada aku tidak pernah melihat nya lagi, mungkin Devan sangat terpukul dan syok, aku benar-benar telah membunuh Tania seandainya aku bisa melindungi diriku sendiri Tania pasti tidak akan celaka, hizk.....hizk.. akulah pembunuh Tania."seru Dodi dengan Isak tangis yang mulai kembali mengalir.
"Ssssst, sudah jangan menyalakan dirimu sendiri ini pasti sudah takdir."sela Ayah Tania mengakhiri perdebatan di antara mereka, tidak ada yang tidak sedih dan tidak ada yang tidak terluka semua terluka, semua sedih, tapi Ayah Tania lebih memilih untuk berpasrah dan mengikhlaskan nya, meskipun kehilangan terdalam ada padanya, tidak ada seorang Ayah yang baik-baik saja, jika mengetahui putrinya telah tiada tapi siapa yang bisa melawan takdir dan kehendak yang maha kuasa.
"Tapi, paman..! aku benar-benar tidak berguna, aku benar-benar pemuda bodoh akulah pembunuh Tania, hizk...hizk.....!seru Dodi berkali-kali menyesali semua musibah yang terjadi pada gadis yang juga sangat dia sayangi.
"Baguslah kalau kau sadar," geram pangeran Tatius kesal.
"Sudah sudah, jangan di bahas lagi biarkan Tania tenang di alam sana."ucap Ayah Tania memutuskan.
Pangeran Tatius memejamkan matanya, manarik nafas panjang dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ini semua juga salahku karena kebodohan ku dalam menjaganya andai waktu itu aku tidak mendekap putri Lin Ying pastilah Tania tidak akan pergi dariku dan pastinya kejadian buruk ini tidak pernah terjadi, aku benar-benar bodoh, sangat bodoh.... Araaaaaagggghhhh....! Pyaaarr...!
tanpa sengaja pangeran Tatius menjatuhkan cangkir kaca berisi air mineral, sontak saja hal itu membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut.
"Tatius, sembarangan saja Lo mecahin barang Ayah nya Tania."
"Aku tidak sengaja, wil."
Ciih, alasan saja kalau masih mau melampiaskan kemarahan sono balik ke asal mu jangan di sini."
"Sudah, jangan. ribut, pak guru Wili ini sudah malam apa pak guru Wili tidak ingin pulang,"
"Oh, iya saya mau pulang Pak, kalau begitu saya pamit pulang dulu,
"Tunggu....!
"Apa lagi,"Tanya pak guru Wili dengan sinis.
"Apakah Devan masuk sekolah?"
"Tidak ada, untuk beberapa hari ini dia tidak terlihat, mungkin lagi ada keperluan, anak itu dari dulu memang suka bolos, bahkan pernah ngajak Tania pulang kabur dari sekolah, parah pokoknya dia itu, jadi jangan tanya tentang Devan."
Setelah mengucapkan itu pak guru wili pamit kepada Ayah Tania untuk pulang. suasana ruang tamu kembali hening, Tatius cukup bertanggung jawab setelah memecahkan cangkir kaca tempat air mineral pangeran Tatius membersihkan sendiri dengan menggunakan kekuatan nya sehingga tidak membutuhkan waktu lama semua kekacauan yang pangeran Tatius lakukan sudah bersih.
"Dodi, apa kamu tidak pulang ini sudah malam."
"Dodi mau menginap di sini om, tidur di kamar nya Tania."
"Tidak boleh, kamar Tania tidak boleh di tempati siapa pun."Seru pangeran Tatius dingin.'
"Tatius....!maaf, Nak Dodi, lebih baik Nak Dodi pulang, kasian orang tua Nak Dodi nanti binggung."
"Baiklah,Om!"
Dodi bangkit dari duduknya dan melangkah pergi setelah berpamitan kepada Ayah nya Tania, kini tinggallah Ayah Tania dan pangeran Tatius yang masih berada di ruang tamu.
"Kau tidak pulang?"
"Apa, Ayah juga mau mengusir ku."
"Tania sudah tidak ada apalagi yang kamu tunggu, pulang lah, pasti keluarga mu juga binggung mencari mu,"
"Apa, Ayah keberatan jika aku di sini, jika keberatan aku bisa tinggal di hutan atau di manapun, tapi jangan pernah ijinkan siapapun menempati kamar Tania."
"Jika kau masih ingin di sini aku tidak melarang, tapi tidak boleh lebih dari satu Minggu, aku khawatir keluarga mu di sana binggung."
"Trimakasih, Ayah!
Ayah Tania Tersenyum sambil menepuk pundak pangeran Tatius.
"Beristirahat lah, pasti kau lelah aku akan Sholat dulu,"
"Sholat, apa, itu sholat Ayah?"
"Berdoa, pada Sang maha pencipta."
"Berdoa untuk apa Ayah!
Ayah Tania Tersenyum.
"Untuk meminta agar Tania di sana di berikan kebahagiaan."
"Apakah, doa Ayah akan diberikan."
"Ya...!"
"Ayah, aku juga mau sholat aku mau berdoa agar Tania bisa hidup lagi."
Ayah Tania Tertawa mrndengar perkataan Pangeran Tatius yang sangat lucu.
"Kenapa, Ayah menertawakan ku, bukankah Ayah bilang doa kita pasti di beri dan di kabulkan."
"Kau benar, baiklah kau boleh berdoa apa saja sesuka mu."
"Aku tidak mau apa-apa, aku hanya mau Tania bisa hidup."
"Tatius, kalau bisa berdoa selain itu karena doa yang kamu minta itu mustahil Nak, kita harus ihklas."
"Kalau begitu Ayah bohong, katanya apapun yang kita minta akan di kabulkan dan di beri."
Ayah Tania menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan, dia binggung juga harus bagaimana menjelaskan pada sosok Vampire yang sudah menjadi manusia, akhirnya di biarkan saja apa yang menjadi keinginan nya.
Hari ini adalah kali pertama pangeran Tatius melakukan Sholat menggikuti apa yang dilakukan Ayah Tania, pangeran Tatius tertarik menggikuti karena dia berharap apa yang menjadi keinginan dan doanya bisa di beri.
Meskipun Ayah Tania tau dan mengerti jika apa yang di inginkan pangeran Tatius hanya akan menjadi sebuah mimpi.
Tidak pernah tau dan tidak pernah melakukan yang namanya Sholat, pangeran Tatius sedikit Tertawa geli, melihat dan memperagakan gerakan gerakan Sholat yang dia anggap sana seperti orang yang sedang olah raga.
"Oh, jadi begini yang namanya Sholat, berdiri, membungkuk, me ncium lantai lalu duduk, satu jari lurus ke depan, ini sangat mudah aku bisa smoga saja doaku cepat di beri," lirih pangeran Tatius sanbil Tersenyum.