
Dengan sedikit berdehem Tania mencoba membuat laki-laki yang berdiri membelakangi menoleh kepadanya dan tepat sekali sosok laki-laki berjubah panjang itupun menoleh.
Bagaikan terkena sengatan listrik, ketika Tania melihat wajah sosok laki-laki yang berdiri didepan nya yang mana wajahnya sudah tak asing lagi baginya, Tania langsung melangkah mundur satu langkah dengan tangan membungkam bibir nya.
"Ka-kakek, kenapa kau berada di sini, seru Tania gugup."
Mendengar ada yang memanggil dirinya, sang kakek berjubah hitam pun membalikkan badannya.
Lagi-lagi Tania meneguk ludahnya, pandangan matanya menoleh ke kanan dan kiri seolah olah sedang mencari sesuatu, seolah memahami laki-laki tua paruh baya itupun membuang nafasnya kasar sebelum bicara.
"Tidak perlu mencari Tatius tidak ada di sini," tentu saja kakek laki-laki paruh baya itupun memberikan penjelasan yang dia ketahui jika Pangeran Tatius berada di dalam istana kerajaan Awang Awang Vampire bagian belakang dan dia memahami jika Tania celingukan sedang mencari Tatius.
Dengan wajah merah merona bak seorang pencuri yang sedang ketahuan Tania menelan ludahnya sambil tersenyum kecut.
"Kakek bisa saja, sapa juga yang mencari Tatius, kakek sendiri kenapa ada di sini dan mengapa ingin bertemu dengan ku apa ada yang penting."
"Tentu saja, duduklah kita bicara di sini,"Tania menggikuti apa yang di perintahkan sang Kakek.
"Tania, apa kamu merindukan kan Tatius?"
"Tentu saja Kek, Tatius itu baik dan teman yang menyenangkan."ucap Tania dengan nada yang enteng.
"Glugk." Hampir saja sang kakek tersedak mendengar kalimat Tania yang terakhir.
"Apa?" teman! maksud nya bagaimana?" tanya sang kakek penasaran.
"Iya, teman ya teman masa kakek ngak paham apa itu teman."
Merasa semakin binggung dan pusing, sang kakek kembali bertanya hatinya sungguh benar-benar merasa ingin tau.
"Oh, apa teman yang kamu maksud akan menjadi suamimu kelak begitu."
Tania langsung tergelak Mendengar pertanyaan sang Kakek yang sangat aneh menurut nya.
"Kakek ini gimana sih, kalau yang bisa menjadi calon suami atau pendamping kita itu namanya pacar kek, Kekasih bukan teman." jawab Tania sambil tertawa.
Jawaban yang benar-benar hampir membuat jantung sang kakek copot dan terlepas dari uratnya.
"Ja-jadi Tatius itu cuma temanmu,"tanya sang kakek dengan tatapan penuh selidik.
"Betul,"seru Tania antusias sambil menjentikkan jarinya sebagai tanda bahwa ucapan sang kakek seratus persen benar.
Susah payah laki-laki paruh baya berjubah hitam itu meneguk ludahnya.
"Keterlaluan, mantra Nenek tua itu benar-benar bekerja," gumam sang Kakek dalam hati yang mana dia masih merasa penasaran dengan Gadis yang ada di depannya.
""Aku tidak tau apa yang kakek maksud, aku juga tidak punya banyak waktu karena calon suamiku sedang menunggu di dalam sana."
"Apa?" calon suami?apa kau akan segera menikah."
"iya, kek, kakek datang ya."
Sang kakek Tersenyum sambil mengagguk.
"Tania..?
"Ya, Kek."
"Kalung kamu bagus boleh aku melihat nya."
"Ini!
"Iya, lepaskan aku ingin melihat nya seperti nya sangat lucu dan unik."
Tania tertawa lebar.
"Kakek ada-ada saja, tapi maaf Kek, Nenek sudah berpesan aku tidak boleh melepaskan kalung ini,"
"0,ya!" yang melihat kan kakek jadi boleh dong, kan cuma lihat Sebentar."
"Baiklah Kek tapi sebentar saja ya, kan aku sudah berjanji sama Nenek tidak akan melepas,"
"Tentu saja, jangan khawatir kakek tidak akan lama."
Perlahan-lahan Tania membuka kalung yang dia gunakan dan memberikan nya pada sang kakek. Dengan bibir Tersenyum Tania menggulurkan Kalung yang di pakai nya.
"Ini, kek!"ucap Tania sambil menggulurkan Kalung yang dipakainya kepada sang kakek, dengan Tersenyum simpul sang kakek menerima Kakung yang di ulurkan Tania kepadanya.
Setelah kalung itu berada di gengaman tangan sang kakek, dengan penuh hati-hati dan perlahan-lahan kalung itu dibolak-balik untuk beberapa detik Tania merasa aneh dan bingung dengan sikap sang kakek yang aneh.
Belum hilang rasa aneh dan ingin bertanya mengapa kalung itu di bolak-balik, tiba-tiba dengan gerakan cepat sang kakek melempar Kalung itu ke atas Udara.
Melihat Tania Tania terkejut dan tercengang dibuatnya.
"Kakek..!" apa yang kau lakukan? mengapa kau membuang kalung itu, kek cepat ambilkan Nenek bisa marah padaku dan Nenek bisa....
Belum selesai Tania bicara tiba-tiba Kakek Sangkalah sudah menotok punggung Tania yang tak lama kemudian tubuh itu limbung dan hendak terjatuh kelantai, akan tetapi Sang Kakek ternyata tidak tinggal diam, dengan cepat diraihnya tubuh Tania sehingga tidak sampai jatuh dan tanpa di sadari sang kakek ada sepasang mata yang melihat kejadian itu, wajah nya yang tadinya biasa saja tiba-tiba berubah menjadi merah padam dengan tangan menggepal kuat berlari mendekati tempat sang Kakek dan Tania berada.