
Tanpa disadari mereka berdua, ada sepasang
mata yang telah melihat kepergian mereka
diam diam.
"Ternyata, masuk, tapi sengaja tidak menggikuti
pelajaran dariku.Gumam Pak guru Wili dalam
hati.
"Anak anak, Karena hari ini pak guru ada urusan
mendadak, kalian aku ijinkan pulang lebih cepat
dan buat pr Minggu depan kerjakan halaman
selanjutnya."
"Baik, pak,"
"Ok, silahkan di pimpin berdoa, lalu kita pulang.
****
Siang itu jugai, sengaja pak guru Wili datang bertamu ke rumah Tania.
"Ting...Tong....Ting ...Tong...!
Tidalk menunggu berapa lama, pintu rumah pun terbuka.
Melihat sispa yang datang bertamu, segera
Ayah Tania membukakan pintu rumah.
"Pak guru, Wili...!mari masuk pak."
"Trimakasih, Tania nya ada pak?
"Oh, belum pulang, tadi sudah telpone katanya
lagi ada acara dengan temannya."
"Oh, begitu ya pak, baiklah, kalau begitu saya
permisi pulang dulu, Karena Tania nya tidak ada.
"Oh, Iya, Silahkan, pak."
Pak guru Wili melangkah keluar pintu dengan
di antar Ayah Tania, sampai di luar, pak guru Wili melambaikan tangannya kepada Ayah
Tania, langkahnya begitu terburu buru, hatinya
sangat kecewa, ternyata Tania sedang tidak
ada di rumah, itu artinya Tania, pergi bersama
laki laki yang siang tadi juga bolos dari mata
pelajarannya.
****
Dengan membawa motor, Devan mengajak
Tania menemui Neneknya.
Awalnya Tania menolak, namun karena bujukan
Devan Akhirnya Tania menerima ajakan Devan.
"Kita sudah sampai, ayo kita masuk."
"Rumah nya cukup besar, dengan siapa Nenekmu tinggal disini?
"Sendiri,"
"Apa..? sendiri, dirumah yang sebesar ini apa
tidak takut, atau Nenek mu punya pembantu
yang selalu menemani nya,"
"Tidak, Nenek ku sendiri saja di rumah ini, ayo masuk lah,"
"Ya, trimakasih,"
Devan membuka pintu dengan kunci cadangan
yang di berikan Neneknya beberapa hari yang lalu,
Sang Nenek, yang tidak selalu berada di dalam rumah, Karena terkadang sang Nenek suka
menghabiskan waktu di kebun belakang rumah, sehingga tidak bisa cepat membuka kan pintu
kalau cucunya datang.
"Kamu, tunggu disini, aku mau mencari Nenek
di belakang."
Tania mengagguk, dengan cepat Devan masuk
ke dalam rumah menuju halaman belakang,
dia yakin kalau Neneknya pasti ada di belakang
rumah.
Ternyata dugaan Devan benar, sang Nenek ada
di belakang rumah nya.
"Nek...!"
"Devan...!ada apa, kamu datang lagi?"
"Aku, datang bersama dengan temanku, Tania
cepat Nenek temui !"
"Hmmm, siapa Tania, pacar kamu?
"Ah, Nenek, bukan pacarku , tapi mau kujadikan
pacar kalau anaknya mau, tapi sayangnya, Tania sepertinya, tidak suka padaku Nek."
Sang Nenek terkekeh mendengar celotehan
cucunya.
"Baiklah, sekarang di mana dia,"
"Ada, di ruang Tamu Nek."
"Ya sudah, ayo, kita temui."
"Nek...!"
"Hmm, apalagi?
"Tania itu, gadis yang pernah ku ceritakan tempo hari, yang tangannya selalu di perban itu, dan yang perban nya tidak boleh di buka
terlebih saat bulan purnama."
"Oh, lalu kenapa, kau bawa kemari?
"Ya... Nenek! aku tau, Nenek sedikit punya kelebihan bisa memahami hal hal begituan, coba nanti Nenek lihat dia ya,..."Please?"Ucap Devan sambil mengatupkan kedua tangannya
membentuk suatu permohonan.
"Baiklah, ayo kita lihat."
Bergegas Nenek dan Devan menuju ke ruang tamu.
****
Sedangkan di belahan bumi lainnya tampak
seorang wanita, sedang berlari berkelebat
dengan riangnya.
tubuhnya yang berkelebat seringan angin,
berhenti di depan sebuah bangunan rumah
yang cukup tua, dia melangkah ke dalam
beberapa orang yang ada di sana segera
mengucapkan salam ketika melihat kehadiran
nya.
"Salam Ratu...!"
"Ada di taman belakang Ratu,"
"Di taman belakang? ngapain pangeran Yervan
ke taman belakang?"
"saya, tidak tau Ratu,"
"Baiklah, kalian boleh kembali ke dalam istana,
tinggalkan kami disini,'
"Baik, Ratu..?"
Setelah beberapa pengawal istana pergi, Ratu
Derbah, segera ke taman untuk menemui
putranya.
"Pangeran Yervan...!"
Mendengar Namanya di panggil dengan cepat
pangeran Yervan menoleh mencari ke sumber
suara, setelah menggetahui siapa yang telah
memanggilnya dengan cepat pangeran Yervan
segera menghampiri Ibundanya.
"Ibunda, Ratu Derbah, memanggil saya,"
"Iya, pangeran, kemarilah aku ingin bicara
dengan mu?"
"Ibunda Ratu, mau bicara apa?"
"Pangeran Yervan putraku, apa kau tidak ingin
segera menikah?"
"Hey, ada angin apa, tiba tiba ibunda Ratu
membicarakan soal pernikahan."
"Sini, pangeran Yervan, duduklah di dekat bunda."
Pangeran Yervan menggikuti dan menuruti
perintah Ibundanya, meskipun hatinya Binggung dan bertanya tanya, kenapa tiba-tiba
ibundanya menyinggung soal pernikahan.
Ratu Derbah tersenyum dan menatap putranya
dengan lekat lekat.
"Dengar, pangeran Yervan, putraku, Kerajaan
Barat Daya sedang menggadakan sayembara
siapapun yang akan jadi pemenangnya, akan
mendapatkan putri cantik lin ying, selain itu
dia juga berhak sepertiga dari harta kerajaan
Barat Daya, apakah pangeran Yervan mau ikut
dalam sayembara itu?"
"Wah, mendapatkan putri lin ying...!aku sudah
pernah mendengar tentang kecantikan nya Ratu, tentu saja aku mau, siapapun pasti lah
senang jika bisa mendapatkan sang putri,
aku mau ikut sayembara itu ibunda Ratu."
"Baguslah, kalau begitu, kamu harus lebih giat
dalam berlatih, agar pangeran bisa menjadi pemenang nya."
"Tenanglah, ibunda Ratu, ilmu kanuraganku
sudah sangat bagus, tidak akan ada satu
pangeran pun yg akan mampu menandingi ku,"
Ucap pangeran Yervan dengan penuh keyakinan.
"Tapi pangeran, musuhmu bukan hanya pangeran pangeran di luar kerajaan sana, tapi
kau juga akan berhadapan kembali dengan
pangeran Tatius."
"Apa...? pangeran Tatius, juga ikut dalam sayembara itu !"
ibunda Ratu, ini tidak mungkin, bukankah
Ayahhanda Raja, telah membuat pangeran
Tatius di penjara, lalu, bagaimana mungkin
dia bisa ikut dalam sayembara itu?"
"Raja, telah membebaskan pangeran Tatius, pangeran Yervan, ibunda Ratu Sangat
yakin kau tidak akan mampu melawannya
bukan kah kau menang karena kecurangan
yang ibunda lakukan."
"Iya, ibunda Ratu, aku akan berlatih sangat
keras, agar aku mampu menandingi pangeran Tatius,"
Mendengar ucapan putranya, Ratu Derbah
tertawa.
"Ha...ha...ha..ha...ha...!"
"Pangeran Yervan, pangeran Yervan...!"
Ratu Derbah menepuk pundak putranya.
"mau belajar keras bagaimana? pangeran Tatius bukan tandingan kamu,'
"Lalu, apa aku harus mundur saja dan tidak
menggikuti sayembara itu ibunda Ratu?
Tidak ibunda Ratu, aku sangat ingin menggikuti
sayembara itu, jadi apapun resikonya dan siapa
pun, aku siap menghadapi nya Ratu."
"Tapi, kamu tidak akan jadi pemenangnya,"
"Lalu, aku harus bagaimana Ratu !"
"Dengar, saran dari ibunda Ratu, kau harus
bisa membuat dan menyakinkan pangeran
Tatius, untuk tidak menggikuti, sayembara itu,
kau harus bisa merayu dan membujuk nya."
"Baik, ibunda Ratu, aku akan berusaha, sekarang dimana pangeran Tatius, aku mau
menemuinya."
"Pangeran Tatius, ada di kerajaan Sangkala kakeknya, jadi temui pangeran Tatius disana,
akan lebih bagus kalau kau buat perjanjian
dengan pangeran Tatius, kau inginkan
putri lin ying, jika pangeran Tatius menang
suruh dia berkata atas namamu,"
"Wah, ide, yang cerdas ibunda Ratu, Tatius tidak akan menolak keinginan ku, pasti dia
akan setuju dengan permintaan ku."
Ratu Derbah tersenyum
"Aku, percaya kau mampu, membuat pangeran Tatius mengalah padamu."