The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab.201.LEBAY.



Devan tersenyum bahagia mendapati Tania tidak protes dengan apa yang di lakukan nya bahkan Tania, terlihat santai dan cuek sedangkan Devan hatinya sangat berdebar-debar bahkan melingkar kan tangannya di pinggang ramping milik Tania saja sedikit bergetar.


"Oh, Tuhan, inikah yang di namakan cinta, sangat indah dan sayangnya cintaku tak berbalas, sialnya mau move on rasanya sulit meskipun sttus saat ini, dia pun sudah memiliki kekasih, hubungan nya dengan sang pacar berjalan lancar bahkan lebih terlihat seperti saudara, tidak ada jeles jelesan bahkan jarang berduaan pun tak jadi masalah, seperti saat ini sang pacar berjalan beriringan dengan laki-laki lain, bahkan dengan manja tangannya bergelayut manja pun tak jadi keributan semua biasa saja. bahkan dirinya merasa nyaman jika sang pacar tidak nempel terus seperti saat ini ketika pacarnya asik nempel dengan kekasih orang lain, Devan menggunakan kesempatan itu untuk bisa dekat dan bermanja pada Tania, cinta tak sampai dan tak bisa di padamkan dengan mudah, hal itu membuat Devan terkadang Nekad, karena tidak mampu membohongi hati dan perasaan nya sendiri.


Pangeran Tatius yang berjalan beriringan dengan Clara tiba tiba menghentikan langkah kakinya.


"Kenapa berhenti, ada apa ayo, kita ke arah sana seperti nya di sana sangat indah." ajak Clara pada Pangeran Tatius yang dengan serta Merta tangannya menarik tangan Pangeran Tatius.


"Tunggu, Tania mana?'tanya pangeran Tatius pada Clara.


"Ta-Tania, pasti masih di belakang sama seperti ku suka melihat lihat jadi jalannya sedikit lambat, sudahlah biarkan saja sebentar lagi mereka juga kelihatan, ayo kita ke sana aku mau lihat yang di sana." ajak Clara pada Pangeran Tatius.


"Aku tunggu Tania dulu, kamu boleh lihat lihat sendiri jangan khawatir tidak ada satu Vampire pun yang akan mengaggumu."ucap pangeran Tatius pada Clara.


"Tidak enak jalan sendiri enakan di temani kamu,"ucap Clara.


"Kalau begitu tunggu sebentar kita tunggu Tania dan Devan dulu," ujar pangeran Tatius menjelaskan membuat Clara mau tidak mau dia harus menunggu juga.


Tidak lama kemudian terlihat lah dua orang sedang berjalan berduaan sambil tertawa-tawa di mana satu tangan dari laki-laki itu yang tak lain adalah Devan sedang melingkar dengan manis di pinggang Tania, hal itu membuat Pangeran Tatius mendesis dengan geram bahkan kedua tangannya mulai mengepal dengan tatapan matanya menatap tajam pada Devan dan Tania.


Tania dan Devan yang lagi Tertawa riang gembira tiba-tiba menghentikan tawanya ketika tanpa sadar Tania menatap ke depan dan pandangan matanya bersitatap dengan pangeran Tatius, entah mengapa hati Tania merasa tidak enak, melihat tatapan tajam dan penuh kabut amarah di sana.


"Van...!" lepaskan tanganmu Tatius melihat kita,"


lirih Tania pada Devan yang membuat Devan menghentikan langkah kakinya dan Langsung menatap ke arah depan di mana mata tajam Tatius sedang menatapnya, dengan gerakan refleks Devan akhirnya melepaskan tangannya yang melingkar manis di pinggang Tania sambil tersenyum manis pada Pangeran Tatius yang menatap nya.


Ketika mereka sudah dekat dan tatapan tajam mata Tatius masih saja terus menatapnya seolah olah sedang mengguliti nya, Tania menelan ludahnya dengan kasar, sedangkan Pangeran Tatius menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar.


"Lambat sekali jalannya,ayo cepat," ajak pangeran Tatius pada Devan dan Tania yang mana membuat hati Tania lega ternyata Tatius tidak marah padanya, ketika Tania asik bermonolog dengan hatinya sendiri tiba-tiba sebuah tangan langsung menggenggam tangan nya sontak saja membuat Tania menggadaikan wajahnya.


"Kamu itu calon istri ku jadi tidak baik jika harus berpegangan dengan orang lain selain aku, ayo sekarang kita jalan."seru pangeran Tatius pada semua nya, Tania memang tidak melihat api kemarahan di wajah Pangeran Tatius yang mana ucapannya pun di buat selembut mungkin tapi genggaman tangan dari pangeran Tatius terasa sangat erat dan kuat sampai membuat Tania sedikit meringis.


"Tatius, sakit...!"keluh Tania yang mana digenggam dengan sangat kuat, melihat gadis nya menggeluh sakit, Pangeran Tatius sedikit melonggarkan sedikit cengkraman nya.


"Sakit, ya...!"hatiku juga sakit, berani' berani'nya kamu membiarkan orang lain menyentuh mu,"


"Menyentuh apaan?"cuma....


"Ya...cuma pegang pinggang pacar orang."


"Tatius, dia itu sudah ku anggap saudara ku sendiri,"


"Sudah, aku ngak mau berantem, terserah kamu mau nuduh apa."ucap Tania pada akhirnya yang kemudian memilih diam. Menyadari Tania lagi kesal padanya pangeran Tatius melepaskan genggaman tangan nya. berjalan dengan kedua tangan di lipat di depan dada. Memahami kekasihnya lagi kesal juga perlahan lahan Tania menjajari langkah pangeran Tatius dan memasukkan tangannya di celah lipatan tangan pangeran Tatius yang lagi bersendekap di depan dada dan kepala nya di sandarkan pada bahu pangeran Tatius.


"Jangan marah, I love you," ucap Tania lirih membuat Pangeran Tatius tersenyum dari wajah kusutnya dan di lepaskan nya lipatan tangannya yang bersendekap di depan dada.


"Coba, lihat mana tangannya yang sakit," ucap Pangeran Tatius sambil berjalan yang juga sambil meraih dan melihat tangan Tania yang tadi di genggam nya dengan sangat kuat, ada warna merah di sana, wajah Pangeran Tatius terlihat sedih dan merasa menyesal.


"Maaf kan aku, sakit sekali ya," pangeran Tatius menatap manik mata choklat milik Tania dengan tatapan mata yang sendu yang sesekali bibirnya mengecup lembut tangan Tania dan mengusap usap nya berharap warna merah di pergelangan tangan kekasihnya cepat hilang.


"Dengar sayang..!" kau boleh membalasku biar aku juga bisa merasakan sakit nya."lirih Pangeran Tatius dengan tatapan mata yang sendu.


"Apaan, sih, cuma begini saja, nanti juga sembuh sendiri."


"Tapi sayang itu kan sakit."


"Pangeran Tatius kekasih ku.!' ngak usah lebay deh, cuma begini saja ini gak apa apa sakitnya juga biasa jadi ngak usah terlalu khawatir apalagi merasa bersalah, begitu."tutur Tania menjelaskan membuat Pangeran Tatius tersenyum gemas, andai tidak di tempat terbuka mungkin sudah habis tuh bibir Semerah jambu air.


Merasa di tatap dengan tatapan aneh Tania membuang muka.


"Kenapa menatapku begitu, bikin takut tauk."


Pangeran Tatius tersenyum


"Takut apa salting?"


"Apaan, sih! Buuugh."sebuah pukulkan kecil mendarat manis di punggung Pangeran Tatius, membuat pangeran Tatius terkekeh yang kemudian menghentikan langkah kakinya.


"Clara..! apa kau mau menemani Tania dia akan ku bawa ke perawatan kerajaan."ucap Pangeran Tatius menjelaskan.


"Iya, aku mau,"


"Baiklah, ayo kita berangkat, Van kamu tunggu di ruang ini sebentar, nanti aku akan bawa kamu ke kamarmu."


"yang benar saja yus aku kamu tinggal di disini, ogah gue ikut takut gue,"seru Devan yang tidak mau jika dirinya ditinggalkan seorang diri.


"Cuma sebentar, ngak lama aku akan segera balik,ngak ada juga yang akan mengaggumu."


"Ok, baiklah tapi cepat ya.!


Pangeran Tatius menunjukkan jempol jarinya sebelum membawa Tania dan Clara ke tempat perawatan di kerajaan istana.