
Dengan keras Tania membanting pintu mobil dan duduk dengan menyilang kan kedua tangan di depan dada. Pak guru Wili hanya bisa menggelengkan kepalanya sebelum masuk dan duduk sebagai pengemudi.
Ingatan Pak guru Wili melayang ke masa silam di mana dialah yang selalu meminta kekasih nya Zahra untuk mengerti dirinya, semua terjadi karena dirinya kala itu masih berstatus anak berondong yang tak dewasa sedangkan Zahra sudah anak kuliahan, usia yang juga terpaut sangat jauh di mana ketika itu dia masih duduk di bangku SMP itupun baru kelas dua.
Pertemuan yang tak sengaja di sebuah Hotel mewah yang di selenggarakan saudara sepupunya yang juga teman kuliah Zahra, singkat kata awal pertemuan membuat getar getar cinta tak pernah di sangka gayung pun bersambut dan mereka menjadi pasangan kekasih, akibat pernah mendengar ucapan dari teman Zahra kalau Zahra tidak suka punya kekasih berondong maka selama dua th status nya sebagai berondong pun dia simpan rapatw rapat semua agar Cinta mereka tetap menyatu, dan apa yang di katakan pepatah itu benar.
Sepandai-pandainya menyimpan bangkai lama kelamaan akan tercium juga begitu juga dengan status brondong Pak guru Will, tidak perlu di tanya lagi kala itu perang besar terjadi dalam perjalanan cinta mereka yang akhirnya berakhir dengan putus.
Satu bulan hingga tiga bulan semua tetap sama sama sama tidak ada perubahan Zahrah tidak mau menerima berondong sebagai pacarnya karena hal itu memalukan bagi nya.
Tapi pada bulan ke tujuh, Zahrah dan pak guru Wili kembali di pertemukan dalam pesta,di acara pesta ulang tahun temannya dan dari situ mereka baru menyadari jika mereka sama sama masih memiliki rasa dan akhirnya Zahra menerima pak guru Wili sebagai pacarnya meskipun dia seorang berondong.
Hari berganti waktu pun berlalu hingga terjadilah peristiwa pahit di mana Zahra datang dalam keadaan hamil pak guru Wili yang syok dan yang masih memiliki pemikiran kurang dewasa tidak mau mempercayai cerita Zahra sejak itulah mereka terpisah dan akhirnya menjadi satu penyesalan yang mendalam, hingga dia meninggal kan tempat kelahiran nya hanya untuk membuang rasa bersalah dan cintanya.
Takdir kehidupan memang tak seindah dan semudah yang dia bayangkan di mana pak guru Wili berharap dengan menjauh dari kotanya dia bisa tenang dari rasa bersalah nya dengan fokus menjadi seorang guru sekolah.
Lagi-lagi harapan tak seindah kenyataan, di mana ketika menjadi seorang guru penggajar lagi lagi pak guru Wili harus bertemu dengan wajah yang selama ini ingin di lupakan, karena tak mampu menahan gejolak hati hadir lah rasa Ingin memiliki dan alangkah terkejutnya dia ketika menggetahui gadis yang mirip Zahra itu putri nya Zahra dan lagi lagi perjalanan cinta nya tak semulus jalan toll gadis incarannya ternyata juga incaran mahkluk lain.
Terkadang ingin berteiak pada dunia Kenapa tak ada sedikitpun kebahagiaan yang bisa dia raih kenapa semua serasa sulit dan rumit.
Merasakan mobil yang di tumpangi nya belum berjalan Tania menoleh ke arah pak guru Wili yang ternyata sedang melamun.
"Pak...!" kapan jalan nya."seru Tania lantang membuat pak guru Wili tersadar dari lamunannya.
"Oh, iya Sebentar."Setelah memeriksa bagian bawah dan melihat ke arah kemudi yang sebenarnya tidak ada apa-apa pak guru Will segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menyusuri indahnya suasana sore.
Sementara di dalam kamar pangeran Tatius yang sangat kesal dan gusar memutuskan untuk pergi dengan secepat kilat Pangeran Tatius terbang melesat ke tempat perkotaan lain di mana kala itu pangeran Tatius meninggal kan Bibi Derbah.
Kala itu Bibi Derbah yang sedang tiduran di atas Ranjang terperanjat kaget ketika sebuah jendela tertutup dengan kasar sementara tadinya jendela itu dalam keadaan terbuka.Bibi Derbah mengerjabkan kedua matanya dengan punggung tangan.
"Pangeran...!" cepat sekali pangeran sudah kembali, aku pikir akan sangat lama."
"Ya, Bibi!"tadinya aku juga berfikir akan pergi lama tapi ternyata disana sangat membosankan jadi aku putuskan untuk kembali, apa Bibi Derbah lelah dan apakah aku mengaggu tidur Bibi?"
"Tentu saja tidak, pangeran!" kenapa pangeran berfikir begitu,"
"Jika Bibi tidak lelah, sore ini juga kita akan melanjutkan perjalanan mencari mutiara hijau, aku berfikir semakin cepat mencari peluang mendapatkan pasti akan semakin besar."
"Baik, pangeran aku akan selalu menggikuti kemanapun Pangeran pergi."
Hari itu juga pangeran Tatius dan Bibi Derbah bersiap siap untuk pergi dan melanjutkan perjalanan mencari mutiara hijau. Ketika pangeran Tatius hendak meninggalkan penginapan hotel yang dia pesan sang petugas, menahannya.
"Hai Tuan kau sudah memberikan logam emas sebagai alat pembayaran untuk pengginapan kami, lalu kenapa secepat ini ingin pergi, jika kau meminta kembali logam emas kamu kami tidak bisa mengembalikan nya karena logam emas itu sudah kami berikan pada atasan kami."
"Tidak, kami tidak akan meminta kembali logam emas yang sudah kami berikan jadi jangan khawatir."
"Jika kau tidak meminta kembali kau akan rugi karena tidak mendapat kan pelayanan dari kami."
"Tidak apa-apa, kami tidak akan merasa rugi, jika tidak ada hal penting lainnya aku mohon ijinkan kami untuk pergi."
Pangeran Tatius dan Bibi Derbah keluar penginapan dan kembali melanjutkan perjalanan.
Di istana Awang Awang Vampire Ratu Derbah sedang sibuk bersolek untuk mempersiapkan dirinya di depan cermin hatinya berbunga-bunga mana kala Raja saat ini tidak lagi sering membela Ratu Shima dan ini adalah satu kesempatan emas bagi Ratu Derbah untuk menggambil hati sang Raja.
Di tengah kesibukan nya mempersiapkan diri, pintu Puri kamar istana Ratu Derbah di ketuk dari luar.
"Tok...!" Tok...Tok...!"
Ratu Derbah menyunggingkan sebuah senyuman.
"Aku kira, Raja akan datang terlambat tapi ternyata dugaaknku kliru Raja datang lebih cepat dari biasanya."lirih Ratu Derbah sambil melangkah ke arah pintu dan membukanya, ketiika pintu terbuka Ratu Derbah sangat terkejut hingga tubuhnya terhuyung kebelakang.
"Kau...!"mau apa kau kesini?" Tanya Ratu Derbah dengan wajah yang tiba-tiba berubah pucat.
"Kenapa kau terkejut?' pasti kamu tau tujuan ku kesini untuk apa?"ucap laki-laki yang ada di depannya dengan terus maju melangkah ke dalam dan Ratu Derbah yang terus melangkah mundur.
"Berhenti...!" jangan mendekatiku, aku Istri Raja di sini kamu jangan kurang ajar."teriak Ratu Derbah dengan melangkah terus mundur karena orang di depannya yang tak lain Ramboka terus saja maju dan maju hingga membuat Ratu Derbah tersudut di dinding tak lagi bisa mundur.
"Kau, mau apa ?"tanya Ratu Derbah gugup.
"Jangan pura-pura bodoh tentu saja aku menginginkanmu."
"Jangan mimpi aku itu istri Raja, jika kau berani macam macam aku akan berteriak dan semua pengawal disini akan menangkap mu."ancam Ratu Derbah pada patih Ramboka.
Dengan senyum menyeringai Patih Ramboka mencengkram erat kedua bahu Ratu Derbah.
"Lakukan saja, aku tidak takut setidaknya jika aku hancur kamu pun akan hancur Raja akan menggetahui semua Rahasia yang kamu sembunyikan darinya, jadi.... kuperingatksn jangan mempermainkan ku,, ayo layani aku.!"
"Tidak....!"aku tidak sudih."
"Jangan kau membuat emosi ku marah."
"Tidak, keputusan ku tetap sama, aku tidak mau,"teriak Ratu Derbah ssmbil menepis tangan Patih Ramboka dan berjalan menjauh darinya, Namun belum satu langkah tangan kekar patih Ramboka sudah menariknya dengan kuat hingga membuat tubuh Ratu Derbah berbalik menghadap Patih Ramboka.
"Lepaskan aku, jangan main main aku bisa berteriak."
"Oh,ya...!" berteriak lah sesukamu, apa kau lupa kamar ini yang sering kita buat bercinta itu sudah kedap suara jadi tidak ada yang akan mendengar di luar sana." ucap patih Ramboka geram hingga mendorong tubuh Ratu Derbah jatuh ke atas Rajang.
"Ramboka, jangan lakukan aku mau jadi istri yang benar, aku mohon." ucap Ratu Derbah memelas yang semuanya pasti sia sia karena Patih Ramboka sudah di ujung gairah.
Ketika Patih Ramboka sibuk mencumbu dan menciumi Ratu Derbah dari luar terdengar suara panggilan.
"Ibu Ratu....!" apa ibu Ratu ada di dalam, saya masuk ya, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Ibu Ratu."
Suara dari luar membuat aksi Patih Ramboka terhenti pasalnya orang di luar akan segera masuk, seperti maling yang takut ketahuan patih Ramboka segera mengenakan kembali bajunya dan berniat pergi dari tempat itu.
"Sial...!" kali ini kamu bisa lolos Derbah tapu tidak untuk waktu berikutnya." ucsp Patih Ramboka kesal yang kemudian melesat keluar kamar melalui jendela. Ratu Derbah menarik nafas lega di benahi nya segala sesuatu dalam dirinya yang terlihat kusut kemudian melangkah keluar kamar dan membuka pintu kamar Puri istana nya.