
Pangeran Yervan yang melihat jalannya pertarungan itu segera mendekati pangeran Tatius.
"Adik, kau lihat kekuatan dari manusia itu kan?"
"Iya, kakak, kenapa?"
"Dia, sangat hebat bagaimana kalau nanti kita kalah dalam pertarungan itu?"
Dengan senyum lebar pangeran Tatius pun berkata.
" Kalau begitu berdoa lah agar lawan kita bukan manusia itu." jawab Pangeran Tatius datar.
" Adik, kau jangan bercanda?" aku tidak mau pulang dengan tangan kosong, pokoknya aku mau kita maksudku kamu, bisa memenangkan pertandingan ini agar kita bisa pulang dengan membawa hadiah dan putri cantik Lin Ying."
"Kakak, jangan terlalu memaksa Lawan kita disini orang orang hebat semua jadi tolong lah jangan terlalu bermimpi."
"Aku tidak mau tau jika kau kalah aku tidak akan memaafkan mu dan tidak sudih mrnjadi saudara mu lagi." Dengus pangeran Yervan kesal lalu beranjak pergi. Sedangkan pangeran Tatius menatap kepergian kakaknya dengan tatapan mata yang kosong.
"Bagaimana, aku bisa memenuhi permintaan mu, aku sendiri takjub dengan permainan mereka yang sangat kuat." keluh pangeran Tatius lesu.
"Pangeran jangan memikirkan ucapan pangeran Yervan, dia mau enaknya saja, pangeran yang di suruh untuk melawan mereka sedangkan dia datang hanya untuk sebagai pemenangnya, sudah Pangeran Tatius jangan dengarkan ucapan pangeran Yervan kalau dia ingin menang suruh dia maju bertanding sendiri, aku benar-benar kesal dan muak dengan tingkah laku nya yang sok berkuasa,"
"Sudahlah paman bagaimana pun kanda Yervan adalah saudara ku jadi tidak ada salahnya memang dia meminta kepada ku agar aku bisa menuruti permintaan nya.
"Ayo, kita kembali ke tenda, kita harus banyak beristirahat untuk mempersiapkan tenaga buat besok pagi."
Pangeran Tatius dan patih lembu ireng segera pergi masuk ke dalam tenda untuk beristirahat, sementara di dalam istana kerajaan Barat Daya
tampak seorang putri sedang berdiri dengan sebuah alat yang digunakan untuk melihat dari jarak jauh.
"Tuan putri sedang melihat apa?"
"Bibik aku lagi mencari pemuda yang kemarin lalu bisa menahklukan para harimau ku, aku ingin tau apa dia sudah datang apa belum."
"Oh, pangeran yang tampan itu ya, rupanya Tuan putri sudah jatuh hati padanya."
"Ah, Bibik! kamu bisa saja, tapi menurutmu bagaimana, apa pendapat mu tentang nya."
"Luar biasa dia pemuda yang kuat tuan putri, tapi....apa Putri yakin dia bisa memenangkan sayembara ini?"
"Aku, yakin Bik, tapi jika dia kalah aku tidak akan membiarkan itu."
"Maksud dari Tuan putri apa?"
"Aku, akan bantu dua dari jauh agar dia bisa menang."
"Waduh, putri itu namanya curang."
"Mau bagaimana lagi Bik hatiku sudah terlanjur menyukai nya."
"Bibik akan mendukung Tuan putri, apapun yang akan Tuan Putri lakukan."
****
Di sudut belahan dunia lain.
Seorang laki-laki mondar mandir di dekat kamar yang mana terdapat sosok seorang wanita cantik yang tertidur dengan pulas.
"Kurang ajar, siapa yang berani mrncelakai putriku, dia sudah berani menantang ku dan kau Raja Awang Awang Vampire aku tidak akan memaafkan keteledoran mu, sebagai seorang suami kau tidak bisa menjaga istrimu dasar bodoh." Desis Raja Sangkala dengan wajah memerah.
"Pemisi,Raja! makan malam sudah siap."
"Aku tidak makan aku tidak punya selera untuk makan."
"Tapi, Raja! jangan memerintah ku atau ku bunuh kau,"
"Ba-baik, Raja,"
Bergegas pelayan itu pergi meninggalkan kamar di mana Raja Sangkala masih terlihat murka.
"Kenapa, kamu jalannya tergesa-gesa?"
"Raja, masih sangat marah."
"Maklumi saja, siapa yang tidak akan marah jika melihat putrinya akan di celakai orang."
"Seperti nya ini akan jadi permusuhan besar antara Raja Sangkala dan Raja Awang Awang Vampire."
"Tidak mungkin ini pasti kemarahan biasa."
"Pengawal...!"
"Kita di panggil, ayo cepat ke sana."
"Sa-saya, Raja; ada apa Raja memanggil kami."
"Siapkan semua prajurit kita akan menghancurkan kerajaan Awang Awang Vampire secepatnya."
"Apa? menghancurkan, Raja coba pikirkan lagi Ratu Shima istri dari Raja Awang Awang Vampire jika kita hancurkan suaminya pasti Putri Ratu Shima tidak akan suka."
"Diam kau...! jangan menceramahi ku."
"Ba-baik Raja "
"Cepat, pergi!"
Bergegas pengawal itupun segera pergi, Raja Awang Awang Vampire mengepalkan kedua tangannya.
"Tunggu saja akan ku buat kerajaan Awang Awang Vampire hancur, bangunlah putriku, jangan kau tidur saja, kau sudah aman dan sudah bersama ayah di sini, tak kan kubiarkan kau menderita lagi."