
Pangeran Yervan memicingkan matanya, dia
melihat seorang pengawal berlari tergopoh
gopoh ke arahnya.
"Berhenti...! kalian jangan bertarung lagi, dan
kau anak muda, kenapa kau tidak sabaran
sama sekali, untuk apa kau pamerkan kekuatanmu disini, apa kamu mau jadi jagoan?
Ayo, ikut dengan ku, pangeran Tatius sudah
menunggu mu di ruang kepribadian,"
Pengawal itu segera melangkah pergi dengan
di ikuti pangeran Yervan.
Di ruang kepribadian, tempat yang sangat terbuka pangeran Tatius sudah menunggu
kedatangan pangeran Yervan, melihat siapa
yang datang dengan serta merta pangeran
Tatius menghampiri dengan seulas senyum
di wajahnya.
"Kakanda pangeran Yervan, ayo silahkan duduk,"
"Trimakasih, adinda pangeran Tatius,"
"Kita, sudah sangat lama tidak bertemu, ada
angin apa, kakanda pangeran Yervan ingin
bertemu dengan ku,"
Pangeran Yervan menarik nafas panjang dan
menghembuskan nya dengan perlahan sebelum berbicara.
"Pangeran Tatius, aku tidak mau bicara basa
basi lagi, aku ingin langsung mengatakan apa
tujuan ku ke mari,"
"Silahkan, Pangeran Yervan, aku siap mendengar kan,"Ucap pangeran Tatius dengan
sabar.
"Apakah, pangeran Tatius benar benar mau
menggikuti sayembara yang diadakan Raja
Barat Daya?"
Pangeran Tatius bangkit dari duduknya, tatapan
matanya menatap indahnya bunga bunga yang
bermekaran di samping ruang kepribadian,
sebelum menjawab pertanyaan dari pangeran Yervan. Pangeran Tatius sangat mengenali
kakaknya, pastilah kedatangan nya kesini juga
atas suruhan ibunda Ratu Derbah, pangeran
Yervan tidak akan melakukan apapun tanpa
perintah dan persetujuan ibundanya dan
pastilah kedatangan nya kali ini pun juga
karena permintaan Ratu Derbah.
"Ada apa, kakanda pangeran Yervan bertanya begitu ,"
"Jawab saja adinda pangeran Tatius, Jangan
berbelit belit."
Pangeran Tatius Tersenyum melihat pangeran Yervan mudah emosi dan marah.
Meskipun bersaudara, namun tidak pernah
sekalipun pangeran Yervan bersikap manis
padanya, entahlah apa yang menyebabkan dia
seperti itu, padahal pangeran Tatius tidak
pernah sekalipun, berbuat buruk atau berkata kasar padanya, tapi tetap saja pangeran Yervan
selalu bersikap dingin padanya.
"Iya, kakanda pangeran Yervan, Ayahanda Raja
memintaku untuk menggikuti sayembara itu,"
"Oh, jadi kau juga berambisi ingin mendapatkan
putri lin ying !"
"Tidak, pangeran Yervan, aku hanya melakukan
apa yang Ayah handa Raja perintahkan."
"Jadi kau tidak tertarik dengan putri lin ying?
"Tidak pangeran Yervan,"
"Baguslah kalau begitu, kita tidak usah bersaing
memperebutkan nya,"
"Apakah pangeran Yervan, tertarik dengan putri
lin ying ?"
"Tentu saja, aku tertarik, putri lin ying adalah
putri yang paling cantik, Karena pangeran Tatius tidak tertarik dengan putri lin ying,
bagaimana kalau kita buat perjanjian,"
"Maksud pangeran Yervan bagaimana ?aku tidak paham, perjanjian apa dan untuk apa,"
"Perjanjian tentang sayembara, kau harus
bisa melumpuhkan dan mengalahkan semua
lawanmu dari kerajaan kerajaan lain, setelah
itu kau harus mengatakan bahwa namamu
adalah pangeran Yervan,"
"Bagaimana mungkin itu bisa terjadi, mereka
tidak akan percaya, wajah kita berbeda kakanda
"Mereka, tidak akan tau kalau kau datang dengan menggunakan topeng, mereka tidak
akan mengenalimu, karna akupun juga akan
datang menggunakan topeng dan pakaian yang
sama seperti mu, jadi tidak akan ada yang
menggenali, bagaimana?"
"Apakah, kakanda pangeran Yervan benar benar
menyukai dan mencintai putri lin ying?"
"Aku, sungguh sungguh Sangat menggingin
kannya, bagaimana apakah kau mau membantu
kakakmu ini," Tanya pangeran Yervan penuh
harap.
"Baiklah, kakanda pangeran Yervan aku mau,"
Ucap pangeran Tatius dengan tegas.
Mendengar ucapan dari pangeran Tatius dengan serta merta, pangeran Yervan memeluk
pangeran Tatius, wajahnya berseri bahagia.
Sudah lama pangeran Tatius mengharapkan
kehangatan kasih sayang dari kakaknya,
dan rupanya hari ini baru bisa pangeran Tatius nikmati.
Pangeran Tatius yang tidak menyangka akan
mendapatkan pelukan dari kakaknya, yang
selama ini amat sangat membencinya, kini
tersenyum bahagia begitu juga dengan pangeran Yervan dia tersenyum lega, karena
rencananya sudah berhasil.
"Aku tidak perlu susah susah mengeluarkan
tenaga, tapi nanti akulah yang akan jadi pemenangnya." Gumam pangeran Yervan dalam hati.
"Baiklah, kakanda pangeran Yervan, mari kita
makan, perjalanan dari Kerajaan Awang Awang
Vampire ke sini pasti lah, sangat melelahkan,"
"Trimakasih, adinda pangeran Tatius, mari,
aku tidak akan menolak permintaan mu,"
Pangeran Yervan dan pangeran Tatius melangkah ke ruang makan, disana sudah
tersaji berbagai macam menu masakan.
****
Di istana kerajaan Awang Awang Vampire
Ratu Derbah terlihat, sangat gusar dan resah.
"Sudahlah, Ratu, Kenapa kau resah begitu,"Tanya patih Ramboka yang selalu setia
pada Ratu Derbah.
"Patih Ramboka, apa kau yakin, pangeran Yervan bisa membujuk pangeran Tatius?"
"Tenanglah, Ratu, pangeran Tatius itu sangat
menyayangi pangeran Yervan, ku rasa pangeran Tatius akan dengan suka rela, menyetujui
permintaan pangeran Yervan,"
"Tapi, jika Raja, tau rencana kita pasti lah
beliau akan marah dan murka,"
"Untuk itu, Raja tidak boleh tau, Ratu,"Ucap
patih Ramboka menjelaskan.
"Aku sangat benci dengan Raja, kenapa selalu
menganak emaskah pangeran Tatius, sedangkan pangeran Yervan tidak sekalipun
dia pikirkan,"Dengus Ratu Derbah kesal.
"Sabar, Ratu, aku yakin Raja tidak akan lagi
membangga banggakan pangeran Tatius
jika Ratu Shima tidak ada,"
"Apa maksud mu, patih,"Tanya Ratu Derbah.
"Raja akan sangat mencintai Ratu Derbah jika
tidak ada lagi Ratu Shima,"
"Itu, artinya, kita harus menyingkirkan Ratu
Shinta,"
"Betul, Ratu, kita harus menyingkirkan nya,"
"Tapi, bagaimana caranya,"
"Itulah, yang harus kita pikirkan,"
"Apa, kau punya ide ?"
"Untuk saat ini belum ada Ratu,"
"kalau, belum ada kenapa kau memberikan
ide, pergilah dariku, jika kau sudah mendapat
kan ide nya kau boleh datang padaku dan ingat
jangan datang sebelum mendapatkan ide,"
Patih Ramboka terkeke mendengar ancaman
Ratu Derbah.
"Aku tidak akan datang padamu Ratu Derbah
tapi aku yakin kamu yang akan datang padaku,"
Ucap Patih Ramboka, sambil berlalu pergi.
Sedangkan Ratu Derbah, mengeram dengan
kesal.