The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab.122.MENANGIS



Ketika pintu telah terbuka terlihat lah sosok sang Ayah yang lagi berdiri tegak di depan pintu dengan senyum mengembang.


"Tadi, Ayah dengar suara brisik di sini ada apa?"


"Ngak ada apa-apa Ayah."


"Apa kamu membawa teman."


"Ayah..!" gimana Tania bawa teman kan Tania pulang sendiri tadi."


"Oh, iya, tapi itu kenapa kamar kamu berantakan begini,"


Sang Ayah tanpa permisi langsung masuk menerobos ke dalam kamar dan menunju Ranjang Tania yang penuh dengan baju.


"Kenapa bajumu, kamu Keluarkan semua."


"Eng....anu Yah, itu tadi aku mencari satu baju kesukaan ku ngak ketemu ketemu jadi aku taruh semua baju baju ku di atas Ranjang."


"Oh, ya sudah cepat keluar kita makan bersama pasti Sebentar lagi pak guru Wili juga akan datang.'


"Apa?" pak guru Wili akan datang, Yah usir saja aku tidak suka dengan guru itu."


"Tenanglah Nanti kita bicarakan di luar sekarang kamu beresin kamar mu yang berantakan."


"Baik, Ayah!"


Setelah sang Ayah pergi cepat cepat Tania mengunci pintu kamar nya, pangeran Tatius yang sudah merasa aman pun segera turun dan berdiri di dekat Tania.


"Semua gara gara kamu nih," sungut Tania kesal, Namun pangeran Tatius justru Tersenyum lebar membuat Tania cemberut.


"lihat gara gara kamu kamarku berantakan cepat bantuin ngelipat dan mengembalikan nya ke dalam Almari."


"Aku tidak bisa melipat, bisa ku cuma begini."


"Sreeeeeeettttt.... sreeeeeeettttt.... sreeeeeeettttt....!" bagaikan layangan terbang baju baju Tania berterbangan dan masuk ke dalam Almari, Tania yang baru pertama kali melihat hal itu tercengang tak percaya bagaikan melihat sirkus yang sedang beratraksi baju baju Tania terbang dan masuk ke dalam Almari dengan rapi.


"Hebat...!" tidak perlu susah susah melipat tapi kenapa kalau mengambilkan baju aku harus berantakan begitu, kan bisa di ambil dengan cara Bim salabim Abra Kedabra kamu."


"Apa itu Bim salabim Abra Kedabra?"


"Itu, kekuatan yang ada padamu kan bagaikan Aladin yang ada di dongeng.'


"Oh, ha....ha ..ha..beda sayang kalau menggambilkan baju punya pacar lebih Afdol dan Nikmat di pegang sendiri di cari sendiri bukan di terbang terbangkan begitu biar berasa memegang orangnya."


"Apa...?" kurang ajar jadi pegang CD dan BH aku juga berasa megang orangnya, awas ya."


Tania mendekati pangeran Tatius dan memukuli dada Bidang pemuda itu, pangeran Tatius smakin terkekeh dan gemas melihat tingkah gadis nya dengan lembut di rengkunya tubuh Tania masuk ke dalam pelukannya, untuk beberapa saat Tania terkesiap dan terdiam dalam dekapan sang kekasih, pangeran Tatius menunduk kan kepalanya ingin sekali rasanya melahap habis bibir mungil di depannya tapi apalah daya itu tidak mungkin dia lakukan karena giginya yang panjang dan runcing pasti akan melukainya dan meninggalkan rasa sakit, pangeran Tatius tidak ingin gadis nya merasakan sensasi sakit dari perbuatannya, Tatapan mata nya yang redup memancarkan gelora cinta dengan gairah yang terpendam dapat terbaca jelas tatapan mata pangeran Tatius yang berkabut gairah,Tania menyadari itu meskipun usia dan kedewasaan nya belum cukup matang Tania bukan gadis polos yang tidak mengerti dan memahami makna dari tatapan mata itu Tania juga sudah beberapa kali membaca buku novel yang bertema tentang cinta jadi sangat memahami, perlahan lahan meskipun sedikit gugup Karena ini kali pertama Tania memadu cinta dengan seorang kekasih, melewati naluri hatinya, Tania melingkar kan tangannya pada leher pangeran Tatius dan dengan perlahan lahan Tania membuka bibir mungilnya mengecup dan melahap bibir pangeran Tatius yang tertutup, apa yang di lakukan Tania membuat pangeran Tatius memejamkan mata menikmati dan meresapi setiap sentuhan yang di berikan gadis nya, pangeran Tatius hanya sedikit lebih menekan tubuh Tania lebih merapat padanya, untuk beberapa saat kedua nya larut dalam irama cinta hingga Tania melepaskan, tatapan mata Pangeran Tatius yang sayu dan redup di penuhi dengan senyum bahagia membuat wajah Tania merah merona sungguh, sesungguhnya dia malu melakukan itu sebagai seorang wanita dia yang lebih dulu memberikan kecupan bibir yang seharusnya pihak laki-laki lah yang harus memulai lebih dulu.


Tania menenggelamkan wajahnya pada dada bidang pangeran Tatius dia berusaha menyembunyikan rasa malu yang tiba-tiba hadir menyeruak ke dalam kalbunya, pangeran Tatius yang memiliki insting cukup tinggi bisa merasakan itu, di dekapannya dengan erat gadis nya seraya berbisik.


"Jangan malu, maafkan aku yang tak bisa lebih dulu memulai permainan bibir kita sedangkan kamu tau aku mengginginkannya, aku sadar diriku bukan manusia dan pasti lah aku tak bisa melakukan itu karena gigi gigi runcing ku akan melukaimu, tapi aku berjanji aku akan cari cara bagaimana aku bisa merubah wujud Vampire ku menjadi manusia dan ketiika hari itu tiba aku akan menjadi milikmu seutuhnya."


"Apa itu mungkin?"


"Entahlah, tapi aku akan mencari tau semuanya,"


"Jika tidak bisa bagaimana?"


"Kita tetap begin dalam cinta, tidak masalah kan, meskipun kita berbeda yang penting hati kita satu,"


"Tidak semudah itu sudah pasti Ayahku tidak akan mengijinkan itu apa iya selamanya cinta kita bina dengan diam diam."


"Tenanglah, kamu jangan berfikir apa apa nanti aku yang akan mencari jalannya,"ucap Pangeran Tatius seraya mengecup kening Tania.


"Tania...!" apa belum selesai Nak, kenapa lama keluarlah Sebentar lagi pak guru Wili akan datang."suara sang Ayah memanggilnya dari luar.


Tania melepaskan pelukan pangeran Tatius.


"Ayah, sudah memanggil, kamu pulang lah aku akan keluar."


"Tidak, aku belum mau pulang aku masih kangen aku tunggu di sini kamu Keluar lah."


"terserah kamu lah,"


Tania mulai membuka pintu dan keluar menuju ruang makan di mana sang Ayah sudah menunggu.


"Iya, Ayah."


"Tania, Ayah minta maaf tidak memberi taumu lebih dulu jika sebenarnya Ayah menerima lamaran dari pak guru wili."


Tania yang ketika itu menyuapkan nasi ke dalam mulutnya tiba-tiba terbatuk, dia sangat terkejut dengan apa yang Ayahnya ucapkan bahkan Tania tidak percaya jika Ayahnya ikut campur dalam masalah cintanya.


"Uhuk...uhuk..!"


"Tania, minum Nak!"


Sang Ayah menyodorkan satu gelas air putih yang langsung di trima Tania dan di minum Tania, meskipun hatinya terkejut Tania berusaha bersikap tenang.


"Ayah, jangan suka bercanda deh."keluh Tania sambil kembali melahap sisa makanan yang ada di atas piring nya.


"Maafkan, Ayah ! kali ini Ayah tidak bercanda dan Ayah serius."


"Ayah...!"kenapa Ayah lakukan ini pada Tania bukankah Tania masih kecil, kenapa Ayah jodho kan dengan guru Tua itu, apa tidak boleh memilih jodho Tania sendiri, Yah !Tania tidak cinta sama guru itu." ucap Tania sambil menanggis.


"Maafkan Ayah, Nak!" sungguh semua yang Ayah lakukan demi kebaikan mu demi menyelamatkan mu,"


"Ayah..!" aku tidak cinta sama pak guru Wili." Isak Tania yang kini tangisnya, mulai pecah hatinya begitu sedih dia tidak menyangka sama sekali jika semua cerita tentang perjodohan nya dengan pak guru Wili adalah benar.


"Kamu harus bisa menerima dengan ikhlas Nak, percaya lah apa yang Ayah lakukan semua demi kebaikan mu."


"Yah, tapi kenapa harus pak guru Wili, apa tidak ada selain dia, Tania benci guru itu Yah, Tania tidak suka dia."


"Andaikan ada Nak, pasti Ayah akan carikan yang lebih baik tapi percayalah hanya pak guru Wili yang bisa menjagamu."ucap sang Ayah sambil membelai rambut Tania, dengan wajah sembab penuh air mata Tania melepaskan pelukan sang Ayah dan berlari ke dalam kamarnya, ketiika sampai di dalam kamar Tania langsung membanting pintu dengan kasar membuat pangeran Tatius yang berada di dalam kamar terperanjat kaget, terlebih mendapati gadis nya lagi sesenggukan menanggis.


"Sayang..!" kamu kenapa? ada apa dengan mu... belum selesai Pangeran Tatius bertanya telinga tajam nya mendengar derap langkah kaki sedang melangkah mendekati kamar Tania dengan cepat pangeran Tatius melesat terbang bertengger di langit langit atap kamar.


"Dia sangat marah padaku, aku tidak tau harus bagaimana?'


"Tidak apa-apa pak, nanti aku yang akan bicara dengan nya."


"Apa pak guru Wili yakin,"


"Saya yakin, permisi biar saya temui Tania lebih dulu."


"Ya, silahkan dia ada di dalam kamar nya.


Dengan langkah pasti pak guru Wili membuka kamar Tania dan terlihat lah Tania sedang tidur tengkurap di atas Ranjang, perlahan lahan pak guru Wili duduk di pinggir ranjang.


"Tania...!"kamu jangan marah sama Ayah mu dia tidak bermaksud buruk padamu, setiap Ayah pasti ingin kan yang terbaik untuk anaknya." ucap pak guru Wili lembut.


Mendengar perkataan pak guru Will, Tania langsung membalikkan badannya dan menatap tajam wajah teduh yang ada di depannya.


"Siapa yang mengijinkan Bapak masuk ke dalam kamar saya, pergilah aku ingin sendiri aku tidak perlu ceramahmu."ucap Tania sinis.


Pak guru Wili bangkit dari duduknya dan menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan, tiba-tiba pandangan matanya menyapu seluruh ruangan kamar Tania.


"Ada bau mahkluk lain disini."Gumam pak guru Wili dalam hati.


Melihat Pak guru Wili belum pergi bahkan masih bengong Tania bangkit dari tidurnya.


"Kenapa belum keluar juga, cepat keluar." seru Tania lantang.


"Tunggu!"


"Apa, lagi!"


"Di sini ada bau busuk, kamu juga harus keluar dari kamar ini, ayo krluar cepat."


Pak guru Wili langsung menarik tangan Tania untuk ikut keluar dengan nya.


"Hei.... lepaskan kenapa kau tarik aku juga." teriak Tania memberontak.


"Ada bau busuk di sini , ayolah keluar."


"Aku, tidak mau kamu ngaco mana ada bau busuk di kamarku."


Teriakkan Tania tentu saja percuma karena pak guru Wili menarik tangan Tania dengan cukup kuat membuat Tania mau tidak mau ikut terseret keluar kamar.