
Tania yang berteriak histeris menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, membuat kaget dan terkejut sosok yang berdiri di depan pintu.
"Tania....!" kamu kenapa?" ayo buka matamu, kenapa berteriak teriak."seru laki-laki itu khawatir.
Perlahan-lahan Tania membuka kedua telapak tangan nya ketiika mendengar suara yang tak asing baginya.
"Pak guru Wili..!"
"Iya, kamu kenapa?"ada apa Kenapa berteiak teriak begitu."
"Aku, takut, di sini serem." ucap Tania yang masih dengan wajah ketakutan.
Pak guru Wili yang mendengar itu hanya tersenyum kecil.
"Sudahlah, itu hanya perasaan mu, ayo ikut ke ruang makan, aku sudah menyiapkan makanan buat kita. Pak guru Wili segera membawa Tania berjalan menuju ruang makan, sepanjang perjalanan Tania masih saja hatinya berdebar debar rasa takut dalam dirinya belum juga hilang terlebih melewati satu kamar tertutup yang entah mengapa membuat bulu kuduk nya meremang.
Dengan langkah cepat Tania segera menjajari langkah dari pak guru Wili yang berjalan lebih dulu di depannya.
"Ruang makannya di mana sih pak, kok jauh sekali."
"Sebentar lagi sampai, Ayo hati-hati jalan nya sedikit licin."
Tanpa di suruh pak guru Wili segera mengengam tangan Tania ketiika keduanya mencapi sebuah pintu dan lagi-lagi sangat ajaib dan aneh tanpa di buka dengan tangan dan tanpa memegang Handel pintu sudah terbuka, ketika pintu terbuka tampaklah sebuah ruangan panjang dengan dengan meja berbentuk panjang dengan berjajar kursi dari kayu atap langit di biarkan tanpa penutup genting dengan di depan meja makan tanpak sebuah kolam kecil di mana ada beberapa ikan yang berenang di dalam nya dan di atas ruang makan tampak bergelantungan bunga bunga indah.
Tania menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.
"Apa aku bermimpi, Kenapa villa ini seperti membentuk huruf S ya, atau jangan jangan itu hanya perasaan ku saja, ruang makan yang cukup jauh jaraknya dari kamar dan tadi ada tatanan batu batu kecil yang sedikit berair sehingga terlihat licin, sebelum sampai ke ruang makan, lalu ruang dapurnya di mana?"
Tania masih asik dengan lamunannya sendiri ketika pak guru Wili menyentil lengannya.
"Kenapa begong, ayo duduk, kita makan."
"Pak..!"apa aku boleh bertanya?"
"Tentu saja, silahkan mau tanya apa?"
"Bapak sering bermalam di villa ini ya?'
"Belum pernah, terakhir aku datang ke sini itu saat aku masih menyelesaikan studi ku dulu aku bersama teman ku, cuma satu malam di sini setelah itu aku tidak pernah datang lagi, dan ini baru datang lagi ketika bersamamu."
"Wah, itu artinya sudah lama sekali lalu, siapa yang menghuni dan merawat villa ini?"
"Ada satu orang tukang kebun dia rumahnya di sana tuh di ujung itu, setiap pagi satu bulan tiga kali membersihkan tempat ini, jadi villa tidak terlalu kotor tidak setiap hari di bersihkan tapi ini cukup bersih. Nih, ambil makan kamu mau sayur apa? jangan di tertawa kan ya masakan ku tidak enak, aku tidak bisa masak, di sini juga tidak ada nasi yang ada hanya ikan dan sayuran kamu tidak apa-apa kan kali ini makan tanpa nasi."
"Tidak apa-apa, malah aku pernah hampir satu Minggu cuma makan ikan doang."
"Cuma makan ikan doang, di mana tuh dan saat lagi apa ?" Tanya pak guru Wili sambil mengambil beberapa potong ikan yang juga dia bakar.
Pertanyaan pak guru Wili tentu saja tak mampu Tania jawab pasalnya tidak lah mungkin Tania bercerita tentang negri Vampire di mana dirinya dan beberapa teman nya terjebak tanpa sengaja.
"Kenapa diam, di mana satu Minggu kamu cuma makan ikan doang?"
"Aku salah bicara pak, jangan di bahas," Ucap Tania sambil senyum nyengir kuda.
"Pak..!" malam ini kita pulang kan?"
"Tidak, untuk malam ini kita menginap di sini, jarak rumah kamu dan tempat ini sangat jauh jadi untuk sementara kita bermalam di sini, jangan khawatir aku tidak akan berbuat yang aneh aneh pada calon istri ku,"ucap pak guru Wili sambil tersenyum mengoda, membuat Tania sadar posisi nya yang mana untuk beberapa saat lalu terlupakan karena hati Tania sedang di liputi rasa takut dan ketegangan.
"Pak..!"
"Hmmm..!" apa?"
"Aku takut, apa bisa aku tidak tidur di kamar yang tadi,"
Mendengar perkataan Tania pak guru Wili tertawa lebar, membuat Tania cemberut, menyadari gadis di depannya sedang cemberut cepat cepat pak guru Wili menghentikan tawanya.
"Oh, mau tukar tempat boleh di sini ada banyak kamar kosong yang bersih dan rapi ayo, ikut aku akan aku tunjukkan kamar untuk mu, jangan cemberut lagi."
Pak guru Wili bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar di ikuti Tania dari belakang, apa yang di pikirkan Tania ternyata benar villa ini dari luar terlihat biasa tidak menampakkan model bentuk nya tapi dari dalam membentuk huruf S, lika liku dari ruangannya sangat terlihat memusingkan beberapa kali dia harus berjalan seperti orang berputar putar.
"Nah ini ada tiga kamar kosong yang bersih kamu pilih yang mana, atau kita buka satu persatu."
"Tidak perlu pak, kamar yg ini saja seperti nya yang ini tidak terlalu besar."
"Baiklah, ayo kita masuk."
Pak guru Wili membuka pintu kamar dengan memegang Handel pintu tidak seperti ketika mau masuk ke dalam rumah dan ke ruang makan yang bisa terbuka secara otomatis.
"Ternyata ada juga yang di buka dengan tangan bener bener villa membingungkan,ada yang terbuka secara otomatis ada juga yang biasa saja," keluh Tania dalam hati.
"Baik, pak..! trimakasih."
"Ya sudah selamat beristirahat, kalau bosan itu ada TV juga tinggal kamu colokin dan pencet ini remote pasti langsung menyala."
Tania menggaguk sebagai tanda jawaban, sebelum meninggal kan Tania, pak guru Wili melempar kan sebuah senyuman yang mana hanya pak guru Wili yang tau arti dari senyuman itu. Setelah menutup pintu kamar Tania pak guru Wili melangkah menuju kamar di mana dia akan beristirahat.
Sampai di kamar pak guru Wili langsung menatap sebuah cermin yang ada di depannya seraya tersenyum.
"Maafkan aku Tania , aku harus menjauhkan mu dari mahkluk itu, mungkin kamu tidak tau dia sudah berada di sana, aku tak akan membiarkan siapapun merampas dirimu dariku jika dia ingin mendapatkan mu maka mahkluk itu harus berhadapan dengan ku."
Wajah tampan pak guru Wili Tersenyum smrik, jika mahluk itu berani macam-macam maka ku pastikan nasibnya akan sangat malang.
Di lain kamar Tania merasa bosan hanya dengan duduk dan tiduran sementara dirinya belum merasa mengantuk, tiba-tiba Tania teringat pada ponsel hape nya.
"Mana hp ku, Astaga tertinggal di kamar horor itu, ini masih menjelang malam belum terlalu malam aku harus cepat menggambil nya bosan ngak ada teman setidaknya nanti bisa ngobrol sama Devan."lirih Tania dalam hati.
Perlahan-lahan Tania membuka pintu kamar nya dan berjalan keluar tapi sebelum melangkah Tania melihat ruang kamar di mana pak guru Wili sedang beristirahat.
"Pak guru Wili rupanya belum tidur, buktinya lampunya masih menyala terang, aku harus cepat cepat menggambil hpku di kamar horor itu sebelum hari semakin gelap."
Tania mempercepat langkah kakinya menuju kamar di mana awal mula pak guru Wili menyuruh nya untuk beristirahat, meskipun sedikit merinding Tania terus saja melangkah dengan arah sedikit membentuk putaran hal itu karena ruangan villa ini membentuk huruf S jadi berjalan bagaikan liku liku.
Setelah sampai di depan pintu kamar entah mengapa Tubuh Tania kembali meremang, "Bener bener horor banget sih ruangan ini bikin orang jantung an terus."
Dengan tangan bergetar Tania membuka pintu, ruangannya cukup terang dengan lampu yang sudah menyala, Tania langsung mencari keberadaan hpnya yang ternyata tergeletak di atas ranjang dengan sigap Tania mengambil hpnya dan berniat langsung pergi, tapi lagi-lagi telinga Tania mendengar suara aneh kali ini Tania mendengar suara orang menangis, Tania mencoba mengabaikan nya.
"Ini hanya halusinasi ku saja, aku harus cepat keluar dari kamar ini,"
Bergegas Tania melangkah keluar dengan sedikit berlari kembali ke dalam kamarnya, jalanan yang berliku-liku membuat Tania merasa kesal karena sangat lama mencapai kamar nya, malam yang dingin justru membuat Tania merasakan hawa panas tubuhnya berkeringat karena rasa takut yang tiba-tiba muncul.
langkah Tania yang cepat dengan sedikit berlari seketika terhenti mendadak ketiika terlintas sebuah bayangan di depannya yang langsung membuat irama jantung nya berhenti mendadak.
"Astaga...!" bikin kaget saja ku pikir apa, ternyata kucing dari tadi ini kucing kok aneh sih seperti ngikutin aku terus, he..he...he....mana ada ya kucing ngikutin." hibur Tania dengan senyum lega akhirnya sampai juga di dekat kamar nya, lagi lagi Tania melongokkan kepalanya mengintip kamar pak guru Wili.
"Dia belum tidur, syukur lah aku bisa tenang."
Tania membuka pintu kamarnya dan menutup nya kembali setelah itu Tania menggambil air putih dan langsung meneguknya.
"Glegek.... glegek... glegek..!" air satu gelas langsung habis dalam sekali minum.
Tania Tersenyum menegang ponselnya akhirnya aku bisa rileks juga, tidak ada salahnya aku melihat TV.
Tania berjalan mendekati TV dan menyalakan nya.
"Acara nya jelek jelek, hei..ini apa vidio boleh juga nih aku lihat siapa tau vidio ini bisa menghibur."
Tania langsung memutar Vidio itu.
"Braaaaaakk....braaaakk..!"prok...prok....prok...!"
"Apaan nih!" gelap, Vidio nya hanya suara benda benda keras yang berjatuhan dan juga suara langkah kaki. ...Vidio film horor apa ya?" ogah lihat ah, nanti aku semakin takut lebih baik aku matikan saja."
Ketika tangan putih Tania hendak mematikan tiba-tiba terdengar suara.
"Ampun.... jangan...!"tolong lepaskan saya, hizk...hizk aku berjanji akan patuh, tidak akan berani lagi tolong berikan kesempatan sekali lagi."mohon wanita itu dalam Video.
Tania tercengang mendengar suara di video itu, gambar gelap tidak terlihat raut wajah mereka berdua yang terlihat hanya gerakan gerakan mereka, laki-laki itu sangat kasar dia menyeret dan menjambak rambut wanita di Video dan video ini terlihat sprti klise ketiika kita mengambil foto sebagai duplikat nya agar bisa kita afdret kan lagi.
"Video ngak benar begini ngak penting juga untuk ku lihat lebih baik ku matikan, hei...tunggu gambar itu....di video kenapa sama dengan lekuk ruangan yang ada di villa ini ya? bukankah itu ruangan yang ada di kamar horor tadi ah ya, itu ruangan di kamar horor meskipun tidak begitu jelas tapi bentuk nya sangat terlihat jelas sama jangan... jangan video ini kejadian yang ada di villa ini."
Tania segera mematikan video yang dia lihat dan menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Itu berarti kejadian nyata yang ada di villa ini, tidak ini sangat mengerikan aku tidak boleh bermalam di sini, aku harus pergi tapi aku sudah tidak berani keluar kamar, yaa pencet tombol merah biar pak guru Wili datang kesini.
"Teeeet...! Teeeet...!"
Tania semakin resah ketiika tombol yang dia pencet sudah lama tidak ada jawaban ataupun balasan dan ketiika Tania memeriksa tombol barulah Tania menyadari sambungan nya terputus.
"Aaaah... sial!" sambungan kabel nya putus aku harus bagaimana?" aku bisa mati berdiri karena ketakutan ini, telpon Devan.
Dengan tangan bergetar Tania memencet nomor telpon Devan dan Tania semakin terngaga ketiika mengetahui tak ada sinyal.
"Aku takut!"itu berarti orang jahat itu masih ada di dalam villa ini, aku harus pergi ke kamar pak guru Wili aku harus ke sana aku tidak mau mati karena ketakutan."
Ketika Tania membuka pintu kamar nya dengan cepat Tania berlari ke kamar pak guru Wili, Tania merasa lega ketika sudah sampai di depan pintu kamar pak guru Wili, tangan putih nya mulai mengetuk pintu tapi belum sampai tangan Tania menyetuh pintu sebuah bayangan hitam berkelebat menyambar tubuh nya, Tania yang merasa ada sebuah tangan kekar membawanya menjerit histeris.
"Aaaaaaaa... !"Tatiuuuuuss......tolong akuuuu?" teriak Tania dalam ketakutan.