
Dengan keringat dingin yang mulai membasahi pelipis dan dengan langkah yang tertatih-tatih pak guru Wili tetap berjalan menyusuri pinggiran sungai yang mana darah di dada kanan masih terus mengalir jalan yang tadinya biasa saja kini mulai terlihat bercabang dan mata mulai berkurang kunang dan pada detik berikutnya.
"Bruuugh...! tubuh pak guru Wili akhirnya jatuh di pinggiran sungai.
"Tolong...tolong aku..!" seru pak guru Wili dengan suara tertahan. Apakah di sini ada orang, aku tidak mau mati secepat ini," keluh pak guru Wili sambil memegangi dadanya yang terluka, Dengan susah payah pak guru wili mencoba bangkit dari terjatuhnya akan tetapi dia selalu gagal tubuhnya yang lemah akibat banyaknya darah yang terus keluar membuat badannya menjadi lemas tak bertenaga.
"Aku telah kalah dan mungkin sebentar lagi aku juga akan mati," desis pak guru Wili dengan suaranya yang lemah badannya benar benar tidak bisa di gerakkan lagi akhirnya pak guru Wili hanya bisa pasrah pada Nasib nya, hampir dua jam lamanya pak Guru Wili masih berada di tempat itu tanpa ada satu orang pun yang lewat.
Dalam kegelisahan dan kecemasan hatinya pak guru Wili mendengar suara desis dari arah samping tempat nya duduk, dengan perlahan pak guru Wili mencoba melihat apa yang bergerak gerak dari arah samping dan ketiika pak guru Wili menggetahui apa yang terlihat dari arah samping pak guru Wili sekuat tenaga berusaha pergi dari tempat itu dengan cara beringsut akan tetapi tenaganya yang sangat lemah tak lagi bisa untuk bergerak yang ternyata dari arah samping suara desis Dan yang bergerak gerak dari arah samping adalah seekor binatang melata.
Seekor ular yang mulai berjalan bergerak mendekati pak guru Wili dan pak guru Wili yang sudah sangat lemah, dia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi pada dirinya untuk itu pak guru Wili memilih memejamkan mata.
"Tamatlah riwayat ku hari ini," desis pak guru Wili dalam hati."
Ketika jarak ular dan pak guru Wili hanya tinggal beberapa senti saja tiba-tiba.
"Bugh....bugh....bugh...suara benda keras yang di pukul pukul kan ke tanah. Perlahan lahan pak guru Wili membuka matanya dan terlihat lah sosok wanita dengan pakaian yang sangat istimewa berwarna kuning keemasan dengan renda bermutiara hijau dari caranya berpakaian pak guru Wili merasa gadis yang ada di depannya itu berasal dari keturunan kerajaan,pak guru Wili tersenyum pada dirinya sendiri.
"Apakah aku sudah mati, bagaimana mungkin mataku melihat sosok gadis cantik berparas kerajaan," ucap pak guru Wili dengan tersenyum kecut, baguslah kalau aku sudah mati setidaknya sudah tidak ada rasa sakit lagi, aku bisa pergi dari sini dengan leluasa, aku akan pulang ke rumah melihat lihat semua yang pernah ku lakukan di sana sebelum ikut malaikat maut pergi jauh dari Bumi ini," pak guru Wili mulai bangkit dari tempat duduknya dan ....
"Auwwh..!" kenapa masih susah berdiri dan sakit' bukankah aku sudah mati harusnya tidak sakit lagi tapi ini kenapa masih sakit atau jangan jangan aku masih hidup..
"Plaaaak..!" Auuwh...sakit."
pak guru Wili menampar wajahnya sendiri." sakit itu artinya aku belum mati lalu gadis itu hei....mana dia, kenapa tidak ada jangan jangan aku sedang berhalusinasi." keluh pak guru Wili yang tubuhnya semakin melemah kemudian pingsan.
Sedangkan gadis yang sedang memukul ular sudah bisa membunuh dan membuangnya jauh jauh.
"Untung aku datang tepat pada waktunya jika tidak manusia itu bisa mati aku harus melihat keadaan nya seperti nya dia terluka cukup parah."Dengan perlahan-lahan gadis itu menghampiri pak guru Wili yang sedang pingsan.
"Dia pingsan lebih baik aku membawa nya ke tempat yang aman takut nya di hutan begini terlebih di dekat sungai Nanti ada binatang buas seperti serigala, dan binatang menggerikan lainnya."
Dengan kekuatan tenaga dalam yang cukup kuat seorang gadis berbaju kerajaan membawa tubuh pak guru Wili menjauh dari tempat itu dan di sebuah gubuk kosong yang ada di sebuh lahan petani yang tidak ada pemiliknya dengan sangat telaten gadis itu merawat luka yang ada di bagian kakan dada pak guru Wili memberikan beberapa dedaunan yang sudah di tumbuk halus kemudian ditaruh di bagian dada pak guru Wili yang terluka dan dengan menyobek sedikit kain baju nya untuk menggikat luka agar darah berhenti mengalir. Setelah semua pekerjaan di rasa sudah cukup selesai gadis itu Keluar dan menunggu pak guru Wili sadar dari pingsan di luar gubuk.
Sementara pangeran Tatius dan Tania yang mencari pak guru Wili sudah hampir dua jam mereka menggelilingi tempat di mana ketiika pangeran Tatius dan pak guru Wili melakukan adu duel dalam pertarungan yang mana kedua nya sama sama terluka.
"Kita susuri sungai ini, siapa tau pak guru Wili ada di sekitar sini."seru Tania pada pangeran Tatius.
"Sayang, kamu khawatir sekali jangan jangan kamu mulai suka lagi sama pak guru Wili itu"cetus pangeran Tatius yang mana melihat Tania begitu antusias mencari pak guru Wili.
"Berfikir nya jangan negatif begitu, aku hanya kasian Kalau sampai terjadi sesuatu pada pak guru Wili itu juga salah ku di mana karena aku kan kalian berantem."
"Tentu saja benar aku kan hanya mencintai kamu,"
"Oh, ya!" mana buktinya." Tanya Pangeran Tatius
"mau bukti!"
pangeran Tatius mengagguk sebagai tanda jawaban.
Dengan sedikit berjinjit Tania menjajari langkah dari Pangeran Tatius.
"Tatius ada yang jatuh tuh."tunjuk Tania pada tanah yang sontak saja membuat pangeran Tatius menggikuti gerakan tangan Tania dengan menunduk mencari apa yang jatuh sejurus kemudian.
"Cup...!" ketika pangeran Tatius menunduk dengan cepat secepat kilat Tania mendaratkan sebuah kecupan pada wajah pangeran Tatius membuat pangeran Tatius mendelik seketika, sedangkan Tania berlari menjauh, dan pangeran Tatius hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah mengemaskan dari kekasihnya.
"Tania....kamu benar benar membuat hidup ku lebih berwarna," lirih pangeran Tatius tersenyum smrik sambil berjalan pelan membiarkan Tania berlari berjalan lebih dulu.
"Aaaaaaa.....!" sebuah jeritan kencang yang berasal dari depan dan itu suara Tania, membuat Pangeran Tatius segera beelari dan terlihat lah Tania yang sedang ketakutan sambil memejamkan mata, pangeran Tatius segera menghampiri.
"Tania ada apa?"
mendengar suara kekasih nya sudah ada di dekatnya Tania segera memeluk tubuh pangeran Tatius.
"Itu...!" teriak Tania dengan menunjukkan jari telunjuk nya ke arah bawah pohon, pangeran Tatius mengeryitkan dahinya melangkah lebih maju dengan memicingkan matanya berusaha mencerna apa yang tania maksud, kemudian bibirnya tersenyum ketika melihat sesuatu yang membuat Tania berteriak ketakutan.
"Oh, jadi kamu takut dengan ular ini, ularnya sudah mati sayang."Tania segera merenggangkan pelukannya dan membuka matanya.
"Ayo, cepat kita pergi dari sini,"rengek Tania yang takut dengan ular yang langsung di Jawab dengan anggukan oleh Pangeran Tatius.
Keduanya berniat meninggalkan tempat itu akan tetapi tiba-tiba pangeran Tatius menghentikan langkah kakinya.
"Sayang, tunggu..!" di sini aku mencium bau pak guru Wili jangan jangan dia ada di sekitar tempat ini ayo kita cari,"
Tania pun menurut menggikuti pangeran Tatius, "Baunya hilang di sini."
"Lalu, bagaimana?"
"Aku akan menggunakan Indra penciuman ku, kamu diam jangan bergerak ya." Tania yang tidak mengerti hanya mengagguk dan menggikuti.