The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab 334.HAMPA.



Malam yang dingin dengan udara yang serasa menusuk ke dalam tulang sumsum membuat suasana Rumah Ayah Tania semakin sepi hening, Seolah olah tiada tanda kehidupan di dalam nya.


Cahaya lampu ruang tamu yang di buat remang remang benar-benar menggambarkan suasana duka yang masih belum menghilang.


Sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan Rumah Ayah Tania, di mana Ayah Tania sedang duduk termenung sendirian di dalam Rumah yang tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil.


Sosok pemuda tampan yang keluar dari dalam mobil berwarna hitam segera mengetuk pintu.


"Tok....!"


"Tok...!"


Tok...!"


Dengan langkah sedikit malas Ayah Tania berjalan ke arah pintu dan membukanya, Alangkah terkejut Ayah Tania ketika mengetahui siapa yang datang.


"Pak guru Wili, ada apa bapak malam-malam begini datang ke sini."Tanya Ayah Tania yang penasaran karena kini di dalam rumahnya sudah tidak ada Tania untuk itu, tidak akan ada lagi yang akan belajar dan mengapa pak guru Wili masih juga datang ke Rumah nya.


"Apa saya tidak di persilahkan masuk pak?"dengan tenang pak guru Wili bertanya pada Ayah Tania yang mana belum mempersilahkan dirinya untuk masuk.


Dengan sedikit gragap, Ayah Tania baru sadar jika dirinya Belum mempersilahkan tamunya untuk masuk.


"Oh,ya maaf, silahkan masuk mari.' ujar Ayah Tania kemudian.


Dengan senang hati pak guru Wili segera masuk menggikuti langkah kaki Ayahnya Tania.


"Mari silahkan duduk," seru Ayah Tania yang mana dia juga mendudukkan bokongnya di depan pak guru Wili.


"Trimakasih, pak."


Ayah Tania berdehem kecil.


"Maaf ada perlu apa ya? Pak Guru Willi datang malam-malam begini."Karena tidak bisa menahan rasa keingintahuan nya maka Ayah Tania langsung bertanya pada pak guru Wili yang menurutnya sangat aneh putrinya sudah tiada tapi mengapa Pak Guru Willi masih datang ke Rumah nya.


Pak guru Wili yang menyadari akan hal itu mencoba untuk Tersenyum.


"Sebenarnya tidak ada perlu apa-apa pak, saya hanya ingin menemani bapak di Rumah, saya tau meskipun bapak terlihat tegar dan baik-baik saja saya yakin hati bapak begitu rapuh dan sedih, untuk itu saya datang untuk menemani bapak agar bapak bisa sedikit menghilangkan rasa kesedihan bapak."ucap Pak guru Wili dengan tulus yang mana di sambut dengan senyuman haru dari Ayah Tania.


"Trimakasih, pak guru Wili begitu perduli, tapi sebenarnya saya tidak apa-apa ini cuma belum terbiasa tapi jika sudah terbiasa saya yakin semua akan baik-baik saja."


Pak guru Wili mengagguk anggukan kepala nya sebagai tanda ucapan setuju dan membenarkan. apa yang dikatakan oleh Ayah Tania.


Pak guru Wili mengedarkan pandangan nya ke seluruh ruangan yang ada, hingga bola matanya menatap pada satu kamar yang masih tertutup. pak guru Wili meneguk ludahnya melihat kamar yang tertutup itu, dulu setiap dia datang kamar itu tidak pernah tertutup rapat, pasti terbuka sedikit dan di dalam kamar itu terdapat seorang gadis yang sangat menggemaskan gadis bandel yang selalu membuat ulah di setiap mata pelajaran nya mulai dari mengerjakan tidak bisa hingga kabur dari sekolah demi tidak menggikuti pelajaran yang tidak di sukai nya, bukan mutlak salah gadis itu karena sesungguhnya banyak sekali murid yang juga sangat anti dan tidak suka dengan pelajaran matematika, kini gadis yang ada di dalam kamar itu telah tiada, sungguh takdir yang sangat memilukan, kepergian nya yang tiba-tiba begitu membuat semua orang menjadi kehilangan.


Pandangan mata pak guru Wili kemudian berpindah pada meja Ruang makan, pak guru Wili mengeryitkan dahinya Ketika netranya masih melihat makanan yang tertata rapi dan Belum tersentuh sedikit pun karena makanan itu masih utuh.


Pak guru Wili menarik Napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan, kemudian pandangan matanya menatap sosok laki-laki yang tidak terlalu tua yang ada di depannya.


"Bapak, belum makan? Tanya pak guru Wili yang melihat beberapa makanan dan sayuran serata daging ikan masih utuh di meja makan.


Ayah Tania Tersenyum kecut, sangat terlihat betapa lelahnya wajah tua itu, lelah menahan kesedihan yang tidak mampu dia luapkan.


"Belum, apakah pak guru Wili juga sudah makan."


Pak guru Wili Tersenyum ramah sebenarnya di dalam hati kecilnya pak guru Wili ingin menggatakan sudah akan tetapi kalimat itu dia tahan Ketika Melihat di meja makan semua makanannya masih utuh itu artinya Ayah Tania pasti belum makan dan jika dia menjawab belum siapa tau Ayah Tania juga akan makan.


"Belum, pak! jawab pak guru Wili dengan senyum tersipu malu.


"Kalau begitu mari silahkan makan.'"ajak Ayah Tania pada guru Wili.


"Beneran ini pak saya boleh makan di sini"


Ayah Tania bangkit dari duduknya melangkah menuju ke dalam ruang makan di ikuti pak guru Wili yang berjalan di belakangnya.


Mereka berdua duduk berhadapan di depan banyaknya sayuran dan beraneka ragam ikan laut yang tersaji di atas meja.


"Banyak sekali makanan nya pak, dan ini kenapa ada tiga macam olahan ikan laut, bapak suka makan, "tanya pak guru Wili yang merasa bodoh dengan pertanyaan nya tapi rasa ingin tau hal itulah yang membuat dirinya menjadi bertanya.


Lagi-lagi Ayah Tania Tersenyum kecut, mendengar pertanyaan dari pak guru Wili, sangat terlihat ada senyum keterpaksaan di sana.


"Tidak ..!aku hanya suka makanan sayur sedangkan Tania dari kecil sangat suka dengan berbagai jenis olahan ikan bahkan dia tidak manjadi masalah jika makan tanpa Nasi tapi akan sangat kesal dan rewel jika tidak ada ikan.


"Oh, jadi Tania suka ikan," pantas saja ketika tinggal di dunia Vampire Tania tidak bermasalah meskipun tidak makan Nasi ternyata kesukaan utamanya ikan, gumam pak guru Wili menggingat Kembali betapa lahapnya ikan bakar yang di buat Tatius untuk nya dia sikat habis Ketika dirinnya dan Tania berada di dunia Vampire.


"Pak guru Wili, kenapa diam ayo makan."


Ketahuan lagi melamun pak guru Wili cepat cepat mengambil nasi dan lauk yang ada di atas meja.


"Mari bapak makan juga ya." ajak pak guru Wili pada Ayah Tania yang mana pak guru Wili mengerti jika Ayah Tania belum makan, entah mengapa rasa sayang dan cinta yang pernah hadir untuk putri nya tak merubah keadaan meskipun sang putri tidak mencintai bahkan kini sudah berpulang.


Tanpa menolak ajakan dari pak guru Willi Ayah Tania pun mulai makan meskipun merasa malas demi rasa saling menghormati, akan menjadi lucu jika tuan Rumah tidak menemani tamu untuk makan meskipun hatinya dan perasaannya tidak memilki selera makan sama sekali.


*****


Di sisi lain Pangeran Tatius yang masih sibuk menghabiskan waktu hanya dengan termenung dan diam membuat paman patih lembu ireng semakin khawatir, tanda tanda cahaya kehidupan dan semangat hidup dari pangeran Tatius seolah olah sedang runtuh.


"Pangeran mari masuk ini sudah malam sudah waktunya pangeran berisitirahat dan menyelesaikan makan malam." ajak paman patih lembu ireng pada pangeran Tatius.


"Paman makan sendiri saja aku belum lapar."


pangeran Tatius menolak ajakan dari paman patih lembu ireng, tangannya sibuk menyibak nyibakkan air yang ada di dalam kolam.


Paman Patih lembu ireng semaki, khawatir, sudah hampir tiga hari semenjak dia pergi dari dunia manusia Pangeran Tatius menjadi sosok pemuda yang pendiam dan tertutup.


Keceriaan dan senyuman yang selalu tersungging di bibirnya nya kini mulai sirna dan menghilang.


"Pangeran, ayolah jangan sampai pangeran sakit."


"Apakah dengan sakit aku bisa mati paman."


"ssst... pangeran bicara apa?


"Tidak ada paman lupakan saja kalau paman sudah lapar paman makan saja dulu aku nanti saja, sekarang masih belum lapar.


Paman Patih Lembu Ireng menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan, dengan hati-hati paman Patih lembu ireng duduk di dekat pangeran Tatius.


"Pangeran lihat lah ke atas langit sana dan pandanglah bintang bintang yang selalu bersinar terang, dan sangat terlihat indah apa pangeran tau di antara berjuta-juta bintang di atas langit sana pasti juga ada satu bintang yang bersedih seperti pangeran, tapi apakah para mahkluk di bumi tau, tidak para mahkluk di bumi tidak pernah tau itu bahkan mereka berfikir bintang bintang di atas langit selalu bahagia.Sedangkan semua itu terjadi karena para bintang di langit selalu tetap tersenyum dan bersinar terang meskipun hati mereka sudah padam."


"Apa maksud mu paman kenapa kau bicara begitu." sedikit tersindir dengan pepatah dan pribahasa yang di gunakan paman Patih lembu ireng, pangeran Tatius menghentikan gerakan tangannya yang asik menyibak nyibakkan air, kini tatapan matanya yang tajam menatap lekat lekat pada sosok laki-laki yang ada di depannya.


Sedikit gugup dan berdebar debar , was-was jika pangeran Tatius marah dan murka pdnya. Paman Patih Lembu Ireng menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan Sangat perlahan seolah olah berusaha menenangkan hatinya yang sedang resah.


Paman Patih Lembu Ireng berusaha tetap tenang dan tersenyum ramah.


"Pangeran haru bisa seperti bintang di atas langit sana, pangeran adalah putra mahkota yang akan menjadi tanggung jawab pangeran semua yang ada di dalam kerajaan, jika pangeran bersikap seperti ini kasian ibu Ratu, aku minta maaf sudah sangat lancang berbicara yang seharusnya tidak saya katakan pada pangeran, tapi sungguh melihat pangeran seperti ini hati saya sangat sedih, aku yakin Nona Tania di alam sana pasti sedih melihat pangeran Tatius seperti ini, jadi ayolah pangeran bangkit dan jangan biarkan kesedihan menguasai hati Pangeran."


pangeran Tatius Tersenyum.


"Paman tidak perlu khawatir aku baik-baik saja dan aku cuma belum. merasa lapar jadi ku harap paman tidak memaksaku, Nanti aku akan makan sendiri, sekarang biarkan aku sendiri."


"Baiklah, Pangeran, aku akan makan lebih dulu dan kuharap Pangeran juga akan segera makan,"lirih paman patih lembu ireng pada Pangerang Tatius yang terlihat sangat rapuh dan hampa.