
Hari Senin Adalah hari yang sering kali membuat Tania kesal, dimana setiap saat
harus mendengarkan ceramah dari pak Wili
Tania mengerti, pak Wili mengginginkan dirinya agar memiliki nilai nilai yang bagus dalam
mata pelajaran nya.
Namun di paksa dengan cara apapun, itu tidak
akan bisa, karena pelajaran matematika ini
sangat tidak di sukai Tania, otaknya berkarat
kalau mengenai pelajaran yang satu ini.
Jangankan belajar, membuka pun seandainya boleh, tidak mau.
seperti hari ini, Tania harus duduk manis mendapatkan bimbingan ekstra dari pak Wili
di rumah nya.
Jika dia tidak datang, sudah pasti guru satu itu
datang menjemput nya.
Dari pada di jemput malu di lihat tetangga
apa boleh buat dia datang juga.
Sebenarnya cukup menyenangkan, jika ada seorang guru yang perhatian pada nilai pelajaran muridnya apalagi memberikan waktu
ekstra belajar secara pribadi di rumahnya,
namun hal itu tidak berlaku bagi Tania.
Rasanya sangat malas, duduk dengan berteman setumpuk buku buku di depan nya
lebih lebih hari ini, Dodi tidak menemaninya.
Anak itu lagi sakit, jadi tidak di ijinkan orang tuanya, jadi lah Tania sendiri cuma berdua dengan pak Wili.
"Bagaimana....?apa sudah dikerjakan semua tugas yang saya berikan!"
Kedatangan pak Wili yang tiba tiba muncul dari dalam membuyarkan lamunan Tania.
sedikit gugup ketika sang guru berjalan
kearah nya, pasalnya Tania belum mengerjakan
satu soalpun.
Dengan cepat di tutup nya lembaran kertas itu dengan kedua telapak tangan nya.
"Belum pak..",bapak jangan kesini dulu aku belum selesai.
"Ok, tidak apa apa, sudah berapa soal yang sudah kamu kerjakan!"
Dengan asal Tania menjawab
"Empat, pak,"
"Baiklah, mana coba kulihat,"
Hoop, kedua bola mata Tania tiba tiba membulat dengan sempurna, pasalnya dia lagi berbohong.
"Jangan... !"Tania buru buru menyembunyikan kertas jawabannya, pasalnya kertas itu masih putih bersih tidak ada satupun jawaban di sana.
Pak Wili mengeryitkan dahinya melihat tingkah
aneh Tania.
Senyuman nya mengembang melihat tingkah
lucu gadis yang diam diam sudah mencuri hatinya.
"Mana tunjukkan padaku,"Ucap pak Wili lembut.
Dengan terpaksa dan berat hati Tania menyerahkan kertas jawabannya sambil menunduk, sudah dapat di bayangkan pasti
pak Wili akan menceramahinya.
Ketika kertas jawaban itu di trima, pak wili tersentak kaget, pasalnya tidak ada satu jawaban pun disana.
Kini Pak Wili mulai menatap Tania dengan tatapan tajam.
Tania hanya menunduk, sudah pasrah jika harus di omeli dan di ceramahi pak Wili.
"Mana ...?Kenapa, tidak ada satu jawaban pun disini, katamu sudah mengerjakan empat !"
"Maaf pak..?hari ini Tania lagi tidak enak badan, jadi Tania tidak bisa berfikir.
Ucap Tania berbohong dengan mimik wajah memelas berharap guru di depannya bersimpati dan tidak menyuruh nya mengerjakan tugas lagi, dan rupanya aktingnya berhasil, buktinya pak Wili sekarang mulai
tidak lagi memaksa.
"Kenapa tidak bilang, kalau hari ini Tania tidak enak badan, coba lihat kamu demam apa tidak?
Pak Wili menyentuh kening dahi Tania.
Tania memejamkan matanya ketika tangan pak guru Wili menyentuh dahinya.
Dengan sedikit bergetar Wili menyentuh dahi Kening Tania, ada debar debar aneh yang gejolak dalam dirinya, sejak awal mula Wili
memang sudah menyukai Tania jadi sangat
wajar jika berdekatan dan sedikit saja bersentuhan menimbulkan percikan percikan
aneh dalam kalbu nya.
"Kamu tidak demam, tunggu ya aku ambilkan obat di dalam,"
Tania mengagguk, hatinya bernyanyi senang dan riang .
sangat ampuh, untuk membohongi guru cakep itu, sudah barang tentu Tania lakukan sejak dulu, biar bisa bebas terus.
Gumamnya dalam hati sambil senyum senyum.
"pulang ku , pukul 2.00 ini masih pukul 11.56
masih lama, tapi kalau pura pura sakit begini kan bisa pulang cepat, gumam Tania senang
tanpa sadar dia menari berputar putar meluapkan kebahagiaan yang ada di dalam hatinya.
Pak Guru Wili, yang hendak masuk memberikan obat terpaksa berhenti mematung di pintu melihat ulah gadis di depannya, barulah dia
menyadari kalau ternyata Tania mencoba
membohonginya.
Awalnya Ingin marah, namun ketika melihat
Tania berputar putar dalam menari karena bahagia, Wili cuma tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, tidak ingin menggaggu, kebahagiaan orang yang diam diam mencuri hatinya Wili terpaku diam dan memilih menjadi penonton yang baik
Tapi di detik berikutnya, Wili melihat Tania memegangi kepalanya.
pak Guru Wili berfikir, mungkin Tania pusing karena menari dengan bersemangat sambil berputar putar, saat pak guru wili hendak menolong, agar Tania tidak lumbung jatuh
tiba tiba Tania berteriak, membuat pak wili
kebinggungan.
"Aaaaaaaaah...."sakit......! aaaaaaaaah...."sakit....!"
Mendengar itu pak guru Wili segera menghampiri, dengan gugup dan penuh kebinggungan pak guru Wili mencoba mengendong Tania ke ranjang yang ada di ruang tamu.
Namun Tania memberontak sehingga susah bagi pak guru Wili untuk mengendongnya,
Tania terus berteriak histeris, bahkan lebih
dahsyat dari awal sebelum nya.
kini tubuh Tania justru berguling guling di lantai
dengan kedua tangan memegangi kepalanya.
Karena susah menghentikan gerakan Tania pak guru wili menahan Tubuh Tania dengan kuat
agar tidak berguling guling.
Namun sepertinya kekuatan yang mendorong
Tania lebih kuat, bahkan sampai mengeluarkan keringat untuk menahan agar tubuh gadis itu
tidak berguling guling pun, hasilnya tetap Nihil
Tidak ada cara lain untuk menghentikan gerakan aneh Tania selain harus menindih
tubuh gadis itu.
meskipun dengan rasa berat hati dan hal yang seharusnya tidak dia lakukan, terpaksa dilakukan, dia tidak tega jika harus melihat
Tania merintih kesakitan dengan tubuh berguling guling tanpa henti.
"Maaf, Ucap pak guru Wili sebelum menindih tubuh Tania.
Gerakan menidih tubuh Tania rupanya berhasil,
kini tubuh gadis yang ada di bawahnya, sudah
tidak lagi bisa bergerak.
Antara sadar dan tidak Tania melihat dan merasakan tubuhnya ditindih pak guru Wili
sebelum akhirnya Tania memejamkan mata
karena pingsan.
"Tania...! Tania...!.rupanya dia pingsan,"
Merasa tubuh Tania tak lagi ada gerakan gerakan aneh pak guru Wili melepaskan tindihannya.
Di gendong nya Tania ke ranjang.
"Kamu kenapa Tania, kenapa tiba tiba berteiak histeris seperti itu?"
Apa kamu tau, aku begitu takut melihat mu seperti itu, ucap pak guru Wili dalam hati.
Ketika pak guru Wili hendak ke dalam mengambilkan Air tiba tiba
"Tik... lampunya padam, ruangan menjadi gelap
pak guru Wili segera, mengambil lilin dan hendak menaruh di ruang tamu,
Namun pandangan nya teetuju pada silau cahaya yang sangat terang di atap dinding ruangan.
"Lho kok ada cahaya terang, dari mana asal cahaya ini ya?"
Pak guru wili menggikuti arah poros pusat cahaya itu muncul, mata pak guru wili menatap ke atas cahaya menggikuti arah asalnya,
dan cahaya itu berhenti di samping tubuh Tania
yang terbaring pingsan.
"Cahaya itu berpusat pada samping tubuh Tania, dengan pelan pelan pak guru mendekati
Ketika langkahnya semakin dekat dan semakin terlihat jelas
pak guru wili segera melompat mundur dengan
membekap mulutnya,
Bersambung...