The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab.22.GUNDAH



Untuk beberapa saat, pak guru wili tetap menunggu di depan pintu.


Hatinya yang kalut, karena sebuah penyesalan


tak membuat jiwanya tenang, antara menunggu


atau pergi.


Sementara Ayah Tania dan Devan yang sudah berputar putar menggelilingi kota, tak juga menemukan tanda tanda mengetahui kebenaran Tania.


Dengan berat hati Ayah Tania mengajak Devan


untuk pulang.


"Kita sudah berkeliling, Tapi, tak kita temukan keberadaan Tania, ayo kita pulang saja, siapa tau, Tania sudah ada di rumah,"


"Baik,Om,"


"Smoga, Tania sudah berada di rumah,"


Devan mengemudikan motor nya, kembali ke rumah Ayah Tania.


Sampai di ujung jalan, dekat dengan rumah Tania, Devan menghentikan motornya.


""Om, yakin minta berhenti disini?"


"Iya, Nak Devan, lagipula Nak Devan kan juga ada urusan, jadi trimakasih, sudah mengantar Om, mencari Tania, sekarang Nak Devan pulang saja,"


"Baiklah Om, kalau begitu, Devan permisi pulang dulu, Assalamualaikum,"


"Walaikumsalam,"


Setelah kepergian Devan, Ayah Tania berjalan


pulang kerumah yang jaraknya hanya beberapa meter saja, dari ujung jalan.


Setibanya di depan rumah, Ayah Tania sangat terkejut, melihat ada orang yang duduk terpaku di depan pintu sambil menunduk.


"Maaf, anda siapa, kenapa duduk di depan pintu rumah kami ?"


Mendengar ada sapaan, pak guru Wili segera mendongakkan kepalanya.


Melihat siapa yang datang dengan segera pak guru Wili bangkit dari duduknya.


"Selamat sore pak,"


Sapa pak guru Wili sopan.


"Selamat sore, anda siapa ya? dan ada perlu apa datang kerumah saya,"


"Maaf, pak, saya gurunya Tania, dan saya kemari karena . .".karena...!saya...Iya, saya...


Pak guru wili mengantung ucapannya karena dia Binggung bagaimana harus menjelaskan.


Ayah Tania tersenyum melihat kebingungan dari pak guru Wili.


Sambil membuka pintu, Ayah Tania mempersilahkan Pak guru Wili untuk masuk.


"Mari pak guru, ayo, silahkan masuk,"


"Tapi, pak, saya...."saya ...,!disini saja,"


"Kenapa, tidak mau masuk pak?"


"Apakah, saya bisa bicara dengan bapak disini, saja,"


Ayah Tania mengeryitkan dahinya.


"Iya, bisa, mari silahkan,kita duduk di sana,"


Ajak Ayah Tania,"


"Silahkan, pak guru, mau bicara apa?"


Dengan sedikit ragu ragu, pak guru Wili, menceritakan segala kejadian yang ada di rumahnya, tentang Tania, juga tentang keterpaksaan nya menindih tubuh Tania, saat histeris merasa kesakitan dengan berguling guling.


"Jadi, siang tadi, Tania berada di rumah pak guru?"


"Iya, pak, Tania belajar di rumah saya,"


Ucap pak guru Wili dengan menunduk.


apak guru Wili berfikir pasti Ayah'nya Tania akan sangat marah padanya.


"Berarti, Tania, sekarang sudah ada di rumah ini,"


"Iya, pak, sekali lagi maaf kan saya,"


Ayah Tania, tersenyum.


"Tidak, apa apa pak guru, justru saya sangat berterima kasih, karena pak guru sudah menolong putri saya, cuma apa yang pak guru lakukan itu sangat membahayakan Tania."


"Maksud,bapak, bagaimana ?coba jelaskan saya betul betul tidak mengerti."


"Dulu, saat Tania, masih kecil sering ku tinggal pergi, aku tidak tahu dengan siapa Tania bertemain, waktu itu, saat saya pulang dari kerja


aku melihat luka di tangan Tania, luka bekas


cakaran dan anehnya luka cakaran itu membentuk sebuah Nama, ketika Tania hendak ku bawa ke rumah sakit terdekat di jalan saya


bertemu dengan seorang peramal, peramal itu


neminta saya untuk selalu menutup luka Tania


jangan sampai terbuka apalagi, di tempat terbuka dan disaat bulan purnama, jika luka perban itu terbuka akan terjadi sesuatu pada diri Tania."


"Oh, jadi ini alasannya, Kenapa Tangan Tania selalu di balut dengan perban, benar benar kejadian yang aneh, aku melihat ada cahaya yang sangat terang keluar dari bekas luka tangan Tania, sekarang bagaimana, luka perban Tangan Tania sudah pernah terbuka, oleh kebodohan saya."


"Saya, juga tidak tau pak guru, kita berdoa saja semoga semua baik baik saja,"


"Iya, pak, semoga semua baik baik saja, Namum bagaimana dengan Tania!


dia sangat membenci ku sekarang, apa yang harus saya lakukan?"


"Tenanglah, kemarahan Tania pasti tidak akan lama, sekarang lebih baik, pak guru pulang saja,


jangan mengaggu Tania dulu, biarkan dia tenang agar kemarahan nya bisa kembali normal."


"Baiklah,pak, saya permisi dulu."


Pak guru Wili akhirnya, meminta ijin untuk pergi, Sedangkan Ayah Tania masuk ke dalam


rumah.


****


Di tempat lain, Ratu Derbah merasa sangat was was dan gugup, karena tidak seperti biasanya


Raja tiba tiba memanggilnya.


Dalam kekalutan hatinya yang dalam, Ratu Derbah bertanya kepada Patih Ramboka.


"Menurutmu, apa kira kira, yang ingin Raja katakan padaku?"


"Aku juga tidak tau Ratu, namun menurutku Raja ingin membicarakan hal yang sangat penting."


"Apakah, semua ada hubungannya dengan pangeran Yervan, yang aku pindahkan dari perawatan istana, ke tempat pribadiku !"


"Itu, juga bisa Ratu,"


"Menurutmu apa yang harus aku lakukan, apakah aku harus menemui Raja, atau pura pura sakit saja dan tidak menemuinya,"


"Ku rasa itu bukan ide bagus, menurutku Ratu lebih baik datang, agar Ratu bisa segera mengetahui apa yang diinginkan Raja,"


"Baiklah, besok aku akan menemui Raja, lagi pula keadaan Pangeran Yervan sudah sangat baik jadi tidak mungkin Raja marah,"


"Betul, Ratu, pangeran Yervan sudah lebih baik dari sebelumnya, pasti lah Raja tidak akan murka, jadi Ratu Derbah tidak usah gundah lagi, percaya lah semua pasti baik baik saja,"