
Di bawah guyuran hujan di atas motor yang sedang melaju dengan kecepatan kencang, Tania yang hatinya senang seakan akan baru mendapatkan tetesan embun yang segar merentangkan kedua tangannya, Rambutnya yang panjang dan basah dia biarkan terurai, melambai lambai menggikuti irama hujan dan tiupan angin dan kencang, bibir nya tak henti hentinya berteriak meluapkan rasa kebahagiaan dan kekesalan yang tersimpan di dalam sanubari nya.
"Aku bahagia...! hujan turunlah yang deras membasahi hatiku yang sedang terluka ini, aku benci laki-laki play boy itu, dia benar-benar telah melupakan ku, hujan katakan padanya aku membencinya, aku benci Tatiuuuuuss... !"
teriak Tania kencang dari atas belakang motornya Devan hingga suaranya terdengar dari depan yang mana membuat Devan yang melajukan motornya hampir terkena spot Jantung.
Bagaikan halilintar di siang bolong, bagaikan ombak yang besar sedang menerjang karang bebatuan, bagaikan langit yang tiba-tiba mendung mengantung dan bagaikan ribuan pisau menancap ke ulu hati, apa yang dilakukan Tania benar-benar membuat Devan tidak mengerti, Devan tidak memahami apapun yang saat ini terjadi, terlalu sakit untuk di ungkapkan dengan kata-kata dan terlalu pedih untuk di simpan di dalam dada.
Keadaan bagaikan sebuah busur lingkaran yang mana dari beberapa derajat kini meloncat menjadi seratus delapan puluh derajat, sungguh di luar batas sebuah tepi kesabaran, Devan mencengkram erat motor nya hatinya begitu sakit sangat sakit, belum genap satu hari, belum terlewati tiga jam gadis yang tadi menerima cintanya kini berubah meneriakkan sebuah nama mantan kekasih nya, Devan tidak habis pikir mengapa Tania begitu mudah berubah, bukankah dia sendiri juga yang menerima cinta nya lalu mengapa kini tiba-tiba berubah.
"Apakah kehadiran hujan patut dikatakan membawa sial, bagaimana tidak sial gara-gara hujan turun tak dapat ciuuman bibir dari Tania, dan gara-gara hujan turun nama Vampire jelek itu selalu di sebut sebut, bikin tensi darah Naik,' Grutu Devan dalam hati.
Dengan perasaan penasaran berpadu dengan rasa kesal yang tiba-tiba menyusup ke dalam sanubari nya, Devan menggarahkan kaca spion motor ke belakang dimana dia akan bisa dengan mudah dan jelas melihat tingkah laku gadis yang ada di belakang nya.
"Astaga....! Nekad amat itu anak."lirih Devan dalam hati yang mana hampir putus jantung Devan Ketika dari balik kaca spion motor terlihat wajah cantik Tania tanpa berpegangan merentangkan kedua tangannya, Rambutnya yang panjang dan basah tergerai melambai lambai terkena tiupan angin dan hujan.
Ser.....Deg.....!
Hampir lepas jantung Devan Ketika tanpa sengaja mata jernih dan tajamnya menatap pada tubuh Tania yang basah di mana akibat dari derasnya air hujan yang membuat baju Tania basah mengakibatkan terlihat nya dua buah gunung kembar yang sangat menantang dari balik baju Tania yang tipis dan basah.
Ops..!Devan meneguk ludahnya, terpaksa menelan air liur ketika melihat pemandangan yang sangat indah di mana jiwa kelakiannya mulai meronta ronta.
"Astaga Tania kau membangunkan adik kecilku, bagaimana ini."Devan melajukan motornya dengan resah pikiran nya sudah melayang kemana-mana, jantung dan dada nya bergemuruh, percikan percikan api gai rah mulai merambat dan menyusup ke dalam jiwanya, seperti nya otak Devan sudah mulai sedikit konslet.
"Ciiiiitttt....! Dengan gerakan cepat tiba-tiba Devan menghentikan laju motor nya.
Gerakan Devan yang tiba-tiba menghentikan motor secara mendadak membuat Tania yang ada di belakang nya langsung nyungsep ambruk ke depan, di mana tubuh kekar Devan menjadi tempat untuk menampung jatuhnya tubuh Tania, hingga secara tidak langsung tubuh Devan menjadi penghalang dan penghadang tubuhnya sehingga tidak sampai jatuh dan ambruk nyungsep ke depan motor Devan dengan keadaan yang sangat mengenaskan seperti yang ada di dalam cerita cerita halu, kalau ada jika belum ada hal itu dikarenakan skenario nya kurang pas.
Akibat dari ambruk nya Tubuh Tania menabrak tubuh kekar Devan yang ada di depannya membuat jantung Devan seakan lepas untuk yang kedua kalinya, bagaimana tidak jantung nya semakin di buat tidak karuan ketika tanpa sengaja gunung kembar Tania menabrak punggung Devan yang keras bagaikan batu karang.
Kerasnya punggung Devan jika mendapat kan benturan dari gunung kembar yang kenyal dan empuk seperti kasur tentulah rasanya akan sangat nikmat dan enak di mana Jantung Devan semakin di buat berdebar debar tak karuan merasakan kedahsyatan gelombang Asmara cinta yang sedang mengelora di dalam jiwanya, sampai-sampai Devan merem melek dibuatnya, ini baru benturan tak sengaja apa jadi dan apa rasanya seandainya dan seandainya.. .. Devan memukul jidatnya karena otak pikiran nya sudah bertraveling ria ke alam surga dunia.
"Astaga...Tania !" kau benar-benar menguji imanku, apa kau tau jiwaku semakin kau buat kelimpungan begini, sungguh rasanya ingin terbang ke awan biru, tapi mengapa rasa itu berbeda dengan apa yang kualami dengan Clara, padahal sama-sama empuk di punggung ku tapi milik mu benar-benar membuat copot jantung ku, apapun yang ada padamu benar-benar membuat ku mabuk kepayang, Clara sering menggodaku dengan menempelkan gunung kembarnya pada punggung ku Ketika kami Naik motor, tapi mengapa rasanya aku begitu mual dan risih bahkan tanpa sadar aku sering membentaknya agar jangan terlalu merapat dan dekat kepadaku, tapi dengan Gadis ini, Astaga...kurang dan ingin merasakan lagi dan lagi sangat nikmat dan enak di hati, rasaanya ingin mendapatkan tubrukan dari gunung kembar mu lagi."gumam Devan yang bibinya,merancau sendiri dalam hati.
"Bruuugh....! sebuah pukulan mendarat tepat di punggung Devan.
"Auuw ...Tania !" ringis Devan tertahan menahan sedikit sakit meskipun sebenarnya tidak sakit karena yang benar membuat Devan kaget dan terkejut dari lamunannya.
Seorang gadis turun dengan cepat dari motor Devan yang berhenti mendadak, dengan wajah yang sangat merah padam seolah olah sedang marah, bukan bukan itu bukan seolah olah tapi memang benar-benar marah, terbukti Tania langsung berdiri di depan motor Devan sambil berkacak pinggang.
Devan bukannya takut dan gentar akan wajah merah padam gadis yang ada di depannya, tapi dia justru meneguk ludahnya, bagaimana tidak pemandangan di depan mata juga sangat menggiurkan di mana baju basah Tania yang dengan sangat jelas dan terang memperlihatkan gunung kembar nya yang terlihat menantang dari balik bajunya yang tidak begitu tebal.
Melihat Devan justru menatap dirinya dengan tidak berkedip, Tania semakin geram dan dia mulai menyadari jika Pemuda yang ada di depannya sangat menikmati lekuk tubuhnya yang basah karena hujan.
"Brengsek, kau! turun...!teriak Tania berapi-api dia sangat marah melihat Devan justru menatap nya dengan penuh gai rah. Di tarik nya tubuh Devan hingga pemuda itu mau tidak mau turun dari motor nya dan setelah turun.
"Bruuugh.. !
Bruuugh..!
Tania memukul tubuh Devan beberapa kali kemudian menarik jaket hitam yang di pakai Devan kemudian memakai nya untuk menutupi lekuk tubuhnya terutama bagian dada yang menjadi sorotan mata Devan.
Setelah mendapat kan semua Tania berlari di bawah guyuran hujan. Devan yang sedari tadi diam bagaikan orang yang terkena hipnotis kini mulai tersadar ketika melihat Tania berlari menjauhi nya.
"Tania....tunggu...!"Devan ikut berlari di bawah guyuran air hujan yang masih terus membasahi bumi, Tania tidak menghiraukan dan tidak mau mendengar kan teriakan Devan yang masih terus berlari mengejar nya.
Devan semakin panik manakala Tania tidak mau menghentikan langkah kakinya yang masih terus berlari.
"Gawat, Tania sangat marah padaku, ini semua gara-gara mata tidak tau diri ini, tapi tidak...tidak..kamu juga sih yang salah kenapa kamu selalu membuat jantung ku bergolak setiap melihat mu, sudah tau aku cinta mati padamu, justru di pamerin pemandangan yang menakjubkan, bukan salahku kan, itu salah mu, aku kan hanya tidak mau membuang kesempatan indah ini, di mana aku bisa menikmati keindahan mu meskipun masih terbalut kain coba kalau tidak ada penutupnya pasti' lebih indah lagi , haiiis... kenapa aku jadi berfikir yang aneh-aneh begini." grutu Devan dalam hati. " Tidak, Tania bisa kecapekan dan sakit kalau berlari begitu aku tidak mau dia sakit duniaku bisa runtuh kalau sampai terjadi sesuatu padanya aku harus mempercepat lari ku dan menangkap nya."
Devan mulai mempercepat gerakan larinya dan benar saja Tania yang baru sembuh dari sakit tidak mampu berlari dengan kencang lagi bahkan sangat terlihat jelas jika tubuh Tania hampir terjatuh Beberapa kali, menyadari hal itu dengan sigap Devan berlari dan melompat menangkap nya.
"Lepaskan.. !kau brengsek," teriak Tania sambil menangis, rasanya sangat marah dan malu karena Devan menatap nya seolah olah sedang melucuti seluruh yang di kenakan nya kala itu meskipun hanya dengan sebuah tatapan mata saja.
"Maaf ..! lirih Devan menatap Tania dengan tatapan mata yang sendu, Melihat gadis di depannya menanggis hati Devan bagaikan di iris iris, rasanya sesak di dada jika melihat orang yang dia cintai sedang bersedih apalagi sampai menanggis.
"Aku tidak bermaksud begitu, aku hanya khilaf maaf kan aku."
"Khilaf..? tidak bermaksud, kamu pikir aku wanita apaan hah, kenapa kau menatap ku dengan tatapan seperti itu, kau ini temanku mengapa Tatapan mu seperti sedang mene lanjangiku, kau pikir aku wanita apaan, aku kan jadi malu aku kan jadi seperti orang yang tidak punya harga diri aku ....!
Teriakan dan seruan amarah yang berapi-api yang terlontar dari bibir Tania terhenti seketika, ketika jari tangan Devan menutup bibir nya.
"Sssstt....! Dengan cepat tangan Devan dengan satu ujung jari menutup mulut Tania sambil menggelengkan kepalanya.
"Jangan berfikir begitu, jangan berfikir aku merendahkan mu, tidak, itu tidak benar." tukas Devan seraya melepaskan tangannya yang tadinya di gunakan untuk menutupi bibir gadis yang ada di depannya agar tidak kebablasan bicara yang tidak tidak.
"Tidak benar apa jelas jelas kau menatapku dengan tatapan yang. ...yang membuat harga diriku tak berharga, kau sudah membuat aku malu, aku maluuuuu....!'teriak Tania histeris membuat Devan mengacak rambutnya dengan kasar.
"Baik...baik Tania aku mengakui aku menatap mu dengan tatapan penuh gelora, jiwa ku bergolak aku menyukai dan aku menikmati lekuk tubuh mu yang memang mengoda imanku, aku tidak bisa bohong aku menyukai itu." seru Devan yang tak kalah kerasnya seolah ucapannya sedang berlomba dengan derasnya air hujan.
"Kau... Plaaak...!'
Tania tidak melanjutkan ucapannya setelah memberikan Tamparan pada Devan, tubuhnya menjadi limbung seolah olah tak bertenaga, Melihat Tania yang seperti mau jatuh dengan cepat Devan memeluknya.
"Tania..!
"Lepaskan, aku, kau kejaaam....kau jahaat padaku kau....sudah membuat rendah harga diriku aku sudah tidak punya harga diri lagi di hadapan mu ," teriak Tania sambil meraung Raung dalam tangis dengan derai air mata.
"Baik, aku akan bertanggung jawab atas perbuatan mataku yang sudah lancang menatap mu dengan tatapan penuh naf...su, aku akan menikahimu secepat nya."
"Kau gila, kau pikir pernikahan itu main-main dan apa kau pikir aku sudih menerima orang yang mau menikahiku karena terpaksa."teriak Tania sambil melepaskan pelukannya Devan.
Devan menelan ludahnya dengan kasar, bibirnya seolah olah sedang tercekat. sakit rasanya di bilang terpaksa, tidak ada kata terpaksa karena sesungguhnya itulah yang dia inginkan bisa menikahi gadis yang sangat dia cintai, tapi ternyata Tania tidak pernah peka dengan perhatian nya Tania hanya menganggap Devan seorang teman biasa.
Devan menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.
"Dengar, tidak ada kata terpaksa, jika kau mau dan menerima justru aku akan sangat bahagia jika kamu mau menikah dengan ku, aku sangat mencintai mu, apakah kau mau." tanya Devan penuh harap.
"Bercanda mu, kelewatan awas kalau kau berani menatap ku dengan tatapan begitu."tukas Tania yang kemudian berjalan ke arah pohon yang sangat rindang agar tubuhnya tidak terlalu deras terguyur dengan air hujan.
"Tania, tunggu aku bicara serius...! aku mau menikahi mu."
"Diam...!" jangan bicara lagi, sudah punya Clara masih saja kurang."
"Aku dan clara sudah.....
"Cukup, aku tidak mau tau, cepat ambil motormu ayo cepat kita pulang di sini dingin."
"Aku peluk mau!"
"Awas berani macam-macam aku pukul kepalamu."
"Idih, galaknya, perasaan tadi sebelum hujan turun Tania itu sangat manis dan penurut tapi setelah hujan datang kenapa jadi galak begini."sungut Devan yang merasa sedih dan prihatin dengan dirinya sendiri.
Langit mendung dan terlihat sangat gelap ketika hujan turun, dengan berlari kecil Devan pergi mengambil motor nya yang dia tinggalkan begitu saja di jalan.
Hati dan pikiran Devan masih bertanya tanya jelas jelas ketika berangkat dari Rumah Tania begitu penurut dan manis bahkan Devan berfikir Tania sudah menerima cintanya tapi ternyata setelah hujan turun Tania hanya menganggapnya teman.
Sambil mengrutu dan bersunggut sungut Devan mengambil motor nya.
"Beruntung sekali sih, Vampire jelek itu mendapat kan cinta Tania dan di cintai Tania sedangkan aku, apalah aku yang cuma di jadikan teman, hatiku menanggis boo..... hatiku sakit, aku juga mau mendapatkan cinta Tania aku juga mau merasakan hangatnya dalam pelukan nya, tapi lagi-lagi Nasib mempermainkan ku, cinta Tania bukan milik ku, aku berharap semoga ada Dewi keajaiban Tania bisa menjadi milikku."desis Devan dalam hati.