The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab.354.TERKEJUT



Tatapan matanya yang tajam dengan aura kemarahan laki-laki berlari mendekati tempat di mana Kakek Sangkalah dan Tania berada.


Dengan perlahan-lahan Kakek Sangkala mendudukkan Tania dalam posisi menyandar ke dahan pohon di mana kursi bambu panjang sengaja di buat dan sang pemilik toko butik entah untuk sekedar hiasan atau untuk para pengunjung yang ingin bersantai di luar.


Pandangan mata sang kakek tertuju pada benda berbentuk kalung berwarna putih yang dia lempar ke atas, kalung itu berputar putar di udara, dalam beberapa saat kalung yang mengeluarkan cahaya kilau berwarna hijau yang masih bersinar terang, mengeluarkan bunyi yang sangat keras di udara seolah-olah ada yang pecah.


Kakek Sangkalah menengadahkan tangan untuk menangkap jatuhnya Kalung yang tadinya berputar putar kini mulai meluncur ke bawah dan bersamaan dengan itu salah satu tangan kakek Sangkalah menggeluarkan kekuatan tenaga dalam nya dan menggarahkan ke belakang di mana tanpa melihat Kakek Sangkalah yang juga Raja Vampire di istana nya, sudah menggetahui sosok laki-laki yang berlari kearahnya.


Dengan kekuatan yang di saluran kan pada telapak tangan menimbulkan datangnya Angin yang cukup kencang dengan di sertai kabut yang langsung menghadang sosok laki-laki yang berlari ke arah dirinnya dan Tania.


Setelah kalung yang meluncur ke bawah sudah berada pada gengaman tangan nya, Kakek Sangkalah segera menyambar tubuh Tania dan membawanya menjauh dari tempat itu.


Di sisi lain Sang Nenek yang sudah pulang dari belanja keperluan untuk pernikahan Tania dan Devan sudah sampai di Rumah dan meletakkan seluruh barang yang di bawahnya dan menyimpan nya.


Kemudian membersihkan tubuh setelah semua di rasa sudah selesai, Nenek pun melangkah kan kakinya masuk ke dalam kamar, semua dia lakukan untuk mengecek dan melihat tusuk konde yang ada di dalam kotak. Namun ketika pintu di buka sang Nenek merasakan hawa panas yang sangat kuat.


"Kenapa dengan kamar ini, mengapa terasa panas mungkin ini hanya perasaan ku saja, coba kulihat tusuk konde ku."dengan langkah pasti sang Nenek segera mendekati kotak kecil yang di dalamnya terdapat tusuk konde dan ketika kotak itu terbuka wajah sang Nenek menjadi tegang dan terpanah dengan apa yang dilihatnya.


"Kenapa tusuk konde ini tidak lagi memancarkan sinar nya, tidak-tidak ini tidak boleh terjadi, jika tusuk konde ini tidak lagi bersinar maka Kalung yang di gunakan Tania sudah tidak memiliki penggaruh apapun, apakah semua ini ulah dari Devan, apakah hati Devan berubah, dia ingin mendapatkan Tania dengan cara jujur, jika memang benar begitu apa mau di kata, semua pilihan ada padanya, akan tetapi jika Devan yang melakukan kenapa tusuk konde ini memiliki rasa dingin seharusnya biasa saja, ini seolah olah kesengajaan dari suatu kekuatan yang sengaja membekukan cahaya sinar hijau di kalung Tania dan jika hal itu benar siapa orang yang berani ikut campur dengan kekuatan ku, ini sangat membingungkan aku tidak akan bisa mengetahui jika aku tidak menggunakan mantra yang bisa melacak dan melihat akan tetapi bisa jadi apa yang aku pikirkan itu juga salah, belum tentu juga kekuatan besar Yang mengaggu bisa jadi itu tanpa sengaja saja kalungnya terlempar ke dasar sungai yang suhu airnya sangat dingin, untuk bisa memastikan aku harus menunggu sampai besok malam, jika sampai besok malam tusuk konde ini masih dingin itu artinya benar ada kekuatan besar yang sedang mengaggu dan aku akan melakukan tindakan untuk menghentikan nya." gumam sang Nenek yang kemudian menutup kembali kotak kecil berisi tusuk konde.


***


Di bawah sinar matahari yang mulai merangkak Naik, Raja Sangkala kakek dari Pangeran Tatius yang membawa terbang tubuh Tania mulai berhenti di sebuah pertigaan jalan, yang mana di tempat itu hari masih terlihat sangat sepi dari lalu lalang orang orang yang tinggal di perkotaan itu.


Dengan gerakan cepat setelah mendaratkan kakinya ke tanah, sang Kakek langsung membuka totokan yang ada di punggung Tania dan dalam waktu yang singkat maka Tania segera sadar dari pingsannya.


"Kakek, kenapa kita berada di sini, apa yang dan mengapa kakek juga berada di sini,"


Dengan Tersenyum lembut sang kakek menepuk pundak Tania.


"Tidak ada, kakek cuma kebetulan melihat mu disini jadi kakek berniat mengajakmu berbincang-bincang, tapi karena waktu nya sudah sangat sore dan kakek harus kembali sesepatnya maka Kakek putuskan lain kali saja kita ngobrol nya, apakah kau mau kakek antar pulang atau mau pulang sendiri."


"Pulang sendiri saja kek, lagian ini sudah dekat dengan Rumah Tania,"


"Baiklah, kalau begitu kakek pergi dulu, tapi kskek ingin bertanya sesuatu apakah kau mau menjawab dengan jujur pertanyaan kakek."


"Tentu saja, boleh kek, kenapa harus pakai ijin segala."


"Apakah kamu sudah tidak mencintai Tatius, maksud kakek apakah hubungan cinta kalian sudah berakhir dan apa benar kabar yang kebetulan kakek dengar dari para tetangga yang ada di kota kamu ini jika kamu akan segera menikah?"


Tania tak bisa menyembunyikan gelak tawa nya Mendengar pertanyaan sang Kakek yang dia rasa begitu aneh dan lucu.


"Hahaha, kakek pasti denger gosip itu, mana mungkin aku menikah dan masalah hubungan ku dengan Tatius, entahlah Kek, seperti nya Tatius sudah tidak mengginginkan ku, dia kan lagi asik dan bersenang-senang dengan putri Lin Ying jadi mungkin hubungan kami memang sudah berakhir." jawab Tania sendu.


"Mengapa kau berfikir begitu, belum tentu Tatius memiliki rasa pada Putri Lin Ying, siapa tau kamu salah duga."


Tania Tersenyum kecut.


"Sudahlah kek, tidak perlu kita membahas itu lagi,"


"Baiklah kalau begitu kakek pergi dulu, karena kamu tidak mau aku antar jadi kakek permisi dulu ya."


"Silahkan, kek."


Setelah mengucapkan itu Raja Sangkalah segera terbang melesat meninggalkan tempat di mana Tania berada.


Tania hanya tersenyum kecut sambil melambaikan tangan ketika Raja Sangkala pamit meninggalkan dirinya sendiri, dengan langkah tertatih malas dan dengan hati yang sedih karena harus mengenang orang yang telah membuat luka di dalam hatinya.


Ketika Tania berjalan pulang menuju ke Rumah nya, tanpa sengaja bertemu dengan salah satu ibu-ibu warga yang ada di kota itu.


"Eh, Nak Tania selamat ya, sebentar lagi akan menjadi pengatin."ucap salah satu warga yang ada di kota itu, yang kebetulan bertemu dengan Tania.


Ucapan tak terduga dari salah satu warga yang ada di kota itu sontak saja membuat Tania mengeryitkan dahinya.


"Maaf, ibu bilang apa?" siapa yang akan menikah."tanya Tania binggung.


"Lho, Nak Tania kenapa jadi balik bertanya, semua warga juga sudah tau, Nah itu dia calon suami Bak Tania, seperti nya dia sedang mencari Non Tania."seru wanita yang ada di depannya, yang mana langsung membuat Tania menoleh ke arah yang di tuju ibu di depannya, yang mana langsung membuat Tania terkejut dengan bola mata melotot tak percaya.