
Hampir selama dua Minggu Pangeran Tatius mempelajari ilmu indra penciuman yang di ajarkan langsung oleh Ayah nya.
Kegigihan dari pangeran Tatius dan keseriusan dirinya dalam mempelajari ilmu Kanuragan membuat nya sangat mudah berhasil, begitu juga ketika harus mendapatkan seorang guru yang di datangkan langsung oleh Ayahnya tidak perlu menunggu lama semua ilmu terserap dengan matang.
Raja sangat bangga dan senang dengan prestasi dan kecerdasan dari putra mahkota Pangeran Tatius, bahkan bisa di bilang ilmu dari pangeran Tatius lebih tinggi di banding kan Ayahnya.
Tidak tanggung-tanggung Raja Prayudha mendatangkan empat orang hebat dan meminta empat orang itu secara langsung mendidik dan mengajari Pangeran Tatius, hingga Pangeran Tatius banyak memiliki ilmu yang berbeda dari empat guru yang berbeda lima dengan sang Ayah.
Raja berpesan jika Indra penciuman tidak bisa di gunakan, itu artinya ada yang menghapus jejak Indra penciuman dengan menaburkan beberapa pasir atau abu sehingga Indra penciuman tidak dapat berfungsi dengan baik dan jalan satu-satunya agar Indra penciuman bisa kembali normal dan mampu berfungsi, maka harus bisa menghilangkan abu atau pasir yang mungkin menutupi Indra penciuman hal itu bisa dilakukan dengan cara menyiram atau mendatangkan air hujan agar debu atau abu yang menutupi lapisan bau aroma seseorang bisa hilang.
FLASH BACK Off .
Pangeran Tatius yang tadinya jatuh terduduk dan putus asa karena tidak bisa melacak dan menemukan karena Indra penciuman nya tidak bisa di gunakan kini wajahnya mulai berseri dirinya mulai bisa menemukan Jalan dan bisa berfikir apa yang harus dia lakukan.
Pangeran Tatius duduk bersila dengan tangan bersilang di depan dada kemudian pada detik berikutnya tangan itu di hentakkan ke tanah sebayak tiga kali, tidak menunggu lama tanah bergetar langit berubah menjadi mendung dan tak lama kemudian turunlah hujan yang deras membasahi bumi.
Pangeran Tatius bangkit dari duduknya, tak lama kemudian Indra penciuman dari pangeran Tatius berfungsi kembali, dan pangeran Tatius bisa mencium kemana arah perginya Pak Guru Willi membawa Tania.
Senyum menyeringai tersungging disana.
"Ternyata jalan itu yang kau ambil dan pilihan kalian ternyata melewati sungai." gumam Pangeran Tatius yang mana dengan sangat cepat menggikuti jejak dari pak guru Wili dengan bantuan Indra penciuman.
Di tempat lain pak guru Wili yang menyebrangi lautan sungai sudah sampai di tepian bersama dengan Tania.
"Tania...! buka matamu kita sudah berada di tepian."
Tania yang masih menggigil ketakutan tak berani membuka mata apalagi turun dari punggung pak guru Wili.
"Tidak mau aku masih takut,"jawab Tania yang semakin mempererat genggaman tangan nya pada leher pak guru Wili.
"jangan takut kan ada aku disini, ayolah turun dan lihatlah, pemandangan di sini sangat luas dan indah.
Tania langsung turun dan membuka kedua bola matanya, wajah cantik nya menoleh kekanan dan kiri air yang sangat deras tak lagi tampak oleh mata .
"Air yang kita lewati tadi ada di mana? kok sudah tidak terlihat."
Pak guru Wili tertawa mendengar pertanyaan Tania.
"Kita sudah jauh dari sana karena kamu memejamkan mata sambil tertidur jadi kamu tidak tau kalau aku mengendongmu sampai disini.
Mendengar penuturan pak guru Wili Tania tertunduk malu dia sangat ceroboh dan pasti sangat merepotkan, bobot Tania tidaklah terlalu kurus juga tidak terlalu gemuk sehingga cukup berat pastinya. Melihat Tania diam saja pak guru Wili berjalan mendekati.
"Apa kamu sudah lapar, ayo kita cari makan di depan sana kelihatan nya itu perkampungan jadi kita bisa makan di sana.
Sebagai jawaban Tania mengagguk kan kepala.
"Akhirnya kita berada di negeri manusia lagi, bosen di negri Vampire makanannya ikan melulu, benar begitu kan Tania."
Tania yang dalam mode melamun terperanjat kaget dengan pertanyaan pak guru Wili yang mana sama sekali Tania tidak bisa menggingat karena dia tidak fokus dengan pertanyaan yang diberikan pak guru Wili.
"Ah, ya, Pak Wili bicara apa?"tanya Tania sambil melangkah pelan di samping nya.
"Kau tidak mendengarkan apa yang ku bicarakan Tania."
"Maaf, Pak ! pemandangan disini sangat indah jadi aku melihat pemandangan yang ada disini maaf jika tak mendengar pertanyaan bapak."
Pak guru Wili menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan.
"Tidak, apa-apa, pemandangan di sini memang bagus dan bisa membuat kita terlena."ucap Pak guru Wili sambil tersenyum kecut yang mana hatinya sangat yakin jika Tania tidak sedang melamun dan memikirkan bunga bunga yang indah, tapi sedang memikirkan Vampire jelek yang sudah menjadi kekasihnya, cinta itu memang buta sampai sampai Seorang Vampire pun tidak di perdulikan asalnya yang penting cinta dan suka.
Sungguh kehidupan cinta yang sangat mengenaskan, kenapa harus memilih yang tak layak jika yang layak dan pantas saja ada di depan mata, lagi-lagi Pak guru Wili menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan , menahan suatu rasa berat yang tersimpan di dalam dada.
"Pak warung itu terlihat ramai apa kita tetap akan ke sana."Tania bertanya ketika mereka sudah sangat dekat dengan tempat yang di tuju.
"Ya, kita tetap ke sana perutmu pasti sudah sangat lapar jadi tidak perlu berjalan mencari tempat yang lebih jauh lagi toh di sana juga masih ada tempat duduk yang kosong."
"Baiklah, pak!
Tania dan pak guru Wili masuk ke dalam warung yang pagi itu sangat ramai pengunjung.
"Tania tunggu...!
"Ada, apa pak?"
"Boleh aku minta bantuan mu."
"Bantuan?" bantuan apa pak?
"jangan lagi kau panggil aku pak, tapi panggil saja aku Mas."
Tania yang tadinya berjalan santai tiba-tiba merasa badannya limbung dan hendak jatuh, saking terkejutnya beruntung pak guru Wili siap siaga di samping nya sehingga dengan sangat cepat dan tepat langsung menyambar tubuh Tania yang hendak terjatuh.
Sementara Pak guru Wili tersenyum puas karena sudah mendapatkan apa yang di inginkan.
"Maaf tidak sengaja,"ucap Pak guru Wili berpura-pura merasa bersalah dan berjalan melangkah lebih dulu seoalah olah cuek dan tak memikirkan apa yang baru saja terjadi.
Tania hanya mengagguk meskipun hatinya sedikit kesal dan dongkol, kini dia baru percaya jika apa yang dilakukan pak guru Wili sebenarnya atas kesengajaan yang sudah di rencana dan wajarlah jika Pangeran Tatius sangat marah dan emosi padanya. Tania menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar sebelum kakinya kembali' berjalan menggikuti langkah dari pak guru Wili.
Entah mengapa, tiba-tiba merasa khawatir dan was was Tania menengok ke kiri dan ke kanan di mana dia sangat takut jika tiba-tiba Pangeran Tatius melihat semua nya.
"Tania, kau sedang mencari apa?tanya pak guru Wili yang penasaran karena Tania seperti orang resah yang menengok ke kiri dan ke kanan ketika berjalan.
"Tidak ada pak?'
"Kalau begitu, cepatlah kita masuk aku sangat lapar."
Tanpa menolak Tania menggikuti langkah kaki dari pak guru Wili yang cepat masuk ke dalam warung di mana di dalam sudah penuh orang hanya tinggal beberapa bangku yang kosong.
Pak guru Wili meminta Tania untuk duduk dan menunggu sedangkan pak guru Wili memesan makanan.
Tania yang sedari tadi merasa kesal karena bibinya sudah kecolongan lagi dengan cepat pergi ketempat cuci tangan di mana dengan kesal Tania membasuh bibirnya yang habis kecolongan meskipun hanya beberapa detik saja.
Di usap usapnya dengan sedikit kasar agar bekas yang ada hilang.
"Beruntung Tatius tidak melihat nya coba kalau dia melihat bisa dapat hukuman lagi aku,"Grutu Tania kesal.
Merasa sudah cukup Tania Kembali duduk menunggu pesanan datang.
"Aku cuma pesan makanan lalapan ikan bakar apa kamu tidak keberatan."
"Tidak, pak!
"Panggil aku, Mas, kalau di sekolah kau boleh memanggil pak tapi disini saat kita lagi berdua panggil aku Mas," pinta pak guru Wili pada Tania yang mana kini mereka berdua asik menikmati sarapan pagi mereka.
"Iya, Mas!
"Nah, bagus kan mesra kedengarannya."
Ketika pak guru Wili dan Tania sibuk menikmati makan, datanglah beberapa orang laki-laki bertubuh tinggi besar dan membawa beberapa senjata tajam di tangan mereka, Tania yang tanpa sadar melihat kedatangan dari beberapa orang berwajah preman sempat bergidik sebelum kemudian wajahnya menunduk karena takut.
Beberapa laki-laki berwajah preman mendekati satu meja di mana ada tiga orang laki-laki muda yang duduk di sana.
"Pergi, kau ...!" seru salah satu laki-laki preman itu yang mana langsung membuat ketiga orang laki-laki muda itu langsung menyingkir pergi tanpa melawan dan dengan rasa hormat salah satu laki-laki preman itu bicara pada boss nya.
"Boss, silahkan!
Sang Boss pun duduk dengan angkuh nya kedua kakinya langsung di taruh di atas meja.
Pemilik warung merasa sangat ketakutan dan was was.
"Pelayan....! bawa makanan kemari cepat..!"
Dengan tergesa-gesa pelayan itupun segera mengambilkan beberapa makanan dan menaruh di atas meja ke empat preman itu dengan tangan bergetar.
Pak guru Wili yang merasa situasi tidak akan aman buat Tania dan dirinya jika masih berada di tempat itu, setelah menyelesaikan makan langsung membawa Tania pergi.
Ketika pak guru Wili yang memegang tangan Tania yang sedang ketakutan dan mengajaknya pergi tiba-tiba langkahnya di hentikan oleh salah satu preman yang ada di sana.
"Tunggu...! kalian mau kemana?"
"Maaf, kisanak kami sudah selesai makan jadi kami mau pergi.
"Apa? pergi... Hahaha... Boss mereka mau pergi."
Laki-laki yang di panggil Boss segera menurunkan kakinya dan berjalan mendekati pak guru Wili dan Tania di mana Tangan Tania sudah dingin, pak guru Wili menyadari jika Tania sedang ketakutan.
"Jangan takut ada aku," bisik pak guru Wili pada Tania.
"Kau boleh pergi tapi tinggalkan gadis itu."
"Apa?" kau pikir temanku ini barang main tinggalkan saja, aku tidak ada urusan dengan kalian jadi jagan coba coba halangi kami."
Ke empat preman itupun saling berpandangan sebelum kemudian akhirnya langsung tertawa .
Ha-ha-ha....
"Rupanya anak muda ini tidak tau siapa kita dan dia mau bermain main.
"Adik ke satu, cepat kau kasih laki-laki itu pelajaran buat dia mengenal siapa kita."
"Baik, kakak kedua!"aku akan mengajaknya berkenalan, biar laki-laki itu mengenal siapa kita, agar tidak dia tidak bisa sombong lagi."