
Sementara di kerajaan awang-awang Vampire tepatnya di belakang Istana, Di mana pangeran tatius bersama dengan Patih lembu Ireng sedang beristirahat tampak kini sedang bersiap-siap untuk pergi keluar istana, pangeran tatius berencana untuk pergi ke dunia manusia karena hatinya mengatakan bahwa kuburan tempat Tania dimakamkan sangatlah misterius, Di mana dia tidak bisa merasakan atau mencium bau dari Tania.
"Apa Paman yakin mau ikut bersamaku, Aku akan pergi ke dunia manusia lagi aku masih penasaran dan aku masih yakin bahwa Tania sebenarnya belum mati."
"Pangeran harus belajar ikhlas memang sangat sulit dan sangat pahit menerima kenyataan ini akan tapi mau bagaimana lagi Pangeran harus harus bisa mengikhlaskan jika Tania sebenarnya sudah tiada, jangan lagi Pangeran Tatius berusaha mencari sesuatu yang sebenarnya tidak mungkin aku takut dan khawatir pangeran Tatius akan semakin kecewa."
Tidak paman aku tidak akan merasa kecewa Aku benar-benar yakin jika Tania masih hidup aku ingin sekali membongkar makam Tania yang ada di dunia manusia Aku ingin memastikan bahwa itu memang benar-benar Tania atau bukan, Apakah Paman mau membantuku?" tanya pangeran Tatius dengan penuh harap.
Paman Patih lembu Ireng menelan ludahnya dengan kasar, dia bingung menghadapi sikap dari pangeran Tatius yang sangat keras kepala meyakinkan agar Pangeran tatius tidak melakukan apa yang diinginkan, itu adalah suatu hal yang sangat mustahil, hal itu karena pangeran Tatius jika dia menginginkan sesuatu maka dia pasti akan berusaha dengan segala kemampuannya untuk mendapatkannya.
Meninggalkan pangeran tatius sendirian dalam menghadapi masalahnya sendiri tentu saja Paman Patih lembu Ireng tidak akan tega terlebih keadaan pangeran Tatius yang saat ini sedang dalam keadaan berduka yang mana orang seperti pangeran Tatius membutuhkan seseorang untuk diajak bicara ataupun sekedar mengawasinya, karena dikhawatirkan mereka mereka yang sering putus asa akan melakukan tindakan-tindakan yang tidak benar yang mana bisa merugikan dirinya sendiri.
"Tentu saja Pangeran aku akan selalu ikut bersamamu meskipun engkau pergi ke liang siput sekalipun."
"Hahaha paman bicara apa ! bagaimana mungkin kita liang siput."
Melihat Pangeran tatius tertawa hati Paman Pati lembu Ireng merasa lega karena pada akhirnya Pangeran tatius bisa menunjukkan senyum yang selama beberapa hari terakhir ini entah raib ke mana.
Setiap kali pangeran Tatius Tersenyum wajahnya terlihat semakin tampan. Meskipun apa yang di pikirkan Pangeran Tatius belum tentu benar belum tentu kubur yang di anggap bukanlah jasad dari Tania kekasihnya tapi demi membuat pangeran Tatius bahagia dan senang paman patih lembu ireng akan siap mendukung di setiap langkah nya.
"Ayo paman, biar kita tidak sampai malam di Dunia manusia."
"Baik, pangeran"
Dengan sangat patuh paman patih lembu ireng menggikuti langkah kaki dari pangeran Tatius keluar pintu kemudian mereka berdua memilih by jalan dengan terbang melesat secara cepat ke arah Bumi dunia manusia.
"Paman kita tidak perlu pergi ke tempat Ayah Tania, karena Ayah Tania tidak mengginginkan aku di sana beliau sangat tidak setuju jika makam putrinya kita bongkar."
"Tentu saja, tidak ada satu orang tua pun yang mau makam putri nya di bongkar Kembali, aku saja kalau jadi Ayah Tania juga akan bersikap seperti itu." gumam paman patih lembu ireng dalam hati."Lalu kita akan pergi kemana Pangeran?" tanya paman Patih lembu ireng pada pangeran Tatius.
"Aku masih punya Nenek paman, apakah paman lupa jika Nenekku berdarah Manusia kita akan menginap dan tinggal di sana untuk sementara waktu, sambil menunggu waktu yang tepat agar bisa membongkar makam Tania tanpa sepengetahuan Ayah Tania."
"Baiklah Pangeran, aku akan mendukung semua yang akan pangeran lakukan."
Setelah sepakat Pangeran Tatius dan Paman Patih lembu ireng terbang melesat ke dunia manusia yang mana tempat yang di tuju adalah Rumah Nenek.
****
Sementara di tempat lain Tania dan Devan yang sedang sibuk membakar ikan yang baru saja di dapat Devan dengan menangkap nya di sungai mulai menyalakan api, meskipun hasil tangkapan ikan Devan tidak sebanding dengan hasil tangkapan Tatius ketika menangkap ikan.akan tetapi tangkapan Devan cukup mengenyangkan perut Tania.
Dengan sabar Devan membakar ikan hasil tangkapan nya untuk Tania dan dengan sangat senang Tania menerima dan menikmati ikan hasil tangkapan Devan.
"Tania jangan terlalu banyak makan ikan ya aku khawatir Nanti perutmu sakit lagi."
"Jangan khawatir aku baik-baik saja kok, Van diam sebentar Jangan bergerak." titah Tania yang mana membuat Devan menjadi bingung ada apa dan kenapa, akan tetapi Devan tetap menuruti perintah Tania, Devan berhenti mengunyah ikan. dan diam tak bergerak.
Perlahan lahan Tania berjalan mendekati tempat Devan, dengan sangat lembut dan berhati-hati tangan halus Tania menyentuh pipi putih Devan, sontak saja hal itu membuat jantung Devan Kembali seakan mau meloncat, jantung nya kembali berpacu dengan sangat cepat kembali menghadirkan debaran debaran aneh yang tak karuan.
"Ada ikan yang nyangkut di bibir atas mu."ucap Tania seraya mengambil sisa ikan yang tertinggal di bibir atas Devan.
Semakin tak karuan dan semakin berdebar dengan kencang ketika tangan lembut dan halus milik Tania menyentuh bibir atasnya.
Tanpa sadar tangan kekar Devan menahan tangan Tania ketika Tania berhasil memungut sisa ikan yang nangkring di atas bibir Devan. Tania mengeryitkan dahinya ketika Devan memegang tangannya.
Tania yang tidak mengerti menaikkan satu alis matanya keatas sebagai tanda isyarat bertanya. Bukannya menjawab Devan justru Tersenyum, Tania yang tidak pernah melihat sikap Devan seaneh itu menjadi salah tingkah, karena tangan Tania terpaksa berhenti tepat di bibir Devan dan parahnya Devan membuka bibirnya sehingga tangan Tania bisa merasakan sentuhan langsung bibir Devan dengan di sertai hembusan napas hangat yang keluar dari mulut dan hidung Devan.
Tidak ingin berfikir yang macam macam Tania berusaha menarik kembali tangannya akan tetapi Devan menahan dengan kuat sehingga tangan itu tidak bisa bergerak sedikit pun.
Tania merasa Bingung dengan sikap Devan yang tiba-tiba seaaa aneh dan tidak seperti biasanya.
"Kau, mau apa lepaskan tanganku." pinta Tania dengan suara bergetar ada rasa takut yang tiba-tiba hadir di dalam relung hatinya, ada satu perasaan marah yang tak mampu dia ucapkan dengan kata-kata hanya rasanya ingin marah tapi dirinnya justru diam bahkan ketika tangan Devan dengan berani membelai lembut pipinya Tania justru memejamkan mata seolah olah menerima, apa yang Devan lakukan padanya.
"Tania aku mencintaimu, jadilah kekasihku apakah kau mau."tanya Devan dengan penuh harap.
Tidak ada satu jawaban yang keluar dari bibir Tania, kedua bola matanya terpejam, hal itu membuat Devan yakin jika sesungguhnya Tania menerima cintanya.
Tanpa basa basi lagi Devan langsung memeluk tubuh Tania.
"Trimakasih, aku tau kau pasti menerima ku." seru Devan Senang.
Sementara setelah Devan melepaskan pelukannya Tania membuka kedua bola matanya dia menatap heran dengan apa yang dilakukan Devan.
Sangat aneh dan terlihat sangat bahagia, sementara Tania tidak mengerti Devan bahagia karena apa.
"Boleh aku memanggilmu dengan sebutan sayang?" tanya Devan pada Tania yang masih merasa Bingung.
"Kenapa harus memanggil sayang."
"Biar kita tambah mesra, trimakasih, kau sudah menerima ku."ucap Devan untuk yang ke dua kali.
Tania yang tidak paham hanya mengagguk anggukan kepala saja, bagaikan orang yang terkena hipnotis Tania menggikuti dan menerima semua yang Devan lakukan padanya.
Tidak ada penolakan ketika Devan memeluknya, bahkan mengecup tipis bibir nya, Tania hanya memiliki rasa ingin marah tapi tidak bisa dia lampiaskan juga ada rasa ingin menangis tapi tak mampu dia luapkan, semua serasa aneh seperti magnet Tania hanya menerima dan membiarkan apapun yang Devan mau padanya.
"Aku, punya Rumah kan Van?"
"Tentu saja sayang, kau punya Rumah. kenapa pertanyaan mu begitu lucu,"
"Apa aku masih punya orang tua?"
Lagi-lagi pertanyaan Tania membuat Devan bingung, bagaimana mungkin Tania tidak ingat kalau dia memiliki orang tua, sedangkan Tania tidak menggalami sakit hilang ingatan.
Devan meneguk ludahnya dengan kasar merasa aneh juga bingung, kenapa Tania bertanya begitu, Devan jadi bingung.
"Tania apa kamu merasa lagi tidak enak badan."tanya Devan Cemas dia sangat khawatir jika sakit yang di alami Tania Tempo hari kambuh lagi, Devan benar-benar tidak mengerti mengapa Tania seolah olah tidak ingat akan keluarga nya.
"Tidak, aku baik-baik saja ikannya juga enak, trimakasih,ya."
"Hmmmm "kita pulang sekarang."
"Van...! apa Nenek akan marah jika tau aku di luar makan ikan."
"Tidak, ayo jangan pikirkan kita pulang sekarang."
Tanpa membantah lagi Tania mengikuti perintah Devan dengan cepat Naik ke atas motor, Devan mengendarai motor nya dengan kecepatan sedang, ada rasa senang dan sedih hari ini, Devan merasa senang karena ungkapan rasa cinta nya tidak di tolak Tania tapi rasa sedihnya ketika Tania seolah olah tidak ingat akan orang tua nya, hal itu membuat Devan sedikit was-was jangan jangan Tania menerima dirinya dalam keadaan tidak sadar, akan tetapi perasaan itu segera Devan buang jauh-jauh.
"Sayang kamu pegang yang erat dong sambil meluk aku begitu biar terlihat mesra." pinta Devan pada Tania, tanpa membantah Tania menggikuti semua yang di perintahkan Devan.
Jantung serasa Kembali bergetar dan berdebar-debar ketika tubuh Tania memeluk nya. Devan tiba-tiba menghentikan laju motor nya.
"Kenapa berhenti?" tanya Tania pada Devan yang tiba-tiba menghentikan laju motor nya sambil melepaskan pelukannya.
Devan turun dari motor dan menatap wajah cantik Tania yang juga ikut turun dan. berdiri di samping motor nya. Dengan sedikit gugup Devan meraih tangan Tania.
"Aku tidak ingin kita berpacaran lama-lama aku ingin secepatnya kita menikah, apakah kau mau?" entah apa yang ada dalam pikiran Tania tanpa pikir panjang langsung mengangguk sontak saja hal itu membuat hati Devan semakin berbunga-bunga.
Tanpa izin dan basa-basi lagi Devan langsung memeluk tubuh Tania.
"Trimakasih, aku akan selalu membuat mu bahagia, apa aku boleh Meminta ciuuman pertama mu di sini,"Devan menunjuk bibir nya, lagi-lagi tanpa pikir panjang Tania mengagguk kan kepala nya, akan tetapi ketika kepala Tania hendak mengagguk, tiba-tiba hujan turun.
Bagaikan orang yang baru saja tersadar dengan cepat Tania berteriak.
"Van, hujan, ayo cepat kita pulang!" seru Tania panik, sementara Devan mengerutu dalam hati di mana tidak jadi mendapatkan ciuuman bibir dari gadis yang ada di depannya, di mana Devan sudah membayangkan betapa nikmatnya menikmati bibir yang mengemaskan itu.
Melihat Devan masih diam terpaku, Kembali Tania berseru.
"Ayo, kenapa diam saja Nanti hujannya semakin deras lho,"Teriak Tania menggingat kan.
Devan yang tersadar dari lamunannya segera mengagguk dan Naik motor, dengan kecepatan tinggi, Devan segera melajukan motornya agar bisa cepat sampai di rumah tidak sampai basah kuyup karena hujan.
"Tania, pegangan aku melajukan motorku dengan kencang."
"Ya....!"
"Sayang, sambil peluk aku dong."pinta Devan pada Tania.
"Buugh....!
"Auuw...! Ringis Devan Ketika tangan lembut Tania memukul punggung nya.
"Sayang, aku kok kamu pukul sih."protes Devan
"Buugh...!
"Auuw..,!
lagi-lagi sebuah pukulan mendarat di punggung Devan.
"Sekali lagi berani panggil sayang aku gebuk kamu," teriak Tania dari belakang.
Bagaikan petir yang menyambar di siang hari, Devan mendelik seketika, sungguh dia tidak tau apa yang terjadi, belum juga genap satu jam Tania mengijinkan memanggil nya dengan sebutan Sayang, sekarang tiba-tiba marah dan hendak memukul nya, Devan merasa saat ini Tania seolah olah Kembali seperti Gadis yang seperti dulu, keras dan dingin jika mau macam-macam padanya.
"Ta-tania, bukankah kita sudah sepakat berpacaran dan tadi kamu bilang mau."
"Mau apa?"sudahlah jangan ngaco cepat pulang dingin ini."
"Makanya peluk aku biar ngak dingin."
"Buugh....! sembarangan saja itu sih maumu, sudah jalan cepat.
Devan menelan ludahnya dengan kasar pikirannya menjadi binggung, baru saja tadi di trima Cinta nya sekarang ditolak, sebenarnya ada apa dengan gadis yang ada di belakang nya, apa karena efek hujan yang dingin sehingga membuat nya kesal dan marah.
Devan merasa sikap Tania jauh berbeda ketika hujan belum turun, Tania begitu manis dan penurut akan tetapi ketika hujan turun sikap Tania sangat dingin dan cuek, seolah olah diantara mereka tidak ada hubungan, sama ketika Tania masih menjadi kekasih Pangeran Tatius.
Devan melajukan motornya dengan perasaan resah sementara Tania menikmati hujan dengan penuh suka cita.