
Devan melajukan motornya memutar lewat pintu gerbang belakang di mana Tania sudah menunggu di sana.
"Ayo, Naik kita pulang sekarang."
Dengan cepat Tania langsung Naik di atas motor Devan. Hati Devan kembali berbunga-bunga pasalnya hari ini acara berduaan dengan Tania tidak akan ada yang mengaggu nya si Idiot Dodi tidak akan tau Tania pergi kemana. Sambil menyusuri jalan jalan sepi di mana arah ke Rumah Nenek sedikit terpencil membuat Devan senyum senyum sendiri.
Sementara Dodi yang sudah membeli beberapa makanan ringan celingukan keluar masuk sekolah.
"Tania mana?" apa dia sudah pulang."
Karena gusar Dodi pun akhirnya menghampiri sopir pribadi nya.
"Woi..! kamu lihat pacarku tidak."
*Pacar Den Dodi yang mana ya?"
"Jangan berlagak tidak tau itu yang cantik yang selalu denganku."
"Oh, dia sudah pulang dari tadi."
"Apa, pulang? sama siapa?"
"Saya, tidak tau Den, cuma yang saya ingat dengan cowok yang punya motor Max."
"Oh, Jadi Devan mau berbuat curang aku di suru beli makanan biar dia bisa bawa kabur pacar orang sialan awas kalau ketemu aku jadikan renginang.
"Kamu tau tidak ke mana arahnya?"
"Tau, Den! kesana?"
"Cepat kejar mobil itu."
"Baik, Den!"
"Lebih cepat lagi jangan seperti kura kura begini."
"Iya, Den!" huuff..ini kan sudah cepat masih juga di bilang seperti kura-kura dasar Boss idiot gumam sopir itu dalam hati.
"Woi..! sopir yang bener kita mau kemana ini kok arahnya dekat hutan dan jalanan sepi begini."
"Ya, motor nya memang lewat sini Den!"
"Busyet..!apa, separah itu otak Devan mau mengambil Virgin Tania, hingga Tania di bawa ke tempat sepi begini kurang ajar tenang Tania aku akan datang menolong mu."Rancau Didi di sepanjang perjalanan.
"Lebih cepat lagi!"
"Iya, Den, ini sudah cepat."
"Tambah lagi kecepatan nya."
"Iya, dasar Boss idiot sudah cepat masih kurang cepat bagaimana sih."
"Woi...!" tambahin kecepatan nya."
"I-iya!"
Kini mobil yang di kendarai Dodi melaju dengan kecepatan yang sangat tinggi hingga mobil itu berkali kali bagaikan terbang akibat kecepatan yang full, Dodi yang ada di dalam mobil pun sampai seperti orang yang naik kuda karena duduknya seperti lagi di lempar keatas dan bawah mumbul mumbul.
Tak lama kemudian terlihat lah di depan nya seorang siswa siswi dengan seragam abu abunya duduk di atas motor dan kemudian berhenti di sebuah Rumah besar tapi terlihat sangat sepi tak berpenghuni.
"itu motornya, " teriak Dodi.
"Kurang ajar, aku akan membuat perhitungan dengan mu kalau kau berani menyentuh Tania.
"Den, Dodi mau apa?"
Sang supir kebingungan ketika Dodi turun dan berlari ke arah semak belukar yang mana ternyata Dodi mengambil sebatang kayu dan di bawahnya.
"Den!" buat apa kayu itu."
"Diam kau, tunggu aku di sini, aku akan masuk dan memberikan pelajaran pada anak kurang ajar itu, seenaknya mau mengambil Virgin Tania, aku saja tidak berani." seru Dodi sambil berjalan ke rumah besar itu.
Sementara pak sopir memukul jidat nya sendiri.
"Dasar, Boss idiot." grutunya dalam hati.
Sementara Devan membuka kan pintu kepada Tania dengan kunci cadangan yang di milikinya karena pemberian sang Nenek.
Ketika langkah kaki Devan dan Tania hendak masuk tiba-tiba Dodi berteiak dengan keras.
"Devan tunggu...!"
Belum juga rasa terkejut Devan dan Tania atas kehadiran Dodi yang tiba-tiba Dodi sudah melayangkan kayu yang di bawah nya ke tubuh Devan berkali-kali.
"Bugh...!" Bugh .!"
Devan yang tidak menyadari akan mendapatkan pukulan dari benda tumpul akhirnya hanya bisa berguling guling menghindari semua pukulan dari Dodi yang membabi buta dengan mulut meringis menahan sakit sementara Dodi terus melayangkan kayunya dengan di sertai mulut yang terus saja merancau tak karuan.
"Dasar anak kurang ajar, berani beraninya kau membawa Tania ke tempat ini kau mau mengambil Virgin nya ya! kurang ajar terima ini."
"Bugh..bugh...bugh..!"
Kembali Devan harus menerima pukulan dari Dodi. Tania yang melihat Devan berguling guling menghindar merasa kasian.
"Dodi.....!"Hentikan, apa kau mau membunuh Devan."
Mendengar teriakkan Tania Dodi langsung menghentikan aksi memukulnya.
"Tapi, dia sudah berani membawamu ke tempat sepi begini, pasti Devan mau merencanakan niat jahat," ucap Dodi yang kemudian mendekati Tania dan membisikkan sesuatu di telinga nya.
"Devan, pasti mau mengambil Virgin mu." ucap Dodi polos membuat Tania mendelik seketika memukul kepala Dodi dengan tangannya.
"Dasar, otak mesum!grutu Tania gemas.
Sementara Devan mendekati Dodi dengan geram di tonjoknya kepala Dodi dengan tonjokan ringan karena kalau Devan menonjok Dodi keras itu namanya Devan yang ngak war as, bagaimana pun juga Dodi itu anak yang keterbelakangan mental bisa di bilang Idiot.
"Ngapain, loe buntutin gue, ini Rumah Nenek gue tauk."
"Oh, ada penghuninya, ya."
"Tentu saja, ada dodol emang kamu pikir kuburan apa?"sungut Devan kesal. Sudah ayo sekarang kita masuk."
*****
Pangeran Tatius yang kehilangan jejak laki-laki bangsa Manusia dan memutuskan untuk beristirahat sejenak mulai berfikir dan mencerna segala kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi.
"Paman..!" jika manusia itu berkata Putri Lin Ying adalah Boneka nya, bukankah itu artinya dia akan kembali mengambil putri Lin Ying?"
"Pangeran Tatius benar, orang itu pasti akan mengambil Putri Lin Ying."
"Itu artinya Putri Lin Ying dalam bahaya paman."
"Benar pangeran, sekarang apa yang akan kita lakukan?"
"Kembali, pasti manusia itu kembali ke kerajaan Barat Daya untuk mengambil Putri Lin Ying."
"Pangeran benar, tapi bukankah manusia itu terluka cukup parah di lengannya dan keris dari Raja Sangkala tidak lah keris remeh dia bisa menimbulkan sesuatu yang sangat fatal jika luka itu tidak di obati lebih dulu."
"Paman, benar!" itu artinya manusia itu akan menyembuhkan dan mengobati lukanya lebih dulu, baru menggambil putri Lin ying."
"Pangeran benar."
"Kita harus tau di mana manusia itu sekarang dia sangat berbahaya tidak ada satupun bangsa Vampire pun yang bisa menghisap darahnya karena ilmu yang bisa membuat darah merah segarnya berubah menjadi darah yang pahit sepahit empedu."
"Benar, pangeran, lalu apa rencana pangeran sekarang?"
"Aku takut manusia itu menggunakan ilmu penghilang jejak yang mana kita tidak akan bisa melacak jejaknya, untuk itu aku akan mempergunakan ilmu panca Indra penciuman, aku akan keluar dari ragaku dan menggelilingi tempat ini akan ku cari di manapun manusia itu berada aku harus bisa menemukan nya agar aku bisa menggetahui apa tujuannya mengincar putri Lin Ying, paman tunggu disini jaga ragaku."
"Baik, pangeran!"
"paman jika sukma ku tidak kembali dalam duapuluh empat jam itu artinya aku dalam bahaya, paman harus membawa ragaku pulang ke istana kerajaan Sangkala dan berikan kepada Kakek dia nanti yang akan membatu sukmaku agar bisa kembali dan waktunya hanya empat jam jika lewat dari itu aku tidak bisa kembali lagi apa paman mengerti."
"Saya, mengerti pangeran, tapi saya takut apa tidak ada cara lain selain pangeran Tatius harus keluar dari raga ini."
"Tidak ada paman, manusia yang kita hadapi bukankah sembarang manusia dia memiliki kekuatan dan ilmu yang sangat tinggi akupun belum tentu mampu melawan nya, apa paman sekarang sudah siap, karena aku akan segera melakukan nya.
"Pangeran..!"
patih lembu ireng menatap pangeran Tatius dengan mata berkaca-kaca di peluknya pangeran Tatius.
"Ha...ha..ha..! kenapa paman menangis, jangan sedih tidak akan terjadi apa-apa, aku akan segera kembali." ucap pangeran Tatius sambil melepaskan pelukan dari patih lembu ireng dan mulai bersiap dengan duduk bersila dengan kedua tangan di depan dada.