
Dengan perasaan gusar dan tidak tenang Raja Sangkala menunggu hasil dari kekuatan tusuk konde yang mana dia akan menunjukkan keberadaan pangeran Tatius untuk saat ini.
"Sudah tenang saja ini baru beberapa detik semua butuh proses Suamiku, jadi bersabarlah."
"Aku tau istriku tapi hatiku sudah tidak tenang apa tidak ada cara lain agar tidak menunggu seperti ini."
"Suamiku, tenanglah sedikit aku bukan seorang pendekar sakti yang banyak memiliki ilmu kedigdayaan sehingga bisa membantu semua hal dengan mudah, bersabarlah jangan terlalu memikirkan anak manja itu, dia sudah dewasa dia sudah tau apa yang akan di perbuatanya."
Raja Sangkala yang tadinya berwajah tegang dan datar tiba-tiba menatap nanar istrinya dengan tatapan mata yang tajam.
"Semua terjadi gara-gara kau, jika terjadi sesuatu pada cucuku maka kaulah yang harus bertanggung jawab atas semua nya, karena yang menyebabkan Pangeran Tatius berbuat nekad itu juga ulah darimu, paham kau!"
Wajah sang Nenek menjadi ikut menegang kedua bola matanya membulat seketika.
"Aku...! mengapa aku yang harus bertanggung jawab." sungut sang Nenek tidak trina.
Raja Sangkala tidak mau menjawab meskipun hatinya kesal dengan ulah sang istri yang tidak menyadari kesalahannya, padangan mata dari Raja Sangkala terus menggamati baskom air yang terdapat tusuk konde di dalam nya dengan air yang bergolak seperti mendidih.
"Cepatlah Kenapa lama sekali, istriku tambahkan bunga tujuh rupa cepat, agar tidak terlalu menunggu begini."
"Baik, tunggu sebentar "
secepat kilat sang Nenek pergi keluar halaman menuju kebun bunga, langkah kakinya terhenti ketika merasakan keanehan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
"Udaranya begitu kencang dan Guntur dari tadi tak henti-hentinya menggelegar serta langit gelap bukan berwarna hitam jernih akan tetapi hitam berkabut putih seperti abu yang selalu ada di dapur apa benar ini sesuatu yang tidak lazim apa benar kejadian alam saat ini karena kesengajaan, aku harus membawa lampu senter agar bisa melihat, gelap sekali."
lirih sang Nenek yang kemudian mulai memetik bunga tujuh rupa setelah semua berhasil di dapat sang Nenek segera memberikan kepada Raja Sangkala yang mana langsung menerima bunga tujuh rupa dan memasukkan nya kedalam Baskom.
Beberapa detik kemudian setelah bunga tujuh rupa tercampur dan bergolak di atas air baskom dengan cepat Raja Sangkala memunggut bunga itu untuk di pisahkan dari airnya.
Tidak menunggu lama samar samar terlihat sebuah bayangan di dalam baskom yang mana bayangan itu semakin lama semakin jelas terlihat.
Pertama kali yang muncul di dalam baskom adalah bukit tinggi dengan rerumputan berwarna hijau menjulang tinggi yang mana semakin lama smakin terlihat jelas jika bukit itu adalah sebuah gunung, lama kelamaan munculah sosok tubuh yang tidak begitu jelas dan terlihat samar sedang bersimpuh dengan wajah menunduk, akan tetapi lama-kelamaan sosok tubuh berjubah hitam panjang terlihat jelas yang mana semakin membuat Raja Sangkalah membulatkan kedua bola matanya.
"Pangeran Tatius, jadi benar dia yang sedang membuat ulah kekacauan ini,"
Raja Sangkala mengusap kasar wajahnya sebelum kemudian bangkit berdiri dan hendak melangkah pergi.
"Kau mau kemana Suamiku?"
"Aku ingin ke gunung yang ada di situ."
"Mau apa kau kesana?"
"Kamu ini bodoh apa pura-pura bodoh, aku sudah bilang kan, jika aku akan mencari keberadaan pangeran Tatius."
"Lalu apa hubungannya dengan gunung itu."tanya sang Nenek polos.
"Jangan hanya banyak tanya lihat sendiri tuh." merasa geram dan lelah dengan pertanyaan sang istri Raja Sangkala menyuruh sang Nenek untuk melihat sendiri.
Wajahnya benar benar gusar dan panik, berkali-kali Raja Sangkala memijit mijit keningnya, seolah olah sedang sakit kepala.
"Benar-benar nih anak,"
"Itu kan Tatius ngapain dia berada di gunung itu?"
"Astaga istri ku kau membuat otakku semakin rusak saja, kenapa Tatius disitu itu semua gara-gara kecerobohan mu tau ulahmu yang main pelet sembarangan lihat tuh akibatnya, awas saja kalau aku sampai kehilangan cucuku akan kuberi pelajaran kau."Sungut Raja Sangkala kesal yang mana langsung beranjak pergi meninggalkan sang Nenek.
Melihat Raja Sangkala pergi sang Nenek berlari kecil menggikuti dari belakang.
"Tentu saja menemui Pangeran Tatius,"
"Ini keadaan nya sangat gelap,"
"Justru keadaan masih gelap harus cepat menemukan nya karena klo tidak, bisa lebih gawat dan semua penyebab nya adalah kau."
"Enak saja menuduhku ini takdir."
"Sudahlah, kau mau iku atau tidak?"
"Aku akan ikut akan ku temani kau Kakek tua."
"huuff jadi istri tidak pernah sopan dan patuh pada suami."Sungut Raja Sangkala yang tanpa permisi langsung menyambar pingang sang Nenek untuk dibawanya terbang bersama.
"Jangan kencang kencang gelap entar kita nabrak."
"Kamu pikir ini mobil pakai Nabrak segala, tenang saja aku akan membawa mu dengan aman."
***
Kekacauan yang terjadi akibat benturan keras benar benar mengguncang kerajaan langit sehingga dengan cepat Raja langit memerintahkan kepada beberapa prajurit untuk turun ke bumi melihat dan menangkap pelaku nya.
"Tangkap siapapun yang terbukti membuat kekacauan ini ikat dan seret dia kehadapan ku."
"Siap Raja..!" bergegas para prajurit kerajaan turun ke bumi untuk mencari mahkluk bumi yang sudah membuat kegoncangan dan kekacauan istana langit.
****
Sementara Tania dan Devan sudah sampai di halaman Rumah, Tania segera berlari masuk ke dalam Rumah tidak memperdulikan Devan yang berjalan di belakangnya.
Dengan kasar Tania membuka pintu yang tidak terkunci kemudian berlari kedalam kamarnya, Sang Ayah yang melihat kepulangan putrinya dengan raut wajah yang masam dan tanpa mengucapkan salam seperti biasanya membuat sang Ayah mengeryitkan dahinya.
"Ada apa dengan anak ini, kenapa sikapnya begitu aneh,"
Tak lama setelah Tania masuk kedalam Rumah muncul lah Devan yang juga terlihat buru-buru masuk ke dalam Rumah.
"Selamat Sore Om..!
"Devan, selamat sore ada apa ini kenapa Tania begitu aneh."
"Saya minta maaf semua terjadi karena kesalahan saya yang telah khilaf mencium Tania di depan Tatius."
"Kau mencium Tania?"
"Saya benar-benar minta maaf saya khilaf." ucap Devan dengan wajah menunduk.
Melihat wajah Devan menunduk dengan perasaan bersalah Ayah Tania justru tertawa.
"Apa Yang kau katakan Nak, kamu itu calon suami Tania dan tidak masalah karena sebentar lagi apa yang ada pada Tania juga akan menjadi milikmu, mungkin Tania hanya butuh waktu untuk beradaptasi dengan semua ini."
"Trimakasih atas pengertiannya Om."jawab Devan dengan hati lega karena ternyata Ayah Tania tidak marah padanya.
Sedangkan di dalam kamar Tania langsung masuk ke dalam kamar mandi di basahi semua tubuhnya dari atas rambut sampai ujung kaki dan dengan kasar Tania mencuci bibirnya yang baru saja ternoda karena mendapat kan ciuman dari orang yang tidak dia cintai, Tania begitu menyesal dengan apa yang sudah di perbuat nya di depan kekasihnya.
"Bodoh, bodoh sekali kenapa tadi aku biarkan Devan mencium ku, Tatius benar aku gadis murahan meskipun aku sudah tidak lagi bersama nya tidak seharusnya aku berciuman di depan matanya, Tatius pasti membenciku, dasar bodoh aku benar-benar bodoh." keluh Tania sambil mengusap bibirnya kasar berharap bekas ciuman Devan hilang.