
Setelah kejadian itu Raja dan Ratu Shima tak banyak bicara hanya Tatapan dan pandangan mata mereka yang bicara. Raja sangat memahami Ratu Shima hatinya tidak baik-baik saja, tidak seperti apa yang terucap dari bibirnya, tak ingin menambah luka wanita yang sangat dia cintai Raja memilih diam dan memberikan luang dan kesempatan untuk Ratu Shima menata hatinya.
Acara makan pagi, sudah menjadi tradisi kerajaan, semua anggota keluarga berkumpul di ruang makan dalam satu ruangan, pangeran Yervan memilih duduk berdekatan dengan Putri Lin Ying sedangkan Ratu Shima memilih duduk di samping putranya, Pangeran Tatius yang memiliki insting perasaan yang tinggi dapat merasakan dan membaca apa yang terjadi di antara orang tuanya, Ibunya tak lagi baik baik saja, untuk memberikan keterangan hati pangeran Tatius menggengam erat tangan sang ibu di bawah meja pangeran Tatius berharap agar hati dan pikiran Ratu Shima sedikit lebih baik dari suasana resah yang sedang berkecamuk di dalam hati dan otak nya.
Sebagai seorang anak tentu pangeran Tatius tak kan tega melihat wajah sendu ayu ibunya dan tak kan membiarkan wajah ayu itu layu. Sementara Ratu Derbah duduk di samping sang Raja wajah nya begitu ceria dan bersinar bahkan di pagi ini baju yang dikenakan nya pun sangat indah di tambah dengan polesan make up yang menampilkan keanggunan seorang Ratu jauh berbeda dengan Ratu Shima yang hanya menggenakan baju kerajaan ala kadarnya bahkan hari ini tak ada make up di wajah ayu nya hanya sedikit lipstik tipis di bibir mungil nya.
Sakit, perih dan tak sampai hati itulah yang di rasakan sang Raja tapi dia tak bisa berbuat banyak karena dia menyadari semua terjadi karena kesalahannya, berkali-kali Raja mengusap wajahnya dengan kasar dan berkali-kali menelan ludahnya yang tiba-tiba terasa kering entah mengapa suasana makan pagi bersama hari ini seolah tak ada selera terlebih jika Raja menatap wajah wanita yang ada di depannya, sungguh pemandangan yang sangat menyesakkan dada.
Ratu Derbah yang menyadari kehadiran Ratu Shima di depannya sedikit terkejut tapi dia tersenyum puas melihat kondisi dan keadaan Ratu Shima yang seperti nya lagi kacau, diam diam Ratu Derbah menyunggingkan sebuah senyum penuh kemenangan dengan sangat manja Ratu Derbah bicara.
"Raja, hari ini temani aku jalan jalan di taman belakang istana ya, aku sudah lama tak melihat keindahan nya, pasti akan sangat menyenangkan jika kita bisa jalan jalan berdua."
"Maaf, Ratu hari ini aku tidak bisa aku ada kepentingan yang harus ku selesaikan di dalam istana, nanti biar pangeran Yervan atau putri Lin Ying yang akan menemanimu."tolak Raja halus yang tatapan matanya mengarah tajam pada Ratu Shima, ingin melihat ekspresi dan perubahan wajah istri nya ketiika wanita lain menggajak nya, Raja tak menemukan apa-apa wajah di depannya datar dan biasa saja bahkan menikmati makan dengan santainya, hal itu sedikit membuat Raja geram dan kesal, diam diam di bawah meja tangan Raja mengepal kuat." munafik terus saja berpura-pura kau baik-baik saja aku yakin ekpresi wajahmu dan hatimu itu bertolak belakang, lirih Raja dalam hati.
"Aku, sudah selesai aku permisi dulu,"ucap Ratu shima bangkit dari duduknya dan melangkah pergi.
Raja menatap nya dengan nanar andai bukan di depan anak anak sudah pasti dia akan menghentikan nya dan menarik paksa tangan halus itu untuk masuk ke dalam pelukannya apalah daya situasi benar benar buruk anak anak dan calon menantu di hadapannya membuat lidahnya Keluh dan diam membisu hanya tatapan matanya yang tak trima dengan sikap Ratu Shima, sebagai tanda suasana hati yang juga tidak nyaman Raja menarik nafas dalam-dalam dan hembuskan nya dengan kasar.
"Aku juga sudah selesai, saya permisi dulu Raja," ucap Pangeran Tatius seraya meninggalkan tempat itu.
Selera makan hilang dan makanpun serasa pahit akhirnya Raja juga bangkit dari tempat duduknya.
"Aku juga sudah selesai kalian lanjutkan saja makannya, aku pergi dulu."ucap Raja seraya melangkah pergi.
"Tunggu..! Raja, aku ikut aku juga sudah selesai makannya," sahut Ratu Derbah.
"Maaf, Ratu aku ada pekerjaan penting di dalam istana yang harus secepatnya ku selesaikan, tolong Ratu jangan ngaggu aku."
"Raja..!" aku tidak akan mengaggu mu, aku hanya ingin menemanimu."ucap Ratu Derbah manja membuat Pangeran Yervan tersenyum senang melihat ibu dan bapaknya rukun.
"Tapi..Ratu!Aku tidak bisa jika kerja harus di tungguin, maaf ya, jika aku sudah selesai aku akan menemuimu lagi."ucap Raja halus, kali ini Raja benar benar tidak seperti biasanya dia merubah sikap dingin nya menjadi halus meskipun sampai detik ini hati Raja tidak bisa terbagi dua, hati itu hanya untuk Ratu Shima gadis yang sejak lama di cintainya, sebuah cinta yang penuh dengan pengorbanan di mana sang Ayah tak pernah merestui hubungan antara Ratu Shima dengan Raja Awang Awang Vampire, berkat kegigihan nya akhirnya Ratu Shima dapat di miliki meskipun Raja Sangkala sebagai seorang Ayah dari Ratu Shima terpaksa menyetujui nya.
Raja Awang Awang Vampire tau, pastilah Ratu Shima datang ke kerajaan Awang Awang Vampire tidak dengan mudah pasti sang Ayah menghalangi nya dan mungkin karena Ratu Shima memiliki rasa cinta yang dalam pada nya sehingga dia bisa datang ke kerajaan Awang Awang Vampire, Gumam nya yakin dia sengaja menentang larangan sang Ayah, tapi sayang kedatangan nya tidak tepat waktu, di mana Ratu Shima mengetahui dirinya baru saja bermain cinta dengan Ratu Derbah. Sekali lagi Raja mengusap wajahnya dengan kasar merutuki kebodohan nya, harus nya hari ini dia bisa bercengkrama dengan wanita yang dia cintai terlebih selama tiga Minggu tidak bertemu.
"Bodoh....dasar bodoh!" Bruaaaaaakk." Raja menendang guci cantik yang ada di depannya hingga terlempar dua meter, suara pecahan guci yang begitu keras membuat salah seorang pengawal yang kebetulan berada di situ terperanjat kaget dan segera berdiri ketika tau siapa orang yang telah membuat guci cantik itu hancur berkeping-keping.
"Raja..!" Ampun Raja, saya tidak tau jika Raja ada sini," ucap sang pengawal ketakutan dia sangat yakin Raja marah kepada nya pasalnya hanya dia yang berada di tempat itu.
Raja yang juga tak menyangka di dalam ruangan itu ada orang sedikit terkejut juga dan segera dia bertanya.
"Kenapa kau ada di sini!"
"Bersihkan pecahan guci itu lalu pergi ke penjara bawah tanah bebaskan Patih Ramboka kamu bawa beberapa teman untuk membantumu."
"Baik, Raja!"
Bergegas pengawal itu membersihkan pecahan guci yang berserakan akibat dari tendangan maut sang Raja yang lagi galau. Tak menunggu berapa lama semua sudah selesai dan sang pengawal pun mengajak beberapa temannya untuk membebaskan patih Ramboka.
Setelah kepergian pengawal Raja merebahkan tubuhnya di sofa dengan kepala menyandar hati dan pikiran nya begitu kalut, harus nya hari ini hari yang indah lagi dan lagi Raja melamun dan merutuki nasib nya yang kurang baik hingga tak sadar ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan itu.
"Permisi, Raja..!"
Mendengar ada suara yang memanggil nya Raja segera membuka mata, ketiika dia mengetahui siapa yang ada di hadapannya Raja Awang-awang Vampire mengeryitkan dahinya.
"Pangeran Tatius kau..?" ada apa mencari ku disini."
"Saya mau ijin pergi untuk beberapa hari,"
"Kemana?"
"Belum tau, tapi saya akan segera kembali, dan jika di ijinkan saya ingin membawa ibu Ratu shima untuk sementara."
"Apa?"
Raja segera bangkit dari kursinya ketiika mendengar Ratu Shima akan di bawa pergi putra nya.
"Kau mau membawa Ratu Shima tidak bisa, Kalau kau mau pergi silahkan, pergi sendiri tapi tidak ku ijinkan kau pergi membawa Ratu permaisuri Sihma."
"Tapi Raja..!"
"Tidak ada bantahan dan taati perintah ku atau aku pun tak kan mengijinkan mu keluar dari istana ini."
"Wah, gawat kalau sampai Raja juga melarang ku bagaimana aku bisa pergi menemui Tania tidak ada pilihan lain, terpaksa aku harus menerima keputusan Raja." Gumam pangeran Tatius dalam hati.
"Baiklah, Raja!" aku akan pergi sendiri.'
"Bagus dan ya panggil ibu Ratu permaisuri Shima ke sini, katakan aku menyuruhnya untuk menghadap ada hal penting yang harus aku bicarakan."
"Baik, Raja!"
Pangeran Tatius yang sudah mendapatkan ijin segera pergi dari ruangan itu dan tinggallah Raja sendiri dengan senyum tersungging di bibir karena Raja telah menyiapkan sebuah rencana.