
Lagi-lagi tatapan mata sang Nenek begitu berbeda dari biasanya, tatapan nya begitu aneh di tambah dengan senyum yang tak bisa di jelaskan dengan kata-kata, Tania tidak bisa memahami apapun maksud dari perintah sang Nenek, Tania hanya tau ada rasa takut yang tiba-tiba datang menyelimuti hatinya.
"Tania...! sini duduk di samping Nenek, jangan terlalu jauh begitu, ada yang ingin Nenek bicarakan padamu jadi mendekat lah."
Dengan sedikit ragu dan dengan perasaan Takut Tania bangkit dari kursi kayu yang berukir Naga, dia berjalan mendekati sang Nenek yang duduk di tepi Ranjang.
Dengan perlahan lahan dan penuh dengan hati-hati Tania mendudukkan bokongnya di atas Ranjang di samping sang Nenek.
Lagi-lagi sang Nenek Tersenyum misteri, entah mengapa setiap kali sang Nenek Tersenyum hati Tania menjadi was-was dan takut ada rasa tidak nyaman setiap kali melihat senyum dari sang Nenek.
"Ne-nek mau bicara apa?" Meskipun dengan perasaan takut Tania memberanikan diri untuk bertanya kepada sang Nenek yang mana kelakuan Nenek kali ini sangat aneh dan tidak terlihat seperti biasanya. Tania juga heran mengapa kali ini dia begitu merasa was-was dan takut melihat senyum Nenek padahal biasanya tidak masalah bahkan Nenek cemberut pun Tania tidak merasa takut.
"Tidak ada Tania, Nenek hanya mau memberikan hadiah kecil padamu, tapi aku khawatir kamu tidak menyukai hadiah kecilku, terlebih kamu tidak pernah kekurangan sesuatu pun, karena Nenek tau kekasih mu Tatius memilki segalanya dan itu artinya kamu sudah tidak butuh apapun, tapi Nenek begitu ingin kau menerima hadiah kecil dari Nenek ini, apakah kamu akan mau menerimanya?"
"Nenek mau memberikan hadiah padaku?"seperti orang bodoh Tania kembali mengulang pertanyaan yang dikatakan Sang Nenek kepadanya.
Dengan senyum yang lagi-lagi sangat misterius Sang Nenek menggsgguk.
"Kalau begitu aku harus nya berterima kasih pada Nenek dan tidak mungkin aku akan menolaknya."jawab Tania menyakinkan.
"Tapi hadiah Nenek tidak terlalu bagus apakah kau juga akan mau memakainya."lagi-lagi sang Nenek bertanya seolah olah sedang memastikan lawan bicaranya.
"Nenek kenapa tidak hadiah tidak dilihat dari siapa yang memberi dan bagaimana bentuk serta nilainya, hadiah di lihat dari ketulusan orang yang memberi." jawab Tania yang mans jawaban itu sangat menyenangkan hati sang Nenek.
"Baiklah, kalau begitu tunggu di sini Sebentar "Sang Nenek bangkit dari tempat duduknya dan melangkah menuju meja yang terdapat sebuah kotak kecil di atasnya.
Di buka dan di ambilnya isi yang ada di dalam kotak tersebut, kemudian sang Nenek Kembali melangkah ke dekat Ranjang di mana Tania sedang menunggu.
"Lihat...! Nenek hanya punya kalung ini coba pakailah, jika kamu tidak keberatan, kalung nya sangat jelek dan tidak bernilai mahal ku harap kamu mau memakai nya.
Tania menyunggingkan senyum.
"Tentu saja aku mau Nek."
"jika begitu apakah Nenek boleh memakai kan nya untuk mu."
Tanpa ragu ragu Tania mengagguk dan mengijinkan sang Nenek memakaikan kalung di leher nya.
Tanpa sepengetahuan Tania diam-diam Sang Nenek menyunggingkan sebuah senyuman, ketika jari jemari tuannya membantu Tania memakaikan kalung pemberian nya.
Setelah kalung itu terpasang, tangan Tua sang Nenek, mengambil tusuk rambut yang ada di kepala nya, entah apa yang dilakukan sang Nenek kala itu.
Nenek melakukan gerakan memutar tusuk rambut miliknya seolah olah sedang mengunci dalam beberapa detik kemudian sang Nenek Kembali menaruh tusuk rambut nya di atas rambut Tuannya.
"Sudah Tania, kalung nya tidak begitu bagus tapi ku harap kamu tidak pernah melepaskan nya."
"Trimakasih, Nek,"jawab Tania sambil tersenyum.
"Sekarang kamu boleh kembali ke dalam kamarmu, atau jika kau ingin duduk.duduk atau melihat tanaman kamu boleh pergi ke halaman samping."
"Nek...!"
"Ya, Tania ada apa?"
"Apakah hari ini aku boleh makan ikan?"
"Kesehatan mu belum terlalu pulih untuk dua sampai tiga hari ke depan kamu tetep harus makan makanan yang mengandung zat besi tinggi."
Tania terkejut dengan jawaban sang Nenek, pasalnya Tania yang masih berstatus sekolah anak SMA dia masih ingat pelajaran pelajaran yang ada di sekolah nya terutama tentang biologi atau IPA, bukankah pengetahuan tentang makan memakan itu pelajaran IPA.
Tania mengeryitkan dahinya, menatap tak percaya pada sang Nenek, yang sudah sok paham tentang pelajaran Rantai makanan.
"Nek, ikan itu bukannya termasuk makanan yang mengandung zat besi juga?"ucap Tania hati hati khawatir jika menyinggung perasaan sang Nenek.
"Masak sih,"sergah Sang Nenek tak percaya, sebenarnya bukan tak percaya cuma tidak percaya jika Tania masih sangat hafal dan ingat pelajaran ketika dia masih sekolah.
"Betul, Nek!"ikan itu termasuk makanan yang mengandung zat besi.
Merasa tenggorokan nya tiba-tiba kering sang nenek mengambil segelas air putih yang ada di atas meja dan meneguknya.
"Glegek...!
"Glegek...!
Demi kesembuhan Tania mau kan untuk sementara tidak makan ikan?"Nenek bertanya dengan memandang Tania lekat lekat.
Tania mengagguk sambil menyunggingkan sebuah senyuman.
"Ya sudah kamu boleh kembali ke kamarmu."
"Baik Nek!"
Tania berjalan ke luar pintu kamar Nenek, Rumah tempat Nenek tinggal dan ruangan kamar tempat nya untuk tidur lumayan jauh sekitar berjarak delapan meter dari Rumah depan.
Pembuka dinding pintu yang unik karena harus meletakkan tangan di antara tiga garis warna sambil menahan napas sejenak.
Ketika pintu sudah terbuka dan Tania melangkah masuk ke dalam kamar nya terlihat lah Devan sedang melipat selimut yang baru saja di gunakan untuk tidur semalam.
Melihat Tania sudah berdiri di depan pintu Devan menyungingkan sebuah senyuman.
"Kamu dari mana?"
"Dari kamar Nenek,"
"Oh, kirain kemana, habis makan pagi aku mau ajak kamu jalan jalan agar kamu tidak bosan apa kamu mau?"
"Mau....tapi ada syaratnya."
"Apa?"
"Aku mau makan yang ada ikannya."
"Sstttttt ...kamu tenang saja Nanti aku akan bakar kan ikan untuk mu.'
"Serius...!"tanya Tania dengan wajah berbinar, rasanya sangat senang jika bisa makan ikan.
Devan mengagguk kan kepalanya sambil tersenyum.
Setelah mendapatkan Jawaban Devan tanpa rasa ragu dan canggung Tania langsung berlari menghambur memeluk Devan.
Devan yang sama sekali tidak pernah membayangkan akan mendapatkan pelukan dari gadis yang sangat dicintainya, mendelik tak percaya, Devan merasa kesulitan untuk bernafas juga irama jantung nya serasa mau lepas dari tempat nya.
"Apa aku sedang bermimpi, apakah ini semua halusinasi ku." Gumam Devan dalam hati.
Sungguh sangat curang karena mengambil kesempatan dalam kesempitan, Devan tau mungkin Tania tidak sengaja dan menganggapnya Tatius sehingga dengan santai main peluk, Devan yang sudah lama memendam rasa pada gadis yang ada di depannya, mendapatkan pelukan secara mendadak, bukannya buru-buru melepaskan tapi justru memanfaatkan salagi ada kesempatan, dengan sedikit bergetar Devan membalas pelukan Tania dan Devan semakin di buat melayang layang karena Tania tidak menolak ataupun memukul nya seperti yang biasa Tania lakukan padahal waktu itu, Devan cuma dengan sengaja memegang tangan nya sudah mendapatkan pukulan tapi ini sangat aneh seolah olah Tania menyambut nya.
Berpelukan secara dekat dengan gadis yang begitu kita puja benar-benar membuat perasaan dan otak devan menjadi kacau, terlebih hembusan napas hangat yang menerpa wajah Devan, entah setan apa yang sedang merasuki hati dan pikiran Devan dengan gerakan refleks Devan menjatuhkan kecupan nya pada kening Tania.
Tidak ada perlawanan ataupun penolakan dari Tania, justru gadis itu terlihat menerima, buktinya dia justru membenamkan kepalanya pada dada bidang Devan, Melihat hal ini Devan semakin berani saja di dekap nya dengan erat tubuh Tania.
"Jadilah, kekasih ku."lirih Devan lembut.
Sementara Tania tidak mendengar apa yang di ucapkan Devan wajahnya tengadah menatap Devan sedangkan Devan membalas tatapan Tania dengan tatapan mata sayu menunggu jawaban dari gadis yang ada di depannya.
"Hari ini aku menembak nya smoga saja Tania menerima, smoga dia menyadari dan. melupakan Tatius Karena mereka berasal dari dunia yang berbeda." gumam Devan dalam hati berharap cintanya di trima.
Dengan senyum mengembang di bibir Tania menengadakan wajahnya, membuat jantung Devan semakin berdebar tak karuan, Devan meneguk liurnya tak kala bibir yang sangat mengemaskan itu berada dekat dengan nya Hanya berjalan sepuluh senti, andai boleh rasanya ingin sekali Devan meraup habis bibir yang mengemaskan itu, lagi-lagi Devan hanya bisa meneguk liurnya, menunggu Tania menjawab permintaan nya.
"Kamu, sudah janji akan bakar ikan buat aku jadi awas saja kalau bohong." ucap Tania seraya melepaskan pelukannya dari rengkuhan tangan Devan.
Ucapan Tania betul betul di luar skenario, sampai sampai Devan melongo.
"Astaga...! main peluk aku bukan karena suka tapi karena aku mau bakar ikan buat dia, ya Ampun kenapa aku bodoh sekali, tapi Mayan juga boleh kecup dikit meskipun cuma di kening, maunya sih di bibirnya tapi takut dia marah kalau udah bener bener mau jadi pacarku aku berani, ya.... boro-boro mau jadi pacarku di dengarkan juga tidak, apes dah." gumam Devan yang sibuk bermonolog sendiri.
"Hei, Van, jawab dong kok diam." Tania sedikit kesal pasalnya Devan hanya diam ketika Tania memperjelas permintaan nya.
"Iya, aku dengar, ayo kita pergi aku mau ajak kamu jalan jalan."
Tanpa protes lagi Tania segera menggikuti langkah kaki Devan. Sengaja Devan mengajak Tania berjalan jalan menggelilingi tempat di mana sang Nenek tinggal yang mana Rumah Nenek Devan sangat jauh dari perkotaan, jauh dari hiruk-piuk lalu lintas, dingin dan sejuk itulah suasana yang ada di sekitar tempat itu.
Devan mengajak Tania dengan menggunakan motor tidak berapa lama Devan menghentikan motornya di dekat aliran sungai yang sangat jernih dan tenang.
"Aku akan menangkap ikan untuk mu, kamu tunggu di sini."titah Devan pada Tania, tanpa membantah Tania mengagguk kan kepala nya, menunggu Devan dengan duduk di tepian sungai yang jernih.
Airnya sangat jernih dan segar juga tidak terlalu dalam, Devan yang terbias menangkap ikan tidak menggalami kesulitan apapun sehingga bisa dengan mudah menangkap ikan meskipun hasil tangkapan nya tidak akan secepat dan sebanyak yang di lakukan Pangeran Tatius.
*****
Sementara di dunia Vampire menjelang pagi Ratu Shima dan Raja Awang-awang Vampire duduk dengan sabar menunggu kedatangan Raja Sangkala, Ayah dari Ratu Shima.
"Bagaimana?'apa kau yakin Raja mau membantu kita."
"Harus mau Raja, Pangeran Tatius itu kan cucunya apapun yang terjadi Ayah Raja Sangkala harus mau membantu."
"Bagaimana jika tidak, apa yang akan kita lakukan,"
"Raja tidak perlu khawatir karena aku akan terus memaksa agar Raja Sangkala mau membantu kita."
"Lihat, Raja sudah datang."
Bergegas Ratu Shima bangkit dari duduknya dan menghampiri Raja Sangkala.
"Ayah, aku sudah menunggu mu dari tadi, kenapa kau baru datang"Sungut Ratu Shima merasa kesal karena harus menunggu kedatangan Raja Sangkala dengan cukup lama.
"Kenapa kamu melupakan sesuatu Shima." pertanyaan Raja Sangkala yang benar benar tidak bisa di mengerti oleh Ratu Shima.
"Raja, aku menunggu untuk menanyakan bagaimana solusinya agar aku bisa mengetahui keadaan Pangeran Tatius, tapi ini Raja justru menanyakan sesuatu yang aku tidak memahami maksud nya."
Raja Sangkalah dengan tenang duduk di depan Ratu Shima dan Raja Awang-awang Vampire yang sedari kemarin memilih diam.
"Aku, cuma bertanya kenapa kamu melupakan makan pagi mu."
"Aku belum lapar Ayah!"
"Apakah suamimu juga belum makan,"tanya Raja Awang Awang Vampire sambil menatap wajah Raja Awang Awang Vampire.
"Belum, Ayah kami tidak lapar kami ingin segera mengetahui bagaimana keadaan pangeran Tatius."
"Kalian makan saja dulu setelah itu temui aku di istana Puri kepribadian ku."ucap Raja Sangkala yang kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu.
Ratu Shima terkejut melihat sikap Raja Sangkala yang terlihat sangat tenang dan santai sementara Ratu Shima begitu sangat panik dan khawatir akan keselamatan dan kesehatan putra tunggal nya.
"Tunggu, Ayah! kau jangan bercanda masak aku harus makan dulu, Ayah aku...
"Stop...! makan dulu ini perintah, semakin cepat kau makan maka akan semakin cepat kita akan memecah kan solusi nya "
Tanpa menoleh ke belakang lagi Raja Sangkala berlalu pergi. Sementara Ratu Shima dan Raja Awang-awang Vampire saling berpandangan.
Raja Awang-awang Vampire memainkan bahunya Ketika Ratu Shima bertanya dengan bahasa isyarat mata.
"Baiklah, ayo kita makan dulu," ajak Ratu Shima pads akhirnya, meskipun di meja makan Ratu Shima terlihat sangat tidak berselera akan tetapi dia tetap berusaha untuk makan dan menelan nya karena jika tidak sudah bisa di pastikan Ayahnya, Raja Sangkala akan menyuruh nya makan lagi.
Suasana hening untuk sementara waktu hingga acara makan pun selesai. Tanpa menunggu dan menggulur waktu Ratu Shima dan Raja Awang-awang Vampire pergi ke puri Istana kepribadian Raja Sangkala.
Kedua penjaga pintu kamar Raja Sangkala langsung mempersilahkan Ratu Shima dan Raja Awang-awang Vampire untuk masuk ke dalam.
Di dalam kamar tampak Raja Sangkala sedang duduk di kursi kebesaran nya.
"Duduklah, sekarang apa yang ingin kalian ketahui."ucap Raja Sangkala sambil menatap Ratu Shima dan Raja Awang-awang Vampire secara bergantian.
"Ayah, aku ingin mengetahui keadaan Pangeran Tatius, aku sudah beberapa hari tidak melihat nya setelah peristiwa itu, waktu itu Tatius terlihat sangat terpuruk Ayah, aku sangat tidak tega dan aku sangat menghawatirkan nya."
"Shima, pangeran Tatius tidak sendiri jadi kamu jangan khawatir."
"Apa?"tidak sendiri maksud Ayah bagaimana."tanya Ratu Shima bingung, begitu juga dengan Raja Awang-awang Vampire dia juga bingung.
"Iya, maksud Ayah bagaimana, berikan kami penjelasan."
Raja Sangkala menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan, sulit baginya untuk menjelaskan dengan kata-kata.
"Ikut aku...!"
Raja Sangkala segera melangkah kan kakinya mendekati jendela kelambu dan membukanya, terlihat lah sebuah ruangan kecil yang tidak begitu luas akan tetapi juga tidak begitu sempit.
Ratu Shima dan Raja Awang-awang Vampire sedikit terkejut ketika melihat jendela kelambu yang di baliknya terdapat sebuah ruangan rahasia.
Dengan penuh hati-hati Ratu Shima dan Raja Awang-awang Vampire masuk ke dalam nya, dengan perasaan tidak mengerti Ratu Shima menggikuti langkah sang Ayah sedikit bingung apa hubungannya Ruangan Rahasia ini dengan pangeran Tatius yang ingin di ketahui keadaan nya. Meskipun hati bertanya tanya akan tetapi Ratu Shima mencoba untuk diam dan menanti apa yang akan Raja Sangkala jelaskan.
.