
Malam semakin larut mata yang sulit untuk terpejam akhirnya terpejam juga. Perjalanan waktu berlalu dengan begitu cepat hingga kehadiran sang dewa malam kini telah berganti dengan kehadiran nya Dewi pagi.
Nyayian riang dari kicauan burung yang bersahut sahutan dengan di iringi merdunya suara Kokok Ayam menjadi tanda jika pagi telah tiba.
Devan yang tidak bisa tidur sudah keluar rumah untuk sekedar melihat-lihat jalanan yang ada di sekitar rumah itu, sementara Tania yang baru saja menyelesaikan ritual mandinya dengan rambut basah dan panjang terurai mulai melakukan kegiatan paginya dengan membantu sang ayah di dapur untuk menyiapkan makan pagi, karena Tania sudah ada di rumah sang ayah juga sudah menyiapkan beberapa ikan untuk digoreng Karena Tania suka dengan ikan digoreng maupun dibakar, tidak menunggu lama acara masak-masak pun sudah selesai semua sudah terhidang rapi di atas meja
"Tania, coba kamu panggil Devan untuk sarapan pagi."printah Ayah pada Tania yang kala itu duduk duduk setelah semua nya selesai.
"Biarkan saja Ayah, toh nanti juga kalau lapar akan pulang sendiri ngapain juga dipanggil," ucap Tania dengan malas.
"Tania kita ini kan tuan rumah sudah seharusnya bersikap baik jadi cepat panggil Devan untuk sarapan pagi jangan sampai telat, lagi pula ada yang ingin Ayah bicarakan pada kalian berdua, cepat lah jangan lama-lama, Ayah menunggu kalian di meja makan."
"Baiklah, Ayah."dengan Langkah malas Tania bangkit dari duduknya, kemudian bergegas keluar Rumah, mencari keberadaan Devan yang mana tadi minta izin untuk melihat-lihat suasana jalanan di kota itu, dengan Rambut yang masih basah dan sengaja Tania tidak mengikatnya dia pergi mencari Devan, ternyata Devan sedang menyiram bunga yang ada di taman. Tania menyunggingkan sebuah senyuman.
"Ternyata dia mengerti juga cara membantu dan menempatkan diri ketika tinggal di rumah orang lain, baguslah kalau dia tidak menjadi cowok yang manja." desis Tania dalam hati.
Ketika Tania berjalan mendekati tempat di mana Devan menyiram bunga, tiba-tiba Tania mengurungkan Niatnya.
"Untuk apa aku buru-buru memanggilnya, bukankah akan sangat bagus dan mengguntungkan jika aku tunggu sampai Devan selesai, kan lumayan aku bisa cuti tidak menyiram bunga, karena semua akan di kerjakan Devan." lirih Tania sambil menyunggingkan sebuah senyuman.
Tania memilih duduk di teras sambil menatap Devan yang sedang sibuk menyiram bunga-bunga di taman, sementara sang ayah yang berada di dalam ruang makan sedikit gelisah karena sudah menunggu cukup lama kehadiran Devan dan Tania, akan tetapi keduanya belum juga muncul, untuk itu sang ayah bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju ke arah pintu, Alangkah terkejutnya dia ketika membuka pintu teras justru melihat Putrinya sedang duduk bersantai di teras sambil menatap Devan yang sedang menyiram bunga,. dengan wajah kesal Sang Ayah menghampiri putrinya.
"Tania, apa yang kau lakukan di sini Nak dan mengapa kau biarkan Devan menyiram bunga sendiri."
"Ayah, biarkan saja kan Tania tidak meminta dan itu Devan lakukan atas kemauannya sendiri maka Biarkan saja."
"Tania, tidak boleh begitu cepat bantu calon Suamimu, biar dia tidak capek sendiri lagi pula kamu bisa berolahraga pagi dengan membantu Devan."
"Tunggu...!apa maksud Ayah dengan mengatakan kalau Devan adalah calon suamiku."tanya Tania dengan penuh selidik.
Mendengar pertanyaan Tania sang Ayah menyunggingkan sebuah senyuman kemudian duduk di sebelah Tania.
"Apa kau ingin tau."
Dengan cepat Tania mengagguk kan kepala nya.
"Kalau begitu cepat panggil Devan ke sini,"
Perintah sang Ayah pada Tania.
"Kenapa harus memanggil nya kan yang ingin tau aku Ayah, apa hubungannya dengan Devan, Ayah jangan aneh-aneh deh."protes Tania dengan mengkrucutkan bibirnya.
"Sudah, jangan membantah panggil Devan sekarang."
Meskipun kesal dan malas akhirnya Tania melangkah menghampiri Devan yang masih sibuk dengan menyiram bunga.
"Van, di panggil Ayah tuh,"
seru Tania yang mana langsung membuat Devan menghentikan kegiatan nya, dengan senyum tersungging di bibir Devan menggikuti langkah kaki Tania naik ke atas teras Rumah nya di mana di sana sudah menunggu Ayah Tania.
Melihat kedatangan Devan Ayah Tania langsung berdiri dengan seulas senyum di bibirnya.Devan pun dengan Ramah membalas senyuman dari Ayah Tania.
"Selamat pagi Om..!"
"Pagi, duduklah,"
Tania memicingkan matanya melihat Devan begitu terlihat sangat aneh, biasanya memanggil Ayahnya dengan sebutan Paman tapi sekarang tiba-tiba memanggil dengan sebutan Om, benar-benar membingungkan dan Tania berfikir Devan pasti lagi mencari muka di hadapan Ayah nya.
Devan mendudukan bokong nya di depan Ayah Tania sementara Tania memilih duduk di samping Ayahnya.
"Trimakasih, sudah membantu menyiram bunga, padahal itu kan pekerjaan nya Tania, karena semua itu adalah bunga bunga nya"
"Tidak apa-apa Om, saya suka melakukan nya."
"Baiklah, ayo kita masuk untuk sarapan pagi setelah itu kita akan bahas pernikahan kalian secepatnya."
"Deg ..!
Bagaikan tersangkut duri di kerongkongan Tania dengan susah payah menelan ludahnya dengan kasar.
"Apa? pernikahan Ayah membicarakan siapa sih?"tanya Tania binggung.
"Sudah, ayo kita masuk dan sarapan pagi."ajak Ayah Tania.
Tanpa memperdulikan putrinya yang protes dengan pertanyaan nya, sang ayah langsung melangkah masuk ke dalam rumah di mana dia langsung duduk di ruang meja makan yang kemudian disusul oleh Tania dan Devan Mereka bertiga menikmati makan pagi dengan suasana hening tidak ada percakapan sedikitpun karena sang ayah tidak menyukai suara yang bisa mengaggu konsentrasi makan.
Setelah ketiganya menyelesaikan ritual makan pagi, kini sang Ayah mengajak Devan dan Tania untuk duduk di ruang tamu.
Tanpa banyak bicara Devan dan Tania menggikuti semua perintah sang Ayah.
"Duduklah..!"
"Tania, Ayah ingin mengatakan jika Ayah menerima Nak Devan sebagai calon Suamimu dan Ayah berencana untuk menikahkan kalian secepatnya."
"Duaaaar....! bagaikan halilintar yang menyambar di siang hari Tania mrlongo dengan penuturan sang Ayah yang tidak ada hujan dan tidak ada angin tiba-tiba Ayah nya meminta Devan untuk menikahinya.
"Ayah..! apa yang sedang Ayah bicara kan dan pernikahan.. pernikahan apa maksud Ayah aku benar-benar tidak mengerti."teriak Tania dengan wajah kesal.
"Tania sayang, Devan laki-laki yang baik dan dia juga sangat mencintaimu Ayah yakin dia akan bertanggungjawab dan bisa membahagiakan mu."ucap Ayah Tania dengan sikap yang tenang.
"Ayah....! Apa Ayah lupa aku hanya mencintai Tatius dan aku.....
"Dan kau akan bisa hidup bahagia dengan nya, apakah itu yang ingin kau katakan Nak, dengar!" Ayah sudah memutuskan beri kesempatan pada Devan untuk menunjukkan cintanya padamu,"
"Tapi, Ayah...!
"Pergilah, kalian bicarakan masalah ini, aku yakin dengan bicara berdua kalian akan memberikan jawaban yang memuaskan untuk ku."
Tania menatap wajah Devan dengan tatapan mata yang tajam, sementara Devan hanya mengangkat bahu.
Merasa kesal dengan sikap Devan yang seolah olah sangat senang dan setuju dengan tawaran Sang Ayah membuat Tania berlari keluar Rumah, di mana langsung di ikuti Devan di belakang nya setelah Meminta izin pada Ayah Tania.
"Tania, tunggu..!
"Apa lagi ?kamu itu temanku tapi mengapa kau menerima tawaran konyol dari Ayah, seharusnya kau bisa menolaknya." sungut Tania ketus.
"Bagaimana aku bisa menolaknya, jika aku juga sangat mencintai mu,"ucap Devan pada akhirnya, Devan berani mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya selama ini, dia sudah berusaha untuk mencintai gadis lain berusaha menerima gadis lain akan tetapi dia tidak bisa bohong pada hatinya, jika gadis yang di inginkan dan dia cintai hanyalah Tania.
"Lebay," ucap Tania yang kemudian pergi berlari meninggalkan Devan yang diam terpaku.
Karena sangat emosi Tania berlari Tanpa Melihat jalan yang ada di depannya akibatnya.
"Bruuugh." tubuh Tania nyungsep jatuh.
"Auuw...! Ringis Tania menahan sakit di lutut nya. Devan yang melihat itu segera berlari dan membantu Tania untuk bangkit.
"Tania, kau tidak apa-apa,"Tanya Devan panik.
Dengan lemah Tania menggelengkan kepalanya.
"Mau aku bantu."tanpa membantah Tania mengagguk kan kepala nya.
Dengan hati-hati Devan membatu Tania untuk berjalan dengan memapah nya.
"Kakiku sakit, gendong."
"Mimpi apa aku semalam,"lirih Devan dalam hati yang mana ucapan Tania bagaikan Devan menemukan Durian runtuh.
Mendengar perkataan Tania yang sungguh di luar akalnya Devan mendelik tak percaya, karena merasa ragu dengan pendegaran telinga nya yang baru saja di dengar, Devan berusaha mengabaikan nya, mungkin dia lagi salah dengar.
"Apa kamu tidak dengar? gendong kakiku sakit."rengek Tania untuk yang ke dua kali.
"Benarkah yang kamu minta ini?"Tanya Devan ingin memastikan jika pendegaran nya tidak sedang rusak. Tania semakin kesal karena permintaan nya belum juga di turuti Devan justru bertanya lagi.
"Apa aku harus berteiak biar kamu dengar, calon suami macam apa kau ini, melihat calon istri terluka tidak di bantu." sunguut Tania sambil mengkrucutkan bibirnya.
"Apa? kau mengakui aku calon suami apa aku tidak salah dengar,"lirih Devan lagi-lagi dia ingin memastikan jika pendegaran nya benar benar tidak sedang rusak, atau jangan jangan gara-gara Tania terjatuh otaknya jadi rada konslet tapi konslet nya bagus karena sangat menguntungkan." lirih Devan sambil tersenyum dalam hati.
"Cepat .!"teriak Tania untuk yang ke sekian kali
Tidak menunggu lagi Devan langsung mengaggkat tubuh Tania dan mengendong nya, hatinya bernyanyi riang Karena bahagia.
Perubahan sikap Tania adalah hal yang wajar di mana ketika dia terjatuh dengan posisi tengkurap kalung yang di pakainya keluar dan terkena sinaran cahaya sehingga kekuatan Matra dari Sang Nenek mulai bekerja sempurna, hal itulah yang membuat Tania tidak lagi bersikap dingin dan acuh pada Devan, sementara Devan berfikir jika Tania berubah karena dia memang sudah rela menerima kehadiran nya.
Dengan manja Tania justru melingkarkan tangannya pada leher Devan. Sikap Tania yang seolah olah dirinya adalah benar benar Kekasih tercinta nya membuat jantung Devan serasa mau lepas, antara senang dan bahagia.
"Apa benar kau mau menerima, keputusan Ayahmu dan benar benar mau menerima ku."tanya Devan hati-hati takut salah dan bisa membuat Tania marah.
"Kamu sangat tampan dan jika aku menolaknya Bukankah itu perbuatan bodoh."
"Gluguk..! Mendengar pujian dari Tania Devan meneguk liurnya, rasa nya sangat bahagia dan senang. Devan Tersenyum bahagia dia tidak menyangka jika ternyata Tania mau menerima nya ada rasa haru dan tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Aku akan memberikan kabar gembira ini pada Nenek, pasti dia sangat senang karena aku berhasil mendapatkan hati dan cinta nya Tania," Gumam Devan dalam hati.
*****
Jauh di belahan dunia lain tepatnya di Negri Vampire di sebuah kerajaan Sangkala tampak sosok laki-laki paruh baya sedang berjalan mondar mandir dengan gelisah.
"Apa yang di lakukan wanita tua itu, untuk apa dia mempergunakan kekuatan tusuk kondenya, apakah dia sedang menggalami puber ke dua sehingga perlu menggunakan mantra pengikat cinta, ada-ada saja, dia benar benar tidak menghargai diriku sama sekali, aku tidak bisa membiarkan semua ini terjadi akan aku hancurkan tusuk konde itu, enak saja mau selingkuh, pasti dia lagi selingkuh dengan berondong dasar manusia tidak setia."geram Raja Sangkala dengan tangan mengepal kuat meninju udara.
Ketika Raja Sangkala sibuk meninju udara hadir lah Putri Shima yang mana langsung tertegun melihat Ayahnya yang sedang meninju udara beberapa kali.
"Ayah! apa yang kau lakukan?"tanya putri Shima penasaran, karena tidak biasanya sang Ayah bersikap seperti anak kecil.
Mendengar panggilan suara dari putrinya, Raja Sangkala Tersenyum kecut, mana mungkin dia akan berterus terang tentang tentang keadaan hatinya yang lagi di bakar api cemburu di mana dia sangat menyakini jika istri manusia nya di dunia manusia sedang bermain cinta dan di mabuk asmara, terbukti sang istri sampai menggunakan tusuk konde pengikat cinta.
"Tidak ada apa-apa, cuma Ayah lagi memukul lalat yang tadi menggigit Ayah." jawab Raja Sangkala dengan berbohong.
"Ayah, pangeran Tatius tidak ada di istana belakang bagaimana ini, aku sangat mengkhawatirkan dirinya." keluh Ratu Shima pada Raja Sangkala.
"Untuk saat ini aku tidak bisa memberikan pendapat ataupun penjelasan, aku sangat lelah besok saja kamu kembali ke sini, sekarang aku mau beristirahat."
Meskipun kecewa Ratu Shima menggikuti semua perintah Ayahnya, dengan langkah malas Ratu Shima pamit undur diri.
"Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu, selamat beristirahat Ayah."
Raja Sangkala mengagguk kan kepalanya, setelah Ratu Shima pergi, Raja Sangkala langsung mengunci pintu kamar nya.
"Tunggu kedatangan ku Nenek tua aku akan buat perhitungan dengan mu, berani nya kamu selingkuh dengan mencari berondong di sana awas saja akan aku hancurkan tusuk konde mu biar pemuda incaran mu, tak sudih menerima mu lagi, biar tau rasa kau....sudah tua masih juga mencari daun muda dasar wanita tidak setia."geram Raja Sangkala sambil menjatuhkan tubuhnya di atas Ranjang.