
Setelah merasa lega karena telah mengetahui keadaan dari putranya yaitu Pangeran tatius dalam keadaan baik-baik saja dan dia berada di dalam istana kerajaan awang-awang vampir yang ada di belakang istana, kini Ratu Shima Tersenyum lega, hatinya mulai tenang dan pikirannya tak lagi kalut dan resah seperti awal Ketika datang, senyum nya tersungging indah.
Raja Sangkalah yang melihat itu ikut tersenyum bahagia.
"Apa sekarang kamu sudah tenang putri ku."
Merasa malu dan bersalah karena sudah menuduh sang Ayah tidak akan membantu nya di mana berkali kali sang Ayah menyuruhnya untuk beristirahat dan makan hanya untuk menggulur ulur waktu dan Ratu Shima berfikir Ayahnya sengaja berbuat begitu karena pada dasarnya tidak akan mau membantu, tapi ternyata dugaan nya salah dan sekarang alangkah malu dan bersalah nya Ratu Shima pada Raja Sangkala, Ayah yang sangat baik dan sangat menyayangi nya.
"Ayah, maafkan aku." lirih Ratu Shima yang langsung memeluk sang Ayah.
Dengan senyum mengembang di bibir Raja Sangkala mengusap lembut rambut sang putri.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, sekarang Ayo kita bicara di depan, aku ingin tau mengapa Pangeran Tatius bisa sampai begitu."
Ratu Shima dan Raja Awang-awang Vampire berjalan mengikuti langkah dari Raja Sangkala.
Di Ruang tamu Raja Sangkala duduk di kursi kebesaran nya, sementara Ratu Shima dan Raja Awang-awang Vampire duduk di kursi yang ada.
Raja Sangkala mulai bertanya apa yang menyebabkan Pangeran Tatius menjadi seperti ini. Dengan sangat hati-hati Ratu Shima mulai mengatakan semua kejadian yang menimpa putranya kala berada di kerajaan Ambarwata yang mana di sanalah awal terjadinya perpisahan antara Pangeran Tatius dan Kekasih nya.
Tidak berapa lama dari perpisahan itu muncullah berita yang sangat membuat Pangeran Tatius menjadi syok dan putus asa, pangeran Tatius Mendengar jika kekasihnya telah tiada.
Ketika mendengar hal itu pangeran Tatius segera terbang ke dunia manusia untuk memastikan nya dan benarlah ternyata kekasih dari pangeran Tatius telah tiada, saat itu pangeran Tatius sangst murka dan marah hatinya begitu sedih dan tak percaya hingga lambat laun membuat kepribadian dari Pangeran Tatius berubah.
Dari yang dulunya sangat baik dan santun pada semua orang kini menjadi membenci semua orang lebih suka melamun dan menyendiri, pangeran Tatius sangat mencintai kekasihnya, bahkan dia sudah berencana untuk menikahinya dan meminta restu dari kami karena keadaan saja lah yang membuat rencana itu tertunda dan pada akhirnya tinggal rencana dan kenangan saja.
Raja Sangkala manggut manggut dan mulai memahami penyebab dari keadaan pangeran Tatius yang kurang labil karena suka marah menyendiri dan melamun.
"Kalian boleh beristirahat untuk sementara waktu di sini biarkan pangeran Tatius tenang sebentar, baru kalian datang untuk menjemput nya."
"Baik, Ayah! aku akan mendengar kan Nasehat mu mungkin memang lebih baik aku memberikan kesempatan pada pangeran Tatius untuk memenangkan diri, bagaimana pun di tinggal orang yang sangat kita sayangi itu sangatlah sakit dan pahit."
"Betul, sekali untuk itu kamu jangan pernah meninggalkan aku Ratu." sahut Raja Awang Awang Vampire yang mana langsung membuat Ratu Shima mendelik pasalnya suaminya kini sudah mulai berani mengoda.
"Hei ...! perlihatkan senyummu jangan melotot begitu bikin nyaliku menciut saja," Klakar Raja Awang Awang Vampire yang langsung di sambut dengan pukulan kecil pada bahu suaminya.
Raja Sangkala yang melihat kemesraan dua ingsan itu langsung melangkah pergi sambil menggelengkan kepalanya.
Membersihkan semua pedang dan barang barang antik yang dia miliki, ketika langkah kaki nya mendekati sebuah pedang yang terpajang di dinding tiba-tiba netra tua Raja Sangkala melihat kilauan cahaya hijau yang bersinar dengan sangat terang sampai sampai dinding yang ada di sekitar tempat itupun mendapatkan pantulan dari cahaya warna hijau.
Raja Sangkala mengeryitkan dahinya, mencoba berfikir apa yang menyebabkan cahaya berwarna hijau itu muncul.
Dengan perlahan lahan Raja Sangkala membuka semua benda benda antik yang ada di ruangan kamar, tapi tak juga di temukan.
"Cahaya nya ada itu artinya benda yang menggeluarkan cahaya itu ada di sekitar tempat ini, tapi di mana."
Sudah hampir setengah jam lamanya Raja Sangkala mencari namun tak juga menemukan hasil nya karena lelah Raja Sangkala mendudukkan bokongnya pada kursi dengan berselonjor kaki. wajahnya tengadah ke atas sambil terpejam seolah olah sedang menghilangkan rasa kepenatan.
Setelah merasa sedikit rileks dan kelelahannya berkurang, Raja Sangkala berniat untuk pergi dan mengabaikan cahaya yang berwarna hijau di kamarnya, akan tetapi Langkah nya terhenti ketika tanpa sadar pandangan mata Raja sangkala menatap pada cermin yang ada di samping anak panah yang menggantung di dinding.
Cahaya berwarna hijau terlihat sangat kuat dan terang di sekitar tempat itu sehingga bisa dipastikan bahwa asal dari cahaya berwarna hijau berada di sekitar tempat ini.
Raja Sangkala mengamati dengan cermat apa-apa yang ada di sekitar tempat itu dan pandangan matanya langsung membulat ketika melihat sebuah tusuk rambut yang tergeletak tidak jauh dari cermin panjang yang ada di samping anak panah yang terpanjang di dinding.
Dari tusuk rambut yang tergeletak di atas lantai di bawah cermin itulah cahaya hijau itu berasal. Dengan penuh hati-hati Raja Sangkala menggambil tusuk rambut yang seperti nya sudah sangat lama beranda di bawah cermin panjang nya.
Raja Sangkala mengeryitkan dahinya menggingat ingat siapa pemilik tusuk Rambut itu dan ketika Raja Sangkala mampu menggingat nya kedua bola matanya langsung membulat seketika.
"Bukankah ini tusuk rambut milik Wanita tua itu, Ah kenapa aku begitu bodoh, tentu saja tusuk Rambut ini milik nya, bukankah aku yang memberikan nya, tapi mengapa dia bersinar, ini pasti ada yang tidak beres jika tusuk Rambut ini sampai menggeluarkan sinar itu artinya tusuk rambut ini di gunakan untuk suatu kepentingan, lalu kepentingan apa yang lagi di perlukan Nenek Tua itu, ada ada saja sudah tua masih juga bertingkah, sudah punya cucu juga ini nih yang aku khawatir kan, dia masih sibuk mencari kebahagiaan dan kesenangan di dunia manusia nya, pantas saja selalu menolak setiap kali aku menggajaknya untuk tinggal di tempat ini ternyata ini jawabannya, dasar wanita tua tidak sadar usia." Geram Raja Sangkala dalam hati.
Di letakkan Kembali tusuk Rambut yang bersinar terang berwarna hijau itu ke atas meja kemudian Raja Sangkala memilih keluar Puri Istana kepribadian nya untuk menghilangkan segala kekesalan hatinya, menggingat wanita tua yang tak lain adalah Ibu kandung dari Ratu Shima yang mana sejak Ratu Shima lahir sang Ibu tidak pernah merawat bahkan untuk sekedar menjenguk pun Tidak pernah.
Ibu Ratu Shima berdarah. manusia dan memilih tinggal di dunia manusia tidak tertarik sdikit pun dengan kemewahan yang di miliki Raja Sangkala untuk itu ibu Ratu Shima memilih tinggal di dunia manusia.
Untuk yang kedua kalinya Raja Sangkalah mencoba membiarkan dan melupakan apa yang terlihat oleh pandangan matanya, hatinya terlalu sakit jika harus menggenang kisah cintanya yang tak sehalus jalan toll, jika tidak di rebut orang Kekasih nya, dia menolak untuk di ajak hidup bersama dalam satu atap bukankah itu sangat menyedihkan. Pergi dan melupakan semua tentang cerita cinta yang sangat memilukan.
Bergegas Raja Sangkala menggambil anak panah dan membawanya keluar Puri Istana kepribadian nya.
Berburu di hutan mungkin itulah salah satu cara yang bisa membuat hatinya bisa sedikit tentang dan lega setelah sekian lama mengubur luka kini hadir lagi menguak cerita kisah lama di mana sang Istri lagi bertingkah dengan mengejar kebahagiaan nya tanpa memperdulikan lagi Suami dan anak.
Meskipun sebenarnya semua itu adalah hal yang lumrah dan wajar karena bagaimanapun mereka yang berbeda dunia pasti akan mencari kebahagiaan di dunia nya sendiri sendiri.
"Hanya aku yang bodoh masih selalu setia menunggu mu."lirih Raja Sangkala dalam hati.