The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab .61.CEMBURU



Tidak berapa lama motor yang di kendarai Devan telah sampai di depan pintu gerbang sekolah, tatapan matanya tertuju pada sosok Guru Matematika yang juga baru berhenti memarkirkan mobilnya tak lama ketika pintu mobil terbuka munculah sosok wanita cantik dari dalam mobil.


"Tania!"rupanya mulai berani jalan berdua mereka."Desis Devan tersenyum sinis menatap keduanya sebelum pergi masuk ke dalam kelas.


Ada rasa kesal ketika melihat Tania berangkat bareng dengan pak Guru Wili yang jelas jelas punya hati pada gadis yang di incarannya. Ketiika netranya melihat Tania masuk ke dalam kelas buru buru Devan beranjak pergi, rasanya masih sakit dan panas melihat Tania berangkat bersama dengan pak guru Wili, tapi belum dua langkah Tania sudah berdiri tepat di hadapan nya.


"Mau, kemana?" sudah ngerjakan tugas belum, kalau belum nih, cepat contek sebelum bel masuk berbunyi biar tidak dapat hukuman dari pak guru Wili."cetus Tania.


Devan mengeryitkan dahinya


"Memikirkan ku, agar tidak mendapatkan hukuman ini adalah satu perhatian yang bagus, tapi apakah perhatian ini hanya karena rasa kasian sebatas teman ataukah ada rasa lain mungkin Tania hanya kasian jika aku mendapat kan hukuman, tapi sudahlah hartiku masih sakit dan kecewa melihatnya berangkat bersama dengan Pak Guru Wili, pilihan hatiku menolak tawaran baiknya."Gumam Devan dalam hati.


"Belum!" tapi sudahlah tidak perlu repot-repot tidak usah trimakasih," ucap Devan sinis seraya pergi rasa sakit karena terbakar rasa cemburu tak bisa Devan sembunyikan. Sementara Tania menatap dengan penuh kebingungan.


"Tumben, sikapnya aneh, apa habis salah makan kali." Gumam Tania dalam hati.


Tania berniat pergi meninggalkan ruang kelas dan keluar akan tetapi langkahnya terhenti ada rasa penasaran dengan sikap Devan, Tania pun jadi kepo ingin tau apakah Devan sudah mengerjakan tugas apa belum sedikit ragu di tatapnya tas milik Devan yang kemudian dia buka dan mencari buku matematika, Tania sungguh penasaran ingin tau apakah Devan sudah menyelesaikan tugasnya atau belum. ketika satu buku di buka Tania sangat terkejut pasalnya tak satu soal jawaban pun yang ada di sana.


"Devan, belum mengerjakan tugas nya."


Sekilas Tania melirik jam arlojinya masih ada waktu, dengan cepat Tania duduk dan mengerjakan PR Devan dengan mencontekkan miliknya setelah selesai Tania memasukkan kembali buku Devan ke dalam tasnya. Saat Tania hendak keluar beristirahat terdengar suara bel masuk berbunyi yang dalam sekejap semua siswa siswi berhamburan masuk ke dalam kelas, karena bel sekolah sudah berbunyi Tania tak mungkin keluar kelas akhirnya dia memilih duduk di bangkunya.


Satu demi satu semua murid telah masuk tibalah paling akhir Devan masuk ke dalam kelas, melihat Devan masuk Tania langsung memberikan senyuman manis tapi lagi-lagi Devan membuang muka seolah olah tidak mau melihat.


Lagi-lagi Tania mengeryitkan dahinya dia benar benar tidak tau mengapa Devan yang biasanya baik berubah dingin.


Dua jam sudah mata pelajaran Matematika dari pak guru Wili pun usai, Devan masih memperlihatkan rasa kesal nya terlebih Tania sudah membantu mengerjakan PR nya itu semua membuat Devan sangat kesal, bel istirahat pun berbunyi semua siswa dan siswi berhamburan keluar sudah bisa di pastikan mereka menyerbu kantin untuk mengisi perut mereka yang lapar.


Devan sengaja pergi ke kantin duduk menyendiri memilih tempat duduk paling pojok dengan memesan bakso favorit. Devan melahap baksonya dengan sangat lahap hingga tak menyadari ada seorang gadis berdiri di depannya.


"Devan!" boleh aku duduk disini."


Devan mengangguk.


"Dev...!" Nanti aku pulang nya bareng kamu ya?"


"Tidak, bisa Nay..aku..!


Ucapan Devan terpotong ketika melihat Tania berjalan menghampiri nya.


"Devan..! rupanya kau di sini aku mencari mu kemana mana?"


Devan yang melihat kehadiran Tania segera memasang wajah manis kepada gadis yang ada di sampingnya yang tadinya dia cueki.


"Iya, Nay,!Nanti aku tunggu kamu di depan pintu gerbang kita pulang bareng," ucap Devan sambil melirik ke arah Tania.


Melihat Devan begitu sibuk dengan gadis di sampingnya Tania memilih pergi.


"Maaf, aku mengaggu."


"Iya, Tania pergilah biarkan aku dan devan berduaan jangan ngaggu kami."sahut Nayla yang ada di samping Devan," membuat Devan mendelik.


Kepergian Tania membuat Devan sedikit kelimpungan, selera makan jadi hilang.


"Kau lanjutkan makanmu aku pergi dulu."


"Dev..! kau mau kemana?"


Devan tak menghiraukan teriakan Nayla, Devan pergi mencari tau kemana Tania, rasa cinta telah membuat nya begitu terbakar api cemburu tapi Devan berusaha menyadari tidak selayaknya bersikap begitu bukankah Tania belum resmi menjadi pacarnya dan tidak pantas Devan mengacuhkan gadis itu secara jujur mengacuhkan Tania bukan membuat hati Devan lega tenang tapi justru membuat nya semakin sakit.ketiika Devan sedang celingukan netranya menatap sosok gadis yang di carinya sedang duduk menyendiri di bawah pohon rindang, Devan bermaksd menghampiri tapi langkahnya lagi lagi harus terhenti ketika melihat seorang Guru Tampan berjalan ke arah Tania.


"Pak guru Wili...!"apakah mereka benar-benar sudah berpacaran." Gumam Devan dalam hati lirih yang kemudian memilih pergi menjauh dari tempat itu.