
Dengan sedikit emosi Devan melajukan motornya ke rumah sang Nenek, entah kenapa Devan sangat krasan berada di rumah Neneknya, meskipun Devan dengan tegas di larang sang Nenek untuk lebih dekat dengan Tania.
Setelah memarkir motornya Devan segera duduk di balai depan rumah Nenek dia tidak cepat masuk ke dalam rumah pikirannya begitu kacau di rebahkan nya tubuhnya di atas di pan kayu yang ada di balai depan beberapa saat kemudian Devan sudah tertidur dengan pulas.
Sang Nenek yang tidak menggetahui kedatangan Devan tetap asik dengan kesibukan nya menyiram bunga dan membersihkan halaman. Namun ketika Sang Nenek menyapu di bagian halaman depan mata nya langsung tertuju pada Balai depan yang terbuat dari kayu.
"Devan..! ngapain dia tidur di sini."
Sang Nenek menggoyangkan tubuh Devan.
"Devan! bagun nak."
Devan menggeliat dan langsung membuka kedua matanya.
"Nenek!"
"kenapa kamu tidur di sini, ayo masuk.'
"Baik, Nek!
"Nenek siapkan makan kamu ganti bajumu dulu hari ini Nenek ada perlu jadi kamu di rumah."
"Devan..! habis makan kamu istirahat saja jangan keluyuran kemana mana ya! dan lagi
jangan masuk ke kamar gudang yang ada di ujung itu, kau mengerti."
"Mengerti, Nek!
Devan menyelesaikan makannya dengan cepat dia ingin segera beristirahat dan main game di rumah Nenek yang jauh dari pusat perkotaan di rumah nenek tidak ada apapun yang menyenangkan semua membosankan Tidak ada TV tidak ada juga radio atau apa saja membuat Devan bosan sehingga memilih bermain dan berkutat dengan game nya.
Ketika Devan hendak mengambil minum di dapur entah kenapa pandangan matanya tertuju pada satu pintu berukir yang cukup unik dan terkesan sangat kuno, perlahan.lahan Devan mendekatkan langkah kakinya ke pintu untuk beberapa saat pintu itu di tatapnya kemudian tanpa sengaja Devan menyentuh dengan ujung jarinnya hal yang membuat nya tiba-tiba harus meloncat ke belakang.
"Nenek, lagi keluar apa lebih baik aku masuk saja ya?"tapi kalau Nenek tau bagaimana, perduli lah aku juga penasaran kenapa tidak boleh masuk kamar ini."
Dengan langkah pasti Devan akhirnya memilih masuk ke dalam kamar itu. Langkah kakinya yang sudah berjalan sejauh empat meter tidak menemukan apa apa suasana dan keadaan ruangan biasa saja semua perabotan pun tertata rapi di tempat nya, lalu kenapa Nenek melarang masuk ke dalam kamar ini?"Gumam Devan dalam hati yang akhirnya memutuskan untuk keluar dari dalam kamar karena tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. ketika langkah kakinya hendak memutar kembali ke luar kamar tiba-tiba matanya melihat sebuah lukisan indah dan megah sebuah lukisan kerajaan istana, Devan sangat kagum dan tertarik melihat lukisan kerajaan itu hingga kakinya memilih melangkah untuk mendekati nya.
"Ada lukisan sebuah kerajaan, wah indah sekali mungkin karena kamar ini lama tidak di sentuh Orang sehingga lukisan ini jadi miring, ini sangat menggaggu keindahan nya aku harus membetulkan terlebih dulu. Dengan telaten Devan hendak membetulkan posisi lukisan kerajaan akan tetapi belum juga Devan menyentuh lukisan itu terdengar suara Nenek yang memanggil manggil Devan. Dengan sangat tergesa-gesa akhirnya Devan memilih untuk keluar dari dalam kamar.
"Devan...!" di mana kau Nak."
"Nenek, sudah memanggil ku aku harus cepat pergi dari sini sebelum Nenek tau aku ada disi."
Bergegas Devan segera keluar dan menutup kembali, dengan berpura-pura mencuci piring.
"Rupanya, kau di sini, bikin Nenek khawatir saja."
Devan tersenyum.
"kok,Nenek cepat pulang."
"Iya, Nenek tidak jadi pergi."
"Kenapa Nek?"
"Tidak apa-apa tidak enak saja ninggalin kamu di Rumah sendiri."
"Oh, kirain ada apa Nek!"ya sudah Nek Devan pulang Dulu ya Nek?"
"Baiklah, hati hati."ucap Nenek sambil melambaikan tangan, sementara Devan melajukan motornya dengan cepat.
"Besok aku akan ajak Tania ke rumah Nenek, aku mau menunjukkan lukisan kerajaan yang indah padanya, pasti Tania akan senang, Tania kan paling suka dengan lukisan.