
Devan mengambil motornya sambil menggerutu dirinya masih sangat kesal dan kecewa dengan apa yang telah diucapkan Tania jika hubungan antara dirinya dan Tania hanya sebatas teman biasa, wajah tampan Devan kini berubah menjadi layu meskipun hujan deras mengguyur tubuhnya yang seharusnya Wajah Devan terlihat segar dan bersinar.
mencintai orang yang tidak mencintai kita itu sangatlah sakit dimana hati kita, perasaan kita tidak mendapatkan balasan sedikitpun bahkan tidak dihargai kehadirannya sekalipun kita bersikap baik dan manis padanya, bahkan rela berkorban untuk nya pun tak dapat mempengaruhi sebuah hati.
Diam dan diam itulah yang kini dilakukan Devan, hatinya betul betul sakit dan kecewa, rasa bahagia yang seharusnya ada dan bertahta di jiwa kini hancur luluh sudah bagaikan kepingan kepingan kaca yang tak berharga.
Tania yang duduk di belakang boncengan nya tidak ambil peduli dengan sikap dan keadaan Devan, dia sedikit pun tidak merasa bersalah maupun iba, baginya Devan hanyalah seorang teman biasa dan selamanya akan tetap menjadi teman biasa.
Hati dan jiwa nya sudah dia serahkan pada seorang Pangeran Vampire yang entah sejak kapan rasa cinta itu hadir dan tak ada satu niatpun untuk menghianati cintanya, Tania Tersenyum kecut menggingat Kembali masa di mana sang kekasih berpelukan dengan mesra di depan matanya, meskipun Tania mengerti kala itu Putri Lin Ying yang juga sangat mencintai Pangeran Tatius rela mengorbankan nyawanya demi keselamatan pangeran Tatius.
Ada rasa sakit dan sedih ketika mengenang semua itu dan mungkin kisah cinta nya dengan pangeran Vampire kini sudah mulai berakhir, Tania menyadari jika kini atau mungkin saat ini orang yang sangat dia cintai sudah menikah dengan gadis yang telah rela mengorbankan nyawa untuk nya.
Mengenang semua itu dan membayangkan semuanya, membuat hati Tania sakit, berpaling dan mencari cinta yang baru itu tidak lah mungkin bisa dia lakukan, karena bagaimanapun juga melupakan orang yang pernah ada di dalam hati itu sangatlah susah.
Hening dan tiada satupun percakapan antara Devan dan Tania di atas motor, masing-masing larut dengan kesedihan dan lamunannya sendiri sendiri. Hingga motor Devan tiba di depan sebuah Rumah yang sangat besar namun terlihat sangat sederhana dari luar.
Tania segera turun dari motor dan masuk ke dalam Rumah di ikuti Devan dari belakang nya, wajah Devan yang lesu sangat terlihat jelas jika dirinya sedang sedih, sang Nenek yang melihat kala itu mengeryitkan dahinya kemudian menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan sebelum melangkah masuk ke dalam kamar nya.
"Kasian Devan, dia seperti nya sangat cinta dengan gadis itu tapi sayang nya gadis itu tidak bisa mencintai Devan, malang benar Nasibmu Van, di tambah lagi, kamu hari ini sedang apes Karena cuaca yang tidak menguntungkan, pada saat seharusnya Tania akan bersikap manis dan menggikuti semua maumu Karena pengaruh mantra dari Kalung yang aku berikan, itu jadi sirna dan hilang karena pengaruh dari derasnya hujan yang mana itu pantangan yang tidak boleh terjadi, kalung itu tidak akan berfungsi apabila tersentuh dan terkena air apalagi hujan sudah pasti kamu tidak bisa mengendalikan nya, tapi jangan khawatir setelah kering kalung itu akan berfungsi lagi, apa sebaiknya aku memberi tau Devan jika aku membantu mendapatkan cintanya dengan cara curang, tidak... tidak Devan pasti juga tidak akan setuju, dia sangat baik dan penyayang lebih baik aku membantu nya secara diam-diam agar Devan tidak tau jika perubahan yang terjadi pada Tania di sebabkan oleh Mantra yang terdapat pada kalung yang di pakainya.
Sementara di sebuah kamar Tania langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang basah, setelah tekena air hujan.
Di kamar yang berbeda Devan juga sedang membersihkan tubuhnya, kurang lebih dua puluh menit ritual mandi yang dia lakukan, setelah semua selesai, Devan keluar kamar dia berniat hendak pergi ke kamar di mana Tania berada, Devan merasa tidak nyaman dan resah jika belum mendapatkan maaf dan senyum dari Tania lagi.
Tok..
Tok..
Tok..
"Masuk...!" seru Tania dari dalam kamar. Perlahan-lahan Devan mulai membuka pintu.
"Apa aku mengaggu..!"
"Tidak, ada apa?"
"Tania ..aku mau minta maaf,"
"Minta maaf, untuk apa?'
Devan Tersenyum kecut mrndengar perkataan Tania yang terlihat seperti tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan Tania, padahal Tania tadi sangat marah ketika Devan menatapnya dengan tatapan yang sedikit berbeda dari biasanya.
"Kamu jangan pura-pura bukankah kamu tadi sangat marah padaku,"
"Marah, tidak untuk apa aku marah, oh ya Van aku mau kamu mengantar ku pulang hari ini apa kamu mau?'tanya Tania sambil duduk di sebelah Devan, hingga membuat Devan semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan Tania.
Hari ini Tania betul betul berbeda sikapnya sangat manis dan baik tidak terlihat sedikit pun api kemarahan di sana
"Kok diam sih, gimana mau nganterin aku tidak?
"Baiklah, ayo hari ini aku akan antar kamu pergi ke rumah ,Ayahmu.,"
Dengan wajah ceria Tania segera pergi ke dalam mengambil apa yang seharusnya dia bawa
Setelah semua selesai Tania dan Devan pergi menghadap sang Nenek. Devan menceritakan keinginan nya untuk mengantarkan Tania kembali ke orang tuanya.
Tanpa melarang akhirnya sang Nenek mengijinkan Tania kembali ke orang tuanya, sambil tersenyum dan setelah mengucapkan rasa terimakasih Tania dan Devan meminta ijin untuk pergi hari itu juga
Dengan menggunakan motor Devan mengantar Tania pulang, kembali ke Rumah Ayahnya.
Cuaca yang sangat cerah tanpa sedikitpun mendung di langit membuat perjalanan Devan dan Tania sangat lancar tanpa sedikitpun hambatan dan rintangan.
Sesekali Tania memeluk tubuh Devan dari belakang dan ketika tangan lembut milik Tania bermanja dalam pelukannya di belakang, selalu membuat jantung Devan selalu bergetar dengan kuat dan berdebar-debar dengan dahsyat, akan tetapi sesuai dengan pengalaman yang baru saja kemarin pagi dia rasakan, yang akhirnya berujung dengan pertengkaran.
Ingin sekali rasanya Devan menegur Tania agar tidak mengoda imannya akan tetapi semua itu dia urungkan dimana menggingat kejadian kala itu, yang mana Tania sangat marah.
Menerima dan menuruti semua apa yang di minta Tania meskipun hatinya betul betul harus berjuang keras dengan debaran dan perasaan yang tak bisa di lukis kan dengan kata-kata namun bisa di rasakan keindahan dan kebahagiaan nya.
Jantung serasa mau lepas setiap kali tubuh mengiurkan milik Tania menempel erat bagaikan perangko di belakang punggung nya.
"Astaga, Tania kapan kau bisa mengerti jika apa yang kamu lakukan benar-benar membuat spot Jantung ku mau lepas selalu." Gumam Devan dalam hati.
****
Di tempat yang berbeda Pangeran Tatius dan Paman Patih lembu ireng yang sudah sampai di Rumah sang Nenek segera melangkah menuju pintu.
"Aku akan ketuk pintu nya dulu, paman tunggu di sini."
"Tok
"Tok
"Tok
"Apa ada yang tertinggal Van?"tanya Nenek yang langsung dari balik pintu tanpa melihat siapa yang datang.
"Nenek, Bilang apa tadi?"
Mendengar suara yang berbeda Sang Nenek pun akhirnya mengadakan wajah dan melihat ke arah pintu.
Alangkah terkejutnya sang Nenek ketika mengetahui siapa yang datang, karena sangat terkejut sang Nenek sampai meneguk ludahnya.
"Ta-tatius, kau? benarkah ini kamu." tanya Nenek masih dalam keadaan tak percaya, sambil mengerjakan mata dan mengusap-usap kedua bola matanya sang Nenek mengeryitkan dahinya.
Tiba-tiba Sang Nenek langsung menyerobot keluar menengok ke kiri dan kanan. Pangeran Tatius yang tidak mengerti dengan sikap Nenek bola matanya mengekor pada setiap gerak gerik dari sang Nenek.
"Apa, yang Nenek cari, mengapa celingukan begitu." tanya pangeran Tatius penasaran, Karena sikap Nenek yang begitu misterius.
"Tidak ada kamu cepatlah masuk tunggu Nenek di dalam," perintah sang Nenek pada pangeran Tatius, tanpa pikir panjang pangeran Tatius langsung masuk ke dalam sambil mengajak paman Patih Lembu Ireng.
Sementara sang Nenek keluar pintu dan turun menuju halaman di lihatnya arah jalan yang mana terlihat legang dan tak ada apapun.
"Syukurlah, Devan telah jauh," gumam Nenek dalam hati yang mana langsung melangkah kan kaki masuk ke dalam Rumah.
Di mana di dalam Rumah sudah duduk dengan manis pangeran Tatius dan Paman patih lembu ireng.
Dengan senyum sedikit di paksakan sang Nenek mulai bertanya.
"Tatius, tumben kamu datang ke rumah Nenek."
"Iya, Nek, aku datang karena ada perlu untuk sementara aku akan tinggal di rumah Nenek, apa boleh Nek,"
Dengan Tersenyum lembut sang Nenek mengagguk kan kepalanya.
"Kamu tunggu sebentar Nenek akan ambilkan makanan untuk mu, Nanti kamu boleh ajak temanmu untuk tidur di ruang tamu,"
"Baik, Nek!dia bukan temanku, dia paman Patih lembu ireng , Nenek bisa juga memanggil nya paman patih."
"Oh, baiklah kalian tunggu sebentar di sini."bergegas sang Nenek masuk ke dalam dapur untuk menyajikan beberapa makanan.
"Beruntung Devan dan Tania sudah pergi, coba kalau belum pergi bisa bisa Tatius mengetahui kalau Tania berada di sini, smoga mereka tidak pernah bertemu dan semoga mantra sihir kalung itu cepat menyatukan Tania dan Devan, aku rasa Devan lebih pantas untuk Tania." lirih sang Nenek bermonolog sendiri.
"Tak lama kemudian Nenek sudah keluar dengan membawa beberapa makanan ringan seperti biscuit dan gorengan.
"Ayo di makan, kalian baru datang pasti perut kalian kosong, ayo makan."perintah sang Nenek pada pangeran Tatius dan paman patih lembu ireng.
Untuk sesaat suasana hening ketika pangeran Tatius dan paman patih lembu ireng menikmati hidangan makanan yang telah Nenek sajikan.
Setelah merasa kenyang Pangeran Tatius dan paman Patih lembu ireng meminta ijin untuk beristirahat.
Di dalam sebuah ruangan yang cukup luas pangeran Tatius dan paman Patih lembu ireng beristirahat
"Paman kau boleh beristirahat lebih dulu aku ingin jalan jalan di sekitar sini, rasanya sangat lama aku tidak berjalan jalan."
"Tapi, apa pangeran yakin aku tidak perlu menemani."
"Tentu saja, paman juga tidak perlu mengkhawatirkan aku akan baik-baik saja percayalah aku tidak akan bertindak konyol dan tidak benar."
"Baiklah, pangeran aku percaya, silahkan pangeran menikmati keindahan yang ada di sekitar sini, Rumah Nenek pangeran begitu luas bagaikan istana."
Pangeran Tatius Tersenyum mrndengar pujian dari paman patih lembu ireng.
Dengan mengunakan kecepatan terbang melalui jendela pangeran Tatius sudah melesat keluar dari kamar.
Sangat sedih dan terluka tapi pangeran Tatius berusaha menghadapi nya dengan sabar, pikiran nya yang kalut akibat baru saja di tinggal kan sang kekasih telah membuat hatinya begitu beku dan selalu murung tapi entah mengapa ada rasa ingin melihat lihat Rumah Neneknya yang besar dan luas, padahal beberapa hari lalu pangeran Tatius lebih suka menyendiri dan diam di dalam kamar.
Pangeran Tatius melangkah menggelilingi Ruang pekarangan yang ada di belakang Rumah sang Nenek dan ketika langkah kakinya dekat dengan sebuah bangunan yang terdapat di belakang Rumah Nenek, pangeran Tatius menghentikan langkah kakinya.
"Kenapa aku mencium aroma Tania di sini, apa aku sedang bermimpi atau aku sedang berhalusinasi, semakin aku mendekati Bangunan Rumah ini Aroma Tubuh Tania semakin kuat coba aku lihat ke dalam ruangan itu." lirih pangeran Tatius yang mana kini mulai mendekati Bangunan Rumah berbentuk biasa yang ada di belakang Rumah.
"Semua bangunan ini tertutup dinding lalu bagaimana caranya aku bisa masuk sedangkan pintu nya tidak ada."
pangeran Tatius mulai berfikir bagaimana caranya bisa masuk ke dalam ruangan itu, dengan menggunakan insting yang tinggi.
"Aroma Tania sangat kuat di sini dan tiga lapisan garis berwarna, ini terlihat sangat aneh Mungkin kah itu merupakan kunci masuk, hatiku mengatakan seperti itu lebih baik aku coba."
Pangeran Tatius mulai meletakkan telapak tangan nya pada tiga garis berwarna, Namun belum sempat tangan Pangeran Tatius menyentuh garis tiga warna tiba-tiba sebuah seruan menghentikan pergerakan nya.
"Tatius, apa yang kau lakukan?"
Sontak saja pangeran Tatius langsung menoleh ke belakang nya. terlihat lah sosok tua yang sudah berdiri di hadapan nya
Nenek.!desis Pangeran Tatius terkejut, terlebih Melihat wajah nenek yang tiba-tiba seperti menyimpan rasa marah.