
Pangeran Tatius, mengajak wanita yang baru saja di keroyok oleh banyak orang kampung untuk duduk di tempat yang nyaman, dengan sangat sabar dan telaten, pangeran Tatius mengobati luka sang wanita.
"Namamu siapa?" Tanya pangeran Tatius kepada sang wanita.
"Riri..,"Ucap nya singkat.
"Kamu, berasal dari mana? dan mengapa kamu sampai mencuri?"
"Aku...aku tidak tau, aku berasal dari mana?Aku tidak ingat apapun tentang siapa aku dan keluarga ku,"Jawab sang wanita itu.
"Apa, kamu hilang ingatan?" Tanya sang pangeran.
"Iya, aku seperti nya hilang ingatan,"Ucap wanita itu memberikan jawaban kepada pangeran Tatius.
Mendengar jawaban sang wanita pangeran Tatius tersenyum akan tetapi senyum yang di berikan pangeran Tatius memiliki makna tersendiri yang hanya orang orang cerdas yang akan mampu mengartikan nya.
"makanmu, sangat banyak ya sehingga kamu tidak hanya mencuri di satu tempat dan hampir di seluruh tempat."
Mendengar perkataan dari pangeran Tatius wanita itu melotot.
"Apa maksud dari ucapanmu itu?"
"Bukan apa-apa, lupakan saja, lukamu sudah ku obati, sekarang kau mau kemana?"
"Aku tidak tau, apa aku boleh ikut dengan mu?"
"Ikut dengan ku?"Tanya pangeran Tatius.
Sang wanita itu mengagguk untuk memberikan jawaban.
"Aku mau ke kerajaan Barat Daya? jika kau ikut apa yang akan kau lakukan?
"Aku akan menemani mu," jawab wanita itu mantap.
"Terserah kamu sajalah," Jawab pangeran Tatius memutuskan.
Pangeran Tatius bangkit dari duduknya dan melangkah menuju di mana patih lembu Ireng sedang beristirahat. Melihat kedatangan pangeran Tatius dengan seorang wanita Patih, lembu ireng segera menghampiri pangeran Tatius dan bertanya.
"Pangeran siapa wanita buruk rupa itu?" kenapa pangeran membawanya kemari."
"Dia wanita amnesia yang tidak ingat apapun dan tidak punya tujuan, dia ingin ikut dengan kita jadi ku ijinkan saja."
Patih lembu ireng menatap lekat lekat wanita yang ada di samping pangeran Tatius, mendapatkan tatapan aneh dari sang patih, wanita buruk rupa itu, memilih menundukkan kepalanya. Sementara patih lembu Ireng kemudian berjalan mendekati Pangeran Tatius dan menarik lengan nya agar sedikit jauh dari wanita itu.
Setelah mereka sedikit jauh dari wanita yang tadi bersama dengan pangeran Tatius, patih lembu Ireng segera mengungkapkan apa yang ada dalam hatinya."
"Pangeran Tatius, apa tidak khawatir, jika ternyata wanita yang pangeran ajak itu bukan wanita baik-baik."Ucap patih lembu Ireng menjelaskan.
"Tapi setidaknya pangeran harus selalu waspada," Ucap patih lembu ireng.
Pangeran Tatius tersenyum kemudian mengagguk agar sang paman tidak lagi menghawatirkan nya.
***
Sementara di belahan bumi lainnya tampak lah dua orang muda mudi lagi, tertawa riang di depan pintu gerbang sekolah.
"Kamu parah Tania, masak segitunya ngerjain pak guru Wili, besok pasti kamu dapat hukuman lagi darinya,"Ucap Devan menggingatkan.
"Aku malas berfikir, itu pak guru tiap hari bawaannya suka menghukum saja, mungkin kamu benar itu efek dari jomblo kelamaan."Keluh Tania menjelaskan.
"Apa, kau punya ide?'Tanya Devan.
"Ide untuk ngerjain pak guru Wili ya?"Tanya Tania balik.
"Bukan dan jangan ngerjain, tapi gimana kalau kita jodhohin dengan Bu Tri !pasti nya, pak guru Wili akan senang dan ngak lagi marah marah dan suka menghukum saja." Tanya Devan
"Caranya bagaimana?"
"Kita buat mereka selalu berdua dan sering berdua." Ucap Devan .
"Ide bagus, ayo, sekarang kita pulang,"
"Yuk, cepat,Naik ke motor ku,"Ajak Devan.
Ketika Tania hendak Naik, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di samping mereka sambil membunyikan klakson, pertanda Devan dan Tania di minta berhenti.
"Siapa sih, yang bunyiin klakson?" Gurutu Devan kesal karena tidak bisa langsung tancap gas pulang.
"Devan..!kita di minta berhenti tuh,"Ucap Tania
"Iya tau! ini juga berhenti, siapa sih reseh amat minta kita berhenti?"
"Tauk,"
Devan menunggu orang yang membunyikan klakson itu, keluar dari mobil, tapi ternyata orang itu, tidak keluar, dia hanya membuka kaca mobil dan melongokan, wajahnya.
"Tania...!masuk sini,ayo, aku antar pulang," Seru seorang laki-laki dari dalam mobil.
Tania yang sudah hafal dengan suara itu, menggigit bibir bawahnya karena, kesal.
"Pak guru Wili..!".
Tania dan Devan berpandangan sejenak sebelum, Tania pergi mendekati suara orang yang memanggilnya.