
Tidak ada seorang anak yang tega melihat derita dan kesakitan dari orang tuanya begitu juga dengan Pangeran Tatius, bukan maunya menyakiti orang tuanya. Tatapan matanya kosong bibirnya terkatup rapat ada rasa sedih yang sangat menyiksa batinnya.
Patih lembu ireng berjalan mendekati pangeran Tatius yang duduk melamun di tepian pantai, di kisah kan, Pangeran Tatius dan patih lembu ireng yang berlari dari kejaran Raja ssmpai pada pantai B yang mana sudah sangat jauh dari tempat Raja berada dan di pantai B itulah Bibi Derbah, pangeran Tatius dan patih lembu ireng memilih tempat untuk beristirahat dan memulihkan tenaga, Bibi Derbah yang sangat telaten dalam membantu Patih lembu ireng yang terluka akibat keris Raja yang sempat menancap di punggungnya kini berangsur-angsur mulai membaik, Patih lembu ireng yang sering kali melihat pangeran Tatius diam termenung merasa tidak tega. Patih lembu ireng sangat memahami Tuannya yang tak pernah sekalipun membantah apalagi menyakiti Ayah nya, kini sang Ayah terluka karena nya pastilah hal itu sangat menyakiti dan menyiksa batin hati pangeran Tatius yang sesungguhnya memiliki hati yang lembut.
"Pangeran...! sudah dua hari perut pangeran tidak di isi, ayo, kita makan."ajak Patih lembu Ireng pada pangeran Tatius.
"Aku belum lapar paman..!" silahkan paman makan terlebih dahulu jika aku sudah lapar aku akan makan."ucap pangeran Tatius lemah.
Patih lembu ireng menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan kemudian duduk di samping pangeran Tatius.
"Pangeran masih memikirkan Raja?"
"Tidak, paman! aku cuma belum lapar saja,"
Patih lembu ireng tersenyum seraya meraih tangan Pangeran Tatius.
"Menangis lah, luapkan apa yang ada dalam hati pangeran, jangan di pendam, paman tau, paman bisa mengerti jika hati pangeran saat ini lagi sedih, percaya lah Pangeran semua akan baik-baik saja."
Pangeran Tatius yang kala itu menatap kosong lurus ke depan mulai menoleh dan menatap Patih lembu ireng seraya tersenyum kecut.
"Paman...!" apakah Raja akan membenciku?" apakah setelah ini aku tidak lagi di anggap sebagai putranya, hari ini Raja pasti murka hatinya pasti sakit dan rasa sakit itu aku yang menyebabkan nya, Paman! Raja sangat sayang padaku dan aku, kenapa begitu buta hanya karena cinta, seharusnya aku tidak melakukan ini, seharusnya aku lebih memilih Ayah ku dari pada Naf.su cinta ku, aku anak yang tidak baik gara gara aku Raja terluka dan kini, Raja tidak hanya terluka di tubuhnya tapi hatinya juga pasti sangat terluka aku harus bagaimana paman..?"
"Tenanglah pangeran, berikan waktu pada Raja cepat atau lambat kelak Raja akan memaafkan mu, percayalah tidak ada orang tua yang bisa menbenci anaknya sampai lama, Raja juga harus belajar memahami pangeran dan menyadari pangeran sudah dewasa dan sudah sepantasnya berhak menentukan apa yang membuat nya bahagia."
"Tapi, paman aku merasa bersalah pasti sekarang di kerajaan istana Awang Awang Vampire lagi kacau, Raja pasti berbuat semena-mena untuk melampiaskan kemarahannya."tutur pangeran Tatius menjelaskan, karena pangeran Tatius sangat menggenali kepribadian Ayah nya yang sangat tegas, egois dan pemarah.
"Tenanglah, pangeran!" di sana ada Tuan putri Ratu Shima, ibunda pangeran biarkan beliau yang akan menyelesaikan nya, oh...ya coba perlihatkan pada paman, setampan apa Pangeran ku, ketika berubah menjadi manusia."
"Tidak, bisa paman?
"lho kenapa tidak bisa Naga betina putih saja bisa kok Pangeran tidak bisa?"
"Tidak bisa, karena aku belum menelannya, ini....!"
"Astaga.. Pangeran? kenapa tidak cepat kau telan."
"Aku bimbang, aku takut dengan Raja jika sampai membenciku."
"Pangeran Tatius tenang saja jangan pikirkan itu, pangeran Tatius berhak bahagia bersama dengan orang yang pangeran cintai jadi lakukan lah."
Meskipun sedikit ragu akhirnya Pangeran Tatius menggeluarkan mutiara hijau dari balik bajunya, di tatapnya mutiara hijau itu lekat lekat,Patih lembu ireng yang melihat Pangeran Tatius masih tak bergeming menatap mutiara hijau milik nya kembali berseru.
"Jangan ragu, lakukan lah pangeran dan raihlah kebahagiaan mu, kami akan sangat senang melihat pangeran Tatius bahagia dan urusan Raja cukup Pangeran Tatius serahkan pada Tuan putri Ratu Shima, semua nya pasti akan baik baik saja."
Pangeran Tatius menelan ludahnya dengan kasar, wajahnya yang kusut karena menanggung beban duka masih menampakkan kesedihan, pikiran nya yang terombang-ambing antara cinta pada keluarga dan Cinta pada kekasih membuat nya binggung menentukan langkah, andai bisa dia tak ingin mengorbankan salah satu di antara kedua nya.
"Pangeran, tunggu apa lagi, ayo lakukan ingatkah Ibunda Pangeran mendukung Pangeran dan percaya lah cepat atau lambat Raja pun akan menerima keputusan Pangeran."
"Baik, paman!"
Dengan sangat hati-hati dan perlahan-lahan Pangeran Tatius mulai memasukkan butiran mutiara hijau kedalam mulutnya.
"Paman...! Kenapa tidak berubah."tanya Pangeran Tatius.
"Tunggu lah beberapa saat mutiara hijau itu belum bekerja." Seru Bibi Derbah yang tiba-tiba datang dan ikut bergabung.
"Bibi....!"
"Bersabarlah, pasti akan berubah." ucap Bibi Derbah menyakinkan.
Pangeran Tatius mengagguk, tanda mengerti akan apa yang di ucapkan Bibi Derbah kepada nya.
"Pangeran sudah tidak sedih lagi kan, ayo kita makan sambil menunggu mutiara hijau bekerja." ajak Patih lembu ireng yang sedari kemarin khawatir karena pangeran Tatius tidak mau makan apapun. Tanpa penolakan kali ini Pangeran Tatius menerima ajakan patih lembu ireng untuk makan, Ikan bakar Pangeran Tatius teringat akan Tania yang sangat suka makan ikan bakar.
"Pasti Tania akan senang jika sekarang aku bisa menggajaknya pergi ke manapun tanpa khawatir dan takut membuat orang ketakutan."
Pangeran Tatius terus bergumam pada hatinya sendiri hingga tanpa sadar menghabiskan lima ekor ikan Bakar., Patih lembu ireng yang melihat itu sedikit terkejut.
"Pangeran Tatius sangat lapar, sampai sudah habis lima ekor ikan bakar." tanya Patih lembu ireng yang di Jawab dengan senyuman, kali ini wajah pangeran Tatius sudah mulai ceria.
"Iya, lapar nih paman." ucap Pangeran Tatius sambil meraba perutnya.
Patih lembu ireng terkekeh melihat Pangeran Tatius yang sudah mulai ceria hatinya begitu riang dan senang, sangat sedih dan tidak tega melihat pangeran Tatius bersedih seperti tadi.
"Paman...!"kok tiba-tiba perutku sakit." keluh pangeran Tatius sambil memegangi perutnya.
"Itu, pasti karena Pangeran makan ikan bakarnya kebanyakkan."jawab patih lembu ireng sambil terkekeh, begitu juga dengan Bibi Derbah yang melihat pangeran Tatius memegangi perutnya ikut tersenyum.
"Makanya jangan makan ikan banyak, banyak Pangeran." Cletuk Bibi Derbah gemas.
"Paman...!" ini rasanya sangat sakit, sakit sekali paman..! aku tidak tahan.... Aaaahhhh...sakit..!"teriak pangeran Tatius sambil terus memegangi perutnya, Patih lembu ireng yang melihat itu langsung menghentikan tawanya dia berjalan mendekati Pangeran Tatius.
"Pangeran kenapa bisa begini, rasanya bagaimana?" tanya Patih lembu ireng khawatir terlebih melihat wajah Pangeran Tatius tiba-tiba berubah pucat.
"Sakit...sakit paman seperti di tusuk tusuk ...Akhh....Aku tidak tahan paman ini sakit sekali," teriak pangeran Tatius yang kini tubuhnya berguling guling di tanah sambil memegangi perutnya.
"Pangeran...! cukup, jangan begini." seru Patih lembu ireng panik yang berusaha menghentikan Pangeran Tatius agar tidak berguling guling seperti orang kesurupan. Patih lembu ireng berusaha menghentikan Pangeran Tatius dengan cara memegang kakinya agar tidak berguling guling akan tetapi semua sia sia bagai kan ada kekuatan lain yang ada di dalam tubuh Pangeran Tatius Patih lembu ireng justru di dorong yang kuat hingga tubuh Patih lembu ireng jatuh terpental.
"Bibi Derbah, apa kau tau apa yang terjadi dengan Pangeran Tatius kenapa dia jadi begini?"tidak mungkin ini gara gara ikan bakar."
"Aku juga tidak tau, jangan mendekatinya, itu bukan Pangeran Tatius, itu mahkluk lain yang sedang bersarang di tubuh pangeran Tatius."
"Mahkluk lain apa? kamu jangan mengada ada,"
"Mungkin itu reaksi dari Mutiara hijau."ucap Bibi Derbah kemudian.
"Apa, iya, reaksi nya mengerikan begini."
"Aku juga tidak tau, kita lihat saja." seru Bibi Derbah yang juga ikut panik dan bingung, kedua nya berdiri terpaku melihat keadaan Pangeran Tatius yang mengenaskan, dia berguling guling sambil memegangi perut kemudian berpindah memegangi kepala nya selama hampir lima belas menit dan di kala itu pangeran Tatius tetap dengan berteriak teriak kesakitan, tak lama kemudian tubuh Pangeran Tatius bergetar hebat yang lambat laun melemah tak lagi berguling guling, Pangeran Tatius mencoba bangkit dengan tangan tetap di atas kepalanya, Patih lembu ireng yang tak tega melihat hal itu segera mendekat dan berusaha membantu tapi belum sampai tangan Patih lembu ireng menyetuh dan membantu Pangeran Tatius sudah terjatuh ke tanah.
"Bruuugh..!"
"Pangeran...!" teriak Patih lembu ireng panik yang di ikuti Bibi Derbah di belakang nya, mereka berdua berlari mendekati pangeran Tatius.
"Pingsan..!" Pangeran Tatius pingsan." seru patih lembu ireng kepada Bibi Derbah.