
Sampai di depan Rumah kedatangan dari Ayah Tania, langsung di sambut putrinya dengan senyum di bibir.
"Ayah dari mana? kenapa tidak bercerita padaku jika mau pergi" Tanya Tania penasaran karena tidak biasanya sang Ayah pergi tanpa pamit.
"Aku dari rumah teman sudah ayo, masuk apakah putri Ayah sudah makan."
"Ha ..ha.. ha..belum Ayah, kan nunggu Ayah," ucap Tania sambil menggandeng tangan Ayah nya untuk masuk ke dalam.
"Tunggu sebentar, Ayah mandi dulu baru kita makan."
"Baik, Ayah!"
Tidak menunggu lama sang Ayah pun telah menyelesaikan ritual mandi nya kurang lebih dua puluh menit, yang kemudian Ayah Tania dan putrinya makan bersama di ruang makan, tak ada percakapan apapun seolah olah di meja makan sang Ayah sengaja membiarkan Tania dan dirinya fokus untuk makan.
"Tumben Ayah, tidak bercerita siapa teman Ayah itu."
"Kita makan, dulu! Nanti sehabis makan Ayah akan bercerita tentang banyak hal pada Tania sekarang kita nikmati makan kita."seru Ayah menjelaskan.
Suasana hening untuk beberapa saat kedua nya asik dan sibuk menikmati makan dengan lauk ala kadarnya, Ayah Tania sangat pandai memasak meskipun itu bukan masakan yang istimewa.
Setelah membereskan dan membersihkan meja makan Tania Ke luar menuju ruang tamu di mana sang Ayah duduk manis dengan koran di gengaman tangannya.
"Ayah !" apa mau ku buatkan kopi," tawar Tania.
"Boleh, buatkan dua cangkir kopi ya?'pinta Ayah yang membuat Tania mengeryitkan dahinya karena merasa aneh sangat tumben sekali sang Ayah minta dobel minum kopi.
"Apa ngak sebaiknya, Tania membuat kan di cangkir yang besar saja Ayah, dari pada dua cangkir lagi pula akan jadi hemat untuk mencucinya." ucap Tania sambil senyum nyengir kuda takut ketahuan malas cuci cuci.
"Masak, Ayah, kamu suru minum berbagi."
"Berbagi...?Ayah, Tania tidak ingin. minum kopi jadi tenang, Ayah tidak akan berbagi dengan ku."ucap Tania antusias.
"Bukan dengan mu!"
"Bukan dengan ku, lalu untuk siapa satu cangkir kopi lainnya, Ayah!"
"Tuh dia...!"Ayah Tania menunjuk pada halaman yang mana sebuah mobil hitam sedang berhenti di depan rumah nya dan dari dalam mobil keluar lah sosok pemuda tampan yang sudah sedikit berumur mungkin sekitar kepala empat kurang sedikit.
"Pak guru Wili...!" Ayah memanggil nya kesini untuk apa?'
"Sudah kamu buatkan saja kopinya nanti kamu juga tau apa yang akan Ayah bicarakan."
Tania melangkah ke dapur dengan hati kesal.
"Ngapain lagi sih, Ayah ngundang guru reseh itu lagi, huuuuff....bikin mood anjlok saja, jangan jangan Ayah menyuruh ku jalan jalan lagi dengan guru reseh itu duuuh...Ayah..!"Tania tuh malu..di sekolah di gosipin yang engak enggak ini Ayah malah bikin masalah baru lagi, pasti heboh nih se anterooo sekolah, Tania cewek murahan kalau malam dengan Om...Om...kalau siang cari mangsa di sekolahan habis ngembat Devan, Guru pun jadi incaran duuuhh...mau kurobek robek tuh mulut suka nya menghiba orang saja, mereka ngak tau betapa tersiksanya aku dengan keadaan ini mereka juga ngak memikirkan perasaanku, dasar cewek cewek tidak punya hati." Sungut Tania kesal hingga tanpa sadar tangannya menyentuh cangkir yang sudah terisi dengan kopi dan air panas hingga membuat cangkir itu jatuh.
"Pyaaaaarrrr....!"bunyi suara benda jatuh sontak saja hal itu membuat Ayah dan pak guru Wili yang sudah duduk bersantai terkejut dengan gerak refleks pak guru Wili langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Biar saya lihat, Pak!" ucap pak guru Wili panik yang langsung berlari ke arah dapur, dan betapa terkejutnya dia ketika melihat Tania meringis kesakitan terlebih melihat tangan Tania yang tersiram air kopi.
"Tania ...!" kau tidak apa-apa?"
Teriak pak guru Wili panik, dengan cepat pak guru Wili berjongkok dan meraih tangan Tania hendak memastikan apa ada luka serius.
"Jangan sentuh tanganku, sakit..!" tolak Tania sambil berteriak, di luar sang Ayah yang mendengar ribut-ribut di dapur segera datang dan dilihat nya sang putri lagi meringis kesakitan.
"Tania .!" kenapa bisa seperti ini Nak!" ayo, pergi ke kamar mu biar Ayah panggilkan dokter."
"Ngak perlu Ayah, kan lukanya ngak parah paling cuma melepuh sedikit."
"Yakin ngak papa?"
"Ngak, Ayah!"
""Ya sudah biar pak guru Wili yang membantu mu,"
"Tidak usah, Ayah Tania sudah gak apa-apa kok.'
"Sudah jangan membantah, pak guru Wili tolong bantu Tania,"
"Iya, pak! ayo Tania aku antar..!"
"Stop ... jangan pegang pegang aku bisa sendiri."tolak Tania dingin pak guru Wili hanya bisa menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan. Ketika kedua nya sudah berada di dalam kamar dan saling membisu Ayah Tania datang dengan senyum di bibir.
"Kalian ini kenapa pada saling diam, Ayah Boleh gabung duduk di sini kan?"
"Tania..!" Ayah sengaja mengundang pak guru Wili ke sini, karena ada yang ingin Ayah bicarakan, antara kamu dan pak guru Wili.
"Ayah mau bicara apa?"
"Tania..! maafkan Ayah, Nak, Ayah punya satu permintaan untuk mu, apakah Tania sayang dengan Ayah dan mau mengabulkan nya atau tidak."
"Tentu saja, Tania sayang dengan Ayah dan pasti akan mengabulkan permintaan Ayah."
"Benarkah itu,!'
"Mmh... benar Ayah."
"Apa, Tania mau berjanji, akan mengabulkan permintaan Ayah?"
"Tentu saja..Tania berjanji akan mengabulkan permintaan Ayah."
"Benarkah?'
Tania mengagguk pasti.
"Nak....Ayah minta...
"Katakan, Ayah! jangan ragu ragu."
Sang Ayah meraih tangan Tania yang tidak terluka lalu tangan satunya meraih Tangan pak guru Wili kemudian kedua tangan itu disatukan membuat Tania dan pak guru Wili saling pandang.
"Aku ingin mempercepat pernikahan kalian."
Tania yang tak menyangka jika keinginan Ayahnya adalah untuk menikahkan dirinya secepatnya membuat Tania syok dengan gerak refleks menarik tangannya dan bangkit berdiri dari pinggir ranjang nya.
"Ayah...!"Apa yang Ayah bicarakan..!'
"Tania...Apakah permintaan Ayah ini buruk."
Tania menelan ludahnya yang tiba-tiba terasa kering.
"Dengar Nak...! seorang Ayah tidak meminta balas Budi dari Anak Anaknya tapi anggap saja mengabulkan permintaan Ayah ini sebagai ungkapan balas Budi mu pada Ayah, kau mau kan Nak, lihat pak guru Wili juga tidak terlalu tua dia juga cukup tampan kan Nak, jika saat ini kamu belum bisa mencintai nya Nanti ketika dia menjadi suamimu kau pasti sedikit demi sedikit bisa mencintainya, kau mau kan menggabulkan permintaan Ayah."
Dengan bibir bergetar dan kelopak mata yang mulai basah dengan air mata, Tania mengagguk.
"Iya, Tania akan menggabulkan permintaan Ayah, karena Tania sangat sayang pada Ayah jika Ayah bahagia Tania juga bahagia Tania siap menikah dengan pilihan Ayah."ucap Tania dengan suara yang berat.
"Trimakasih, Nak! Pak guru Wili aku titipkan putriku padamu tolong jaga dan jangan buat dia bersedih, apakah Pak guru wili mau menerima putri ku sebagai pendamping pak guru Wili."
"Ayah...!" ijinkan aku juga memanggilmu Ayah, dengan senang hati aku akan menerima Tania sebagai istriku dan aku sebisa mungkin akan membuat nya bahagia."
"Trimakasih, Pak guru Wili, ah ... bukan Nak Wili." seru Ayah Tania dengan Tersenyum penuh haru dan bahagia." jika kalian sudah setuju aku memutuskan pernikahan kalian akan di langsung kan secepatnya dua bulan lagi, bagaimana?"
"Saya, terserah Tania dan Ayah saja."
"Bagaimana Nak, calon suamimu menyerahkan keputusan nya padamu apa kamu setuju jika dua bulan lagi kalian menikah."
"A-aku...terserah Ayah saja."
"Baiklah, dua bulan lagi pernikahan kalian akan di langsung kan, srkarang kalian calon pengantin mungkin mau bicara hal pribadi silahkan Ayah tinggal pergi dulu."
Kini di dalam kamar tinggallah Tania dan pak guru wili, Wajah cantik Tania tertunduk dengan mata masih mengalir kan anak sungai. Pak guru Wili bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Tania jarak mereka sangat dekat, di tangkupnya wajah Tania hingga pandangan mata mereka bertemu dengan sangat lembut di usapnya buliran bening yang membasahi pipi Tania.
"Jangan menanggis, meskipun Nanti kau menjadi istri ku aku akan tetap mengijinkan mu untuk sekolah dan aku berjanji aku tidak akan menyentuh mu sebelum kau sendiri siap dan ihklas untuk ku."
"Benarkah,"
"Mmhh...!' pak guru Wili mengagguk kemudian merengkuh tubuh gadis itu masuk ke dalam dekapan nya dan untuk kali ini Tania tak menolak.
"Tatius... maafkan aku, maafkan aku yang telah mengkhianati cinta kita, aku tidak bisa menolak permintaan Ayah karena aku sangat mencintai Ayah ku, maafkan aku Tatius." Gumam Tania dalam hati.
"Aku berjanji, tidak akan pernah membuat mu bersedih dan aku akan memberikan segalanya demi kamu bahagia karena aku sangat mencintai dan menyayangi mu Tania, akan ku buat putrimu bahagia Zahra percaya lah dengan janjiku." gumam pak guru Wili dalam hati.
Tania dan pak guru Wili sama sama lagi bicara pada hatinya sendiri, sang Ayah yang melihat putri nya mau menuruti keinginan nya Tersenyum haru hingga menitikkan air mata.
"Apa yang ku lakukan adalah yang terbaik untuk hidup putri ku."