
Melihat Pangeran Tatius berlari menuju kamar Tania dan Clara, Devan tidak mau ketinggalan diapun dengan cepat mengikuti langkah kaki dari pangeran Tatius di belakang nya, sementara sang Nenek memandang dengan tatapan mata gemas sambil menggelengkan kepalanya.
"Dasar cowok jaman sekarang baru di beri tau pacarnya belum bangun sudah panik begitu seakan akan pacarnya lagi kenapa napa, cinta memang membuat semua manusia jadi gila ah... sudahlah biarkan saja mereka dengan urusannya, namanya juga anak muda lebih baik aku persiapkan makan untuk sarapan pagi."
Sang Nenek pun kembali melangkah menuju ke ruang dapur yang mana semua bahan sudah siap untuk di masak dan dihidangkan.
Tidak pernah pergi belanja ke pasar akan tetapi memiliki semua jenis sayuran dan untuk daging sang Nenek memiliki hewan piaraan sendiri jadi semua nya lengkap tanpa harus membeli.
Pangeran Tatius yang berlari menuju kamar Tania sudah sampai di depan pintu kamar Tania yang masih tertutup, dengan perlahan lahan pangeran Tatius mulai menggetuk Pintu dan dengan perlahan-lahan pula, meskipun insting dari hatinya menggatakan di dalam tidak ada orang pangeran Tatius mencoba untuk tetap bersabar menunggu pintu itu terbuka dari dalam.
"Tania...! bangun sayang..!"ini sudah siang," seru pangeran Tatius berharap Tania segera membuka mata dan bangun yang kemudian dengan cepat membukakan pintu untuk nya.
Devan yang baru sampai, segera bertanya dengan perasaan ikut cemas juga.
"Bagaimana, sudah ada sahutan dari dalam kah?tanya Devan yang tiba-tiba berdiri di samping pangeran Tatius.
"Aku sudah memanggil tiga kali tapi tidak ada sahutan bagaimana kalau kita di dobrak saja pintu ini perasaanku benar benar tidak enak."
"Baiklah kita dobrak saja,"
"Tunggu biar aku yang dobrak pintunya."Perlahan lahan pangeran Tatius mengeluarkan kekuatan tenaga dalam nya dan hanya dengan sekali tendangan kaki pintupun sudah terbuka, terlihat lah di dalam kamar tampak kosong tidak ada siapapun.
"Mereka tidak ada ayo cepat cari?"
Devan dan pangeran Tatius segera berpencar mencari keberadaan Tania dan Clara, sang Nenek yang kebetulan habis meletakkan beberapa peralatan makan menatap heran pada kedua cucunya.
"Mereka kenapa ada apa dengan mereka!"kenapa berlari ke sana ke mari seperti lagi main petak umpet saja." gumam sang Nenek.
"Van... tunggu kamu lagi mencari apa kok seperti orang lagi binggung begitu?tanya Nenek penasaran yang akhirnya mau tidak Devan menghentikan langkah kakinya.
"Tania dan Clara tidak ada di kamarnya Nek?"
"Apa? mereka tidak ada di dalam kamarnya."Devan mengagguk sebagai tanda sebuah jawaban.
"Tunggu, apa jangan jangan mereka masuk kamar yang ada lukisan jalan Rahasia menuju istana kerajaan Sangkala.
"Bisa jadi Nek, ayo kita cari ke sana,"
Sementara pangeran Tatius yang memiliki insting tinggi sudah berdiri di depan lukisan Jalan Rahasia menujuk kerajaan Sangkala, bibirnya tersenyum mana kala melihat satu sendal jepit milik Tania yang sengaja dia tinggalkan sebagai jejak.
"Akhirnya aku akan bisa mempertemukan Tania dengan keluarga ku meskipun untuk sementara hanya kakek yang tau tapi nanti aku akan bujuk dia agar mau ke krajaan Awang Awang Vampire biar cepat mendapatkan restu dari Ayah, aku sudah lelah bercinta dengan jalan kucing kucing an selalu lari dan lari dan sudah seharusnya Raja menerima kenyataan bahwa putranya memilih calon istri bukan dari kalangan bangsanya smoga semua berjalan lancar.'lirih pangeran Tatius dalam hati.
"Hei . yus...kamu sudah ada di sini, kenapa tidak bilang bilang kalau kamu tau mereka sudah ada di sini," tanya Devan kesal karena dia harus berputar putar menggelilingi rumah demi mencari Tania dan Clara sedangkan Tatius justru sudah tau sejak tadi hanya diam saja dan tidak memberitahu nya.
"Tunggu..!seru sang Nenek menghambat langkah kaki dari pangeran Tatius.
"Ada apa lagi Nek?" tanya Pangeran Tatius penasaran dan ingin tau sehingga menghentikan langkah kakinya.
"Setelah urusan mu selesai sering seringlah menemui Nenek dan ingat jika di kerajaan Awang Awang Vampire tidak menerima Tania sebagai calon istri mu Nanti, ingat kamu masih punya Nenek dan Nanti Nenek yang akan mengurus pernikahan kalian di sini apa kau mengerti."
Pangeran Tatius tersenyum mendekati sang Nenek dan memeluk nya dengan penuh kasih sayang.
"Iya, aku akan sering menemui Nenek tapi bagaimana Nenek tau rencanaku, bukankah aku tidak bicara apapun pada Nenek." tanya pangeran Tatius penasaran dan ingin tau jawaban dari Nenek.
"Apa yang terjadi pada Clara yang mengakibatkan dia masuk Pintu Rahasia ke kerajaan Sangkala dan membuat Tania panik ingin menolong dan melindungi nya hal itu akan menjadi kesempatan kamu untuk membawa Tania pada kerajaan Awang Awang Vampire di mana kau akan tau bagaimana Ayahmu menghadapi semua keinginan putranya apakah dia masih akan keras kepala dan egois atau akan menggalah demi kamu bisa bahagia."
"Nenek betul betul cerdas aku pergi dulu Nek,"
Hati-hati buat Tania nyaman dan bahagia dengan mu."
"Siap ...! jawab pangeran Tatius sambil menunjuk kan jempol jarinya sementara Devan memandang dengan pandangan penuh kekesalan.
"Nek ...! kenapa Nenek lebih perhatian pada Tatius dari pada aku kenapa Nenek tidak memikirkan pernikahan ku juga."Sunggut Devan protes.
"Memangnya kamu sudah yakin dan mantap sama Clara...!kalau yakin dan mantap boleh boleh saja Nanti pernikahan kalian berdua aku buat dengan acara yang paling istimewa." ucap Nenek sambil menepuk-nepuk bahu Devan.
Devan tersenyum senang melihat sikap sang Nenek ternyata Nenek nya masih bersikap adil meskipun tau Kedudukan Tatius lah yang lebih berhak mendapatkan Segala perhatian dan kasih sayang sang Nenek karena Yang memiliki darah penghubung lebih kental adalah Tatius di mana Ratu Shima ibunda dari Pangeran Tatius adalah putri kandung dari sang Nenek nya sedangkan dia hanyalah anak dari seorang adik dari sang Nenek.
Perlahan lahan Setelah mengguncapkan selamat tinggal pada sang Nenek dan mencium tangan Nenek, pangeran Tatius berjalan mendekati lukisan, tangannya yang putih dan halus mulai bergerak menyentuh pintu berukir berwarna hijau dengan paduan warna kuning keemasan.
"Tatius... Tunggu!"Seru Devan menghentikan pergerakan tangan nya yang Ingin menyentuh lukisan pintu berukir.
"Ada apa?" tanya Pangeran Tatius yang tidak mengerti menggapa tiba-tiba di hentikan pergerakan nya. Ssmbil cengar cengir Devan berjalan menjajari tempat pangeran Tatius berdiri kemudian menyetuh tangan pangeran Tatius yang berkulit putih sedangkan kulit Devan berwarna kuning kecoklatan.
"Kita pergi bersama?"
Pangeran Tatius tersenyum.
"Baiklah, ayo!"
"Nenek kami pergi dulu," ucap Pangeran Tatius dan Devan bersamaan yang kemudian kedua tangan itu menyentuh pintu berukir dalam hitungan detik kedua tubuh pemuda itupun tersedot masuk ke dalam nya.
Sedangkan sang Nenek menatap dengan tatapan penuh haru.
"Smoga ini bukan akhir dari perjalanan cintamu cucuku karena bagaimanapun akupun juga tau bagaimana keras kepala nya sikap dan pendirian dari Raja Awang Awang Vampire dua tidak bisa di lunakkan dengan mudah."