
Dengan wajah kesal dan bibir mengerutu Ratu Derbah yang gagal mengulur ulur waktu dari Ratu Shima dengan perasaan marah kesal dan kecewa akhirnya keluar dari dalam Puri istana kamar milik Ratu Shima.
Ratu Shima yang langsung terbang menuju kamar kepribadian Raja tanpa basa basi lagi langsung membuka pintu tanpa mengetuk ataupun ijin pada penjaga pintu kepribadian Raja.
Beberapa penjaga yang melihat Ratu Shima datang, dengan buru buru para penjaga itupun membungkuk dengan memberikan hormat.
"Salam Ratu..!Ratu Shima tidak memberikan jawaban apapun selain mengagguk dan kemudian dengan tergesa gesa langsung menemui Raja yang ketika itu sedang duduk di kursi goyang.
Melihat sang Raja duduk sambil tiduran dengan sangat santai dan terlihat nyaman tanpa dosa sedikit pun, Ratu Shima berjalan mendekati dengan perasaan yang bertambah geram dan kesal, bukan lagi dengan perlahan lahan tapi dengan sangat cepat, kursi goyang itu diayunkan Ratu Shima dari belakang.
Merasa ada yang menggoyangkan kursi tempat nya duduk dengan sangat keras, seketika Raja membuka kedua bola matanya dan dengan gerakan refleks menoleh kebelakang sambil berteriak.
"Hentikan, siapa kau berani beraninya menggoyang kan kursi ku dengan sangat kencang," teriak sang Raja lantang sebuah teriakan yang sangat keras dan menakutkan, tapi pada detik berikutnya sang Raja pun di buat tercengang dan tak percaya ketika melihat dan mengetahui siapa yang telah lancang menggoyangkan kursi nya, Raja buru buru bangkit dari tempat duduknya.
"Ratu, Shima! apa yang kau lakukan? tidak bisakah tidak bercanda seperti tadi, bikin orang kaget dan emosi sampai aku membentak mu, ayo duduklah."ajak sang Raja lembut dengan meraih tangan Ratu Shima untuk duduk, akan tetapi tanggapan yang di berikan Ratu Shima kepada Sang Raja sangat di luar dugaan, dengan sangat kasar Ratu Shima mengibaskan Tangan Raja yang ingin menyentuh dan menggajaknya duduk, hal itu membuat sang Raja mengeryitkan dahinya.
Sangat terlihat jelas jika Ratu Shima dalam keadaan marah dan kesal hal itu bisa terlihat dari sikap dan tatapan matanya yang sangat tajam, Raja yang melihat itu semua menelan ludahnya dengan kasar, dia tidak mengerti mengapa Ratu Shima datang dengan emosi dan marah yang Raja sendiri tidak mengerti apa masalah nya.
Lagi-lagi Raja menelan ludahnya dengan kasar, Raja berfikir mungkin Ratu Shima lagi kesal dan bermasalah dengan istri kedua nya yaitu Ratu Derbah sehingga datang datang ngambek dengan wajah yang sangat marah.
Raja Tersenyum melihat sikap dan perilaku Ratu Shima kepadanya.
"Ada apa?" kenapa datang datang mayun begitu, duduklah dan ceritakan padaku apa masalah mu," ucap Raja dengan suara lembut.
"Kenapa kau lakukan semua itu?"
"Melakukan apa, Ratu! aku tidak mengerti apa maksud mu," jawab sang Raja pada Ratu shima yang masih dengan posisi berdiri seolah olah Ratu Shima tidak sudih duduk berdekatan dengan Raja.
Ratu Shima tersenyum miring.
"Tidak usahlah kau berpura-pura Raja yang agung!"
Raja Awang Awang Vampire yang mendengar Ratu Shima menyebutnya dengan Raja yang Agung seketika menelan ludahnya dengan kasar.
"Ada apa ini? kenapa Ratu Shima terlihat sangat marah kepadanya padahal seingat Raja beberapa hari tidak melakukan kesalahan apapun, bahkan absen tidak minta jatah karena situasi hati yang memilih untuk berdiam diri dari pada melampiaskan amarahnya pada sang istri tercinta, akibat dari ulah dan perilaku putranya yang sangat menggecewakan."Gumam Raja dalam hati.
"Ada apa dengan mu, Ratu! mengapa datang datang kau marah marah apa salahku." tanya Raja ingin tau.
"Sudah kubilang, jangan kau berpura-pura lagi Raja."
"Ratu, berpura-pura apa, bahkan aku tidak mengerti sana sekali apa maksud dari ucapan mu,"
"Berhenti berpura-pura Raja?" teriak Ratu Shima dengan garang.
"Aku sungguh benar benar tidak mengerti, Ratu bicara lah yang jelas biar aku paham apa salahku."
"Oh...! rupanya kau masih pura-pura tidak tau, baik, akan ku ulangi agar kau ingat kesalahan mu," tegas Ratu Shima dengan suara yang keras.
Raja Awang Awang Vampire menelan ludahnya dengan kasar, dia benar benar tidak memahami mengapa tiba-tiba istri pertama nya datang datang marah marah.
"Apakah, sebenci itu kau pada putramu, sehingga kau buat dia menghilang dan jauh dari kehidupan kita,"tanya Ratu Shima berapi-api.
"Apa maksud mu berkata begitu Ratu?"
"Apa masih perlu ku jelaskan lagi wahai Raja yang terhormat,"
"Cukup...! Ratu kau membuat ku pusing katakan apa yang ingin kau katakan aku benar benar tidak mengerti maksud mu."
"Baik..! katakan padaku, mengapa kau kunci gerbang istana kerajaan Awang Awang Vampir, kau tau putramu sudah berubah menjadi manusia dan itu artinya dia tidak akan pernah bisa masuk lagi ke istana kerajaan ini apa kau sengaja membuang dan mengusir nya agar tidak lagi berada di sini, aku tau kamu sangat tidak suka dan marah dengan keputusan nya tapi harus kah dengan membuang jauh dari kerajaan ini...! bagaimana pun juga dia itu putramu mengapa kau begitu tidak berprasaan padanya." seru Ratu Shima dengan berapi api.
"Aku tidak menutup gerbang istana ini."
"Oh, ya! kau memang laki-laki brengsek yang tidak memiliki perasaan sama sekali, bahkan kepada putramu sendiri kau tega."
"Ratu . ! jaga ucapanmu..aku benar benar tidak mengerti dan tidak menutup pintu gerbang istana ini, percaya lah aku tidak melakukan nya."
"Jika bukan dirimu siapa lagi?"teriak Ratu Shima.
"Aku tidak tau, tapi yang jelas bukan aku yang menutup pintu gerbang itu."
"Bohong...!
"Terserah, Ratu boleh percaya boleh juga tidak."Teriak Raja yang pada akhirnya ikut tersulut emosi.
Untuk beberapa saat keduanya saling diam dan membisu. Raja menatap Ratu Shima dengan tatapan prihatin.
"Aku memang sangat kecewa dengan pangeran Tatius tapi bukan berarti aku sangat membencinya apalagi sampai menutup pintu gerbang gaib kerajaan istana Awang Awang Vampire agar Pangeran tidak bisa kembali kesini, aku hanya tidak bisa menerima Pangeran Tatius mencintai anak manusia jadi bukan aku yang menutup pintu gerbang istana kerajaan Awang Awang Vampire ini."ucap Raja kalem pada Ratu Shima, seorang Istri Vampire yang sangat dia Cintai dan yang selalu tak bisa membuat nya berkutik ketika marah selain memilih pergi menyendiri agar tak sampai murkanya menyakiti Ratu tercinta nya, seperti beberapa bulan terakhir ini, kekecewaan pada Pangeran Tatius tidak bisa membuat nya marah dan murka pada sang istri, selain memilih diam pergi menyendiri atau melampiaskan marah pada yang lainnya.
"Jika bukan Raja yang melakukan lalu siapa yang menutup gerbang istana ini? kurasa putraku tidak pernah bermasalah dengan penghuni kerajaan ini selain dengan....
Sebelum Ratu Shima menyelesaikan ucapannya Raja sudah memotong nya.
"Aku... !"begitukah maksud dari Ratu...?" tanya sang Raja yang memahami ke arah mana pembicaraan dari Ratu Shima dan Ratu Shima tidak memberikan jawaban dengan kata kata Ratu Shima mengagguk pasti, dia membenarkan prasangka yang menyelimuti hati sang Raja.
"Aku sudah bilang tidak, sekarang terserah pada Ratu mau percaya atau tidak dengan ucapan ku,"tukas Raja yang mulai meyerah dan pasrah karena membela diri pun dirasa percuma istri satunya ini memiliki sifat kekeh yang sulit di pengaruhi untuk itu Raja memilih terserah anggapan Ratu."Sekarang apa yang kau mau? tanya Raja kalem.
"Buka pintu gerbang istana ini,"
"Itu tidak mungkin Ratu?"
"Kenapa? apa karena kau tidak ingin putramu masuk dan berada di sini lagi," bentak Ratu Shima dengan kesal.
"Bukan begitu, kunci itu aku taruh dalam tubuh lengan tawanan Raksasa yang ku ikat di kursi belakang istana ini tapi sekarang aku tidak tau di mana Raksasa itu berada karena pada saat dia di kalahkan Pangeran Tatius aku menghujatnya di batu lereng gunung akan tetapi Pangeran Tatius melepaskan nya dan sekarang aku tidak tau di mana ketiika itu aku lupa mrnggambil kembali kunci gerbang istana ini."
"Apa?" Ja-jadi pintu ini tidak bisa di buka ?"
"Maaf, Ratu! tidak bisa jalan satu-satunya menunggu bulan purnama tiba di saat itu kerajaan Awang Awang Vampire dengan sendirinya terbuka dan terlihat mahkluk manapun."
Ratu Shima yang kecewa langsung pergi sambil mengusap air mata yang mulai menetes di pipi halus nya, Raja yang sempat melihat itu menatap Iba... dengan cepat di raihnya Tangan halus Ratu Shima akan tetapi dengan cepat tangan kekar sang Raja di tepisnya dengan kasar.
"Jangan ikuti dan halangi aku ingin sendiri."ucap Ratu Shima seraya pergi dengan cepat, Raja hanya mampu menatap kepergian sang istri dengan tatapan mata sendu dan beberapa kali Raja menelan ludahnya dengan kasar.
"Maafkan, aku Ratu!" lirih Raja dalam hati yang ikut merasakan kesedihan dari Ratu Shima.
.......