
Tania berkeliling di sekitar rumah itu untuk mencari sesuatu yang bisa di masak, tetapi dia tidak menemukan apapun sampai kaki terasa lelah.
"Kerajaan ini sangat luas dan ini tempat apa lagi, kenapa jaraknya sangat jauh dari istana tidak ada apapun di sekitar tempat ini, lalu aku makan apa, mana perut sudah lapar lagi."Tania terus berjalan dan berkeliling tempat itu mata indahnya tiba-tiba melihat sebuah dedaunan hijau yang sangat rimbun dan terlihat segar.
"Bukankah itu bayam, ternyata ada tumbuhan yang mengandung zat besi juga disini, lebih baik aku makan sayur ini saja dari pada mati kelaparan dan ini lebih baik dari pada mendapatkan makanan enak dan istimewa tapi pemberian Vampire reseh itu, aku heran kenapa Sifat Vampire dan Manusia banyak kesamaannya, sudah tau aku ini pacar adiknya kok mau di ambil juga, di kehidupan Bangsa manusia juga ada yang seperti itu bahkan sampai ada kisah berbagi Ranjang dengan adik, amit amit deh, jangan sampai aku berbagi Ranjang dengan kakak suamiku bisa bisa parah Nanti."Desis Tania dalam hati.
Dengan sangat cekatan Tania mengambil beberapa bayam yang ada di belakang rumah, setelah merasa cukup Tania membawa masuk ke dalam dan mencuci di sebuah bak kecil yang ada di tempat itu.
Rumah sederhana tetapi memiliki perlengkapan yang sangat lengkap di mana semua peralatan yang ada di dalam rumah itu sangat bagus dan mewah, rata-rata kesemuanya terbuat dari perak, tidak menunggu lama Tania pun menyelesaikan pekerjaannya bayam hanya dimasak matang lalu dimakan begitu saja tanpa ada yang lain.
Menikmati makanan hangat kulup bayam itulah yang dilakukan Tania untuk mengisi perutnya yang kosong, sedangkan Raksasa yang membantu Tania entah pergi kemana, di saat Tania menikmati makanan bayamnya dengan lahap tanpa sepengetahuan Tania ada sepasang mata yang menatapnya dengan tatapan mata sendu, beberapa kali sosok itu menelan ludahnya, wajahnya menampakkan keprihatinan melihat seorang gadis cantik hanya makan bayam.
Ada rasa sesak dan pilu melihat pemandangan yang ada di depannya serasa tak sanggup lagi sosok itupun segera melesat pergi, meninggalkan Tempat itu.
Berkelebatnya sosok asing yang ada di tempat itu membuat Tania langsung menoleh kebelakang.
"Aku tadi merasakan ada bayangan orang, apakah itu Pangeran Yervan yang mengetahui tempat ku ini, gawat aku tidak mau tertangkap lagi aku harus bersembunyi."Lirih Tania dalam hati yang mana dengan cepat Tania langsung bersembunyi."
Peralatan dan bekas makan Tania biarkan begitu saja, Tania sudah bersembunyi di balik pintu berukir yang dekat dengan bufet dimana bayak sekali di dalam nya sebuah peralatan peralatan antik dari perak.
Tangan halus dan putih bersih Tania sudah bersiap dengan memegang sebuah alat panjang dari besi yang tidak tau apa gunanya ada di tempat itu akan Tania gunakan untuk memukul laki-laki yang menurut perkiraan nya adalah Pangeran Yervan, yang selalu menggikuti setiap langkah nya.
Apa yang menjadi dugaan Tania benar sosok itu kembali hadir dan ada di tempat itu, karena lampu yang ada di rumah itu tidak di nyalakan dan karena keadaan atau situasi nya adalah sore, Tania tidak bisa melihat dengan jelas sosok laki-laki yang ada di depannya.
Sangat aneh dan mencurigakan itulah Pandangan pertama yang terlintas di otak Tania, dimana laki-laki itu diam terpaku di tempat Tania yang tadi sedang menikmati makan, sosok laki-laki itu terlihat binggung hal itu terlihat dari caranya memandang kesekliling tempat itu, kecuali memandang ke belakang dan ini adalah kesempatan emas bagi Tania untuk memberikan pukulan dan serangan pada sosok laki-laki itu.
Bibir Tania menyunggingkan sebuah senyuman sinis.
"Kali ini aku akan membalas semua perbuatan mu padaku." dengus Tania kesal yang secepat kilat mengayunkan besi kecil dan panjang ke arah sosok laki-laki yang ada di depannya.
"Rasakan ini...!
"Buuugh..... Buuuuugh ... Buuugh....!"
"Auuw... ! sakit.. .!seru sosok laki-laki yang ada di depan Tania sambil mencoba menghindari serangan Tania yang membabi buta, tanpa henti mengayunkan tangannya yang menegang besi panjang.
"Buuuuugh... buuuuugh...! tubuh laki-laki itu menjadi sasaran tongkat panjang.
"Cukup...!jangan pukul, sakit...sayang...!
"Berani beraninya kau panggil aku sayang...! rasakan ini lagi.
"Buuugh....buugh.. !
"Stop ..!stop ..!"jangan pukul lagi ikan nya bisa jatuh."
"Bukan urusan ku," seru Tania tak perduli dia terus mengayunkan tongkat besi kecil dan panjang nya ke tubuh laki-laki yang ada di depannya.
Merasa sudah tidak aman sosok laki-laki itu segera berlari menghindari dan tangannya langsung menghidupkan lampu yang ada di ruangan itu.
"Kau mau memukul ku sampai mati...! teriak sosok laki-laki yang ada di depan Tania dengan senyum mengembang di bibir.
Lampu yang sudah menyala dan sudah membuat terang ruangan yang ada di dalam tempat itu, membuat jelas semua yang ada di sekeliling termasuk sosok laki-laki yang ada di depannya.
Tania menelan ludahnya kemudian menggigit Saliva nya ketiika menggetahui siapa sosok laki-laki yang dia pukul, tangan nya bergetar dan tongkat kayu besi yang ada di genggaman tangannya jatuh ke lantai.
"Klontaaaaang.. ..! bunyi suara tongkat besi yang terjatuh dari tangan Tania. Sementara sosok laki-laki itu tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya yang mana satu tangan dalam posisi memegang satu kantung kresek berisi ikan.
"Tatius...!lirih Tania tak percaya yang kemudian dia berlari menghambur masuk dalam pelukan sang kekasih.
Dengan mata berkaca-kaca yang mulai jatuh menetes di pipi halus nya.
"Aku takut, aku sangat takut."ucap Tania sambil menenggelamkan wajahnya pada dada bidang kekasih nya, sementara Pangeran Tatius membelai lembut rambut sang kekasih sambil mengecup lembut leher jenjang kekasih nya.
"Sudah, sekarang tidak takut lagi kan?" bisik Pangeran Tatius yang masih terus mengecup lembut kekasih nya, meluapkan semua kerinduan yang terpendam.
Sebagai jawaban Tania hanya mengagguk, Perlahan lahan Pangeran Tatius merenggangkan pelukan Tania dan menengadahkan Wajah cantik di depannya agar tengadah menatapnya.
"Aku rindu sekali padamu, apakah kau juga merasakan hal yang sama."
Wajah Tania tiba-tiba berubah menjadi bersemu merah mendengar perkataan sang kekasih, Tania berusaha memalingkan wajahnya agar wajah merah nya tidak terlihat, tapi tangan kekar Tatius yang menangkup nya tak mengijinkan nya untuk memalingkan muka.
"Tatap aku dan jawab pertanyaan ku."Tania menelan ludahnya dan menggigit saliva nya
"Ngak perlu ku jawab kan kamu sudah tau jawaban nya." jawab Tania sambil berusaha melepaskan pelukannya, rasa nya malu dan jantung nya tidak bisa diajak bersahabat , khawatir Pangeran Tatius bisa mendengar degup jantungnya yang berdetak dengan kencang, Tania memilih menghindari tatapan mata teduh yang ada di depannya dengan menggalih kan pembicaraan.
"Coba lihat yang ku pukul tadi pasti sakit."
Pangeran Tatius mengeryitkan dahinya mengetahui Sang kekasih berusaha menggalahkan pembicaraan.
"Kenapa masih malu malu sih, kan sebentar lagi, aku akan menjadikan nya istri, apa iya Nanti kalau sudah jadi istriku malu malu begini bikin tambah gemes saja dia," keluh Pangeran Tatius dalam hati yang mana mau tidak mau membiarkan sang kekasih melepaskan pelukannya.
Tania meneliti seluruh wajah dan tubuh Pangeran Tatius sedangkan Pangeran Tatius diam menggikuti apa yang dilakukan kekasih nya.
"Aku cuma memukul, tapi kenapa ada luka luka yang lain, apa yang terjadi dengan mu di luar sana."tanya Tania khawatir.
"Tidak, terjadi apa-apa sayang, ini cuma luka kecil akibat berantem dengan preman."
"Ayo, ku obati dan itu kenapa kamu membawa kantung kresek apaan tuh."
"Oh, ini! tadi aku lihat kamu makan daun makannya aku tangkap kan ikan untuk kita bakar biar kamu ngak makan daun, sangat lapar sekali ya sampai sampai makan daun begitu."
"habisnya ngak ada makanan disini aku lapar."
"Ayo, ikut aku kita bakar ikan dulu."
"Tapi .. ! lukamu kan harus di obati."
"Ini luka kecil ngak penting yang penting itu, perut kekasih ku kenyang," jawab Pangeran Tatius sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat Wajah Tania kembali bersemu merah dan dengan gerakan refleks Tania mencubit pinggang kekasih nya.
"Auuw...! sakit sayang!"
Sekitar Satu jam acara bakar ikanpun selesai, Pangeran Tatius sangat pandai dan memahami keadaan dan kondisi sang kekasih, sehingga Pangeran Tatius membakar ikan sangat banyak tidak mau lagi melihat kekasih nya makan daun hijau yang dianggap nya bukan makanan.
"Jangan di buang...! seru Tania yang ikut membantu membawa ikan yang sudah matang.
"Kenapa tidak boleh di buang."
"Aku masih mau memakannya."
"Apa?" makan daun begini, tidak... tidak kamu tidak boleh makan daun, kalau ikannya masih kurang Nanti aku tangkap kan lagi, pokoknya tidak boleh makan daun, kamu bisa sakit dan aku tidak mau kamu sakit."
Melihat wajah Pangeran Tatius yang khawatir Tania Tertawa lebar.
"Ini , ngak bakalan bikin aku sakit, justru ini sangat sehat dan baik untuk tubuh kita."
"Sehat . . baik, tidak , aku tidak ijinkan kamu makan daun ngak ada kisahnya makan daun sehat.
"Dengar, aku tidak akan sakit, ini coba kau juga makan rasaanya enak lho apalagi jika di tambah dengan ikan rasaanya pasti lebih mantap terlebih kalau ada sambal cabe nya duh jadi pingin makan yang pedas pedas."
"Cabe ..!Apa itu?"
"Duh...payah deh Bangsa Vampire tidak menggenal Cabe."Sungut Tania sambil memayun kan bibirnya, membuat Pangeran Tatius yang memandang menelan ludahnya.
"Gimana bisa menggenal tau juga tidak."bela Pangeran Tatius membela diri.
"Kalau begitu coba ini makanlah kulup bayam ini rasanya enak."
"Serius...!
"Hmmmm...!
Dengan ragu-ragu Pangeran Tatius mencoba memasukkan daun kulup bayam ke mulut nya, beberapa menit kemudian Pangeran Tatius langsung berlari ke dalam kamar mandi.
"Hoek.... Hoek...!
Tania yang melihat kekasihnya lari masuk kedalam kamar mandi dan mendengar Hoek hoek bagaikan seorang wanita yang sedang hamil langsung menghampiri di mana Pangeran Tatius sudah membersihkan mulut dan kotoran yang terbuang dari mulutnya.
"Ada apa?tanya Tania panik.
"Tidak ada apa-apa, kamu jangan makan daun itu lagi ya...!"
"Kenapa? itu enak kok."
"Tidak.. tidak itu tidak enak buang saja sayang jangan kau makan, sudah makan ikan saja tidak boleh kamu makan daun begitu, ini sangat tidak enak."
"Bibir Vampire memang pahit, makanya tidak bisa merasakan nikmatnya makan kulup bayam."cletuk Tania yang mana sempat di dengar Pangeran Tatius hingga membuat Pangeran Tatius mendelik.
"Kamu bilang apa sayang! coba ulangi."
"Ngak ada, aku tidak bilang apa-apa."
"Aku dengar kok, jika kamu bilang bibir Vampire itu pahit."ucap Pangeran Tatius yang kemudian berjalan mendekati kekasih nya hingga jarak diantara keduanya hanya beberapa sentimeter.
Tania mengeryitkan dahinya ketiika pandangan mata Pangeran Tatius mulai terlihat aneh dan berkabut. Karena jarak mereka terlalu dekat Tania melangkah mundur dan Pangeran Tatius melangkah maju hingga tubuh Tania tidak bisa mundur lagi karena di belakang nya sudah terdapat dinding.
"Ka-kau mau apa? tanya Tania gugup, melihat kekasihnya Pangeran Tatius yang melangkah semakin dekat tanpa memberi jarak diantara mereka berdua lagi.
"Aku...! aku tidak mau apa-apa, aku cuma mau menghukum kekasih ku yang sudah berani mengatakan bibir Vampire itu pahit, jadi aku mau kekasih ku mencicipi bibir pahit ku bagaimana?"jawab pangeran Tatius nakal.
"Tidak, aku tidak mau!
"Apakah aku akan memberikan pilihan."jawab Pangeran Tatius yang semakin lama semakin dekat dan Tania bisa merasakan deru nafas hangat dari kekasihnya, dimana hal itu membuat jantung nya kembali berirama dengan sangat cepat, tak sanggup menatap mata teduh sang kekasih Tania memilih memejamkan mata dan Pangeran Tatius dengan perlahan namun pasti menyambar bibir ranum yang ada di depannya.
Hal itu membuat Tania terbelalak seketika dengan gerakan refleks Tania membuka kedua bola matanya karena merasakan permainan bibir dari Pangeran Tatius yang sangat lembut, tak mampu bicara apalagi menolak karena raganya menerima setiap sentuhan bibir lembut sang kekasih.
Awalnya Tania diam dan membiarkan sang kekasih yang menjadi pemimpin dalam permainan lidah nya tapi lama kelamaan Tania pun mulai terbuai dan akhirnya membalas Luma Tan dan hisap an bibir dari pangeran Tatius hingga kedua nya merasa kan sama sama membutuhkan oksigen tambahan sehingga pagutan mereka akhiri.
Setelah beberapa detik mengambil oksigen yang tadinya di rasa kurang sudah cukup Pangeran Tatius Kembali mendekat dan berusaha memanggut Kembali bibir ranum yang menggoda di depannya, tapi Pangeran Tatius harus menelan kekecewaan dimana Sang kekasih sudah tidak mengijinkan lagi.
"Sayang, lagi dong! pinta Pangeran Tatius dengan tatapan mata sendu nya.
"Ngak, mau!" aku mau makan lapar," ucap Tania sambil menarik kursi untuk duduk.
Pangeran Tatius memandang kekasih nya dengan pandangan semakin gemas.
"Ngapain, sih! ngeliatin terus makan nih." seru Tania sambil melempar satu ekor ikan ke arah Pangeran Tatius yang juga duduk didepan nya.
"Pacar aku cantik..!ucap Pangeran Tatius sambil menangkap ikan yang di lemparkan kekasih nya.
"Gombal .!dengus Tania antara senang dan malu mendapatkan pujian dari sang kekasih.
"Serius, kok! justru di bilang gombal gimana sih."
"Sudah, tuh makan dari pada ngomong terus, aku sudah lapar ini."rengek Tania agar Pangeran Tatius menghentikan bercanda nya.
"Ya...ya! kita makan, sayang...buka mulut nya."
"Kenapa...!
Pangeran Tatius tidak menjawab pertanyaan sang kekasih dia hanya menggulurkan tangannya.
"Ngak mau, Malu di lihat orang!"
"Siapa yang mau lihat, ngak ada orang kok, jadi gimana, mau ngak aku suapin, kalau ngak mau aku makan sendiri."
"Eh ... jangan, maulah." jawab Tania dengan wajah bersemu merah.
Hari yang indah dan menyenangkan itu lah yang dirasakan dua insan yang lagi dimabuk cinta dimana setelah sekian lama mereka terpisah.
Dengan manja Tania menerima setiap suapan yang diberikan kekasihnya padanya.
"Ehem... ! terdengar suara dehem dari arah pintu yang seketika membuat mata indah Tania dan Pangeran Tatius menoleh ke arah pintu dimana di depan pintu telah berdiri sosok laki-laki yang juga bertubuh tinggi tegap dengan wajah yang juga tampan.