
Seakan tak rela, mobil pak guru Wili masih terus membuntuti motor Devan, di saat mobil itu menuju tempat tinggal Tania pak guru Wili segera memutar balik mobil nya dan pergi ke sebuah Apartemen sederhana, karena tidak memiliki bel terpaksa pak guru Wili mengetuk pintu .
"Tok... Tok....Tok...!"
Setelah beberapa kali ketukan barulah pintu terlihat di buka dari dalam.
"Hei.. Boss Wili..!" tumben loe ke sini ayo masuk."
Pak guru Wili masuk menggikuti langkah kaki si pemilik rumah.
"Duduklah, ada apa, ngak biasanya datang kesini!"
"Ngak ada cuma kebetulan mampir saja."
"Bentar ya, aku buatkan minum dulu"
"Ngak usah, bentar lagi aku juga pulang."
"Baiklah, pasti ada sesuatu nih, ayo bicara lah, atau kamu ke sini mau ngasih undangan pernikahan. " tebak laki-laki di depan pak guru
"Aku juga berharap begitu tapi aku ragu dengan keputusan ku sendiri."
"kenapa, ayo cerita.. gadis mana yang sudah membuat mu bertekuk lutut padanya karena setahu ku kamu paling dingin dan paling anti dengan cinta."
"Apa kau ingat Zahra...!"
"Oh, pacar kamu yang tiba-tiba hamil itu, tentu aku ingat ada apa? apa kamu berubah pikiran dan mau menerima dan menikahinya."
"Zahra sudah tiada."
"Apa? lalu mengapa kau bahas apa kamu tidak bisa move on darinya, Wil..kamu itu Tampan kenapa memikirkan satu wanita saja, masih banyak gadis yang rela kamu pacarin, terlebih kamu laki-laki yang mapan, punya perusahaan dan sekarang juga menjadi guru, pasti banyak gadis gadis yang ngejar ngejar kamu Wil..!"ucap laki-laki itu meyakinkan.
"Kalau sama Clara gimana?"Celetuk seorang gadis yang tiba-tiba muncul dari balik pintu belakang dengan membawa dua gelas minuman untuk dua orang laki-laki yang duduk di ruang tamu.
"Huss...!" anak gadis itu harus punya malu masak main tawar menawar.'
"Yaaa, kan siapa tau Mas Wili nya mau," ucap Clara sambil melirik sosok laki-laki di sampingnya yang tiba-tiba terbatuk.
"Uhuk...uhuk...!"
"Mas, minum dulu,"tawar Clara sambil menyodorkan minuman pada pak guru Wili.
"Trimakasih,"
"Clara..sana masuk, ini tamu kakak jadi kamu jangan ganggu kami,"
"Ya...kakak aku kan mau menemani mas wili! sungut Clara sambil berjalan masuk ke dalam.
"Lanjut kan, ceritamu tentang Zhara."
"Zhara melahirkan seorang putri dan aku lagi-lagi jatuh hati pada orang yang sama kini aku jatuh hati pada putrinya."
"Apa? kamu jatuh hati pada putri nya, berarti dia masih kecil."
Pak guru Wili terkekeh, mendengar perkataan dari Bastian temannya.
"Tentu saja, dia masih duduk di bangku SMA kelas tiga."
"trus.....!"
"Aku memintanya pada orang tua angkat, yang membesarkan nya."
"Wah dapat lampu hijau itu terus ..terus....!"
"Di benci!"
"Kok,Bisa ?"
" tentu saja bisa anaknya ngak suka aku."ujar pak guru Wili sambil tersenyum kecut, rasanya sedih dan kecewa tak mendapat kan balasan cinta dari gadis yang di cintai nya.
"Ha..ha. ha kasian kamu di anggap udah tua kali,"
Melihat wajah pak guru Wili tiba-tiba berubah sendu Bastian segera meralat ucapannya.
"Sorry.... sorry....!"aku cuma bercanda." ucap Bastian meralat ucapannya.
"Tapi apa yang kamu katakan benar, aku memang sudah tua." Keluh nya.
"ssshhh....banyak kok gadis suka dengan laki-laki tua, loe sabar saja pasti lama kelamaan gadis yang itu akan jatuh cinta juga."
"Ada hal aneh gadis itu juga di cintai mahkluk lain,"
"Maksud loe!"
"Dia punya kekasih bukan manusia."
"Serius.. !"
"Aku pernah melihat kehadiran nya di kamar Tania....dan... jangan... jangan...hari ini..aku balik dulu aku harus cek,"
Dengan buru buru Pak guru Wili bangkit dari duduknya dan berjalan menuju mobilnya.
"Hei....Bro..kamu kenapa?" kok buru buru begitu."
"Aku khawatir mahkluk itu nekad datang lagi dan aku harus cepat pulang..!" besok aku ke sini lagi."
Ketika langkah kaki pak guru Wili sudah sampai di depan pintu dia tertegun mendapati Clara berdiri di sana sambil senyum senyum.
"Clara...! kenapa kau disini"
"Aku menunggu Mas Wili, aku mau kita bisa jalan jalan,"
Pak guru Wili mengeryitkan dahinya.
"Aku sibuk..!"
"Aku yang samperin deh sampai mas Wili longar dan sudah tidak sibuk."ucap Clara menyakinkan.
Ekspresi wajah dari Pak guru Wili langsung mendelik mendengar perkataan Clara.
"Nekad benar nih anak," Gumam pak guru Wili dalam hati.
"Bagaimana..?"tanya Clara ingin tau.
"Ok, daaa..!"seru Clara girang sedangkan pak guru Wili hanya tersenyum kecut, bagaimana mungkin bisa menolak keinginan dari keponakan sahabat nya.
Sementara Tania yang sudah sampai di rumah langsung masuk menuju kamarnya. Kebetulan sang Ayah belum pulang dari tempat nya bekerja.
"Kenapa sih, anak anak pada reseh begitu andai bukan karena pesan Ayah aku juga tidak mau pulang pergi bareng guru membosankan itu," sungut Tania kesal dengan hati dan bibir yang masih ngomel ngomel Tania membuka pintu kamarnya dan melempar tas berat nya langsung ke atas Ranjang.
"Buuuuugh....!"
"Auuuuwwwh....!" suara jeritan orang dari atas Ranjangnya.
"Sayang....!"pelan pelan naruh tasnya sakit nih kepala kena hantaman nya,"
Mendengar suara mengaduh Tania mengamati Ranjang nya di mana ada sosok laki-laki berjubah hitam sedang terbaring di situ.
"Kau...Turun...!" dari Ranjang ku, siapa yang membolehkan mu tidur di sini hah...!"
"Eh....Eh...kok aku di marahi, bukannya pacar datang di sambut dengan manis ini malah di hantam tas sebesar itu dan bukannya minta maaf ini justru di marah marahi gimana sih..!"
"Perduli..!"ucap Tania sambil mendudukkan bokongnya di atas kursi yang ada di depan meja belajarnya.
Melihat gadis nya lagi dalam suasana tidak baik, Pangeran Tatius berjongkok di depan kursi di mana Tania sedang duduk di sentuh nya dengan lembut wajah Tania.
"Katakan...!" pacar aku lagi kesal kenapa?'
"iih... jangan pegang pegang, kuku kamu panjang bisa, melukai ku nanti" seru Tania seraya menepiskan tangan Pangeran Tatius.
"Ok....baik aku ngak akan pegang pegang, sekarang katakan Tania Kenapa pulang pulang kok marah marah.'
"Gimana ngak marah aku tuh di gosipin anak anak katanya simpanan Om....Om..! ingin rasanya ku robek tuh mulut.'" Sungut Tania kesal.
"Yaa....cuma di katain simpanan Om...Om .. marahnya sedunia, aku yang ngak salah dapat juga imbasnya, coba kalau teman temanmu tau kamu punya pacar bukan manusia, gimana apa kamu akan marah marah juga."tanya pangeran Tatius dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Apaan, sih..!"
"Kenapa, ngak jawab...!"
Tania bangkit dan mendorong tubuh Pangeran Tatius hingga jatuh terduduk dari jongkok nya kemudian membuka pintu kamar dan hendak melangkah keluar.
"Lho...mau kemana? pertanyaan ku belum di jawab."
"Laper...mau makan," ucap Tania santai sambil berjalan menuju dapur dan pangeran Tatius menggikuti nya dari belakang.
"Di jawab dong?" aku kan juga ingin tau."desak pangeran Tatius.
"Ngak penting!"
Ucapan Tania sontak saja membuat Pangeran Tatius mendelik.
Tanpa memperdulikan ekspresi dari wajah pangeran Tatius, dengan santai Tania mengambil Nasi dan lauk, merasa di cuekin Pangeran Tatius kesal juga, piring yang akan di gunakan untuk makan, sama Pangeran Tatius di terbangkan dengan tinggi.
"Tatius...! turunkan aku lapar..!"
"Di jawab, ngak?"
"Ngak!"
"Ya sudah ngak usah makan."ucap pangeran Tatius sambil tersenyum mengoda.
"Punya pacar bukan manusia itu ngak enak, ngak bisa di ajak jalan jalan ke mall....ngak bisa di ajak makan di restoran, ngak bisa di ajak ngedit, pokoknya menyebalkan tidak seperti Devan di ajak kemana mana bisa ...di ajak ngedit bisa di ajak ke mall bisa di ajak ke restoran juga bisa."tutur Tania lantang dan bersemangat.
Tania tak menyadari perubahan wajah pangeran Tatius yang tiba-tiba muram, dengan perlahan lahan di turunkan nya kembali nasi beserta lauk yang ada di piring Tania, pangeran menelan ludahnya dengan kasar.
"Begitu, ya..!"ucap Pangeran Tatius sendu dadanya terasa sesak mendengar Tania begitu membanga bangga kan Devan. Dengan gontai pangeran Tatius melangkah pergi. pergerakan Pangeran Tatius tak lepas dari tatapan mata Tania.
"Mau kemana?"
"Pulang..!"
"Kok, buru buru!"
"Kamu makanlah dan jaga kesehatan, aku pergi dulu."
Ketika pangeran Tatius hendak melesat terbang tangan Tania sudah menegang jubah panjang nya.
"Siapa yang mengijinkan mu pergi."seru Tania geram.
"Bukankah, aku tak berarti apa-apa, jadi untuk apa aku disini, sudah lah kamu lanjutan makan aku pergi dulu."
"Idih... jelek amat, Vampire bisa jeles juga."
"Perduli..!"seru pangeran Tatius.
"Hmmmm, marah Nih, ya sudah pergi...sana kalau memang ngak ada kangen buat aku."
"Kalau aku ngak kangen ngapain juga aku jauh...jauh datang ke sini.'sungut Pangeran Tatius kesal.
"Sudah datang tidak disambut dengan baik malah di hantam tas srkarang di banding banding kan,"
Menyadari kekasih nya lagi marah Tania mengambil kursi kecil dan diletakkan di depan pangeran Tatius setelah itu Tania Naik di atas kursi kecil, setelah merasa tinggi nya sejajar Tania dengan cepat ...
"Cup ..!" mendaratkan sebuah kecupan kecil di bibir Pangeran Tatius, yang sontak saja membuat Pangeran Tatius mendelik tak percaya. Usia memberikan kecupan Tania turun dari kursi dan dengan santai nya menikmati makan. Pangeran Tatius memegang bibir nya yang baru saja mendapatkan kecupan yang tiba-tiba membuat marahnya hilang bibirnya mulai menyunggingkan sebuah senyuman.
Tania yang pura-pura tidak tau mulai membuka percakapan.
"Katanya mau pergi...!" kok masih berdiri di situ, pergi sana...!
"Ngak jadi...!"
"lho kenapa?"
"Mau nungguin pacar makan."
"Hmmmm... bilang aja.. karena....
"Ting tong.....Ting Tong....!"
Tania dan Pangeran Tatius saling berpandangan.
"Ada yang datang..cepat pergi!" seru Tania panik.