
Hari sudah menjelang sore ketika Tania dan Devan sudah sampai di dalam Rumah. Setelah berbasa-basi sebentar dengan Ayah Tania Devan pamit undur diri untuk kembali ke Rumah nya, kini tinggallah Tania dan sang Ayah yang sedang berbincang di ruang tamu.
"Ayah, apakah benar Ayah menyetujui aku menikah dengan Devan dan apa benar Devan yang telah menyelamatkanku,"
"Kenapa, kau bertanya begitu, bukankah kamu sendiri yang telah menerima dan menyetujui pernikahan ini,"
Tania meringis mendengar perkataan sang Ayah yang justru memojokkan nya.
"Aku cuma ingin memastikan saja Ayah."ucap Tania kemudian dengan senyum di paksakan.
"Benar, Nak Devan lah yang telah menyelamatkan dirimu, Ayah harap kamu tidak lagi mengecewakan nya."
"Iya, Ayah aku mengerti." ucap Tania kemudian sambil tersenyum kecut, suatu senyum keterpaksaan yang mana sesungguhnya sangat sakit di dasar hatinya yang paling dalam karena dengan menerima Devan sudah tidak ada harapan lagi untuk bisa bersama dengan Tatius Kekasih nya, meskipun tidak di pungkiri untuk saat ini hubungan nya dengan Tatius di yakini sudah berakhir.
Dengan langkah lesu Tania masuk ke dalam kamar, merebahkan tubuhnya di atas Ranjang berharap agar bisa cepat memejamkan mata meskipun hari masih sore, hatinya betul-betul sedih, akan tetapi tidak bisa dia curahkan hanya bisa dia pendam dan simpan.
***
Di tempat lain di kota yang sama tampak seorang pemuda lagi mondar mandir di depan ruang tamu.
"Lama sekali pergi nya paman patih lembu ireng dia kemana saja sih, kalau sampai ketahuan warga paman Patih lembu ireng seorang Vampire maka sudah bisa di pastikan akan di tangkap para warga, kenapa ceroboh sekali, sudah kubilang jangan pergi lama-lama kenapa tidak mau mendengar kan," Sungut pangeran Tatius gusar.
Dalam kegelisahan dan kegusaran hatinya pangeran Tatius, tiba-tiba dari arah jendela berkelebat sebuah bayangan hitam dan berhenti tepat di hadapan nya.
"Paman..! kenapa kau lama sekali, hei mengapa wajahmu begitu tegang apakah paman ketahuan warga di kota ini?"tanya pangeran Tatius penasaran.
Wajah paman patih lembu ireng yang pucat dan tegang betul betul membuat pangeran Tatius menjadi sangat cemas, terlebih napas paman patih lembu ireng juga sangat ngos-ngosan.
"Tidak, Pangeran aku tidak ketahuan." jawab paman patih lembu ireng berusaha bersikap setenang mungkin.
"Apakah kau berkata benar, paman, lihatlah dirimu begitu pucat dan itu napas mu ngos ngosan begitu ayolah jangan berbohong kepada ku."desak pangeran Tatius ingin tau.
Paman patih lembu ireng Tersenyum mencoba menghilangkan kecurigaan yang di rasakan pangeran Tatius, paman patih lembu ireng harus bisa menyimpan rahasia kabar berita yang beredar di kota itu, di mana akan ada pernikahan segera antara Nona Tania dengan laki-laki manusia lain dan pangeran Tatius tidak boleh tau tentang hal itu karena bisa di pastikan jika sampai pangeran Tatius tau jika yang akan menikah adalah Kekasih nya dia bisa marah dan murka bahkan bisa jadi akan mengamuk di kota ini yang mana di khawatirkan akan jatuh korban, bagaimana pun juga Pangeran Tatius seorang Vampir.
"Paman sikap mu sungguh mencurigakan ayolah bicara yang jujur padaku" desak pangeran Tatius pada paman patih lembu ireng.
Paman Patih lembu ireng menelan ludahnya kemudian mencoba untuk Tersenyum.
"Pangeran kita harus cepat meninggalkan kota ini, kalau bisa malam ini juga Pangeran."
"Hei, paman! kenapa tiba-tiba kau mengajakku pulang, aku belum melihat dan meneliti makam Tania aku harus memastikan kalau dugaan ku itu benar, Tania masih hidup Paman."
"Pangeran Tatius harus ihklas dan sabar jangan khawatir, Nona Tania memang sudah Tiada aku sudah memastikan nya Pangeran." ucap paman patih lembu ireng berbohong. Sungguh dirinnya tak tega dan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Pangeran Tatius sampai tau kalau kekasihnya akan segera menikah.
"Apa pangeran tidak percaya padaku, pernahkah aku berbohong pada pangeran tidak kan jadi kali ini percaya lah padaku."
"Ah, sudahlah Paman, kalau paman sudah bosan pergilah Kembali ke istana biarkan aku sendiri di sini."
"Tapi, pangeran...!
Pangeran Tatius menggangkat tangan nya sebagai tanda agar paman patih lembu ireng berhenti bicara.
"Aku akan melihat nya, sekarang aku akan pergi ke makamnya di saat matahari mulai terbenam pasti tidak ada orang yang masuk ke area pekuburan jadi akan aman buatku untuk melakukan penyelidikan."
Dengan gerakan cepat Pangeran Tatius berniat hendak keluar Rumah dengan cara terbang melalui jendela akan tetapi tangan kekar paman Patih lembu ireng menahannya dengan kuat.
"Jangan Pangeran..!
Pangeran Tatius menghentikan langkah nya tatapan matanya yang tajam langsung menatap wajah paman patih lembu ireng yang menunduk.
"Paman, kenapa dari tadi aku merasa kau menghalangi ku, apa yang Paman sembunyikan dariku."
"Tidak ada Pangeran."
"Paman, apakah Paman pikir aku tidak bisa dan tidak mampu mencium gelagat mencurigakan dari paman, kalau paman tidak mau memberitahu biarlah aku sendiri yang akan mencari tau jadi lepaskan tanganku...! ucap pangeran Tatius dengan suara Penuh penekanan.
"Tapi, Pangeran.....
"Lepaskan, tangan ku Paman, ini perintah."
Dengan tubuh bergetar perlahan-lahan Paman patih lembu ireng melepaskan genggaman tangan nya, ucapan pangeran Tatius yang sangat keras dan kasar membuat hati paman Patih lembu ireng sedih, Karena selama ini dia belum pernah di bentak dengan keras oleh pangeran tatius, semua yang dia lakukan semata-mata hanya ingin pemuda tampan yang ada di depannya tidak terluka dan sedih, tapi apalah daya ternyata Pangeran Tatius sangat lah keras kepala, sehingga mau tidak mau paman Patih lembu ireng harus membiarkan nya.
Setelah gengaman tangan nya terlepas dengan cepat pangeran Tatius segera terbang melesat keluar melalui jendela, sedangkan Paman Patih lembu ireng menatap dengan tatapan khawatir.
"Apa yang akan terjadi jika sampai mereka bertemu dan Pangeran Tatius tau jika Non Tania memilih laki-laki lain, smoga tidak ada hal buruk yang akan terjadi Nanti." gumam Paman Patih Lembu Ireng dalam hati.
****
Di tempat lain, tepatnya di hadapan hamparan tanah yang luas dimana di sekeliling tempat itu terdapat banyak batu Nisan, Pangeran Tatius melangkah mendekati satu Nisan yang masih segar dengan beraneka bunga di atas tanah tersebut.
Pangeran Tatius menatap dengan tatapan penuh selidik, kemudian kedua tangannya yang sudah dialiri kekuatan tenaga dalam hendak di hentakkan ke atas tanah, akan tetapi Niat itu dia urungkan Ketika kedua telinganya yang tajam mendengar satu pergerakan langkah kaki yang sedang berjalan mendekati pemakaman Kekasih nya, dengan gerakan cepat Pangeran Tatius segera terbang melesat Naik keatas dahan pohon yang ada di sekitar tempat itu.
Dari atas dahan pohon yang tinggi pangeran Tatius bisa melihat ke bawah di mana terlihat lah tiga orang laki-laki sedang berjalan ke arah makam kekasihnya yang mana salah satu di antara mereka ternyata Ayah dari Tania.
"Ayah...!mau apa menjelang senja Ayah kesini dan mengapa membawa dua orang asing, siapa mereka dan apa keperluan mereka disini, apakah mau mendoakan dan mengapa memilih waktu menjelang akan gelap." pangeran Tatius terus bermonolog sendiri, dia benar-benar binggung semua ini.