
Dengan sangat berat hati pangeran Tatius memberitau kepada sang ibu bahwa Raja tak mengijinkan nya untuk ikut pergi bersamanya, bahkan Raja meminta Ratu Shima untuk datang menghadap di karena kan ada hal penting yang ingin dia bicarakan kepadanya.
Sangat terlihat jelas ada kekecewaan di wajah cantik sang Ratu Shima pasalnya Ratu Shima pun memiliki rencana ingin melihat dan bertemu dengan ibu kandungnya yang mana ketika datang ke istana Sangkala sang ibu sangat mengacuhkan nya, rencananya hancur karena Raja tak memberi kan ijin dengan berat hati Ratu Shima menerima larangan dan printah Raja.
Setelah meminta ijin kepada Ratu Shima Pangeran Tatius pergi meninggalkan istana Awang Awang Vampire tanpa sepengetahuan siapapun termasuk putri Lin Ying, karena jika sampai putri Lin Ying tau sudah pasti dia akan merepotkan dengan keinginan konyol nya yang selalu ingin dekat dan ingin bersamanya, bukan karena pangeran Tatius tak mengerti maksd dari putri Lin Ying tapi lebih kepada pangeran Tatius tidak ingin memberikan celah ataupun kesempatan untuk putri Lin Ying bisa masuk ke dalam hati nya.
Suasana pagi di belahan Bumi manusia, Tania sudah bersiap siap untuk berangkat ke sekolah dengan menenteng tas hitam di punggung nya.
"Selamat pagi Ayah!"
"Pagi, Sayang! apa kamu sudah siap ingin berangkat."
"Iya, Ayah."
"Sarapan dulu,"
Tania mengagguk dengan lahap Tania mencomot sepotong roti yang ada sosis dan telur di dalam nya.
"Makannya pelan pelan saja jangan buru buru!"
Karena mulut Tania penuh Tania Hanya mengagguk meskipun hati kecilnya berkata.
"Jika terlambat dan tidak cepat Guru reseh itu pasti lebih dulu datang dan pastinya susah untuk menolaknya." Gumam Tania dalam hati sambil sibuk mengunyah roti yang ada di tangan nya.
Merasa cukup Tania segera mencium tangan sang Ayah dan berjalan ke luar pintu dan di belakang nya sang Ayah mengantar dari pintu. melihat motor Devan sudah berada di halaman rumah nya Tania tersenyum, sambil melambaikan tangan nya tapi pada saat Tania akan Naik ke atas motor tiba-tiba sebuah suara mengejutkan nya.
"Tania..!"berangkat sama aku karena aku calon suamimu."
Suara aneh dan menyebalkan itu sontak saja membuat Tania mengurungkan niatnya untuk naik motor milik Devan dengan gerakan refleks Tania menoleh dan memicingkan matanya.
"Pak, guru Wili!" ini ngomong apa sih malu lah di dengar murid Bapak yang lain."
"Maksud mu malu sama Devan, begitu kan kenyataan nya kamu itu calon istri ku jadi ngak masalah kalau Devan tau."ucap Pak guru Wili seraya memegang tangan Tania dan menuntunnya masuk ke dalam mobi, Tania berusaha memberontak dia benar-benar jengkel dan kesal dengan sikap dan aksi Nekad guru yang ada di sampingnya.
"Cukup, pak! jangan memaksa aku tidak suka cara Bapak yang sudah kelewat batas, Bapak harus tau batasan antara murid dan guru jangan berbuat sesuka hati saja dan ya jangan sembarang bilang aku calon istri ngaco itu." sungut Tania kesal seraya melepaskan gengaman tangannya dari cengkeraman pak guru Wili dengan kasar.
Pak guru Wili menatap tajam wajah Tania, sangat terlihat jelas ada kemarahan di sudut matanya yang hitam, seperti nya pak guru Wili mencoba untuk tenang dan menyembunyikan kemarahan nya.
"Baiklah, aku ijinkan kamu berangkat dengan Devan dan aku tidak main main kamu memang benar calon istri ku, jika kamu ragu akan hal itu tanyakan langsung pada Ayahmu." ucap pak guru Wili seraya masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya meninggal kan Tania dan Devan.
Tania cukup terkesiap dengan ucapan pak guru Wili, dia tidak menyangka jika Ayahnya pun tau akan hal ini, spontan saja Tania berlari ke dekat pintu rumah nya di mana sang Ayah berdiri dengan senyuman manis di bibirnya.
"Ayah, apa yang di katakan pak guru Wili itu tidak benar kan Yah?"tanya Tania penuh dengan kecemasan.
"Nanti kita bicarakan hal itu setelah kamu pulang dari sekolah, sekarang berangkat lah, dan fokus lah belajar."
"Ayah, tidak terkejut itu artinya apa yang di katakan pak guru Wili semua nya benar, Ayah jawablah semua itu tidak benar kan Yah!"
"Tania, berangkat lah Nak, kasian Devan sudah lama menunggu dan bersikap baiklah pada pak guru Wili karena dia memang calon suamimu."
Duaarrr.. !" bagaikan petir yang menyambar di siang hari Tania di buat terkejut bukan main, dia tidak menyangka jika Ayahnya pun setuju jika dia dekat dengan pak guru Wili.
"Ayah. ..!" lirih Tania menatap tak percaya pada apa yang telah Ayahnya ucapkan.
"Nanti, Ayah akan jelaskan semua sekarang berangkat lah."
Dengan langkah lesu dan tak bersemangat Tania mendekati motor Devan, Tania dapat melihat tatapan mata Devan yang penuh dengan kekecewaan.
Tanpa sepatah kata pun Devan melajukan motornya dengan kecepatan sedang, sepanjang perjalanan Devan tak banyak bicara begitu juga dengan Tania kedua insan lain jenis itu sama sama larut dalam pemikiran nya masing-masing. Devan merasa kecewa dengan apa yang telah dia dengar, Begitu juga Tania dia begitu kecewa kenapa sang Ayah tega menjodohkan dirinya dengan pak guru Wili orang yang sangat dia benci karena kejahilan dan keresehan nya.
Hari ini betul-betul berbeda dengan hari hari sebelumnya, Tania menggikuti pelajaran tanpa banyak bicara bahkan hari ini Tania menjadi gadis yang tiba-tiba menjadi pendiam, Pak guru Wili yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya mencoba memahami apa yang gadis kecil itu rasakan.
Pelajaran sekolah pun usai Tania bermaksud pulang sendiri tanpa siapa pun tapi langkah nya di hentikan Devan yang sudah menunggu di atas motor.
"Ayo, Tania naik!"
"Tapi, Van!"
"Sudah, jangan berfikir yang aneh aneh aku tidak tau apa maksud dari Ayahmu menjodohkan mu tapi kamu perlu tau aku mencintaimu dan aku tidak perduli dengan perjodohan mu sebelum aku benar benar melihat ada janur kuning melengkung di rumah mu."ucap Devan mantap.
Tania yang tak menyangka Devan berani nekad menggungkap kan isi hatinya menggigit Saliva nya.
"Aku tidak bisa memberikan jawaban apapun padamu untuk saat ini." lirih Tania yang belum merasakan perasaan apapun pada Devan.
"Aku akan menunggu ayo Naik." Seru Devan.
Tania tersenyum senang karena Devan penuh pengertian dan tidak memaksa akan tetapi ketika Tania hendak naik ke atas motor tiba-tiba sebuah klakson berbunyi tepat di depan motor Devan sebuah mobil berwarna hitam berhenti dan keluarlah sosok tubuh manusia yang paling di benci Tania, berjalan mendekati nya.
"Ayo, Naik ke mobil."
"Pak guru Wili, ngapain sih kamu disini, aku mau pulang bareng Devan."tolak Tania.
"Kamu itu calon istri ku dan aku tidak mengijinkan mu pergi dengan laki-laki lain."ucapnya datar membuat Tania semakin muak dan kesal, dia merasa segala sesuatu nya harus di atur laki-laki yang ada di depannya.
Tanpa menunggu lagi jawaban dari Tania tangan pak guru Wili sudah mengengam tangan Tania dan mengajaknya menjauh dari tempat itu dan berjalan mobil hitam nya.
"Lepaskan, pak!" ini masih di sekitar sekolah, apa Pak guru Wili tidak malu jika ada beberapa murid lain yang akan menggunjing kita."
"Kenapa mesti malu kamu itu calon istri ku jadi akan ku bayar mulut mereka yang berani bicara yang tidak tidak tentang kita." ucap Pak guru Wili cuek.
Dengan terpaksa akhirnya Tania ikut dalam mobil pak guru Wili, di sepanjang perjalanan pulang suasana hening tak ada satupun di antara mereka yang mau memulai percakapan hingga mobil hitam itu memasuki pekarangan halaman Rumah Tania.
"Aku tidak ikut turun ya, aku akan datang nanti malam "
"Mendingan ngak usah datang." sahut Tania sinis sambil berlari masuk ke dalam rumah dan langsung membuka pintu.
"Sudah pulang Nak?"
"Iya, Ayah!
"Cepat ganti bajumu Nanti kita bicara, Ayah akan cerita kan sesuatu untuk mu."
"Baik, Ayah."
Dengan langkah malas Tania membuka pintu kamarnya kemudian mengunci dari dalam rasanya sungguh tidak nyaman dan Tania ingin beristirahat untuk sesaat, tapi ketika dia hendak merebahkan tubuhnya di atas Ranjang Tania menjerit... histeris ketika melihat sosok tubuh di sana dia sangat terkejut dengan gerakan cepat pula sosok tubuh itu membekap mulut Tania agar tidak berteriak.
"Aaaaaa.. !"
"Ssssssstttt ..!" jangan brisik."
"Kau.. .?" Tania membulat kan kedua bola matanya ketika mengetahui siapa yang ada di depannya.