The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab.149.HANCUR



Bibi Derbah yang terbang melesat kembali ke tempat di mana dia dan Pangeran Tatius berada dengan bibir Tersenyum hatinya sangat senang ketika melihat dan mendengar anak kecil itu berterimakasih padanya. Ketika sampai Bibi Derbah melihat pangeran Tatius sudah bangun dari tidurnya.


"Pangeran sudah bangun, cepat sekali!"


"Aku hanya lelah sedikit dan kita tidak akan tetapi di sini, ayo Bibi kita cari penginapan aku akan tinggalkan Bibi di sana untuk sementara, karena kalau kita tinggal di luar seperti ini takutnya kepergok sama orang, Nanti bisa kacau lagi, Bibi pakai ini baju dan cadar penutup agar gigi runcing dan kuku panjang kita tak terlihat manusia."


"Baik, pangeran tapi kenapa pangeran mau meninggalkan aku sendiri."


"Bibi, pernah muda kan aku ingin menemui seseorang dan tidak mungkin aku akan ajak Bibi jadi aku akan tinggalkan Bibi di penginapan nanti kalau aku sudah selesai aku akan kembali menemui Bibi dan kita akan melanjutkan perjalanan mencari mutiara hijau."


"Baiklah, pangeran aku akan menunggu sampai pangeran kembali."


Pangeran Tatius Tersenyum kemudian membawa Bibi Derbah pergi ke suatu pengginapan yang terletak tak jauh dari kawasan desa itu, dengan memakai cadar pangeran Tatius tidak mengalami kesulitan apapun ketika. berinteraksi dan berbincang dengan salah satu petugas pengginapan, karena pangeran Tatius tidak memiliki uang tunai seperti yang di miliki para manusia, pangeran Tatius hanya memberikan sebuah emas logam kepada sang petugas sebagai alat pembayaran untuk uang sewa.


Petugas yang sudah menyetujui dan mengijinkan pangeran Tatius bersama Bibi Derbah untuk tinggal di penginapan itu segera memberikan kunci kamar dan sengaja pangeran Tatius tidak meminta dua kamar melainkan hanya satu kamar, hal itu di karenakan, pangeran Tatius tidak tinggal di penginapan melainkan dia akan pergi untuk sementara waktu dan meninggalkan Bibi Derbah sendiri, sampai dia datang kembali.


"Bibi bagaimana kamar ini apa Bibi suka?"


"Sangat suka pangeran ini lebih baik dari pada kita tinggal di dahan pohon dan di tempat tempat terbuka dan di sini Bibi bisa tidur dengan nyaman tanpa ada yang mengaggu, sampai pangeran Tatius nanti kembali.


"Baiklah, Bibi.!" kalau begitu aku pergi dulu dan ingat Bibi tidak perlu keluar kamar jika tidak penting sekali," ucap pangeran Tatius menasehati.


"Siap pangeran!" Bibi akan selalu berhati-hati menunggu sampai Pangeran kembali."


"Untuk makan Bibi tidak usah khawatir, nanti akan selalu ada dan datang petugas dari penginapan untuk membawakan makanan bagi Bibi di sini, sudah ya Bik aku pergi dulu."


"Baik pangeran,!" hati-hati ya?"


Pangeran Tatius mengagguk kan kepala, kemudian melalui jendela kamar penginapan dia terbang melesat, meninggalkan Bibi Derbah.


"Sebenarnya pangeran mau menemui siapa ya? kenapa terlihat buru-buru dan tidak sabaran, apa pangeran memiliki sanak keluarga di belahan bumi manusia ini?" argh...pusing lebih aku beristirahat saja, tapi sebelum itu alangkah segarnya jika aku mandi, rasanya lengket lengket ini badan." gumam Bibi Derbah yang kemudian melangkah ke dalam kamar mandi.


Sementara Pangeran Tatius yang sudah melesat dengan cepat tidak menunggu lama dia sudah sampai di tempat yang dia tujukan, tanpa merasa bersalah dan takut, pangeran Tatius langsung masuk ke dalam sebuah kamar yang ukurannya tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil, dia masuk melalui atap langit langit yang terbuka di mana tidak seluruh ruangan tertutup rapat, mungkin di jadikan ventilasi udara sehingga ada celah yang cukup besar sehingga memudahkan pangeran Tatius keluar masuk kamar itu, andaikan para manusia bisa terbang dan di antara mereka adalah pencuri sudah pasti kamar yang tidak begitu luas dan tidak begitu sempit ini mudah di masukin maling, beruntung kaum manusia tidak ada yang bisa terbang sehingga kamar ini aman dari maling.


Bosan bertengger di atas pangeran Tatius turun dan ketika hendak menjatuhkan tubuhnya di atas kasur yang empuk tiba-tiba dia teringat dirinya belum mandi dirinya masih kotor.


"Sambil menunggu dia pulang aku mandi dulu saja dari pada badan lengket lengket begini."Gumam pangeran Tatius dalam hati.


Hanya membutuhkan waktu duapuluh menit Pangeran Tatius melakukan ritual mandinya, setelah merasa segar pangeran Tatius duduk di tepi ranjang sambil membolak balik beberapa buku yang pangeran Tatius sendiri tak mengerti apa isinya.


"Lama sekali sih pulang nya, apa lagi mampir kerumah si idiot itu, haisssh...!" kenapa aku jadi ikut ikutan ngatain idiot, nah ini gara gara Devan yang memperkenalkan orang dengan tidak benar, lebih baik aku bobo dulu lagi pula tanganku masih terasa ngilu dan sakit.


Dalam hitungan menit pangeran Tatius tertidur pulas dengan meneluk sebuah guling yang ada di dalam kamar itu.


Di tempat lain tepatnya di pertigaan jalan ada sebuah motor keren bermerk BMW K 1 600B berhenti di tengah jalan menghadang sebuah mobil yang ada di depannya.


Melihat seorang pemuda berdiri tepat di hadapan mobilnya dengan perlahan lahan sosok laki-laki itu keluar dari dalam mobil.


"Kau mau apa, mengapa kau menghadang jalanku?"tanya laki-laki itu dengan sikap tenang.


"Aku mau bicara padamu..!


Laki-laki itupun Tersenyum sinis.


"Kamu jangan kurang ajar, bersikap yang sopan, aku ini gurumu."


"Ha ...ha..ha...! aku tau kau guru ku tapi ketika kamu dan aku di dalam lingkup sekolah, tapi di luar itu kau bukan lagi guruku dan ya...kamu bisa mengatakan aku harus sopan karena kamu adalah guruku, lalu bagaimana dengan dirimu......sudah bisakah kau bersikap adil dan sopan juga...!"


"Apa maksud mu, minggir lah aku mau lewat, ini sudah terlambat."


"Ternyata kamu masih juga belum menggerti, di sekolah Tania murid mu, bukan Istri mu bukan calon istrimu jadi jagalah sikapmu, apa kamu tidak kasian, Tania sering jadi bahan gunjingan teman teman nya, kamu ngak akan tau karna kamu hanya memikirkan kesenangan mu dan kebahagiaan mu sendiri bukan perasaan Tania.


"Apa maksud mu?"bicara yang jelas." gertak pak guy Wili


"Buka matamu lebar lebar dan dengar kan ini?"


laki-laki yang ternyata adalah Devan memberikan sebuah hp yang berisi rekaman dari beberapa anak yang sedang mengunjung kedekatan Tania dengan gurunya.


"Dasar wanita murahan sama siapapun mau, bosan sama Devan sekarang gurunya pun di sikat juga jangan... jangan Tania di luar juga simpan Om...Om ..****** ha...ha..ha..,


"Braaaakk...pyarrr....!"


Hp yang dalam gengaman tangan pak guru Wili di banting ke lantai dengan sangat keras hingga membuat nasib Hp jadi hancur berantakan.


"Wooii... hapeku...., kenapa kau banting, sial rugi aku gara gara kamu? Sungut Devan kesal.


"Aku akan ganti, akan kuberikan pelajaran pada mereka."


"Ha.. ha. ha..Pak guru...Pak guru..!" apa kau mau lebih mempermalukan Tania sudah lah intinya pulang pergi kamu tidak usah berangkat bersama, Tania masih muda masih anak anak bagaimana pun tidak akan siap jadi ibu rumah tangga, kamu harus bisa menunggu nya lagi pula Tania belum memiliki rasa cinta padamu apakah pantas kamu memaksanya."seru Devan seraya mendekati mobil dan membukanya.


"Ayo, Tania kita pulang..!"


Devan mengengam tangan Tania dan membawanya Naik ke atas motor nya, wajah Tania terlihat muram ada setitik air mata disana.


"Sudah, jangan sedih, ayo..?'


"Hei..! jangan pegang pegang tangan calon istri ku."


"masih calon kan? belum resmi jadi akupun masih punya hak." Jawab Devan dengan menaiki motornya dan meninggalkan tempat itu. Tinggallah pak guru Wili yang sedang kesal dalam kemarahan nya di injak nya hp DeVan sampai tak berbentuk kemudian dengan cepat masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membuntuti motor Devan dari belakang.