
Dengan perasaan kesal Devan pergi kembali menuju kamarnya, di depan cermin Devan menatap wajahnya dari atas hingga bawah, bibirnya tersenyum kecut.
"Tatius benar, Aku hanya akan memiliki tubuh Tania bukan cintanya." Devan menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan seolah sedang melepaskan beban berat yang ada di dalam pikiran nya.
"Kau belum berangkat Van?"tanya sang Nenek yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar nya.
"Nenek, sebentar lagi Acaranya kan pukul 10.00, masih banyak waktu Nek, bukankah Nenek juga akan kesana?"
"Tentu saja, masak Aku tidak akan menghadiri pesta cucu tampanku ini, kita akan berangkat bersama dengan mobil yang sudah Nenek sewa."
"Tapi Aku tidak mau berangkat bareng Tatius Nek,"
"Ck, yang mau berangkat bareng kamu juga siapa, cepat pergi sana sebelum Tania berubah pikiran dan tidak mau menerima dirimu dan kamu tidak perlu khawatir karena Aku akan datang sebelum Acara kalian di mulai, pergilah cepat jangan buang-buang waktu.'ucap Pangeran Tatius menyela percakapan antara sang Nenek dan Devan.
"Issh, lagaknya sok, baik-baik saja padahal hatinya lagi hancuuuur, dasar Vampire jelek, kita lihat saja Nanti bagaimana, apakah kau akan tetap baik-baik saja ataukah kau akan pingsan."sinis Devan dalam hati.
Di tempat lain seorang pemuda sedang mengedor gedor sebuah pintu yang masih tertutup rapat, seolah olah Engan untuk membuka nya.
"Clara, buka pintunya, ini sudah pukul 8.00 cepatlah."terdengar dari dalam sebuah handel kunci pintu di buka.
"Brisik sekali kak, ada apa sih?"Clara bertanya sambil menaikkan satu alis matanya, sementara sang kakak menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan, dia benar-benar tidak mengerti mengapa adiknya Begitu terlihat baik-baik saja dan tegar, padahal orang yang telah merenggut kesucian nya sebentar lagi akan menikah dengan orang lain dan artinya apapun yang terjadi pada dirinya hanya dia sendiri yang akan menanggung bebannya, sungguh suatu sikap yang patut di di acungi jempol, hebat dan gadis yang memiliki sifat pantang menyerah dan terus bersemangat.
Sang kakak' meneguk ludahnya dengan kasar ketika mendapati sang Adik dengan santai membuka pintu dengan pasangan mata jenaka.
"Kau tidak sakit hati, atau kau tidak ingin membalas dendam dengan orang yang telah merenggut kesucian mu, kau bisa datang ke pesta pernikahan Tania dan kau bisa membuat Tania jijik bersanding dengan Devan jika kau mau mengatakan kalau Devan sudah meniduri dirimu aku yakin pesta pernikahan itu akan gagal dan Aku sangat yakin jika Tania tidak akan sudih lagi menerima Devan."
"Apa ada untungnya berbuat seperti itu Kak?"Aku akan mempermalukan orang disaat hari bahagia nya, Kak Aku memang sedih dan kecewa dengan apa yang Devan lakukan padaku, tapi Aku bukan manusia jahat tanpa perasaan, kakak harus memikirkan perasaan orang, akan ada banyak hati Nanti yang akan terluka, Tania akan terluka, Ayah Tania akan malu dan orang orang akan saling menghibah dan mencubir dan nama Devan akan hancur."
"Bodoh, sekarang apa kau pikir dirimu tidak hancur kau hanya menuntut hakmu, Devan harus bertanggungjawab atas semua perbuatannya, kamu jangan bodoh."
"Kak, cinta itu tidak bisa di paksa, apa artinya Aku mendapatkan Devan tapi hatinya bukan untuk ku."
"Bodoh kamu, kenapa harus memikirkan itu, yang penting kamu itu tidak dicampakkan begitu saja." sunggut Kakak Clara dengan wajah yang penuh dengan emosi, entah kesanbet apa sang adik bisa berfikir dewasa dan sebijak itu, padahal dirinya di posisi yang juga terluka.
Merasa kesal dan geram dengan sikap tenang sang Adik Robi mengambil sebatang rokok dan menghisap nya.
"Terserah padamu tapi Aku tidak mau membantu apa-apa jika suatu saat lo hamil dan anak Lo tanpa Ayah, Aku tidak mau kau jadikan Aku Ayah pura-pura nya."
"Tenanglah kak, Aku tidak akan hamil dan jika kakak sudah tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, lebih baik kakak pergi, Aku mau istirahat sebentar."
"Clara, apa kamu sudah pikirkan baik-baik itu,"
"Kak Robi jangan khawatir."Ucap Clara menjelaskan.
Karena sang Adik bersikeras akhinya, Robi meninggalkan sang Adik dengan hati geram. Sementara Clara Kembali menutup pintu kamar nya, ketiika Clara hendak merebahkan tubuhnya di atas Ranjang tiba-tiba ponselnya bergetar, pertanda satu panggilan masuk, sejenak Clara mengamati nama sang penelepon, dan ketika mengetahui siapa yang sedang menghubungi dirinya,Clara kembali berjalan dan Naik ke atas Ranjang mengabaikan satu panggilan telepon yang tak lain dari Devan.
Karena tak kunjung di anggakat maka telpon itu terus bergetar, merasa berisik dengan panggilan telepon segera Clara mematikan nya.
"Mau apa lagi dia, lebih baik mulai saat ini aku tidak akan menemui dirinya lagi," lirih Clara dengan tersenyum kecut, akan tetapi rupanya si penelpon tidak peduli terbukti benda pipih Clara masih terus berdering.
"Halo...halo...halo...Clara jawab, Aku mau bicara."
"Bicara saja Aku sudah mendengar kan."
"Shiittt, ini cewek dingin amat sih," gumam Devan. dalam hati,"Angkat telpon nya Aku mau bicara,"
"Kenapa harus berteriak-teriak, tidak perlu berteriak telinga ku sudah mendengar namanya."
"Aku mau tanya apa kau akan datang ke pesta ku ini, Aku harap kamu tidak usah datang karena Aku yakin kamu akan mengacuhkan nya."
"Jangan khawatir, Aku tidak akan datang, dan kamu bisa melangsungkan pernikahan kamu dengan tenang."
"Awalnya Aku mau begitu, aman tanpa ada yang mengaggu, tapi masalah nya Aku takut kamu justru bertindak yang lebih, yang membuat ku terpojok, kau bisa menyuruh polisi untuk menangkap ku untuk itu, Aku putuskan kau Harus datang ke acara ku ahar Aku bisa mrmgggawasimu."
"Jangan khawatir Aku tidak akan melakukan hal itu, jadi kau bisa menikah dengan tenang."
"Tetap tidak bisa, Aku tidak bisa percaya dengan mu jadi buktikan saja ucapnmu, kamu harus datang kesini dan jangan lupa pakai baju yang sudah Aku titipkan pada Pembantu mu ingat, semua orang yang hadir di sini Nanti akan memakai baju sama baju berwarna putih jadi cepat datang dan Pakai baju itu karena Aku juga harus mengawasi mu bisa-bisa kamu berbuat nekad dan mempermalukan Aku."
"Baik, jika kamu tidak percaya Aku akan datang dan kamu bisa mengawasi semua pergerakan ku." Sunggut Clara kesal sambil mematikan ponsel hpnya.
Devan mendelik mendengar perkataan gadis yang ada di dalam sambungan telpon yang mana tentu saja tidak dilihat gadis itu.
"Bener bener gadis aneh,"
Sang Nenek yang duduk di sebelah nya mengeryitkan dahinya.
"Kenapa Van, dan siapa yang sedang kamu telpon?"
"Bukan siapa-siapa Nek,"Ucap Devan sambil membenarkan letak duduknya, hari ini Devan bersama Nenek dan Kakek serta beberapa pemuda yang ada di kota itu mengantar keberangkatan Devan menuju ke Rumah mempelai Wanita, dengan baju yang sengaja hari ini di sama kan, sehingga tidak ada perbedaan yang mencolok antara tamu undangan dan mempelai.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang yang tak lama kemudian sampai di depan Rumah mempelai wanita.
Di dalam Rumah sudah penuh dengan para tamu undangan terdekat seperti tetangga dan mereka semua sudah pada datang.
Devan yang turun dari dalam mobil langsung disambut kedatangan nya. dan di bawah ke sebuah kamar rias.
Sementara Pangeran Tatius dan paman Patih lembu ireng yang datang dengan terbang juga sudah sampai di tempat pesta pernikahan, Mereka memilih duduk di luar dan tidak masuk ke dalam.
"Pangeran yakin mau membiarkan Non Tania hidup bersama dengan si jelek Devan,"
"Tentu saja emangnya kita bisa buat apa?"
'"Hais, Pangeran lagaknya kayak gak paham saja, Pangeran bisa menculik Non Tania dan membawanya kabur."jawab paman Patih Lembu ireng menjelaskan yang mana langsung membuat Pangeran Tatius mendelik dan memukul pelan kepala paman Patih lembu ireng.
"Aku, bukan laki-laki pengecut jadi tidak akan pernah hal rendah itu Aku lakukan."sinis Pangeran Tatius sambil mendudukkan bokongnya di kursi kecil yang ada di luar rumah.