
setelah kepergian Pangeran Tatius yang terbang melesat meninggalkan Sein Zee bersama Caolin yang jatuh akibat di dorong oleh Pangeran Tatius. Sein Zee membantu Caolin bangkit dari terjatuhnya.
"Ayo bangunlah hapus air matamu Jangan menangis lagi, rencana kita sudah berhasil." ujar Sein Zee pada Caolin.
dengan air mata yang masih terus mengalir Caolin menatap wajah Sein zee dengan tatapan yang sendu. melihat sahabatnya Caolin menatapnya dengan Tatapan yang tidak bisa diartikan apa itu, Sein Zee mendekati Caolin sambil mengusap air mata yang jatuh di pipinya.
"Jangan menangis lagi terima kasih kau sudah berkorban untukku," ucap Sein Zee pada kaolin dengan memeluk tubuh Caolin dengan perasaan haru dan bahagia.
Sementara Caolin dengan cepat melepaskan pelukan dari sahabatnya Sein Zee.Apa yang dilakukan Caolin padanya membuat Sein Zee terkejut tak mengerti mengapa sahabat nya seperti engan menerima pelukan darinya.
"Maaf, Sein Zee! aku tidak sepicik itu, untuk mencelakakan seseorang, Tania celaka karena ulahnya sendiri bukan aku, karena aku tidak berbuat apapun padanya, Tania tertarik pada bunga Dewi Air yang mana tumbuh dan bermekaran di bibir tebing, Tania mengambil nya sendiri tanpa meminta bantuan ku dan aku ketika begitu bodoh dan ceroboh tidak menyadari nya dan Ketika aku sadar tubuh Tania sudah lebih dulu terbawa arus sungai dan aku tidak mampu mengejar nya kemampuanku tidak cukup untuk itu."
"Apa..?"Tania terbawa Arus ..!
Sebuah suara yang tiba-tiba muncul dari belakang dan menghampiri mereka berdua yang tak lain itu adalah suara dari Devan.
"Kau siapa?" tanya Caolin yang merasa asing dengan wajah orang yang ada di depannya.
"Aku, pacarnya Tania...!ucap Devan tegas yang langsung mendapat kan hadiah injakan kaki dari Clara.
"Maksdku temannya Tania, ralat Devan takut dapat injakan kaki lagi dari Clara yang memaki sepatu dengan Hak tinggi, maklum saja tubuh Clara tidak lebih tinggi dari Tania untuk itu Clara memilih sepatu dengan hak tinggi agar tubuhnya bertambah beberapa sentimeter agar bisa menyamai tinggi tubuh Tania itu yang di katakan Clara ketiika Devan menegur Clara saat memilih menggunakan sepatu hak tinggi.
"Iya... Tania terbawa Arus air sungai," jawab Caolin dengan perasaan yang penuh bersalah.
"Kok bisa! Tatius mana?" tanya Devan dengan emosi.
"Pangeran Tatius sedang menuju ke sungai dimana Tania terbawa arus."
"Kurang ajar, benar benar cowok tidak bertanggung jawab awas kau kalau sampai terjadi sesuatu dengan pacar ku ku bunuh kau Vampire jejak."
"Hei ...teman bukan pacar, aku ini yang pacarmu,"seru Clara komplin.
"Iya.. .ya, lupa memori Tania lebih kuat dari memori mu jadi harap maklum."
"Kau....
"Sudah ...kau tunggu di sini aku akan mencari Tania." seru Devan pada Clara.
"Tidak.... tidak aku mau ikut, Tania juga temanku, jadi aku juga mau mencari nya."ucap Clara pada Devan.
"Aku, juga!" sahut Caolin yang langsung mendapat kan anggukan dan tanpa membuang buang waktu Clara, Devan dan Caolin segera pergi menuju Sungai.
Tinggallah kini Sein Zee yang masih terpaku di situ hati dan pikiran nya begitu tak karuan di sisi lain dia sangat senang dan bahagia atas hilangnya Tania yang mana telah membuat dan memberikan luka karena hadirnya Pangeran Tatius berubah dan cintanya pun berpindah tapi jika di balik kan lagi di tegok dan di teliti dengan seksama, apa yang di lakukan nya bagaikan pungguk merindukan bulan, bagaikan bumi dengan langit, bagaikan api dan air yang mana selamanya tidak akan pernah bisa bersatu dan menyatu.
Sein Zee Kembali menelan ludahnya dengan kasar, merasa kan pahit dan getir nya sebuah cinta yang bertepuk sebelah tangan. Dengan langkah gontai Sein Zee memutuskan pergi ke sungai di mana Caolin dan yang lain sudah pergi ke sana.
Sementara Pangeran Tatius yang sudah sampai segera melesat terbang dan masuk ke dalam aliran sungai, bagaikan adegan adegan dalam film tio buki... sebuah film kolosal dari Negeri cina di mana seorang pendekar sakit berjalan di atas air tanpa tenggelam, begitu lah yang dilakukan Pangeran Tatius, dia terus mencari dan menyusuri sungai sambil berteriak memanggil manggil nama Tania.
Tidak lama kemudian muncul dan sampai juga Devan dan teman temannya.
"Bagaimana ini?" seru Clara pada Devan yang melihat aliran sungai yang cukup deras.
"Kita harus bisa menyebrangi ini air."jawab Devan.
"Aku tau sayangku Devan...!tapi masalah nya di negeri Vampire ini tidak ada perahu ataupun sampan yang mana bisa membawa kita ke sana, ini Negri Vampire yang mana akalnya ngak ada yang bisa buat perahu."jawab Clara dengan perasaan bingung, meskipun terkadang kehadiran Tania membuatnya cemburu karena sang Kekasih Devan lebih perhatian kepadanya dari pada kepada dirinya yang resmi sebagai pacar tapi tetap saja Clara juga mencemaskan keadaan Tania.
"Tunggu...! aku pikirkan dulu." ucap Devan sambil memijit mijit kepala nya berharap muncul satu ide cemerlang di sana.
"Apa?" tanya Clara dan Caolin secara bersamaan.
"Kita pakai, Debok pisang?"
"Apa, itu debok pisang?" Tanya Clara dan Caolin lagi lagi bersamaan seperti perpaduan suara yang harus menggeluarkan bunyi bersamaan.
"Itu ..!pohon pisang, disini ada pohon pisang kan?" tanya Devan pada Caolin.
"Ada....!"
"Kalau begitu bagus cepat bawa kesini potongan batang pisang sepanjang dua meter, ingat!" dua meter bukan dua sentimeter, Nanti salah lagi, bangsa Vampire kan ngak ada yang sekolah jadi sudah pasti bodoh bodoh dan Dialah Devan, yang pling pinter di negri Vampire meskipun jika di Negri manusia Devan yang paling bodoh buktinya selalu dan selalu mendapat kan hukuman dari Pak Guru Willi lebih lebih soal matematika.
Caolin yang sudah paham akhirnya mengagguk pasti dan dengan cepat terbang melesat mencari pohon batang pisang, bukan dahan pohon pisang. tidak berapa lama kemudian Caolin sudah datang dengan membawa batang pohon pisang.
Devan yang menerima beberapa batang pohon pisang segera merakit nya sebagai alat untuk perahu sebuah rakitan sederhana, lebih jelasnya bentuk dan pola gambar perahu dari batang pohon pisang lihat di geogel saja ya... Autor tidak bisa menjelaskan secara terperinci juga tidak bisa upload gambar takut ada hak cipta nya gaes, he...he...he... harap memaklumi.
Setelah Devan menyelesaikan Rakitan perahunya, Devan, Clara dan Caolin segera memasukkan Batang pohon pisang itu ke dalam air, yang kemudian mereka bertiga menaikinya.
Perahu antik milik Devan bisa melihat keberadaan Pangeran Tatius yang sedang kebinggungan mencari jejak dari Tania.
"Tatius....! tunggu ! awas kau," seru Devan dari jarak yang cukup jauh akan tetapi teriakan dari suaranya yang keras mampu di dengar Pangeran Tatius yang langsung dengan gerakan refleks menoleh ke sumber suara.
"Mampus, gue! Devan, juga tau Tania tidak ada !"keluh Pangeran Tatius dalam hati.
Sementara Devan mempercepat laju dari perahu sederhana nya.
"Van ..pelan pelan! nanti kita kecebur lho," seru Clara yang merasa takut.
"Tenang, Clara! aman kalau lo masih takut tuh pegangan sama Vampire di samping mu itu."
"Enak saja, nyuruh nyuruh begitu, Kenapa tidak menyuruh ku berpegangan padamu saja."Sungut Clara kesal.
"Tidak bisa, aku mau jotos tuh Tatius menjaga satu cewek saja tidak becus,"Sungut Devan kesal.
Clara membuang muka karena kesal
"Lagi-lagi yang ada di otak Devan cuma nama mantan idola hatinya, cuma Nama Tania, kapan namaku ada di otaknya,"Gumam Clara dalam hati.
Setelah jarak antara Devan dan Tatius cuma tinggal beberapa sentimeter dengan berkacak pinggang Devan menantang Pangeran Tatius. Di mana Pangeran Tatius sengaja menunggu perahu batang pohon pisang Devan dekat dengan dirinya.
"Hei... Tatius! Vampire jelek, cepat kau temukan Tania, awas kalau terjadi apa apa padanya aku akan bunuh kau...!ucap Devan keras dan emosi "Dasar pacar tidak bertanggung jawab."sungut Devan emosi yang kemudian karena gatal ingin memukul tangannya langsung terbang melayang ke wajah tampan pangeran Tatius.
"Plaaaaakk.... plaaaaakk...!" Dusssssss....!" dua kali tamparan untuk pipi kanan dan kiri di sertai satu jotosan keras di perut pangeran Tatius, membuat Pangeran Tatius meringis menahan sakit Namun tidak berniat membalas nya.
Satu Adegan keras yang tidak pernah di lihat Caolin, seorang manusia biasa berani memukul seorang Pangeran dan yang lebih membuat Caolin tertegun Pangeran Tatius tidak marah ataupun membalasnya. Bahkan dengan santai Pangeran Tatius mulai menginjakkan kakinya pada perahu Devan.
"Hei...jangan gila Lo, mau apa Lo berdiri disini, cepat pergi cari Tania sampai ketemu..!" gertak Devan dengan suaranya yang lantang dan keras.
"Aku pusing, biarkan aku duduk sejenak di sini!"ucap Pangeran Tatius lemah.
"Hei ..hei tidak bisa, kau harus mencari Tania sekarang juga cepat..!aku takut terjadi apa-apa dengan nya," seru Devan panik, pasalnya Devan sadar akan kemampuan nya dan kemampuan dari pangeran Tatius, Devan tidak akan bisa menemukan Tania dengan mudah tapi kalau Tatius pasti bisa.
"Tatius kau harus cepat mencari nya, jangan sampai terjadi apa-apa sama Tania..?
"Diamlah, Devan...! aku juga lagi berfikir ini jangan brisik saja."seru Pangeran Tatius yang hilang kesabaran nya.