The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab.320.DI OBATI



Tania semakin meringis menahan sakit karena pangeran Yasza yang masih mencengkram tangan nya dengan kuat.


Pangeran Yasza bangkit dari tidur tengkurap nya seraya melepaskan cengkraman tangannya yang mana kini tangan nya membuka baju atas nya, membuat Tania menjerit dan membalikkan badannya.


"Hei....! ngapain Lo berteriak seperti gadis yang baru saja kehilangan ke pra wanannya."


"Lagian kamu mau apa? kenapa buka baju segala."


"Obati punggung ku cepat, ini sakit."


Pangeran Yasza menunjukkan punggung nya yang putih bersih terdapat beberapa goresan memanjang seperti luka cambuk.


Tania yang melihat itu diam-diam Tersenyum.


"Rasain pasti habis di cambuk Tatius tuh "


Melihat Tania belum bergerak mengobati lukanya Pangeran Yasza Kembali berteriak.


"Cepat tunggu apa lagi..!"


"Iya-iya,"


Meskipun malas Tania menerima perintah dari Pangeran yasza tiba-tiba terlintas dalam pikirannya.


"Dulu, Tatius suka ketiduran kalau punggung nya di pijit dengan pelan apakah Vampire jelek ini juga bisa begitu, akan aku coba."Gumam Tania dalam hati yang mana kini tangannya sibuk memberikan obat oles pada punggung pangeran Yasza.


Apa yang di pikirkan Tania ternyata benar sdikit demi sedikit suara Pangeran Yasza tak terdengar, bahkan ketika Tania bertanya Tania tidak mendapatkan jawaban.


Merasa penasaran Tania segera melihat dan mengintip lebih dekat lagi dan ternyata benar Pangeran Yasza tertidur pulas.


Perlahan-lahan Tania turun dari Ranjang tanpa menimbulkan bunyi dan dengan langkah berjinjit sandal kaki dia lepas, Tania melangkah menuju pintu yang mana kebetulan ketika Pangeran Yasza masuk lupa tidak menguncinya.


Dengan sangat pelan pintu itupun dia buka dan ketiika Tania sudah sampai di luar Tania mengambil nafas lega dan segera berlari menjauh dari Puri Istana kepribadian Pangeran Yasza.


"Aku harus mencari Tatius tapi kemana, aku tidak tau Tatius di tahan di sebelah mana apa yang harus aku lakukan."


Menengok ke kiri dan ke kanan ketika di rasa aman Tania Kembali melangkah akan tetapi langkah kakinya terhenti ketika mendengar beberapa suara berisik sedang berjalan ke arahnya cepat cepat Tania bersembunyi di balik perabotan dan rimbunan pohon yang sengaja di taruh untuk memperindah pemandangan.


"Sial, Nasib kita benar benar apes aku tidak pernah bermimpi jika kita akan jadi bahan percobaan pemukulan cambuk dari pangeran Yasza,"


"Benar, kurasa Pangeran Yasza sedang seetre ss, makanya bertingkah gila."


"Betul itu, beruntung cuma dua Cambukan coba kalau lebih mampus kita, badan kita remuk menjadi bulan bulanan cambuk dari Pangeran yasza."


"Hei, tapi aku penasaran dengan perkataan Pangeran Yasza yang bilang tawanan yang di cambuk nya tidak merasakan sakit."


"Ah ya, aku juga dengar itu, masa benar pemuda itu tidak merasakan sakit, coba aku lihat kalian mau ikut tidak."


"Ikut, aku juga penasaran."


"Kalau begitu, Ayo ..!


Ke lima Prajurit kerajaan Ambarwata bergegas pergi meninggalkan tempat itu dan Tania yang mendengar kan percakapan mereka segera keluar dari persembunyiannya.


"Aku harus menggikuti mereka, siapa tau yang di maksud mereka adalah Pangeran Tatius."


Setelah berjalan hampir limapuluh meter jauhnya akhirnya Tania melihat kelima Prajurit kerajaan Ambarwata membuka sebuah bangunan gedung yang terlihat sangat kecil mungkin di dalam nya hanya akan cukup untuk dua kamar, lagi-lagi Tania bersembunyi agar ke lima prajurit kerajaan Ambarwata tidak tau jika ada yang diam diam menggikuti nya.


"Ayo, buka...!


perintah salah satu dari ke lima Prajurit kerajaan Ambarwata.


"Aku tidak mau, aku takut kalau pangeran Yasza tiba-tiba muncul bagaimana?"


"Tidak apa-apa, sebentar saja setelah itu kita pergi pasti Pangeran Yasza tidak akan tau."


"Baiklah...!jawab salah satu prajurit kerajaan Ambarwata yang mulai membuka pintu.


Sementara di dalam tampak seorang pemuda sedang merintih dan meringis kesakitan.


"Busyet, dia memukulku habis-habisan, bagaimana aku bisa keluar dari tempat ini laki-laki brengsek itu mengunakan kekuatan tenaga dalamnya untuk mengunci semua yang menggikat ku."


Ketika Pangeran Tatius sibuk bermonolog sendiri tiba-tiba terdengar suara pintu di buka dengan cepat pangeran Tatius berpura-pura tidur.


"Ayo, masuk aku sangat penasaran dengan pemuda itu."


Akhirnya ke lima Prajurit kerajaan Ambarwata masuk bersama sama, ketika sampai di dalam mereka berlima sama sama tercengang.


"Astaga.....parah sekali."


"Benar, luka cambuknya sangat banyak tapi dia justru tertidur."


"Bukan tidur tapi pingsan mungkin.'


"Bodoh orang pingsan tidak akan seperti itu,"sahut salah satu prajurit kerajaan Ambarwata.


Di luar Tania sedang berfikir bagaimana mereka berlima bisa keluar dengan cepat dari ruangan itu, setelah beberapa menit sibuk berfikir akhirnya Tania menemukan ide, perlahan lahan Tania mengambil batu yang ada di sekitar tempat itu dan Segera Tania lemparkan batu itu


pada pintu.


"Braaakkk.....!


Suara benda keras menghantam pintu membuat ke lima Prajurit kerajaan Ambarwata langsung berdiri dan saling berpandangan.


"Pangeran Yasza datang ayo cepat kita pergi dari sini sebelum kita ketahuan."


"Ayoo....!


prajurit kerajaan Ambarwata segera berlari keluar ruangan tinggalah satu orang prajurit yang belum berlari ke luar.


"Malang benar nasibmu anak muda aku yang cuma merasakan di cambuk dua kali merasakan sakit yang sangat apalagi kamu dan kebetulan aku baru saja mengobati luka Cambuk ku dengan obat manjur oles dari tabib kerajaan, ini aku tinggalkan untuk mu kau bisa mengobati lukamu sendiri agar sakit nya sedikit berkurang." Seru Salah satu prajurit kerajaan Ambarwata yang usianya sedikit tua dan setelah mengucapkan itu laki-laki itupun segera berlari keluar menggikuti beberapa temannya yang sudah berlari keluar lebih dulu.


"Aku tidak akan kunci Pintu nya semoga kau bisa kabur anak muda."desis laki-laki sedikit tua sembari keluar ruangan.


Tania yang melihat pintu itu tidak di kunci Tersenyum senang.


"Bagus rupanya pak tua itu lupa tidak mengunci nya ini akan semakin memudahkan aku untuk masuk.


Dengan cepat Tania masuk ke dalam ruangan, setelah menutup pintu dan pandangan matanya dia edarkan ke seluruh ruangan terlihat sepi dan kosong, tiba-tiba Tania Melihat sebuah tirai dengan ruang kamar yang kelihatan nya kecil, perlahan-lahan Tania membuka tirai penghalang itu dan alangkah terkejutnya dia ketika melihat siapa yang sedang duduk dengan keadaan terikat kaki dan salah satu tangannya.


Dengan tubuh penuh luka cambuk, Tania hampir menjerit melihat pemandangan yang ada di depannya, tubuhnya bergetar hebat kedua bola mata indahnya mulai berkaca-kaca.


"Ta-tatius..!seru Tania lirih yang mana langsung membuat pemuda itu mendongakkan wajahnya dimana ketika Tania membuka tirai pangeran Tatius dalam keadaan berusaha membuka obat oles yang di berikan laki-laki tua padanya yang mana obat oles itu di letakkan di tangan kiri pangeran Tatius yang tidak di ikat.


Melihat Gadis nya berada di depan nya senyum pangeran Tatius mengembang.


"Tania, sayang..! kenapa kau di sini ."


"Tatius...! seru Tania untuk yang kedua kali sambil berlari menghambur masuk dsn memeluk tubuh Pangeran Tatius dengan di iringi derai air mata.


"Auuw...!"ringis Pangeran Tatius ketika Tania mendekap dan memeluknya.


"Maaf, sakit ya?tanya Tania dengan wajah khawatir.


"Sangat sakit, sayang, tapi sekarang sakitnya sudah hilang."


"Kok, bisa!"


"Kan udah ada kamu jadi ngak sakit lagi."


"Tatiuuuuuss.....!aku serius jangan bercanda."


Pangeran Tatius Tertawa lebar sambil membelai rambut Tania dengan salah satu tangan nya dimana Tania duduk di lantai bawah dengan merebahkan kepalanya diatas panggung kekasih nya.


"Tatius, lukamu parah sini biar aku obati."


"Serius, mau mengobati, ngak takut lihat darah begini, ngak usahlah sayang Nanti juga sembuh sendiri."


"Ngapain takut, sini obat oles nya."


Pangeran Tatius menyerah kan obat oles yang ada di tangan nya.


Dengan sangat lembut dan hati-hati Tania mulai mengolesi luka cambuk pangeran Tatius dengan obat oles yang ada dengan sesekali Tania meniup agar tidak terasa perih, sementara pangeran Tatius memandang tak berkedip apa yang dilakukan kekasih nya. sangat lembut dan telaten itulah yang dilakukan Tania hingga luka cambuk dari pangeran Tatius hampir seluruh nya terobati.


Sangat asik dan sibuk sendiri sendiri Tania sibuk mengobati sedangkan Pangeran Tatius sibuk memandangi kekasih nya. hingga tidak sadar jika sudah ada sepasang mata yang berdiri di depan mereka dengan mata merah padam dan dengan tangan yang menggepal dengan sangat kuat.