The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab.27.RUANG ANEH



Kilau cahaya kuning yang ada di dalam bingkai


foto itu.


Dengan ragu ragu namun juga dengan rasa


penasaran Tania mendekati bingkai foto itu.


"Tidak ada yang aneh, biasa saja, gambar foto


ini, cuma di tangan nya ada tanda bintang kecil


berwarna ke emasan, tapi kenapa sinar kilau


nya bisa menembus keluar ya, ini kan cuma


foto, kok sinar kilaunya seolah olah ini nyata


mungkin aku tadi salah lihat, kilau sinar cahaya


itu bukan berasal dari tanda bintang ditangan


gambar foto itu, tapi sinar cahaya matahari


yang kilaunya masuk melalui lobang lobang


dinding kecil, tapi lobang mana, disini tidak


ada lobang, disini ruangannya kecil memanjang


dan tertutup bahkan jendela juga tidak ada,


ya sudahlah, mungkin tadi aku salah lihat.


Bergegas Tania mengambil piring dan hendak


keluar ruangan itu.


"Ya...aku lupa,"Tania menaruh telunjuk tangan


nya di dahinya.


"Aku belum mematikan lampu di ruangan itu,


aku harus mematikan lampu dulu, kita harus


bisa hemat listrik, tidak boleh boros, harus


bisa menggunakan listrik dengan hemat, itu


kata bu Tri, guru IPA , agar listrik tidak cepat


habis, maka kita harus menggunakan listrik


seperlunya saja, hi hi..hi..hi.. Tania terkekeh sendiri mengenang pelajaran yang di berikan


guru cantik nya.


Tania adalah siswi yang memiliki nilai tertinggi


dari pelajaran IPA, yang di bimbing Bu Tri


semua yang berhubungan dengan pelajaran


IPA, Tania jago nya, namun Tania menjadi


siswi yang memiliki peringkat Sepuluh besar


dari bawah dalam mata pelajaran Matematika.


meskipun guru nya sangat tampan dan menarik


namun tetap saja Tania, tidak bisa menggikuti


pelajarannya dengan baik, terlebih saat ini


saat ini Tania begitu benci dengan guru


matematika nya yang pernah membuat


harga dirinya jatuh.


Mata indah Tania menengok ke kiri dan ke kanan, disapunya semua yang ada di dalam


ruangan itu.


"Duuuh, dimana tombol untuk mematikan


lampunya, kok ngak ada disini, bukankah


seharusnya dekat pintu ini, kok ngak ada.


Tania terus melangkah lebih dalam ke dalam


ruangan kecil namun panjang.


"Astaga...!di ujung itu tombolnya, waduh,


kalau aku matikan trus ruangan nya gelap


aku bisa seperti orang buta yang meraba raba


agar sampai di pintu luar sana, aku harus


menggunakan akal, tunggu.


Seperti anak kecil Tania kembali berlari ke pintu


"Disini, start nya aku akan menghitung dari sini


ke ujung sana berapa langkah, agar nanti


kalau lampu sudah ku matikan dan gelap gulita


aku bisa mereka reka berapa jarak dari pintu


ke tempat tombol lampu itu.


"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh,


delapan, ya delapan langkah dari sini kesana


dan dari sana kesini, ok, sekarang aku siap


mematikan lampunya.


sekejap ruangan itu berubah menjadi gelap


gulita.


Dengan cepat Tania menghitung langkah


kaki nya agar sampai di ujung pintu.


"Satu, dua,...."Belum ada tiga langkah Tania


sudah berteriak histeris.


"Astagfirullahaladhim, Dengan cepat Tania


menaruh tangannya di dada dan memejamkan


mata langkah kakinya terhenti karena kaget


dan tertegun, untuk beberapa saat Tania


diam Namun kemudian mengambil langkah


seribu.


Tania berlari dan sampai di pintu, tangannya


yang berpegang pada daun pintu dengan


badan membungkuk karena habis berlari dan


nafasnya tersengal segal dan badan bergetar


Tania menoleh kebelakang.


"Kenapa lampunya menyala sendiri, meskipun


takut, namun rasa penasaran pun tak bisa


dicegah membuat Tania kembali' melongokan


kepalanya ke ruangan itu.


"Ini bukan cahaya lampu, karena warnanya


tidak putih, lalu kenapa tiba-tiba ruangan itu


bisa terang, apa yang membuat ruangan itu


terang.


Takut tapi juga penasaran itulah yang lagi


menghantui pikiran Tania dengan sisa keberanian Tania bermaksd melihat


dan cek kembali keadaan ruangan yang ada


di dalam situ, namun belum juga kaki


Tania melangkah masuk tiba tiba terdengar


seruan.


"Tania...!ada, apa tidak piringnya, kenapa lama ?


"Ada, Nek..! Sebentar."


Tania mengurungkan niatnya untuk mencari


tau asal dari cahaya terang di kamar itu, dengan


cepat bergegas ke ruang makan dengan


membawa piring yang dia ambil dari ruang


aneh menurut nya itu.


"Ayo, Tania, kita cepat makan biar, kita bisa ngobrol dengan santai."


"Sekarang, juga bisa ngobrol dengan santai, ya Nek tidak usah menunggu, selesai makan."


Sang Nenek tersenyum, tapi tatapan Nenek


berubah menjadi lebih Tajam.


Merasa di pandang dengan pandangan yang


aneh Tania menjadi rikuh.


"Kenapa, Nenek menatap ku begitu?"


"Apa, kamu habis berlari, kenapa kening mu


menggeluarkan keringat."


Dengan cepat Tania meraba keningnya dan


menyeka keringat yang tiba-tiba muncul.


"Tidak Nek, cuma gerah sedikit kan ini


cuacanya tidak begitu bersahabat, mendung


tapi tidak hujan jadinya panas."


"Baiklah, ayo habis kan makanan kalian,


Nanti kita ngobrol di ruangan Nenek, untuk


kamu Devan bantu Nenek, memanen


tomat dan cabe, nanti Nenek cuma mau


bicara berdua dengan Tania,"


"Baik Nek,"


Setelah makan siang selesai Nenek langsung


mengajak Tania ke ruangannya sedangkan


Devan pergi ke halaman belakang untuk


memanen tomat dan cabe.