
Kilau cahaya kuning yang ada di dalam bingkai
foto itu.
Dengan ragu ragu namun juga dengan rasa
penasaran Tania mendekati bingkai foto itu.
"Tidak ada yang aneh, biasa saja, gambar foto
ini, cuma di tangan nya ada tanda bintang kecil
berwarna ke emasan, tapi kenapa sinar kilau
nya bisa menembus keluar ya, ini kan cuma
foto, kok sinar kilaunya seolah olah ini nyata
mungkin aku tadi salah lihat, kilau sinar cahaya
itu bukan berasal dari tanda bintang ditangan
gambar foto itu, tapi sinar cahaya matahari
yang kilaunya masuk melalui lobang lobang
dinding kecil, tapi lobang mana, disini tidak
ada lobang, disini ruangannya kecil memanjang
dan tertutup bahkan jendela juga tidak ada,
ya sudahlah, mungkin tadi aku salah lihat.
Bergegas Tania mengambil piring dan hendak
keluar ruangan itu.
"Ya...aku lupa,"Tania menaruh telunjuk tangan
nya di dahinya.
"Aku belum mematikan lampu di ruangan itu,
aku harus mematikan lampu dulu, kita harus
bisa hemat listrik, tidak boleh boros, harus
bisa menggunakan listrik dengan hemat, itu
kata bu Tri, guru IPA , agar listrik tidak cepat
habis, maka kita harus menggunakan listrik
seperlunya saja, hi hi..hi..hi.. Tania terkekeh sendiri mengenang pelajaran yang di berikan
guru cantik nya.
Tania adalah siswi yang memiliki nilai tertinggi
dari pelajaran IPA, yang di bimbing Bu Tri
semua yang berhubungan dengan pelajaran
IPA, Tania jago nya, namun Tania menjadi
siswi yang memiliki peringkat Sepuluh besar
dari bawah dalam mata pelajaran Matematika.
meskipun guru nya sangat tampan dan menarik
namun tetap saja Tania, tidak bisa menggikuti
pelajarannya dengan baik, terlebih saat ini
saat ini Tania begitu benci dengan guru
matematika nya yang pernah membuat
harga dirinya jatuh.
Mata indah Tania menengok ke kiri dan ke kanan, disapunya semua yang ada di dalam
ruangan itu.
"Duuuh, dimana tombol untuk mematikan
lampunya, kok ngak ada disini, bukankah
seharusnya dekat pintu ini, kok ngak ada.
Tania terus melangkah lebih dalam ke dalam
ruangan kecil namun panjang.
"Astaga...!di ujung itu tombolnya, waduh,
kalau aku matikan trus ruangan nya gelap
aku bisa seperti orang buta yang meraba raba
agar sampai di pintu luar sana, aku harus
menggunakan akal, tunggu.
Seperti anak kecil Tania kembali berlari ke pintu
"Disini, start nya aku akan menghitung dari sini
ke ujung sana berapa langkah, agar nanti
kalau lampu sudah ku matikan dan gelap gulita
aku bisa mereka reka berapa jarak dari pintu
ke tempat tombol lampu itu.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh,
delapan, ya delapan langkah dari sini kesana
dan dari sana kesini, ok, sekarang aku siap
mematikan lampunya.
sekejap ruangan itu berubah menjadi gelap
gulita.
Dengan cepat Tania menghitung langkah
kaki nya agar sampai di ujung pintu.
"Satu, dua,...."Belum ada tiga langkah Tania
sudah berteriak histeris.
"Astagfirullahaladhim, Dengan cepat Tania
menaruh tangannya di dada dan memejamkan
mata langkah kakinya terhenti karena kaget
dan tertegun, untuk beberapa saat Tania
diam Namun kemudian mengambil langkah
seribu.
Tania berlari dan sampai di pintu, tangannya
yang berpegang pada daun pintu dengan
badan membungkuk karena habis berlari dan
nafasnya tersengal segal dan badan bergetar
Tania menoleh kebelakang.
"Kenapa lampunya menyala sendiri, meskipun
takut, namun rasa penasaran pun tak bisa
dicegah membuat Tania kembali' melongokan
kepalanya ke ruangan itu.
"Ini bukan cahaya lampu, karena warnanya
tidak putih, lalu kenapa tiba-tiba ruangan itu
bisa terang, apa yang membuat ruangan itu
terang.
Takut tapi juga penasaran itulah yang lagi
menghantui pikiran Tania dengan sisa keberanian Tania bermaksd melihat
dan cek kembali keadaan ruangan yang ada
di dalam situ, namun belum juga kaki
Tania melangkah masuk tiba tiba terdengar
seruan.
"Tania...!ada, apa tidak piringnya, kenapa lama ?
"Ada, Nek..! Sebentar."
Tania mengurungkan niatnya untuk mencari
tau asal dari cahaya terang di kamar itu, dengan
cepat bergegas ke ruang makan dengan
membawa piring yang dia ambil dari ruang
aneh menurut nya itu.
"Ayo, Tania, kita cepat makan biar, kita bisa ngobrol dengan santai."
"Sekarang, juga bisa ngobrol dengan santai, ya Nek tidak usah menunggu, selesai makan."
Sang Nenek tersenyum, tapi tatapan Nenek
berubah menjadi lebih Tajam.
Merasa di pandang dengan pandangan yang
aneh Tania menjadi rikuh.
"Kenapa, Nenek menatap ku begitu?"
"Apa, kamu habis berlari, kenapa kening mu
menggeluarkan keringat."
Dengan cepat Tania meraba keningnya dan
menyeka keringat yang tiba-tiba muncul.
"Tidak Nek, cuma gerah sedikit kan ini
cuacanya tidak begitu bersahabat, mendung
tapi tidak hujan jadinya panas."
"Baiklah, ayo habis kan makanan kalian,
Nanti kita ngobrol di ruangan Nenek, untuk
kamu Devan bantu Nenek, memanen
tomat dan cabe, nanti Nenek cuma mau
bicara berdua dengan Tania,"
"Baik Nek,"
Setelah makan siang selesai Nenek langsung
mengajak Tania ke ruangannya sedangkan
Devan pergi ke halaman belakang untuk
memanen tomat dan cabe.