The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab 274. TAMPARAN



Patih Ramboka yang kesal dengan sikap Ratu Derbah yang mulai bersikap dingin dan mengacuhkan dirinya, Patih Ramboka berjalan dengan sangat cepat dan tergesa-gesa menuju bar yang ada di dalam istana kerajaan, di mana bar itu sengaja di buat untuk melepaskan kepenatan para prajurit, sebenernya tidak diijinkan untuk mabuk dan oleng di tempat itu karena semua hanya untuk melepaskan kejenuhan dan kepenatan semata, akan tetapi para prajurit yang sedikit bandel selalu melangar larangan itu dan selama tidak mengaggu dan merugikan orang lain Raja tidak melarang dan tidak memberikan hukuman pada yang melakukan nya.


"Benar benar sial..! dia sudah berani' menolak ku," dengus patih Ramboka sambil mendudukkan bokongnya di kursi ketika sudah sampai di bar. "Pelayan..!cepat berikan aku minum."seru patih Ramboka dengan menggebrak meja hal itu membuat beberapa orang yang ada di sana ketakutan, mereka sangat mengenal patih Ramboka yang sangat kejam ketika memberikan pelajaran pada siapa saja yang berani membantah perintah nya.


Tak lama kemudian datanglah seorang pelayan dengan membawa satu botol anggur berwarna merah dan meletakkan nya di atas meja.


"Silahkan, Tuan!" ucap pemuda itu dengan menundukkan kepalanya sebagai ungkapan rasa hormat.


Ketika pemuda itu hendak melangkah pergi dengan cepat Patih Ramboka berdiri dan menghentikan langkah kakinya.


"Tunggu....!'


Pemuda yang tadinya hendak pergi terpaksa menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke sumber suara di mana Patih Ramboka sedang berjalan ke arahnya.


"Iya, Tuan..!"apa ada yang bisa saya bantu." ucap pemuda itu dengan tenang dan dengan sikap yang cukup sopan dan santun.


Patih Ramboka menatap pemuda itu dari atas sampai bawah dengan mengeryitkan dahinya. Sedangkan pemuda yang di tatap dari atas sampai bawah mulai merasa tidak nyaman dengan tatapan aneh dari Patih Ramboka.


"Ke-kenapa, Tuan, melihat saya dengan tatapan begitu?"


Patih Ramboka tidak langsung menjawab bibirnya justru menyunggingkan sebuah senyuman yang tak mampu di cerna apa maksud dari senyuman nya itu, yang jelas apa yang dilakukan Patih Ramboka membuat pemuda itu harus mengatur irama detak jantung nya yang tiba-tiba mulai berdetak dengan tidak teratur akibat rasa takut dan was-was yang entah darimana tiba-tiba datang menghampiri nya.


Beberapa kali pemuda itu menelan ludahnya dengan kasar, melihat tingkah dan sikap Patih Ramboka yang sungguh aneh.


Tanpa disadari dan di duga sebelumnya, Patih Ramboka yang tadinya cuma memandang dan melihat nya dari atas sampai bawah tiba-tiba menghajarnya tanpa dia tau apa kesalahan nya.


"Duuuuuuuss....!"


"Auuwwh....! Tu-tuan, apa yang kau lakukan padaku, apa salahku Tuan."


"Duuuuuuuss....!"Kembali patih Ramboka memberikan tendangan lagi pada pemuda yang ada di hadapannya.


"Tu-tuan...! apa salahku!"seru pemuda pelayan minuman yang jatuh tersungkur di tanah akibat dua kali tendangan dari Patih Ramboka, yang tidak ada hujan tidak ada angin tiba-tiba memberikan tendangan kepada seorang pelayan minuman di Bar.


Patih Ramboka dengan wajah dingin dan tatapan mata yang tajam segera berjongkok dan dengan gerakan cepat mencengkram krah dari pemuda itu.


"Siapa, kau..!"


"Sa-saya pelayan minuman di sini Tuan."


Mendengar jawaban dari pemuda itu patih Ramboka tersenyum miring dengan posisi masih berjongkok dan mencengkram kuat krah pemuda itu.


"Siapa, kau..!"tanya Patih Ramboka untuk yang kedua kali masih dengan tatapan mata yang tajam dan nada yang penuh dengan penekanan.


"Sudah saya bilang Tuan, saya pelayan disini."


"Bohong..! beraninya kau membohongi ku, pengawal...!"


"Siap, patih!"


"Bawa pemuda ini ke ruangan yang ada di samping bar, masukkan dan ikat dia di sana!"


"Aku, mau kau bawa kemana?apa salahku, Tuan Patih tolong jelaskan padaku apa salahku."teriak pemuda itu sambil memberontak ketika pengawal istana menarik tubuhnya dengan paksa.


Sampai di tempat dimana ruangan itu terletak di samping bar, pengawal itu segera menggikat pemuda, pelayan bar.


"Hei. .. lepaskan kenapa aku di ikat?"


"Aku tidak tau , aku hanya menjalankan perintah mungkin kau telah membuat kesalahan untuk itu patih Ramboka sangat marah padamu."


"Tolong, lepaskan aku! percayalah aku tidak melakukan kesalahan apapun." pinta pemuda itu memelas berharap pengawal itu bersimpati padanya dan melepaskan ikatannya.


"Maaf, teman, aku tidak berani, aku pergi dulu."


"Hei .. tunggu! tolong jangan tutup pintu nya lepaskan aku, tolong... lepaskan aku." teriak pemuda itu histeris. Namun semua teriakan nya sia sia karena tidak ada yang akan perduli dan berani melepaskan nya. "Sial...! kenapa di istana ini ada orang yang tidak waras begitu di jadikan seorang patih, pasti Raja nya juga sama tidak penuh nya benar benar kerajaan Amburadul." desis pemuda itu dengan geram dirinya sungguh tidak mengerti mengapa harus di pukul dan di ikat padahal jelas jelas dirinya tidak melakukan kesalahan apapun.


Dalam keresahan dan kekesalan hatinya samar samar pemuda itu Mendengar suara derap kaki yang mana diyakini pasti itu langkah kaki dari orang yang telah dengan semena mena memukul nya, orang yang belum meminum apapun yang artinya belum mabuk, tapi sudah mabuk duluan, bagaimana tidak mabuk duluan jika tanpa alasan Langsung memukul orang yang tidak bersalah bahkan sekarang menggikat nya, bener bener menjengkelkan. "Andai aku punya kuasa di kerajaan istana Awang Awang Vampire ini sudah pasti aku hajar balik itu orang." Sungut pemuda itu dengan kesal.


Tak lama kemudian terdengar suara pintu di buka.


"Krieeeekkkk....!"bunyi suara pintu yang terbuka lebar dan menampakkan sosok laki-laki kekar dan sedikit berisi.


"Apa maumu? kenapa kau menggikatku," seru pemuda itu yang tak lagi merasa takut dan tak sudih lagi bersikap santun dan hormat.


Patih Ramboka menutup pintu dengan perlahan, kemudian bibirnya yang tebal dan hitam menyunggingkan sebuah senyuman yang mana hanya Patih Ramboka sendiri yang tau makna dari senyuman nya yang jelas itu bukan senyuman manis atau senyuman kekaguman.


"Di sini tidak ada orang lain selain dirimu dan diriku, sekarang jawab dengan benar siapa dirimu."


Mendengar perkataan patih Ramboka pemuda itu tertawa dengan keras


"Apa kau bodoh dan tuli, sudah ku bilang aku pelayan di sini, tugasku memberikan pelayanan minum bagi siapa saja tamu yang berkunjung di Bar itu."


"Aku tidak bertanya tentang itu, aku tanya tentang dirimu? siapa dirimu jawab."teriak Patih Ramboka dengan keras, kali ini emosinya tersulut Kembali.


"Hei, patih mabuk! aku heran dengan mu kenapa kau bertanya cuma itu itu saja, sudah asal kamu tau jawaban ku akan tetap sama "


"Kurang ajar, kau! Plak..!"sebuah tamparan mendarat di pipi pemuda yang terikat, hingga membuat pipi pemuda itu menjadi merah karena bekas tamparan.


"Kau..! menamparku tanpa aku melakukan kesalahan sungguh kau patih gila."


"Apa, kau bilang berani kau padaku." geram Patih Ramboka dengan mencengkram kuat leher pemuda itu, andai tidak dalam keadaan sadar pastilah pemuda itu sudah mati akibat dari cekikikan nya, Patih Ramboka masih dalam keadaan sadar sehingga dia dengan cepat juga melepaskan cekikikan nya.


"Patih Ramboka memalingkan wajahnya membrlak, pemuda yang sedang terbatuk-batuk akibat cekikikan dari Patih Ramboka.


"Dengar....kau bisa membohongi siapapun tapi kau tidak akan bisa membohongi ku, aku Patih Ramboka bisa dengan mudah mengetahui jika kamu bukan prajurit kerajaan Istana Awang Awang Vampire, siapa kamu jawab ....?"


"Deg ...! tiba-tiba wajah pemuda itu menjadi pias dan pucat sungguh dia tidak menyangka sama sekali jika ada orang yang mampu dan dengan mudah menggenali dirinya.


Berkali-kali pemuda itu menelan ludahnya dengan kasar.


"Akankah penyamaran dan Rahasia ku akan terbongkar hari ini, apa yang harus aku lakukan, bagaimana mungkin aku bisa tertangkap secepat ini ternyata Patih kerajaan Awang Awang Vampire bukan orang biasa bukan orang sembarangan, jadi ini yang dia tanyakan sejak tadi, jadi Patih ini sudah mencurigai ku, lalu aku harus bagaimana."keluh Jung Xiang seorang prajurit mata-mata dari Kerajaan Ambarwata.