The Vampire Princes First Love

The Vampire Princes First Love
Bab.137.PINGSAN



Keadaan yang kacau karena aksi duel antara pangeran Tatius dan ke empat sang anak buah pembajak, satu lawan empat tapi kedudukan tak menguntungkan bagi ke empat anak buah sang pembajak karena Pangeran Tatius lebih menguasai area pertandingan.


Senjata yang digunakan para anak buah pembajak terbilang senjata amatiran di mana sangat mudah di lumpuhkan dan di taklukkan, karena keadaan itulah yang membuat sang Boss mengeluarkan tembakan ke arah Pangeran Tatius.


Tembakan yang meluncur sangat cepat membuat siapapun pasti sulit untuk menghindari nya, akan tetapi tidak untuk pangeran Tatius yang memiliki Indra penciuman yang sangat tajam dan insting yang cukup tinggi, hingga kehadiran timah panas yang melesat dengan sangat cepat dapat dia ketahui, dengan gerakan sangat cepat pula Pangeran Tatius menangkap tubuh sang anak buah pembajak kemudian menjadikan nya alat penangkal timah panas maka yang terjadi timah panas itu melesat dengan cepat menembus pada bagian da da sebelah kanan sang anak buah pembajak, maka terdengarlah erangan yang menyayat hati dari bibir sang anak buah pembajak dengan darah segar yang mulai keluar dari dalam tubuhnya.


"Auuuuwwwh....!" Boss ka..uuu....menbakku."


serunya sebelum kemudian akhirnya anak buah sang pembajak itu pingsan.


Melihat temannya tertembak dan pingsan ketiga anak buah sang pembajak mulai menyerang Pangeran Tatius dengan membabi buta, begitu juga dengan sang Boss pembajak dia mulai menembak kan berkali-kali timah panasnya, pangeran Tatius yang juga diliputi dengan emosi yang tinggi karena para anak buah sang pembajak berani melecehkan gadis yang bersamanya pangeran Tatius menyerang tak kenal henti, melompat dan terbang kemudian menendang para anak buah sang pembajak dan mengaggkat tinggi tinggi meja yang ada di dekatnya untuk digunakan sebagai penangkal timah panas milik sang Boss pembajak yang selalu melesat ke arahnya.


"Berkali-kali timah panas milik sang Boss pembajak gagal melukai Pangeran Tatius hingga timah panas milik sang Boss pembajak kehabisan peluru hal itu di gunakan Pangeran Tatius untuk menyerang sang Boss pembajak dengan kekuatan yang di miliki nya.


Pangeran Tatius melompat menendang menangkap tubuh sang Boss pembajak, karena tak miliki senjata lagi, pangeran Tatius bisa dengan mudah menangkap nya dan memberikan tendangan kaki yang cukup kuat hingga membuat sang Boss pembajak tersungkur di tanah, tanpa memberikan kesempatan dan ampunan lagi Pangeran Tatius menginjakkan kakinya pada tubuh sang Boss pembajak yang hanya dengan sekali tekanan saja, pastilah sang Boss pembajak akan mati terbang ke neraka.


"Hentikan serangan kalian, jika tidak, akan ku bunuh boss kalian ini."seru Pangeran Tatius lantang.


"He-hentikan...aku bisa mati"Teriak sang Boss pembajak kepada para anak buah nya.


"Tapi, Boss! Vampire ini telah membuat temanku pingsan.'


"Sudah !"aku Boss kalian aku perintahkan hentikan serangan kalian."


"Baik, Boss!"


"Hei... manusia Vampire, lepaskan boss ku, urusan kita akan ku anggap selesai."


"Ha...ha. ha.. melepaskan mu mudah sekali kau bicara, apa kau pikir aku bodoh mau melepaskan kalian dengan mudah."


"Brengsek, apa lagi !"yang kau inginkan manusia Vampire."


"Turuti perintahku, cepat ikat Boss kalian."


"Baik, aku mau tapi kau harus bisa menyelamatkan temanku yang tertembak itu."


"Baik!" itu mudah, sekarang cepat kau ikat Boss kalian."


Dengan berat hati ketiga anak buah sang pembajak akhirnya menuruti perintah Pangeran Tatius dengan menggikat sang Boss mereka.


"Maaf, Boss! kami terpaksa demi nyawa teman kita ."ucap salah satu anak buah sang pembajak.


Sang Boss pembajak tak bisa berkata apa-apa selain mendelik dan membulatkan kedua bola matanya, sebagai tanda ucapan kesalnya.


"Sudah, ku turuti perintah mu sekarang cepat buat temanku agar tidak mati."


"Ambilkan, pisau!" teriak Pangeran Tatius.


"Apa?" pisau, untuk apa, kau mau menyakiti kami, rupanya.'


"Turuti saja perintah ku,"


"Tapi...!"


"Kenapa, tidak mau? kalau tidak mau terserah yang jelas Sebentar lagi temanmu akan mati karena darahnya sudah banyak yang keluar."


Setelah mengucapkan itu pangeran Tatius melangkah mendekati Bibi Derbah yang mana air matanya kini berubah menjadi senyuman.


"Trimakasih, pangeran!" kau sungguh pangeran yang sangat bertanggung jawab kau mempertaruhkan nyawamu demi melindungi ku,"


"Ah, Bibi bisa saja, silahkan masuk ke dalam jangan khawatir mereka tidak akan ada yang berani macam macam lagi dan aku akan menunggu Bibi di sini sambil mengawasi mereka."


"Baik, Pangeran, aku pergi dulu," pamit Bibi Derbah kepada Pangeran Tatius. pangeran Tatius memilih duduk dengan kaki menyilang, terlihat lah salah satu anak buah sang pembajak berjalan mendekati tempat pangeran Tatius.


"Baiklah, aku akan ambilkan pisau tapi cepat tolong selamatkan nyawa teman ku dan jangan bohongi kami."


"Baiklah, cepat bawa ke sini pisaunya."seru Pangeran Tatius datar.


Bergegas salah satu anak buah sang pembajak mengambil pisau dan memberikan nya kepada pangeran Tatius.


"Ini!"


Tanpa berniat menjawab ataupun mengagguk pangeran Tatius segera berjalan mendekati anak buah sang pembajak yang tergeletak pingsan karena timah panas yang menembus pada da da nya.


Melihat pangeran Tatius membolak-balik kan pisau di depan sang teman salah satu anak buah sang pembajak berteiak dengan lantang.


"Apa, yang akan kau lakukan jangan bilang kau justru ingin membunuh teman kami."


"Tenanglah, kenapa kamu khawatir sekali."


Pangeran Tatius menatap tajam pisau yang ada di tangan nya sebelum kemudian di gunakan untuk merobek baju sang anak buah pembajak.


"Hei..,!Apa yang kau lakukan kenapa kau menyobek baju temanku."


"Diamlah jangan brisik, cukup kamu jadi penonton dan lihat hasilnya."


Pisau tajam yang di tangan Pangeran Tatius dengan cepat masuk kedalam kulit sang anak buah pembajak kemudian dengan sangat hati-hati pisau itu mengeluarkan peluru yang menembus da da sang anak buah pembajak, setelah peluru itu berhasil di kelurahan dan darah yang mengalir di tutup dengan kain agar darahnya berhenti mengalir, Pangeran Tatius kemudian berdiri.


"Tunggu lah, sebentar lagi temanmu akan sadar dan dia sudah melewati masa kritis nya."


"Trimakasih,"


Pangeran Tatius hanya mengagguk pelan kemudian pergi mendekati pintu rumah di mana Bibi Derbah sudah berdiri menunggu nya.


"Kenapa berdiri di sini Bibi, ayo masuk lah kita beristirahat di dalam dan biarkan mereka berada di luar."


Tanpa membantah Bibi Derbah pun kembali masuk ke dalam rumah.


"Kalian tetap di luar jangan ada yang berani masuk ke dalam," seru Pangeran Tatius memberikan peringatan.


Ketiga anak buah sang pembajak pun mengagguk patuh. Pangeran Tatius masuk dan duduk di depan Bibi Derbah.


"Besok kita lanjutkan perjalanan sekarang Bibi pergilah beristirahat."


"Pangeran apakah sebaiknya pangeran minta bantuan mereka untuk menyelam melihat ke dasar laut apakah mutiara hijau ada disana Atau tidak."


"ide yang bagus, besok akan ku perintah kan mereka untuk mencari, sekarang Bibi beristirahat lah, aku akan berjaga di sini."


Bibi Derbah segera masuk ke dalam kamar dan beristirahat sementara Pangeran Tatius tak mampu memejamkan matanya pikiran nya melayang, menggingat kembali saat saat bersama dengan gadis yang di cintai nya.


"Sedang apa Tania sekarang, dia merindukan aku atau tidak ya?" kangen juga,"lirih pangeran Tatius sebelum dirinya pun terlelap dalam mimpi.