
Malam yang pekat dengan mengeluarkan bunyi guntur yang menggelar nglegar angin bertiup kencang Pangeran Tatius, bersama Nenek dan paman Patih lembut ireng terbang melesat dengan kecepatan tinggi.
Pangeran Tatius dengan penuh kasih membawa sang Nenek terbang bersama nya. Tak lama kemudian mereka sudah sampai di depan Rumah dimana selama ini pangeran Tatius tinggal.
Cuaca dan suasana yang gelap mencekam masih terus terjadi, bahkan rintik hujan kini juga mulai menghampiri, Pangeran Tatius yang sudah berada di dalam kamarnya diam dalam keadaan terlentang sambil menatap langit-langit kamar, pikiran nya begitu resah kini hatinya merasa sangat bersalah dengan apa yang telah menimpa kakeknya, semua terjadi karena ulah keegoisan nya sehingga membuat sang kakak menderita.
Berkali-kali Pangeran Tatius mengusap wajahnya dengan kasar, kali ini dia benar-benar menyesali perbuatannya.
"Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa membawa kakek kembali ke sini. " Pangeran Tatius terus bermonolog sendiri."kembalilah kek aku berjanji akan mengikhlaskan Tania aku tidak akan lagi egois, aku akan biarkan Tania bahagia dengan orang yang dia cintai, ayo Kek, berikan petunjuk mu, aku harus berbuat apa agar aku bisa menyelamatkan mu dari penjara langit-langit, aku juga berjanji setelah pernikahan Tania selesai aku akan kembali kerajaan awang awang Vampir, aku akan berlapang dada dan aku akan menunjukkan pada Tania bahwa aku senang dan bahagia dengan pernikahan nya."
Pangeran Tatius terus bermonolog sendiri sampai tertidur, pintu yang tidak terkunci membuat Nenek bisa dengan mudah masuk ke kamar pangeran Tatius, entah mengapa rasanya sang Nenek juga ikut merasa bersalah dengan apa yang telah membuat Pangeran Tatius begitu melakukan kekonyolan yang mana justru merugikan dirinya sendiri, beruntung Kakek pangeran Tatius datang tepat pada waktunya sehingga pangeran Tatius bisa lolos dari penjara langit.
Sang Nenek menatap lekat lekat wajah dari pangeran Tatius cucunya, bibirnya tersenyum dan membelai penuh lembut sebelum akhirnya keluar dari kamar.
Di kamar yang berbeda Paman Patih lembu ireng juga tak kalah resah nya, pikiran nya juga terus melayang membayangkan apa yang akan terjadi esok, menggingat keadaan langit dan alam sekitar masih terlihat sangat mencekam.
Paman Patih lembu ireng bangun dari tidur berbaring nya, dia berjalan mondar mandir dengan sesekali mengusap wajahnya dengan kasar, bagaimana pun juga Raja sangkakala adalah Rajanya dan untuk itu paman Patih lembu ireng harus bisa membantu dan menolongnya, karena sebagi abdi dan panglima kerajaan Paman patih lembu ireng ikut bertanggungjawab atas keselamatan sang Raja.
Raja langit murka karena Langit dibuat kacau dan alam di buat tidak karu-karuan akibat keris yang menancap pada langit sehingga keris itu menggeluarkan seluruh kekuatan yang ada di dalamnya dan seandainya keris itu bisa lepas dan kembali lagi kedalam kerangka nya maka keadaan alam dan Langit akan kembali tentang dan Raja Sangkalah pasti akan segera di bebaskan.
"Aku harus bisa membujuk Pangeran Tatius untuk berpikir bagaimana caranya agar keris yang menancap di atas langit bisa lepas dan kembali lagi ke kerangkanya agar suasana yang mencekam ini bisa kembali normal."Gumam paman patih lembu ireng yang mana dia langsung berjalan menuju kamar Pangeran Tatius.
Di depan pintu kamar Pangeran Tatius paman patih lembu ireng tidak langsung mengetuk pintu ataupun langsung membuka pintu dia berjalan mondar-mandir di depan pintu berpikir apa yang seharusnya dia kerjakan.
Ada rasa tidak enak apabila malam malam mengganggu akan tetapi keadaan dari Raja Sangkala dan keselamatan nya harus di pikirkan secara serius, agar tidak ada kejadian buruk dan Raja Sangkala bisa kembali ke alam Bumi.
Setelah berpikir panjang akhirnya paman Patih Lembu Ireng memutuskan untuk langsung membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Ceklek...,!' pintu kamar Pangeran Tatius dibuka dengan perlahan lahan.
Paman Patih lembu ireng tertegun dengan apa yang dilihatnya, baru kali ini paman Patih Lembu Ireng melihat Pangeran Tatius tidur dengan begitu mudah dan cepatnya, karena biasanya dia masih terjaga dan belum tidur, Pangeran Tatius hanya bisa tertidur dengan nyenyak dan tenang apabila dia sedang berbahagia, tapi sekarang sungguh aneh Pangeran Tatius masih dalam keadaan berduka dan patah hati akan tetapi kenapa bisa tertidur dengan mudah.
Melihat Pangeran Tatius tidur dengan nyenyak nya paman Patih lembu ireng berniat kembali ke dalam kamarnya Karena dia tidak mau mengaggu.
Namun belum ada tiga langkah Pangeran Tatius menghentikan langkah kakinya.
"Paman...kau mau kemana?"
Dengan gerakan refleks paman Patih lembu ireng membalikkan badannya.
"Pangeran Belum tidur?"
"Sudah paman, tapi aku mendengar langkah kaki di dalam kamarku jadi aku terbangun dan ku lihat paman berada di dalam kamar dan berniat akan pergi, ada apa paman? apakah ada yang ingin paman sampaikan." tanya Pangeran Tatius lembut.
Sikap Pangeran Tatius yang terlihat mulai normal membuat paman patih lembu ireng bertanya tanya, angin apa yang telah menyejukkan hati Pangeran nya yang sedang berduka, yang kini mulai kembali tenang, ibarat ombak sudah tidak lagi bergolak ombaknya sudah tenang dan segar.
"Paman..! kenapa paman diam saja apa yang sedang paman pikirkan?"
Paman Patih lembu ireng yang ketahuan sedang melamun tersenyum simpul.
"Tidak ada Pangeran, tidak ada apa-apa, Pangeran apa Pangeran juga memikirkan Raja Sangkala."
"Tentu saja paman, aku sangat memikirkan nya."
"Apa Pangeran mau membantu Raja Sangkala agar dia tidak di penjara di istana langit."
"Andai aku bisa paman sayangnya aku tidak tau harus berbuat apa agar aku bisa menyelamatkan kakek."
"Pangeran hanya perlu mencabut keris yang menancap di langit dan mengembalikan keris itu kedalam kerangka nya."
"Apa cuma seperti itu?"
"Itu mudah paman, yang sulit menemukan kerangka keris itu."
"Pangeran jangan bercanda, malam malam begini Pangeran bicara nya ngelantur."
"Yaelah, paman, aku serius ini."
"Baiklah, tapi kenapa Pangeran bilang yang sulit mencari kerangka kerisnya?" paman Patih lembu ireng semakin binggung Mendengar perkataan dari pangeran Tatius.
Pangeran Tatius Tertawa renyah melihat wajah paman Patih lembu ireng yang seperti nya dalam kebinggungan.
Melihat Pangeran nya justru tertawa seolah tanpa beban paman Patih lembu ireng ikut tersenyum bahagia.
"Aku tidak tau kerangka keris itu jatuh dimana? seingat ku aku melempar nya dengan sangat keras.
"Astaga jadi maksdnya Pangeran yang sulit itu kerangka keris nya itu karena kerangka nya Pangeran buang?"
Pangeran Tatius tersenyum Sambil mengagguk.
"Tapi aku masih ingat arah aku membuangnya."
"Kalau begitu ayo kita cari ke arah yang Pangeran ingat."
Bergegas Pangeran Tatius dan paman patih lembu ireng malam itu juga pergi keluar mencari kerangka keris yang dia lempar.
"Aku akan menggunakan Indra penciuman ku, tapi apa paman yakin hanya mengambil keris dan mengembalikan ketempat kerangka nya kakek bisa di kembalikan."
"Sangat yakin Pangeran asalkan semua bisa kita lakukan malam ini juga."
"Baiklah, aku pergi dulu paman tunggu disini."
Tanpa membuang waktu lama bergegas Pangeran Tatius pergi terbang melesat dengan cepat.
Dengan menggunakan Indra penciuman nya Pangeran Tatius tidak terlalu kesulitan mendapatkan sinyal keberadaan kerangka kerisnya.
"Akhirnya ketemu, sinyal aura bau kerangka keris itu sangat tajam di sekitar tempat ini, aku harus cepat mendapatkan nya."
Pangeran Tatius mulai mempertajam Indra penciuman nya dan akhirnya dia bisa bernafas dengan lega.
"Itu dia..! hei bukankah sekarang aku berada di bawah jendela kamar Tania? tidak tidak aku mungkin sedang berhalusinasi mana mungkin keris ini kerangka nya jauh terlempar kesini, tapi aku tidak asing dengan kamar itu, Araaaaaagggghhhh.... bentuk kamar model begini kan banyak, sudahlah lebih baik aku cepat pergi dari sini mataku sudah sangat sulit untuk melihat karena ini terlalu gelap."
Pangeran Tatius mulai melangkah pergi tapi naas karena cuaca gelap dan suasana malam masih mencekam mengakibatkan kakinya menabrak dahan pohon yang tergeletak di rerumputan liar di bawah jendela.
"Bruuugh.... Auuuuwwwh...! ringis Pangeran Tatius yang terjatuh dengan posisi nyungsep mencium tanah.
"Sial, kenapa batang ini di biarkan disini sih."
Sementara suara keras benda jatuh juga sempat Terdengar sampai di telinga sang pemilik kamar dengan cepat sang pemilik kamar membuka jendela.
"Siapa di situ?"teriak seorang gadis yang membuka jendela.
Mendengar suara teriakan dari atas jendela Pangeran Tatius segera menoleh ke sumber suara, meskipun malam begitu pekat dan gelap Namun Pangeran Tatius masih bisa mengenali sosok gadis yang berteriak di atas jendela, begitu juga dengan sosok gadis yang membuka jendela meskipun gelapnya malam menghalangi pandangan mata akan tetapi mata itu bisa mengenali dengan jelas wajah pemuda yang ada di bawah jendela kamar nya.
"Tatius ..!lirih gadis itu sambil membungkam mulutnya sendiri karena dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya,begitu juga dengan pangeran Tatius dia juga sangat terkejut ternyata dia tidak salah dia berada di bawah jendela kamar Tania dan Gadis itu telah melihat nya.
Dengan berpura-pura tidak mendengar dan tidak melihat gadis yang memanggil nya Pangeran Tatius terus melangkah pergi.
Melihat Pangerang Tatius yang justru seolah olah tidak mendengar membuat Tania kesal.
"Tatius ... tunggu...! aku tau itu kamu, teriak Tania yang entah mengapa justru turun dari jendela kamar dengan mengunakan tangga kecil dan mengejar Pangeran Tatius.