
Pagi yang cerah, langit yang biru, suara deruan angin yang berlomba lomba menyapu semua
yang ada di bumi, bunga bunga yang bermekaran, kicauan burung yang bersahut sahutan, semuanya menyambut datangnya pagi, tampak ceria secerah mentari yang muncul dari ufuk timur.
Ratu Derbah yang sudah mandi kini bersolek di depan cermin.
Kegundahan hatinya dia singkirkan kekhawatiran hatinya dia pendam dalam dalam
apapun yang terjadi, hari ini Ratu Derbah harus
menghadap Raja.
Ratu Derbah siap menghadapi segala bentuk
perintah yang di di berikan Raja, kepadanya.
Setelah merasa cukup dengan segala riasannya, dengan segera Ratu Derbah melangkah menuju Ruang istana Raja, di mana
di tempat itulah segala pertemuan istana diadakan.
Dengan langkah pasti Ratu Derbah berjalan tanpa di dampingi satu orang pun pelayan.
Namun ketika berada di luar kamar nya, Ratu
Derbah berpapasan dengan Ratu Shima.
Dalam hati Ratu Derbah mengumpat kesal, bagi
Ratu Derbah Ratu Shima lah satu satunya penghalang baginya untuk menguasai seluruh
kerajaan dan cinta Raja
Dengan senyum yang tersungging di bibirnya
Ratu Derbah menyapa lebih dulu.
"Selamat pagi, Ratu Shima,"
"Selamat pagi juga, Ratu Derbah, tumben sudah secantik ini keluar dari kamar, ada angin apa yang membawa gerangan untuk menampilkan
birunya langit yang cerah terukir dalam wajah."
Ratu Derbah tersenyum kecut.
"Ratu Shima, yang agung, bukankah engkau pagi ini juga sangat bersinar terang bagaikan matahari yang terbit dari ufuk timur, wajahmu juga menampakkan sinar yang menyilaukan,"
Ratu Shima pun tersenyum mendengar ucapan
Ratu Derbah.
"Ku rasa, aku tidak memiliki sesuatu pun, yang penting untuk menghalangi langkah mu, Ratu Derbah, jadi silahkan Ratu Derbah lanjutkan, mau kemana langkah kaki, Ratu Derbah hendak berjalan."
Dengan senyum yang sangat sinis Ratu Derbah tersenyum, dan berucap.
"Itu memang lebih baik, jika Ratu Shima tidak
membuang buang waktu ku dengan percuma."
Dengan senyuman yang tak kalah sinisnya juga
Ratu Shima menjawab.
"Sekiranya aku tau, ada seekor katak di depan ku, mungkin aku akan memilih jalan lain, untuk ku lewati."
Mendengar ucapan Ratu Shima yang menurut Ratu Derbah adalah sebuah penghinaan dengan cepat memilih pergi tanpa bicara lagi.
Ratu Shima tersenyum dengan penuh kemenangan.
Sesampainya di depan pintu ruangan istana
Ratu Derbah segera mengetuk pintu.
Karena langkahnya yang menuju ke istana bertemu Ratu Shima yang menjengkelkan, tanpa sadar Ratu Derbah mengetuk pintu itu dengan kasar dan keras.
"Tok...Tok...Tok...Tok...Tok...!
"Masuk lah,"
Terdengar suara sahutan dari dalam.
Dengan segera Ratu Derbah masuk, wajahnya
yang mendung dan mayun sangat terlihat jelas
oleh Raja.
"Kenapa, mukamu masam begitu Ratu!
apa yang terjadi dengan mu?"
"Tidak ada, Raja, aku baik baik saja,"
"Baiklah, duduklah, aku ingin Bicara dengan mu,"
"Raja mau bicara mengenai apa?"
"Ini tentang pangeran Yervan,"
Deg....
Serasa detak jantung tiba tiba berhenti mendadak.
Ratu Derbah dapat menebak pasti Raja akan murka padanya.
Jadi sebelum Raja bertanya dan murka dengan
cepat Ratu Derbah segera beranjak dari tempat duduknya dan berlutut mendekati sang Raja.
Raja yang tidak menyangka jika Ratu Derbah akan selebay ini, dan dengan tanpa gengsi atau malu berlutut di hadapannya, membuat Raja mengeryitkan dahinya.
"Ampun Raja, saya tidak bermaksud menculik pangeran Yervan saya hanya mau merawat nya sendiri,"Ucap sang Ratu Derbah dengan gugup.
untuk apa berlutut begini?
"Tidak, Raja, aku tidak akan berdiri sebelum Raja mengampuni ku, aku tidak mau di masukkan ke dalam penjara, aku ibunya, aku tidak akan mencelakai putraku sendiri."
Ratu Derbah masih saja bicara panjang lebar untuk meminta ampunan dari sang Raja.
Dengan Binggung Raja berdiri dan meraih
bahu Ratu Derbah untuk di bimbing nya berdiri.
Dengan sedikit geli, Raja terkekeh melihat ulah
Istri keduanya, meskipun Raja tidak sepenuhnya mencintai Ratu Derbah namun jasa dan pengorbanan dari Ayah Ratu Derbah yang besar terhadap perkembangan kerajaan istana membuatnya menerima sang putri untuk
menjadi Ratu kedua.
"Ayo, bangkit lah tidak ada yang ingin menyalahkanmu tentang hilangnya pangeran Yervan yang faktanya kau sendiri yang menculiknya."
"Tapi, Raja,"
"Sudahlah, ayo duduk aku ingin membicarakan hal lain, aku memiliki rencana untuk kedua putraku."
Dengan ragu ragu Ratu Derbah duduk di hadapan Raja.
"Dengar, Kerajaan Vampire Barat Daya, lagi mau menggadakan sayembara, siapa yang bisa memenangkan sayembara akan mendapatkan properti sepertiga dari harta kerajaan itu...!
apakah menurut mu pangeran Yervan perlu ikut ?"
"Wah, ini sangat luar biasa jika kita mendapatkan sepertiga dari harta kerajaan itu Raja, tentu saja pangeran Yervan harus ikut."
"Bukan cuma properti yang akan kita dapatkan Ratu, Namum juga, bagi pemenangnya berhak mendapatkan putri cantik lin ying."
"Ini sangat menarik sekali Raja, pastilah pangeran Yervan akan sangat senang."
"Tapi tidak mudah Ratu, karena akan banyak
pangeran pangeran kerajaan lain yang juga ,
menggikuti sayembara ini."
"Tidak masalah, Raja, aku sendiri yang akan melatih pangeran Yervan, agar nanti dia bisa
menjadi pemenang nya."
"Baguslah, Ratu, Siapapun diantara kalian, baik
pangeran Yervan maupun pangeran Tatius yang
akan menjadi pemenang nya itu tidak masalah
properti sepertiga kerajaan tetap bisa menjadi
milik kita."
"Apa...? pangeran Tatius, juga ikut sayembara ini."
"Iya, Ratu Derbah, pangeran Tatius juga ikut."
"Tapi, Raja..! pangeran Tatius kan di penjara
bagaimana dia bisa ikut,"
Raja Vampire Awang Awang tersenyum, mendengar ucapan Ratu Derbah.
"Pangeran Tatius sudah kubebaskan,"
Tiba tiba terdengar suara di depan pintu.
"Apa...?"
Pangeran Tatius, sudah bebas? kenapa Raja
tidak bilang padaku?"
Serentak Raja dan Ratu Derbah menengok ke pintu, di mana telah berdiri disana Ratu Shima.
Raja yang terkejut segera bangkit dari duduknya, begitu juga Ratu Derbah.
Dengan tatapan mata yang tajam, Ratu Shima masuk ke dalam ruangan.
"Kenapa tidak memberi tau aku, kalau pangeran Tatius sudah bebas yang mulia Raja Awang Awang Vampire, dimana sekarang putraku itu?"
Ucap Ratu Shima berapi api, tatapan matanya yang tajam menunjukkan kalau dia sedang emosi.
"Tenanglah, Ratu Shima, aku sengaja tidak memberi tau kamu karena aku tau kamu akan menolak permintaan ku,"
"Permintaan apa ?"
"Jangan cuma mencari alasan, Raja."
Melihat sikap Ratu shima yang sangat di penuhi oleh rasa emosi,
Raja meminta Ratu Derbah untuk pergi.
"Ratu Derbah, pergilah, biarkan kami bicara
berdua saja,"
Ratu Derbah memahami kenapa Raja cepat cepat memintanya pergi, meskipun dengan berat hati, karena masih penasaran juga tentang di mana pangeran Tatius, terpaksa
Ratu Derbah pergi.
"Baik, Raja, aku permisi dulu,"
Ketika langkah kaki, Ratu Derbah dekat dengan Ratu Shima, dengan jahil dan iseng dengan suara yang pelan Ratu Derbah berkata.
"Kasian sekali, induk ayam ini,"
Ratu Shima yang mendengar ejekan Ratu Derbah membulat kan kedua bola matanya dengan sempurna.