
kedua Panglima besar kerajaan awang-awang vampir Panglima satu dan panglima kedua terbang melesat meninggalkan tempat itu menuju ke arah timur, di mana di tempat itu jauh dari para prajurit kerajaan awang-awang Vampir yang sedang berlatih.
"Kenapa kau mengajakku kesini panglima ke dua."
"Di sini tempat yang cukup aman untuk membicarakan satu rencana dan ide ku."
"Memangnya ide apa yang sedang kau pikirkan dan ingin kau rencanakan."
Panglima ke dua berjalan mendekati batu lempeng berwarna hitam yang ada di sekitar tempat itu kemudian dengan santai mendudukkan bokongnya disana.
"Dengar, kita bisa memanggil roh pangeran Tatius kesini."
"Apa? memanggil roh? kamu jangan bercanda panglima ke dua, bagaimana mungkin kita bisa memanggil Roh Pangeran Tatius kamu ada ada saja rencana dan ide konyol mu itu."
"Aku, serius panglima ke satu,aku tidak sedang bercanda kita bisa memanggil roh Pangeran Tatius kesini,"
Panglima ke satu menyunggingkan sebuah senyuman dimana senyuman itu terlihat jelas menyiratkan suatu ketidak percayaan seolah olah menyepelekan.
"Aku tidak mengerti maksud mu bahkan aku tidak memahami jalan pikiran mu, pangeran Tatius tidak pulang ke istana kemungkinan terjebak di dalam lingkup jalan pintas dan kamu justru memberikan ide konyol untuk memanggil roh nya memangnya kita dukun bisa panggil roh sembarangan." sungut panglima ke satu sedikit geram.
Panglima ke dua menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan kemudian dia bangkit dari tempat duduknya, berjalan mendekati panglima kesatu.
"Aku, pernah melihat Raja Sangkala ketika melakukan pemanggilan Roh pangeran Tatius agar dia bisa datang dan kurasa tidak ada salahnya kita mencoba jika berhasil kita bisa dengan mudah mengetahui dimana keberadaan pangeran Tatius atau posisi dari pangeran Tatius sekarang."
"Terserah kamu, aku tidak yakin hal itu akan membantu yang ada raga Pangeran Tatius akan mendapatkan bahaya jika sampai roh nya keluar dan raga nya tidak ada yang menjaga."
"Kau, benar kenapa aku tidak kepikiran sampai kesitu ya."
"Nah itu dia makanya kita harus benar benar bisa dengan matang memikirkan sebab dan akibat nya jangan cuma memikirkan keinginan tapi akibat nya kita tidak bisa pikirkan."
"Kalau begitu apakah kau memiliki ide lain?"
"Aku..! bagaimana kalau kisa susul saja ke jalan pintas itu nanti kita akan tau sendiri apa yang terjadi pada Pangeran Tatius dan kita pasti cepat menemukan nya."
"Ide, bagus tapi kita harus mencari tau dulu sebab dan alasan mengapa jalan pintas begitu aneh dan sangat berbahaya."
"Kau benar, tapi caranya agar kita tau bagaimana?'
"Bertanya pada penduduk yang ada di sekitar tempat itu."
Panglima ke dua manggut-manggut dia merasa ide panglima ke satu cukup tepat dan benar.
"Tapi penduduk akan lari ketakutan melihat kita di tempat itu bukan lagi wilayah area Vampire tapi sudah pemukiman mahkluk manusia, bagaimana caranya kita bisa bertanya?"
"Kau benar!" akan aku pikirkan."ucap panglima ke dua seraya menatap langit yang mulai gelap karena tertutup awan mendung.
"Panglima ke dua, untuk apa kau menatap langit, percuma saja kau tidak akan mendapatkan jawaban dari semua itu."
Panglima ke dua Tersenyum simpul.
"Kau benar langit tidak akan memberikan jawaban pada kita akan tetapi langit memberikan ketenangan pada hati kita dan hal itu akan mempermudah kita menemukan cara yang tepat."
"Baiklah, silahkan kau berfikir aku mau beristirahat dulu,"
panglima ke satu langsung merebahkan tubuhnya di atas bebatuan, di lereng timur bukit gunung Merbabu terdapat banyak bebatuan hitam yang halus dan besar sehingga sangat nyaman untuk tempat duduk maupun tidur beristirahat.
Panglima kedua menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan perlahan tiba-tiba terlintas satu ide dengan cepat dia mendekati panglima ke satu dan menggoyangkan badannya.
"Panglima bangun, aku sudah menemukan ide."
"Cepat benar menemukan ide nya sekarang katakan, apa ide kamu itu."
"Kita menyamar ke pemukiman warga dengan memakai cadar agar mereka tidak tau kalau kita itu bangsa Vampire, dengan begitu kita akan mudah mendapatkan informasi tentang bukit gunung Tengger yang selalu menjadi jalan pintas Rahasia dan penuh misteri."
"Ide, bagus dengan begitu kita akan tau sebabnya mengapa jalan pintas itu sangat rawan."
"Kapan kita akan melakukan rencana ini."
"bagaimana kalau setelah matahari terbenam."
"Setuju, sekarang kita persiapkan saja apa-apa yang kita butuhkan untuk membuat mereka tidak ketakutan pada kita."
Panglima ke satu mengaggukkan kepala nya dan sebagai tanda dia setuju.
****
Di lereng gunung Tengger pangeran Tatius dengan hikmat duduk bersila menunggu tujuh hari kedepan agar kristal putih keabadian muncul. Namun hal aneh yang dia rasakan terjadi pada hari kedua ketika dia bertapa, Angin begitu kencang Langit terasah tiba-tiba gelap dan Guntur pun bersahut sahutan, pangeran Tatius yang memiliki insting cukup tinggi dengan penciuman yang sangat tajam tidak perlu melihat semuanya dengan Indra mata bisa dengan mudah merasakan dan mengetahui nya.
Semakin lama angin semakin kencang dan lautan sungai mulai bergolak dengan suara yang sangat mendebarkan dimana tiba-tiba air sungai mulai Naik bahkan kini bebatuan tempat dari pangeran Tatius duduk bersila mulai tergenang Air.
"Ada,apa ini! apakah ini ujian pertama ku dan aku tidak boleh terkecoh karena nya, tapi menurut hatiku ini bukan lah ujian tapi tanda akan ada bahaya disini, bagaimana ini."
Pangeran Tatius terus bermonolog sendiri dalam hati, berusaha sangat keras agar bisa bertapa dengan fokus dan konsentrasi.
"Gleeeeerrr..... !"Gleeeeerrr....!
Suara keras bagaikan guntur, Pangeran Tatius menelan ludahnya dengan kasar instingnya semakin kuat mengatakan akan datang mata bahaya besar di tempat itu.
"Haruskah aku mendengar kan Nasehat kakek tua itu dan diam saja disaat begini."
Tiba-tiba telinga tajam dari pangeran Tatius menangkap Bunyi datangnya suara air yang sangat keras.
"Ombak besar datang aku harus meloncat, perduli setan dengan nasehat kakek tua itu kalau aku diam saja itu ombak bisa menggulung ku."
"Hoooop....! dengan gerakan cepat Pangeran Tatius melompat terbang melesat dan bertengger di akar pohon yang sangat kokoh yang ada di pinggir sungai yang terlihat seperti laut karena warna airnya yg sangat hijau dan luas dan benar saja beberapa menit kemudian setelah Pangeran Tatius berhasil terbang melompat ke atas pohon dengan akar yang menjulang dan kuat tiba-tiba ombak besar datang dengan sangat deras dan tinggi sekitar dua meter dari atas batu tempat pangeran Tatius bertapa.
"Beruntung aku, melompat jika tidak aku bisa mampus terseret arus." dengus nya dengan kesal.
****
Tak jauh dari tempat itupun tanpak seorang pemuda tampan juga terbang melompat, menjauh dari tempat nya bertapa.
"Busyet, kenapa ada ombak besar bagaimana aku bisa bertapa dan tidak terganggu jika ombaknya begitu menggerikan, jika tempat ini tidak aman kenapa Ayahanda Raja menyuruh ku bertapa di tempat ini, pasti ada yang tidak beres ini."lirih pemuda tampan yang tak lain adalah pangeran Yasza.
Tak lama setelah kemunculan ombak besar yang datang dengan tiba-tiba, angin yang begitu kencang dan langit yang tiba-tiba berubah menjadi gelap gulita tertutup awan hitam kini datang lagi satu kejutan yang mencengangkan, pohon pohon yang ada di sekitar tempat itu tumbang berjatuhan bagaikan baru di potong dengan gergaji besi.
"Apa ini, kenapa ada hal hal aneh begini, bagaimana bisa bertapa dengan tenang dan fokus tidak tergoda dengan segala bentuk gangguan nya, ini bukan lagi gangguan tapi ini goncangan yang sedang terjadi aku harus waspada, persetanlah dengan kristal putih keabadian, aku tidak mau mati konyol dengan diam saja di sini." Sunggut pangeran yasza yang kini mulai bersikap waspada dengan segala sesuatu yang akan terjadi di depannya.
Tak jauh berbeda dengan Pangeran Tatius yang bertengger di atas pohon terpaksa melompat kesana kemari ketika pohon pohon yang dijadikan tempat untuk bertengger tumbang entah karena sebab apa.
"Mengapa terjadi seperti ini, apa yang sebenarnya terjadi."
Pangeran Tatius menarik nafas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar, isi kepala nya sibuk di buat untuk berfikir dan memikirkan apa yang sesungguhnya terjadi di tempat itu kenapa semua menjadi kacau dan berantakan begini.
Ketika Pangeran Tatius sibuk bermonolog sendiri, tiba-tiba kedua bola matanya mendelik seketika melihat dari atas bukit gunung Tengger tiba-tiba berjatuhan batu-batu kecil dan besar, tak Aya lagi Pangeran Tatius harus melompat kesana kemari demi menghindar agar tidak terkena jatuhnya batu-batu itu.
"Busyet, ada apa ini aku harus lebih waspada seperti nya akan ada tamu yang akan hadir di tempat ini."desis Pangeran Tatius dalam hati dengan mengerahkan kekuatan mempertajam Indra penciuman, pendegaran dan penglihatan nya.