
Di tengah terpaan angin dan teriknya matahari yang semakin lama semakin tinggi, hingga langit mulai berwarna gelap, di mana senja akan segera tiba,Tania dan Devan kini mulai memasuki halaman Rumah Ayah Tania, Di mana Rumah itu terlihat sangat sepi seakan-akan tiada berpenghuni.
Tania mengernyitkan dahinya merasa Rumah yang selama ini dia tempati begitu sangat sunyi seakan-akan tidak ada lagi tanda tanda kehidupan,Tania berdiri terpaku sebelum kakinya melangkah menuju ke depan pintu di mana Devan pun ikut berdiri terpaku keduanya saling berpandangan seolah-olah mereka berdua saling bertanya apa yang sedang terjadi di dalam Rumah ini dan mengapa terlihat begitu sepi.
pandangan mata Tania pada Devan yang seolah olah bertanya hanya mendapatkan jawaban dari gerakan tubuh Devan yang menggangkat bahunya sebagai jawaban tanda tidak tau.
Jawaban Devan sangat tidak memuaskan sehingga Tania memilih langsung saja mengetuk pintu.
"Tok..!
"Tok..!
"Tok..!
Lima menit, sepuluh menit hingga hampir setengah jam Devan dan Tania berdiri di depan pintu dimana tidak ada tanda-tanda pintu akan segera di buka dari dalam Rumah nya.
"Van...! kok sepi, kok belum di buka juga bagaimana ini?"Tanya Tania dengan wajah yang gusar.
"Aku juga tidak tau, apa jangan jangan Ayah mu tidak ada di Rumah."
"Tidak mungkin, ini sudah sore Ayah sudah pulang dari kerja dan pasti nya sudah berada di dalam Rumah."jawab Tania dengan perasaan khawatir karena tidak biasanya Ayah nya pergi sampai sore.
"Mungkin Ayah mu pergi ke Rumah pacarnya barangkali." ucap Devan asal dengan tiba-tiba yang mana langsung membuat Tania melotot ke arahnya, sedangkan Devan hanya tersenyum nyengir menunjukkan barisan giginya yang putih bersih.
"Kamu kalau ngomong jangan sembarangan ya, Ayah tidak pernah mau punya pacar, Ayah hanya hidup untuk ku dan tidak berniat berumah tangga jadi kamu jangan ngawur." seru Tania dengan nada Emosi.
"Idih, marah, aku kan cuma menerka-nerka siapa tau begitu dan lihat kita sudah berdiri dari tadi tapi pintu tidak juga di buka."
"Bagaimana bisa ada yang membuka jika Ayah tidak ada di Rumah,"
"Nah, itu dia Ayah mu tidak di Rumah artinya apa coba..
"Taulah, coba aku lihat ke belakang siapa tau Ayah ada di belakang dan tidak dengar saat kita ketok pintu."
"Pergilah, aku tunggu di sini."ucap Devan akhirnya.
Tania mulai berjalan ke halaman belakang di mana di belakang Rumah terdapat banyak sekali Tumbuan dan juga ada beberapa kolam ikan yang mana Ayah Tania tidak perlu membeli Ikan untuk lauk.
Sedikit kecewa pasalnya di pintu belakang Rumah pun pintu nya tertutup Rapat, lampu dapur terlihat sangat terang Tania melongokkan kepalanya di dekat jendela berusaha melihat keadaan yang ada di dalam lewat kaca, karena kelambu kaca jendela di tutup dari dalam maka Tania tidak bisa melihat apapun. Tania Kembali kedepan dengan perasaan kecewa.
Melihat Tania muncul dari belakang Rumah, Devan segera bertanya.
"Bagaimana?"
Dengan lemah Tania menggelengkan kepalanya.
"Kita tunggu di teras saja." tukas Devan kemudian, berharap gadis yang ada didepannya tidak kecewa dan bersedih.
Tania menatap Devan dengan tatapan tak percaya.
"Apa kamu yakin mau menemani ku sampai Ayah ku pulang."
"Tentu saja."jawab Devan enteng.
"Apa itu tidak merepotkan mu."
Mendengar pertanyaan Tania, Devan terkekeh karena menurut nya jangankan menemani satu malam di luar, selamanya juga pasti mau tanpa syarat dan pasti nya tanpa penolakan Karena baginya bisa menghabiskan waktu bersama gadis yang ada di sampingnya itu sangat menyenangkan.
"Bagaimana tidak menyenangkan bersama dengan orang yang kita cintai itu, sangat lah membahagiakan."Gumam Devan dalam hati.
"Tapi aku tidak punya apapun untuk ku hidangkan menjadi teman dalam menunggu." keluh Tania merasa tidak enak karena tidak bisa menyediakan secangkir kopi maupun makanan ringan kecil lainnya untuk Devan.
Lagi-lagi Devan Tertawa renyah, gadis di sampingnya ini benar-benar menggemaskan, bagaimana dia bisa berfikir jika Devan akan jenuh dan tidak mau menemani hanya karena tidak ada makanan di atas meja rotan itu bukan kah yang terpenting bisa bersama duduk dengan orang yang kita cinta.
"Jangan menertawakan ku," pinta Tania Karena Devan tak henti-hentinya tertawa.
"Baiklah aku akan diam," ucap Devan kemudian,
Di bawah lampu remang remang Tania dan Devan duduk berdampingan menunggu Ayah Tania datang.
"Apa kamu lelah sini, bersadar di sini biar tidak terlalu keras di kepala."Devan menawarkan diri agar Tania bersadar di pundaknya.
Tania Tersenyum manakala Devan menawarkan kebaikan nya, tapi entah kenapa ketika Tania menatap wajah Devan tiba-tiba Tania melakukan apa yang di tawarkan Devan, Tania merebahkan kepalanya pada bahu Devan, sebenarya Devan ingin Tania merebahkan kepalanya pada dada bidang nya akan tetapi Devan takut dan khawatir jika Tania justru marah untuk itu Devan menawarkan bahunya.
Dua jam kemudian Ayah Tania datang ketika Tania terlelap tidur dalam dekapan Devan, awalnya Devan membiarkan Tania merbahkan kepala nya pada bahu Devan akan tetapi setelah Tania tertidur Devan merubah posisi Tania sehingga Tania tidur dalam dekapan dada bidang milik Devan, bahkan tanpa sepengetahuan Tania Devan diam-diam mencium kening Tania.
Kehadiran dua orang di dalam ruang teras yang ada di depan Rumah nya , membuat Ayah Tania terkejut bukan kepalang terlebih Melihat sosok gadis cantik yang sedang tertidur dalam dekapan pemuda yang ada di depannya. dan jantung nya seolah olah akan meloncat.
Beberapa kali Ayah Tania mengusap-usap matanya dan bayangan dua orang yang berada di teras Rumah nya tetap ada tidak berubah.
"Apa aku tidak sedang salah lihat? benarkah yang kulihat ini dan ....dan itu yang sedang tertidur di dekapan Devan apakah benar dia itu Tania ... tidak tidak pasti aku sedang bermimpi ataupun berhalusinasi."lirih Ayah Tania yang kemudian menampar wajahnya sendiri.
"Plaaak.. ! Auuw...! sakit, ini artinya aku tidak sedang bermimpi tapi... jangan jangan itu hantunya Tania..Ops apa ini tidak berlebihan mana mungkin Hantu muncul masih sore begini, ini juga baru pukul delapan masak iya hantu keluar pukul delapan, lagi pula bukankah itu Devan masak itu juga hantunya Devan, Astaga kenapa jadi membingungkan lebih baik aku dekati mereka, kalaupun hantu aku akan usir mereka aku tidak takut." seru Ayah Tania yang kemudian berjalan mendekati teras di mana ada Devan dan Tania yang sedang duduk di sana.
Meskipun sedikit was was Ayah Tania perlahan lahan mendekati ruang teras yang mana di sinari dengan lampu remang-remang. semakin langka kaki Ayah Tania dekat maka semakin bergetar dan was-was jantung yang Ayah Tania rasakan dan ketika jarak antara Ayah dan dua orang yang ada di teras Rumah nya , Ayah Tania tertegun tak percaya.
"Nak Devan, Tania...,! lirih Sang Ayah kemudian.